
Ray langsung mengutarakan tujuan dia datang ke rumah neneknya, saat dia dan Lastri tengah duduk. Karena Ray tak mau membuat Jingga menunggu lama dengan rasa khawatir dia terhadap adiknya.
"Nek, sebenarnya Ray datang ke sini karena mau memastikan sesuatu," ucap Ray lembut, bahkan tatapan matanya sangat lembut ketika melihat tubuh renta sang nenek.
"Memastikan apa Ray?" tanya Lastri sedikit bingung.
"Jadi Ray datang ke sini karena ada urusan, lebih tepatnya Ray sedang mengantar teman Ray yang menjenguk ayahnya karena kecelakaan. Saat ini dia sedang berada di rumah sakit menunggu ayahnya yang masih kritis, namun disana dia tak menemukan keberadaan adiknya. Dia sudah berusaha menghubungi orang-orang yang dia kenal, namun tak ada seorangpun dari mereka yang menjawab panggilannya. Saat ini Ray sedang berusaha mencari adiknya dia, dengan meminta bantuan dari teman Ray disini," ucap Ray memberi jeda, sambil menatap neneknya yang tengah mencermati ucapannya.
"Apakah Nenek melihat gadis kecil berusia sekitar 3 tahunan, yang berasal dari kampung sebelah?" tanya Ray lembut.
"Apakah kamu memiliki foto adiknya teman kamu itu?" tanya Lastri yang ingin memastikan, apakah anak kecil yang Ray maksud itu sama dengan anak kecil yang baru dia tolong.
"Iya Nek, Ray memiliki fotonya," jawab Ray sambil memperlihatkan foto adiknya Jingga, yang ada didalam ponselnya.
Saat Lastri melihatnya dia sedikit terkejut, karena anak kecil yang saat ini berada dirumahnya itu ternyata anak kecil yang dicari cucunya.
"Apakah Nenek melihatnya?" tanya Ray setelah melihat keterkejutan neneknya.
"Bukan hanya melihatnya, tapi memang saat ini dia berada disini," jawab Lastri sambil menatap wajah tampan sang cucu.
"Benarkah?" tanya Ray yang sedikit lega, ternyata info dari anak buahnya memang benar.
"Iya. Nenek membawanya ke sini karena kemarin itu Nenek melihat dia sedang menangis di pinggir jalan. Nenek tak mendapat jawaban saat bertanya dimana ayah dan ibunya, bahkan saat Nenek tanya rumahnya juga," jawab Lastri.
"Sekarang dia ada dimana Nek?" tanya Ray lagi.
"Dia sedang tidur di kamar, karena dari tadi dia terus menangis sambil menanyakan ayah dan ibunya," jawab Lastri.
"Boleh Ray lihat?"
"Boleh. Tapi kamu jangan sampai membuatnya terbangun. Biarkan dia istirahat, karena Nenek tak mau melihatnya menangis lagi saat terbangun nanti ," ucap Lastri sambil berdiri dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar.
__ADS_1
Ray mengikuti neneknya dari belakang, dan tak lama dia melihat tubuh gadis kecil yang tengah terlelap tidur, saat neneknya membuka lebar pintu kamarnya.
Walaupun matanya tertutup, namun bekas air matanya masih terlihat jelas di wajah adiknya Jingga, hingga membuat Ray kasihan saat melihatnya.
"Nek, bolehkah Ray menemaninya?" tanya Ray pelan, karena dia tak mau membuat Keyla terbangun.
Lastri hanya mengangguk sebagai jawabannya, kemudian dia segera melangkah ke luar, membiarkan cucunya menemani anak kecil itu.
Dengan gerakan lembut, Ray mengusap pipi gembul Keyla. Ada kemiripan dengan Jingga saat Ray mengamati wajah imut Keyla. Namun tak lama, dia langsung teringat dengan Jingga. Kenapa dia bisa lupa memberi kabar pada Jingga? Pikir Ray dalam hati.
Dengan cepat Ray merogoh ponsel yang ada didalam sakunya, kemudian dia langsung memberi kabar pada Jingga lewat pesan singkat yang dia kirim.
"Ayah, bunda... " racau Keyla pelan dalam isak tangisnya.
Sontak Ray menoleh kala dia mendengar tangisan Keyla. Dia takut Keyla terbangun karena dirinya, namun saat dia melihat ke arah Keyla, rupanya anak kecil itu menangis dalam keadaan tertidur.
Pasti kamu sangat merindukan ayah dan juga ibumu ya sayang, ucap Ray dalam hati sambil menghapus lembut air mata dipipi Keyla.
Tak ingin membuat tidur Keyla terganggu, Ray segera turun dan dari ranjang dan bergegas keluar. Kalau seperti ini haruskah dia menghubungi Jingga agar tahu keadaan adiknya? Ah! Sepertinya dia harus menunggu sampai gadis kecil itu bangun, baru dia membawanya ke rumah sakit, pikir Ray lagi.
"Apakah dia masih tidur?" tanya Lastri saat melihat cucunya keluar dari kamar.
"Iya Nek. Tadi dia sempat mengigau ayah dan ibunya," jawab Ray sambil mendudukan tubuhnya disamping sang nenek.
"Benarkah? Kasian sekali anak itu. Nenek juga tidak tahu kenapa kemarin dia menangis dipinggir jalan," ucap Lastri kasihan.
"Iya Nek. Tapi nanti saat dia bangun, Ray akan langsung membawa dia pada kakaknya," ucap Ray sambil menatap wajah neneknya. Wajah yang dari dulu, selalu menjadi penyemangatnya disaat dia berada dalam keputusasaan.
"Iya Ray, bawa dia bertemu kakaknya. Kasian jika dia terus menangis, apalagi saat ini dia bersama dengan orang yang tidak dikenalnya. Pasti dia sangat takut," ucap Lastri.
"Iya Nek. Terima kasih karena Nenek sudah membawa dia ke rumah ini. Jika saja saat itu Nenek tak melihat dia menangis dijalan, entah bagaimana nasibnya saat ini," ucap Ray sambil memikirkan kemungkinan terburuk yang dialami Keyla, jika orang jahat yang menemukannya.
__ADS_1
"Kamu gak perlu berterima kasih Ray, karena Nenek hanya kebetulan melihatnya. Kalau Nenek boleh tahu siapa teman kamu itu?" tanya Lastri penasaran.
"Namanya Jingga Nek. Sebenarnya dia itu temannya Dafa, dan memang beberapa kali Ray bertemu dengannya. Kebetulan tadi pagi Ray bertemu dengannya di persimpangan jalan, saat itu taksi yang dipesannya untuk mengantar dia kesini tiba-tiba saja membatalkannya. Jadi Ray yang mengantarnya," jawab Ray menjelaskan semuanya.
"Benarkah?" tanya Lastri antusias yang membuat Ray mengerutkan keningnya.
"Iya Nek. Tapi kenapa ekspresi Nenek seperti itu?" tanya Ray dengan raut wajah bingung. Kenapa neneknya itu terlihat senang saat dia menyebutkan nama Jingga?
"Nenek cuma senang, ternyata kamu punya teman seorang wanita. Kenapa kamu tidak menjadikan dia menjadi istri kamu saja Ray?" tanya Lastri sekaligus memberi Ray saran. Dia berharap Ray segera menikah, dan memberinya cicit.
"Eh? Nenek bicara apa sih?" ucap Ray yang hampir tersedak oleh air liurnya sendiri.
"Emm, Nenek tebak, kamu pasti menyukainya ya," tebak Lastri namun ucapannya itu memanglah sebuah kebenaran.
"Ah! Enggak Nek," sangkal Ray namun Lastri dapat melihat cucunya itu salah tingkah.
"Nenek tidak percaya. Kamu pasti bohong, kalau tidak, kenapa kamu salah tingkah saat menjawabnya? Lagi pula wajah kamu yang memerah itu sudah memberikan jawabannya," ucap Lastri dengan kekehan di akhir.
"Sudahlah Nek jangan bahas ini lagi. Lagi pula Jingga itu sudah bersuami," ucap Ray.
"Benarkah?" tanya Lastri sedikit kaget, pupus sudah harapan dia agar Ray segera menikah.
Ray yang melihat keterkejutan neneknya hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Namun beberapa saat setelah itu, Lastri langsung mengingat perkataan Dafa soal kakaknya yang menyukai wanita yang akan menikah pada waktu lalu. Jangan-jangan yang diantar Ray saat ini adalah wanita yang disukainya, pikir Lastri menerka-nerka.
Saat Lastri sedang dalam pemikirannya itu, tiba-tiba suara tangis Keyla mengagetkannya juga mengagetkan Ray.
Langsung saja Lastri dan Ray bergegas masuk ke dalam kamar.
"Huaaa... Ayah, Bunda, Key takut," ucap Keyla disela tangisannya.
__ADS_1