CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
40


__ADS_3

Ken segera masuk kedalam ruangan dokter yang menangani istrinya. Perasaannya saat ini benar-benar kacau. Di satu sisi, dia ingin segera menyusul Jingga, karena dia mencemaskan istrinya itu, dan dia sedikit tak suka jika Ray mengantarnya apalagi terus berdekatan dengan Jingga.


Namun disisi lain, Ken juga harus berada di rumah sakit tempat persalinan istri keduanya. Dia juga harus mengetahui keadaan istri dan anaknya.


"Jadi bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanya Ken penasaran.


"Keadaan istri dan bayi Bapak baik-baik saja, beruntung Bapak membawanya tepat waktu. Kalo terlambat sedikit saja, mungkin anak Bapak tidak bisa diselamatkan. Untuk saat ini keadaan keduanya stabil, hanya saja istri Bapak belum sadarkan diri," jawab sang dokter.


"Baiklah, terima kasih dokter. Saat ini ada orang tua saya yang menjaga mereka disini, saya harus pergi karena saya ada kepentingan yang mendesak. Jika dokter membutuhkan apapun, dokter bisa langsung bicara pada orang tua saya," ucap Ken langsung.


"Baik Pak," ucap dokter itu tersenyum. Namun dalam hati dia sedikit heran, baru kali ini ada seorang suami yang meninggalkan istrinya yang masih belum sadarkan diri setelah melahirkan. Karena biasanya para suami akan selalu stand by disamping istrinya yang baru melahirkan.


"Saya permisi dok," ucap Ken langsung berdiri dan segera bergegas pergi keluar.


******


"Bagaimana kata dokter?" tanya Bella langsung setelah anaknya keluar dari ruangan dokter.


"Hmm, keduanya baik-baik aja Ma. Mama sama Papa disini ya jagain mereka, karena aku harus nyusul Jingga," jawab Ken cepat. Dia sudah tak sabar ingin segera menyusul istrinya, karena takut Ray akan mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan Jingga.


Pandangan Ray pada Jingga itu terlihat berbeda, seperti orang yang sedang mengaguminya bahkan lebih, bisa dikatakan menyukainya, dan Ken mengetahui itu saat dirumah Citra, Ray terus saja menatap Jingga dengan tatapan cintanya. Walaupun itu tak selalu ditampakan oleh Ray, tetapi Ken dengan jelas bisa melihatnya.


"Ken bisakah kamu disini saja. Kamu suami sekaligus ayahnya, tunggulah paling tidak sampai Resti sadar. Bahkan kamu belum melihat keadaan mereka. Oh iya, anaknya laki-laki atau perempuan Ken?" tanya Bella setelah dia memberi nasihat pada anaknya.

__ADS_1


"Hmm, aku gak tahu Ma, belum sempat nanya karena aku benar-benar khawatir sama keadaan Jingga," Jawaban Ken langsung membuat Roy geleng-geleng kepala.


"Kami tahu kamu mencemaskan istrimu, Papa juga khawatir sama Jingga, tapi bisakah hari ini kamu temani Resti dan anak kamu. Papa janji, besok Papa dan Mama yang jaga disini, dan kamu bisa susul Jingga ke Malang. Untuk saat ini kamu hubungi saja Jingga, dan minta kabarnya sekarang," ucap Roy sedikit memberi saran, karena bagaimanapun keduanya masih tanggung jawab Ken.


"Tapi Pa... " bantah Ken.


"Benar apa yang dikatakan Papamu Ken, sekarang kamu disini ya, menunggu Resti sampai dia sadar, baru setelah itu kamu susul Jingga. Mama yakin Jingga pasti baik-baik aja dan kita doakan supaya ayahnya Jingga juga baik-baik aja," ucap Bella terus membujuk anaknya.


Dengan bujukan Bella dan Roy itu, akhirnya Ken hanya mengangguk pasrah. Agar pikirannya tenang, dia segera mengambil ponselnya dan langsung menghubungi istri tercintanya. Namun setelah beberapa kali Ken menghubungi Jingga, tidak ada satupun panggilannya yang tersambung.


Apakah mungkin Jingga masih diperjalanan? Atau mungkin karena ponselnya mati, jadi dia tidak bisa dihubungi? Ah! Mungkin saja begitu. Semoga ayahnya Jingga dalam keadaan baik-baik saja agar istrinya tidak merasa sedih, pikir Ken dalam hati.


"Ayo Ken kita lihat dulu anak kamu," ucap Bella semangat, walaupun dia tidak menyukai Resti, tapi setelah mendengar kabar bahwa dia memiliki cucu, dia merasa sangat senang karena memang dia sangat memimpikan untuk mempunyai seorang cucu.


Setelah Ken dan orang tuanya sampai didepan ruangan khusus bayi, mereka langsung masuk untuk melihat bayi yang baru dilahirkan Resti. Suasana hati Bella begitu tegang, karena ini adalah kali pertama dia akan menemui cucu pertamanya.


Perlahan namun pasti, mereka melangkah mendekati box bayi yang sudah tertera nama ibunya. Ken melangkah terlebih dahulu diikuti oleh orang tuanya. Ken sendiri merasa gugup, dia masih merasa antara mimpi dan nyata, karena dia baru saja mendapat gelar sebagai seorang ayah.


Langkah mereka terhenti tepat didepan box bayi itu. Perlahan mereka mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang masih menutup mata itu. Ternyata bayinya berjenis kelamin laki-laki. Ken sendiri merasa ada perasaan hangat yang menjalar saat dia melihat bayi yang begitu mirip dengannya.


Rambut hitamnya, bibir tipis, hidung mancungnya sangat mirip dengan Ken. Tak terasa mata Ken sedikit berkaca-kaca saat melihat anaknya itu. Benarkah dia anaknya? Tapi dilihat dari semuanya memang sangat mirip dia. Apakah dia memang benar anaknya? Tapi bukankah dia tak pernah peduli saat anaknya itu masih didalam kandungan? Pikir Ken dengan rasa bersalahnya.


"Wah, lihatlah Pa! Bayinya sangat mirip dengan Ken. Bibirnya, matanya, bahkan hidungnya juga sangat mirip kamu Ken," ucap Bella sedikit terharu, ternyata cucu pertamanya itu sangat mirip dengan anaknya.

__ADS_1


"Iya Ma," balas Ken seadanya, dia sendiri merasa bersalah karena dulu dia tak memperhatikan anaknya saat masih ada didalam kandungan Resti.


"Pa, cucu kita laki-laki. Sekarang kita akan menjadi seorang Kakek dan Nenek," ucap Bella sangat senang, bahkan dia sampai memeluk suaminya.


"Iya Ma. Tapi Papa juga berharap akan mendapat cucu dari Jingga," ucap Roy yang sedikit sedih karena cucu pertamanya itu bukan dari menantu kesayangannya.


"Pasti Pa. Semoga saja secepatnya kita juga akan mendapat cucu dari Jingga," balasnya.


Ken hanya mendengarkan saja perkataan orang tuanya, karena dia sendiri juga ingin secepatnya mempunyai anak dari istri tercintanya. Walaupun ragu, tetapi Ken memberanikan tangannya untuk menyentuh jari-jari mungil yang masih berwarna kemerahan itu. Dengan perlahan, Ken mengusap lembut jari-jari mungil anaknya.


Tak terasa air mata Ken turun membasahi pipinya. Dia sungguh senang sekaligus terharu, dia senang mempunyai sosok mungil versi dirinya, tetapi dia juga sedikit sedih saat mengingat sikapnya dulu yang tak pernah menganggap anaknya itu ada, bahkan tak pernah sedikitpun dia menaruh perhatian pada anaknya saat masih didalam kandungan.


Akhirnya dia sadar bahwa memang bayi itu adalah darah dagingnya. Mungkin kedepannya bayi itu yang akan mencuri perhatiannya. Ken juga berjanji akan lebih memperhatikan lagi anaknya itu, untuk menebus kesalahan yang sudah dia lakukan selama anaknya masih didalam kandungan. Walaupun anaknya itu hadir karena sebuah kesalahan, tetapi dia akan menyayanginya.


"Sayang, kamu mau kasih nama siapa?" tanya Bella yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Aku belum tahu Ma. Aku sama sekali belum menyiapkan nama untuknya," jawab Ken yang mengelus pipi halus bayi mungilnya.


"Baiklah. Tapi kamu harus memberi nama yang bagus untuk cucu Mama ini ya," ucap Bella semangat, bahkan raut wajah sumringah itu tak pernah hilang. Entah kenapa, tapi sejak saat melihat cucunya itu, dia langsung menyukainya.


"Tenanglah sayang, anaknya Ken belum juga 1 hari, kenapa kamu menyuruh Ken cepat-cepat memberinya nama?" tanya Roy sedikit heran melihat istrinya itu yang sangat sumringah.


"Ya Mama sudah tidak sabar aja Pa," jawab Bella masih dengan senyum sumringahnya. Sedangkan Roy hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2