CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
35


__ADS_3

Ken langsung merebahkan kepalanya diatas paha sang istri, setelah mereka didalam kamar. Ken menikmati elusan dikepalanya, lembutya tangan Jingga membuat dia lebih tenang. Seketika emosinya mulai mereda.


"Kamu lelah Mas?" tanya Jingga disela usapan pada kepala suaminya.


"Enggak sayang," jawab Ken langsung.


"Kamu belum makan kan?" tanya Jingga lagi.


"Aku enggak lapar sayang, aku maunya makan kamu aja," ucap Ken sambil menenggelamkan wajahnya pada perut sang istri.


"Mas, geli tau," ucap Jingga yang sedikit menggelinjang karena suaminya itu terus menggerakan wajahnya pada perut Jingga.


"Aku suka sayang," ucap Ken sambil terkekeh.


"Suka apanya? Mas hentikan! Aku gel---li," ucap Jingga ditengah kegeliannya, kemudian dia menjauhkan sedikit kepala suaminya dari perutnya itu.


"Hahaha, aku suka liat wajah kamu yang memerah itu sayang," ucap Ken sambil tertawa, dan langsung mendapat cubitan dari istrinya.


"Aw... Sakit sayang," ucap Ken lagi, dia heran kenapa istrinya itu suka mencubit pinggangnya saat dia merasa malu. Apalagi cubitannya itu terasa panas, karena Jingga mencubitnya kecil tapi langsung terasa.


"Kan tadi aku udah bilang, aku itu geli," ucap Jingga dengan wajah cemberutnya.


Bibir merahnya dimonyongkan ke depan, membuat Ken gemas melihatnya.


"Kamu lagi godain aku ya," ucap Ken yang perlahan duduk, agar bisa melihat dengan jelas wajah lucu istrinya.


Jingga yang mendengar itu hanya berkerut kening, tak mengerti apa yang dimaksud suaminya itu. Ken yang melihat wajah bertanya istrinya itu pun semakin gemas. Perlahan Ken memegang sisi kedua kepala Jingga dan mulai mendekatkan wajahnya.


Perlahan namun pasti, menempelkan bibirnya pada bibir tipis sang istri. Jingga yang mendapat ciuman spontan pun langsung kaget, apalagi perlahan Ken mulai ********** lembut. Tak ingin menjadi ciuman yang ganas, Ken perlahan menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri. Dapat Ken lihat bibir istrinya yang sedikit bengkak akibat ulahnya.


"Mas, kenapa kamu tiba-tiba cium aku," ucap Jingga berpura-pura kesal.

__ADS_1


"Kan tadi Mas udah bilang, kamu itu sengaja godain Mas. Kalo enggak godain, kenapa tadi bibirnya dimonyong-monyong begitu," ucap Ken dengan memajukan bibirnya ke depan, meniru gaya Jingga tadi.


"Mas...aku itu tadi lagi cemberut bukan godain kamu," ucap Jingga sambil memukul pelan lengan sang suami.


"Hahaha, habisnya cemberut kamu itu bikin gemas. Jadi Mas gak tahan buat nyium kamu," ucap Ken yang masih dengan tawa lepasnya.


"Mas... " rengek Jingga manja.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Ken setelah tawanya reda.


"Itu, e---masalah Resti gimana?" tanya Jingga sedikit ragu, takut membuat mood suaminya kembali jelek.


"Mas akan menceraikannya," jawab Ken langsung.


"Apa! Kenapa kamu harus menceraikannya Mas?" tanya Jingga dengan wajah kagetnya.


"Ya karena aku sudah muak dengan kelakuannya itu, lagi pula aku takut dia akan terus merencanakan sesuatu lagi untuk kamu sayang. Mas tidak mau dia kembali melukaimu, apalagi Mas sangat takut dia akan membuat rencana jahat lagi kedepannya," jawab Ken sambil merebahkan kembali kepalanya pada paha Jingga, karena menurutnya, itu adalah tempat paling nyaman.


"Ya tapi bagaimana dengan anak kamu?" tanya Jingga sedikit mengkhawatirkan anak suaminya.


"Tapi Mas, kamu tahu kan, kalo kamu gak boleh menceraikan istri kamu yang lagi hamil," ucap Jingga mengingatkan.


"Iya sayang, Mas tahu kok. Mas akan menceraikan dia setelah dia melahirkan," ucap Ken lagi.


"Ya tapi Mas, ka---" ucapan Jingga terpotong karena suaminya.


"Sayang, udah ya, Kita bahas lagi nanti. Sekarang Mas mau istirahat sebentar, karena Mas sangat lelah," ucap Ken cepat dan dia perlahan memejamkan matanya.


Jingga yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Dia tahu jika suaminya itu sudah membuat keputusan, maka orang lain tidak akan pernah bisa menghalanginya.


...----------------...

__ADS_1


Pagi harinya Ken langsung berbicara perihal keputusannya itu kepada Resti. Disampingnya, Jingga duduk dengan ekspresi gusarnya.


Jingga hanya bisa mendukung keputusan suaminya, dia juga sudah berusaha agar suaminya itu mempertimbangkan kembali keputusannya. Tetapi Ken tetap akan menceraikan Resti setelah dia melahirkan anaknya.


"Kamu tahu, saya tidak bisa memaafkanmu. Dan yang saya takutkan, kedepannya kamu akan terus membuat masalah dengan rencana-rencana licikmu itu, saya tidak mau kamu merencanakan sesuatu lagi untuk istri saya. Jadi setelah kamu melahirkan, saya akan menceraikan kamu. Tapi kamu tidak usah khawatir, karena saya akan tetap bertanggung jawab untuk menafkahi anak yang ada didalam kandunganmu itu," ucap Ken langsung, bahkan tak ada keraguan dalam mengatakannya.


"Apa! Kamu gila Mas!" teriak Resti tak terima. Bagaimana mungkin Ken dengan tega mengambil keputusan untuk menceraikannya.


"Kamu terima saja keputusan saya. Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu yang akhirnya merugikan dirimu sendiri. Sekarang terimalah segala konsekuensinya, masih untung saya hanya menceraikan kamu, bukan menjebloskan kamu ke dalam penjara," ucap Ken lagi.


"Kenapa kamu tega Mas? Pokoknya aku gak mau cerai!" ucap Resti dengan nada tinggi membuat Ken naik darah.


"Terserah kamu mau atau tidak, yang jelas saya akan menceraikan kamu!" balas Ken dengan suara meninggi. Jika terus berhadapan dengan istri keduanya itu, membuat Ken selalu dikuasai oleh emosinya.


"Mas, tenanglah," ucap Jingga menenangkan suaminya yang sudah tersulut emosi. Padahal sebelumnya Ken sudah berjanji akan berbicara dengan tenang, namun rupanya Resti terus memancing emosi Ken.


"Sayang, aku gak bisa tenang kalo terus berhadapan dengannya," ucap Ken sambil melihat wajah cantik istrinya. Ternyata bagaimana pun dia terkuasai emosinya, dia akan lebih tenang saat melihat wajah Jingga.


"Kamu udah janji loh Mas, kamu gak bakal emosi," ucap Jingga lagi, dan Ken mengangguk patuh.


"Res, kamu juga harus tenang. Jangan sampai terbawa oleh emosi kamu," ucap Jingga pada Resti yang tengah mengatur nafasnya.


"Gimana aku bisa tenang Kak, kalo Mas Ken mau menceraikan aku. Kak Jingga udah janji mau bantuin aku," balas Resti dengan wajah memerah dibuat-buatnya.


"Aku udah coba membujuk Mas Ken. Tapi dia tetap dengan keputusannya Res," ucap Jingga sedikit kasihan melihat Resti yang sudah berkaca-kaca itu.


Namun disisi lain dia sedikit kesal, saat dia sadar dengan ucapan Resti kemarin yang meminta bantuan jika Ken akan menceraikannya. Ternyata dia sudah memprediksi hal itu akan terjadi, pikir Jingga tak habis pikir.


"Sudahlah, kamu jangan meminta istri saya ataupun orang lain untuk membujuk saya agar membatalkan keputusan ini. Karena saya akan tetap pada keputusan saya, untuk menceraikan kamu. Sekarang lebih baik kamu siapkan saja dengan kelahiran anakmu nanti," tegas Ken tak terbantahkan.


Setelah mengatakan itu, Ken langsung membawa Jingga keluar dari rumah, karena rencananya hari ini, Ken akan membawa Jingga pergi jalan-jalan.

__ADS_1


Dia juga butuh menjernihkan pikirannya, dari semua masalah yang terjadi pada dia dan istrinya. Biarlah Resti merenungkan kesalahannya dan mempersiapkan diri untuk kedepannya.


Ken benar-benar tak menyangka, semua kejadian ini adalah ulah dari istri keduanya. Bahkan kesalahannya dulu saat menjebak dia pun masih belum Ken maafkan, dan sekarang wanita itu sudah membuat ulah.


__ADS_2