CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Savina Cemburu Buta


__ADS_3

Sunset yang indah terlalu singkat waktunya untuk di nikmati oleh setiap pasang mata. Pandangan mata Arfan dan Fayra kian menerawang jauh ke atas langit.


Tiba-tiba ....


"Fayra ...! Ngapain, kamu di sini?! Sama Arfan lagi," tanya Savina yang ternyata juga berada di pinggir pantai itu bersama Raynar tentunya.


Kedua pasang mata itu pun menoleh serempak ke arah sumber suara yang memanggil Fayra.


"Kak, Vina ...! Kak, Ray ...!" sahut Fayra dengan setengah terkejut.


Fayra dan Arfan berdiri bersamaan. Lalu, Fayra hendak menjelaskan tentang alasan keberadaan mereka di pinggir pantai.


"Kak, kok kalian bisa ada di sini?"


"Kan, Kakak yang lebih dulu bertanya seperti itu padamu, Fay. Ngapain, kalian bisa duduk berdua di sini, hah?!"


"Ini ... ini, nggak seperti yang Kakak kira, Kak. Kami cuma ... cuma ...,"


"Kami hanya sedang menghibur diri, Nona. Saya hanya mencoba untuk membuat Nona Fayra menjadi lebih terhibur dan mengubah suasana hatinya. Sebab, tekanan pekerjaan membuatnya menjadi stres, Nona." sahut Arfan berdalih.


"Ooh ... jadi, sejak kapan kalian ada di sini?" tanya Savina semakin ingin tahu.


"Baru saja, Nona." jawab Arfan lagi.


"Berhubung udah mau gelap dan mau malam juga ... lebih baik kita pulang sekarang, Fay. Nggak, baik lama-lama di pinggir pantai begini. Nanti, kamu masuk angin, loh!" Savina sengaja menekankan kata, 'masuk angin' entah karena dia memang perhatian pada sang adik, atau karena hal lainnya. Hanya dialah yang tahu alasan sebenarnya.


"Iya, Kak. Ini ... kami juga mau pulang, kok." ucap Fayra sembari melihat ke arah Arfan.


"Ya, udah. Buruan pulang! Ntar, papa sama mama khawatir, lagi." imbuh Raynar pula.


"Ya, Kak." jawab Fayra lagi.


Akhirnya, mereka semua pulang bersama-sama. Namun, ada hal yang berbeda. Savina minta untuk satu mobil dengan Fayra. Alasannya sih biar menghibur Fayra. Benar atau tidaknya, lagi-lagi hanya dia yang tahu akan hal itu.


"Kak, aku bareng mereka aja, ya? Soalnya, aku mau menemani Fayra. 'Kan, katanya Arfan dia lagi stres. Mungkin, dengan cerita ke aku dia bisa lebih plong." alibi Savina dengan sempurna.


"Oh, ya udah kalau gitu Kakak langsung balik ke apartemen aja, deh! Kalian hati-hati di jalan, ya!" pamit Raynar kemudian.


"Ya, Kak. Hati-hati, Kak!" ucap Fayra dan Savina serempak.


...*****...


Seiring berjalannya waktu, Savina bukannya menghibur sang adik. Ia justru malah terlalu fokus menatap wajah tampan Arfan dari belakang.


"Kak Vina gimana, sih? Katanya tadi mau menghibur aku. Ini yang aku perhatikan, kok dia malah asyik perhatiin Arfan, sih?! Bikin kesel, aja!" celetuk Fayra dongkol dalam hatinya.


Daripada memperhatikan sifat labil tidak jelas sang kakak. Fayra lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.


Terlihat lampu-lampu di pinggir jalanan yang telah menyala. Membuat jalanan tampak lebih bercahaya dan indah.


Sedangkan Arfan, pemuda tampan itu lebih memilih untuk tetap bungkam. Ia lebih memfokuskan perhatiannya pada setir mobil, ketimbang hal lain.


...*****...


"Fay, kamu masuk duluan, ya!"


"Loh, kenapa nggak bareng, aja, Kak?"


"Nggak, apa-apa! Kakak pengen nelpon seseorang dulu. Kamu buruan mandi dan siap-siap untuk makan malam, ya!"


"Tapi, Kak ...,"


"Udah, buruan!" Savina pun mendorong tubuh sang adik, agar lebih cepat masuk ke dalam rumah.


"Kak Vina kenapa, sih? Dari tadi aku perhatiin aneh banget kelakuannya." ucap kesal Fayra lagi dan lagi dalam hatinya.


Fayra pun masuk dengan terpaksa, namun sorot matanya masih tetap mengarah pada sang kakak yang tengah mengotak-atik ponselnya.


"Sepertinya, dia memang ingin menelpon seseorang. Ya, udah, deh! Aku masuk duluan." ucapnya lagi yang tak terlisankan.

__ADS_1


Arfan yang baru saja selesai memarkirkan mobil ke garasi pun, segera melintas di samping Savina.


"Arfan ... tunggu!" ucap Savina yang berusaha menghentikan langkah pria tampan di sampingnya.


"Ya, Nona. Ada apa, ya?"


"Eee ... kamu sama Fayra beneran cuma untuk menghibur diri tadi di pantai?" tanya Savina yang terlalu kepo.


"Ehemmm ... kenapa, ya Nona? Apakah hal itu tidak di perbolehkan?" tanya Arfan langsung to the point.


"Oh, nggak! Justru, aku mau berterima kasih sama kamu. Makasih, ya! Kamu udah mau menghibur adikku di saat dia sangat membutuhkan seseorang untuk menghiburnya," ujar Savina kikuk dan berlagak santai.


"Iya, tidak masalah, Nona. Sebab, itu sudah menjadi tugas saya sebagai pengawalnya nona Fayra. Apa masih ada lagi yang ingin di tanyakan, Nona? Kalau tidak, saya akan segera masuk,"


"Oh, iya silakan!"


Arfan pun lekas masuk, sebab waktu Maghrib sudah hampir habis.


...*****...


Seusai mandi dan shalat, Arfan di minta untuk makan malam bersama dengan Adiwangsa beserta keluarganya.


Tok ... tok ... tok ...!


"Ya, Mbok. Ada apa?"


"Nak Arfan di minta untuk makan malam bersama oleh tuan Adiwangsa di meja makan. Ayo, sudah di tunggu, Nak!" ujar Mbok Minah pada Arfan.


"Iya, Mbok. Makasih, Mbok!"


"Iya, sama-sama." Mbok Minah pun pergi meninggalkan Arfan.


Arfan menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju meja makan. Terlihat di sana semua orang sudah berkumpul kecuali Fayra saja yang tidak ada.


"Ayo, sini, Arfan! Kita mulai makan malamnya," seru Adiwangsa pada Arfan.


"I-iya, Pak!" sahut Arfan dan ia pun mengambil tempat duduk.


"Jadi, bagaimana hari pertama kamu menjadi pengawal pribadi Fayra, Arfan? Apakah dia menyulitkan kamu?"


"Ti, tidak sama sekali, Pak! Non, Fayra sangat baik, Pak." jawab Arfan gugup.


"Oh, benarkah? Saya pikir anak itu akan cukup merepotkan kamu, tadi. Tapi, ternyata tidak. Syukurlah kalau begitu," imbuh Adiwangsa.


"Iya, Pak."


Hening!


"Pak, bolehkah saya menjenguk ibu saya yang di rawat di rumah sakit? Kata adik saya, hari ini ibu saya di pindahkan ke rumah sakit Yogyakarta. Sebelumnya, ibu saya di rawat di rumah sakit Semarang," ucap Arfan meminta izin.


"Jadi, ibu kamu sakit?" tanya Adiwangsa yang memang tak tahu menahu akan hal itu sebelumnya. Sebab, Arfan memang belum mengatakan apa-apa pada Adiwangsa mengenai kondisi keluarganya saat ini.


"Iya, Pak. Lebih tepatnya, sih ibu saya mengalami koma akibat kecelakaan yang menimpa dirinya dan rombongannya, Pak," jelas Arfan lagi.


"Kalau begitu, saya yang akan menemani kamu, ya!"


"Tidak usah, Pak! Saya bisa sendiri, kok!" tolak Arfan merasa tak enak dan segan.


"Tidak apa-apa! Jangan, sungkan pada saya! Anggap saja seperti orang tuamu sendiri, ya!" titah Adiwangsa.


"Te, terima kasih banyak, Pak!"


"Sama-sama."


Dalam hatinya Arfan masih lagi bertanya-tanya, akan ketidak hadiran si nona mudanya di meja makan malam ini.


"Apakah dia masih bersedih karena hal tadi, ya?" ucapnya penasaran.


"Vina ...?"

__ADS_1


"Ya, Ma?"


"Adik kamu kemana, ya? Kok, dia nggak ikut kamu turun untuk makan malam?"


"Katanya, dia nggak lapar, Ma. Makanya, dia nggak turun, deh!" jawab enteng Savina yang masih lagi setia memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.


"Ya, udah. Kalau begitu, Mama akan antar makanannya ke kamar. Kalian lanjutkan makannya, ya!" pamit Hazna, namun, di hentikan oleh Adiwangsa.


"Sudahlah, jangan perlakukan dia seperti itu terus! Kembali duduk lagi!" titah yang tak bisa di bantah.


Hazna pun terpaksa duduk kembali. Namun, kali ini justru malah Arfan yang menyodorkan dirinya.


"Pak, boleh saya yang mengantarkan makan malam nona ke kamarnya?"


"Kamu yakin ingin melakukannya, Arfan?" tanya Adiwangsa.


"Yakin, Pak."


"Sepertinya, dengan begini mereka bisa semakin dekat dan aku bisa mempercayakan Fayra di tangan Arfan." gumam Adiwangsa membatin.


"Baiklah. Bawakan makan malam ini untuknya, ya! Jangan kembali jika, makanannya belum habis!" ancam Adiwangsa.


"Siap, Pak!" Arfan pun membawa makanan yang telah di siapkan oleh Hazna tadi untuk Fayra.


Sementara itu, Savina mulai merasakan hatinya serasa terbakar.


"Kenapa, sih?! Kenapa harus Arfan yang mengantarkan makan malam untuk Fayra? Nggak boleh! Biar aku saja yang mengantarkan makan malam itu untuk Fayra." batin Savina kesal.


"Pa, biar aku saja yang mengantarkan makan malam untuk Fayra." ucap Savina menawarkan bantuannya.


"Tidak perlu, Vin! Kamu habiskan saja makanan mu, ya! Ingat, jangan pergi sebelum kamu menghabiskan makananmu, mengerti?!" ancam Adiwangsa pada sang putri.


"Nyebelin banget, sih papa!" ucapnya kesal yang tak terlisankan.


...*****...


Tok ... tok ... tok ...!


"Masuk!" seru Fayra yang malas untuk membuka pintu kamarnya.


"Maaf, Non! Tapi, saya tidak akan masuk ke dalam. Tolong, Nona saja yang ke sini dan ambil makanannya, ya!" jerit Arfan dari balik pintu.


"Kalau kamu nggak mau masuk, mendingan balik aja, lagi! Nggak perlu repot-repot mengantarkan makanan untuk aku!" tolak ketus Fayra yang membuat Arfan menjadi bingung.


"Duh, ini gimana, sih?! Kalau makanannya nggak habis, aku nggak boleh pergi. Sementara, non Fayra nggak mau keluar. Kali ini saja, Fan. Kali ini saja kamu masuk ke dalam kamarnya non Fayra." ujarnya meragu.


Krekkk ....


Pintu pun terbuka dan Arfan masuk dengan membawa serta nampan berisi sepiring nasi dan segelas air minum.


"I-ini, makan malam untukmu, Nona! Si- silakan di makan!" ujar Arfan gugup.


Fayra memandangi wajah tampan Arfan yang terlihat gugup sekarang. Gadis itu cekikikan karena merasa lucu dengan sikap polos Arfan.


"Kamu kenapa, hah?! Bisa biasa aja, nggak?" ujar Fayra yang tak lagi bisa menahan rasa geli di perutnya karena ulah Arfan.


"Saya di perintahkan untuk menunggu Nona sampai selesai makan. Jadi, itu sebabnya saya sedikit merasa gugup kalau saya masih tetap berada di sini," ucapnya jujur.


"Kalau aku nggak mau makan, gimana, hmmm?"


"Jangan gitu, Nona! Tidak baik untuk kesehatan Nona nanti! Apalagi, bukankah besok Nona masih harus ke perusahaan untuk menangani tugas-tugas Nona, ya?"


"Ya, udah. Aku akan makan asal kamu duduk di sini," Fayra pun menepuk-nepuk lembut sofa yang ada di kamarnya. Sebab, saat ini gadis itu tengah duduk berselonjor di atas sofa empuk tersebut.


Dengan terpaksa, Arfan pun menuruti perintah sang majikan manjanya. Setelah itu, barulah Fayra menyantap makanannya.


Sedangkan Savina, gadis itu mengintip diam-diam dari balik pintu yang sedikit memberikan cela baginya, untuk melihat kondisi yang ada di dalam sana.


"Ih, kenapa, sih mereka selalu duduk berdekatan, begitu?! Bikin kesel, aja, deh!" gerutunya tak suka.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2