
Kala langit telah menampakkan wajah cerahnya yang diterangi cahaya matahari pagi. Pada saat itu pulalah Arfan telah tiba di depan rumah majikannya.
Sayup-sayup terdengar suara gemericik air dari selang yang di arahkan pada tanaman. Ternyata, si mbok Minah tengah menyiram tanaman rupanya.
"Assalamualaikum, Mbok!" sapa hangat dan lembut Arfan pada si mbok.
"Waalaikumsalam, eh ... kamu udah pulang, Le. Kapan sampainya? Kok, Mbok ndak dengar?" tanya si mbok sangat antusias.
"Baru saja, Mbok. Mbok, saya mau masuk dulu, ya. Mau mandi dan siap-siap mau bekerja, Mbok."
"Iya, Le. Mbok siapin minuman hangat, ya!" tawar si mbok dengan tersenyum.
"Makasih, Mbok!"
"Wis, ndak usah sungkan, Le! Kamu udah Mbok anggap seperti anak Mbok sendiri," tutur wanita tua itu dengan menepuk-nepuk punggung Arfan lembut.
Arfan yang mendapatkan perlakuan dan perhatian lembut dari si mbok, membuatnya menjadi semakin menyayangi si mbok itu seperti ibunya sendiri.
Mereka pun masuk bersama-sama. Arfan bersiap-siap untuk mandi, sementara Minah pergi ke dapur untuk memasak air.
...*****...
"Eh, Non Fayra! Kok, Non ada di sini? Tumben sekali Non bangunnya pagi hari ini?" tanya si mbok bertubi-tubi pada Fayra.
"Ah, iya Mbok! Hehehe ... sengaja, biar nggak kesiangan lagi seperti kemarin. Eh, Mbok aku mau buat jus strawberry. Mbok lihat nggak blender nya di mana?" tanya Fayra yang kesulitan untuk mencari blender itu sedari tadi.
"Soalnya, aku udah cari-cari dari tadi. Tapi, ... nggak ketemu-ketemu," keluh gadis itu lagi dengan bibirnya yang sedikit cemberut.
Si Mbok langsung mencarikan blender tersebut dan memberikannya pada Fayra.
"Ini, Non blender nya. Mbok nyimpannya selalu di dalam lemari ini. Tapi, kenapa Non tidak bisa melihatnya, hmmm? Apakah blender sebesar ini tidak bisa terlihat, ya Non?" ledek si mbok pada nona mudanya itu.
"Ahahaha ... mungkin tadi mataku tertutup kabut, Mbok. Makanya, jadi nggak kelihatan, deh nih blender." kelakarnya demi menutupi rasa malunya.
"Si Non, mah bisa aja candanya!"
"Bisa, dong, Mbok. Ya, udah aku mau buat jus strawberry sekarang. Mbok, mau juga, nggak?" tawarnya dengan tersenyum sumringah.
"Emmm, buat si Arfan saja bagian Mbok, Non. Mbok pernah tanya ke dia. Katanya, dia suka buah strawberry." saran mbok Minah pada Fayra.
"Oh, gitu. Ya, udah kalau gitu aku buatin untuk kita semua, deh! Biar adil. Ya, nggak, Mbok?"
"Iya, Non ayu ...!" sahut si mbok kemudian yang memuji nona mudanya itu cantik.
...*****...
Tak seperti biasanya, kali ini Adiwangsa dan Hazna bisa melihat pemandangan yang langka.
"Selamat pagi, Pa, Ma!" sapa Fayra yang baru saja keluar dari dapur.
"Pagi, Sayang!" sapa balik Adiwangsa dan Hazna pada putri manja mereka.
"Tumben, ada angin apa ini, Fay? Kamu nggak biasa-biasanya pagi-pagi seperti ini udah ada di dapur dan udah siap-siap pula," celetuk Adiwangsa terheran-heran pada sang putri.
"Hehe ... daripada Papa sama Mama menatap heran padaku. Mendingan, kalian langsung duduk aja! Nah, cobain juga jus strawberry buatan aku! Rasanya ... beh ... di jamin mahteb, deh!" ujarnya membanggakan diri sendiri.
"Ckckck, gayamu, Nak ... Nak! Sombong amat!" ledek Adiwangsa pada Fayra.
Mereka pun mencoba jus strawberry buatan Fayra, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka.
Adiwangsa dan Hazna saling tatap-tatapan. Seakan menyimpulkan pendapat yang sama.
"Gimana? Enak, nggak?!" tanya Fayra tak sabar ingin mendengar jawaban dari ayah dan ibunya.
"Ya, boleh lah. Rasanya masih bisa di terima oleh lidah," ujar Adiwangsa yang sengaja tak ingin memuji jus buatan sang anak secara langsung.
"Dih, kok gitu, sih, Pa?!" protes Fayra.
"Udah-udah! Lebih baik sekarang kita langsung sarapan aja, ya!" seru Hazna meleraikan perdebatan antara anak dan suaminya tersebut.
"Eh, Arfan! Sini ...!" panggil Adiwangsa saat melihat Arfan yang bergegas ingin pergi.
"Iya, ada apa, Pak?"
"Ayo, sarapan bersama!"
"Makasih, Pak! Tapi, tadi saya sudah sarapan di rumah sakit bersama adik dan ibu saya."
"Oh, begitu. Ya, sudah. Lanjutkan lah apa yang ingin kamu lakukan tadi!"
"Ya, Pak. Permisi!"
"Ya."
Tiba-tiba ...
"Eh, Arfan tunggu ...! Setidaknya, kamu harus minum dulu jus strawberry nya, ya! Ini," tangan Fayra terulur memberikan satu gelas jus strawberry hasil buatannya sendiri.
"Makasih, Non!"
"Habiskan dulu jusnya! Setelah itu, baru ucapkan terima kasih." seru Fayra yang sedikit memaksa.
"Baiklah, Non." Arfan pun duduk dan mulai meminum jus strawberry itu.
"Ehemmm ...!" Adiwangsa berdehem yang sukses membuat sang putri tersipu malu.
"Terima kasih, Non! Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Arfan berpamitan untuk memanaskan mobil.
"Iya," balas Fayra pula.
Adiwangsa yang sedikit menaruh curiga, langsung memberikan instruksi pada sang putri.
__ADS_1
"Apa kamu mau terus-terusan memandanginya, hmmm? Kasihan, tuh sarapan kamu dianggurin sejak tadi," goda Adiwangsa pada Fayra.
"Ihhh, Papa apaan, sih?! Bukan gitu, Pa ...," tampik Fayra yang berkilah.
"Aduh, kalian ini ... sudahlah, jangan ribut-ribut terus. Udah, Fay. Buruan habiskan sarapannya, ya! Jangan, dengerin omongan papa kamu. Dia emang, begitu." ujar Hazna melindungi sang putri dari rasa malu saat ini.
...*****...
"Oh, begitu? Ya, saya akan segera ke sana hari ini juga. Ya, terima kasih!" Adiwangsa pun menutup telponnya.
"Ada apa, Mas?"
"Aku harus ke luar negeri. Ada pertemuan di Milan untuk membahas tentang hubungan kerjasama dengan klien aku, Sayang. Jadi, tolong kamu persiapkan semuanya, ya!"
"Baik, Mas."
"Oh, ya. Bilang pada Fayra kalau dia mau pergi kemanapun harus terus di dampingi oleh Arfan, ya!"
"Nanti, aku akan bilang ke Fayra saat dia pulang, Mas."
"Ya, sudah. Kalau begitu, aku akan ke kantor terlebih dahulu mengambil dokumen penting. Sepulang dari kantor, aku akan langsung berangkat ke Milan." terang Adiwangsa pada istrinya.
"Em, iya, Mas."
...*****...
Di perusahaan Fayra Maheswara ...
"Aduh, capek banget aku! Tapi, masih banyak orderan yang harus di selesaikan." keluh gadis cantik itu dengan peluh yang sudah bercucuran.
Arfan yang sedang memperhatikan pun mulai mengambil tindakan.
"Nona, biar saya bantu, ya merancang desainnya!" tawar Arfan saat melihat Fayra cukup kewalahan.
"Memang, kamu bisa?" tanyanya meragukan kemampuan Arfan yang belum di ketahui olehnya.
"Nona jangan khawatir! Nona duduklah dan perhatikan saja, ya! Nanti, kalau ada bagian yang salah. Maka, tegur lah! Saya akan memperbaikinya lagi," terang Arfan.
"Oh, oke! Terima kasih!" ucapnya dengan santai.
"Belum, Nona. Saya, 'kan, belum selesai mengerjakannya." tolak Arfan untuk menerima ucapan terima kasih dari sang majikan.
Arfan mulai menyelesaikan desain yang di kerjakan oleh Fayra tadi. Dengan sangat teliti dan hati-hati serta dengan kepiawaian dan keahliannya, Arfan mengerjakan pekerjaan yang sulit itu untuk Fayra.
"Huhhh ... huhhh ... akhirnya, selesai juga!" ucap Arfan sembari menyeka keringat di wajahnya.
"Wah, dia hebat sekali! Lihai Lah!" puji Fayra di dalam hatinya.
"Ini, minum lah!" Fayra memberikan sebotol minuman pada Arfan.
"Terima kasih, Nona! Apakah ini masih ada yang perlu di perbaiki lagi?"
"Emmm, tidak! Ini sudah sangat bagus. Terima kasih banyak, ya!"
"Harusnya, sih sudah. Kenapa?"
"Saya ingin buru-buru ke rumah sakit menemui ibu saya, Nona. Dan ...,"
"Dan apa?"
"Hari ini saya akan bertemu juga dengan seorang wanita yang ingin menjalin hubungan ta'aruf dengan saya, Nona." ujar Arfan yang langsung membuat nyeri ulu hati Fayra.
"A, apa?! Ta'aruf?!" ucap Fayra mengulang kembali ucapan Arfan padanya.
"Iya, Nona. Nona, kenapa?"
"Ti, tidak! Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, kok. Di mana kalian akan bertemu?"
"Tentunya di rumah sakit, Nona. Sebab, bu'e masih di rumah sakit."
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin ta'aruf?" Setelah kalimat itu terlontar, Fayra jadi merasa risih sendiri.
"Duh, apa-apaan, sih kamu, Fay? Memangnya kenapa kalau dia mau ta'aruf?! Apa hak mu untuk melarangnya melakukan hal itu, hah?!" Fayra merutuki dirinya sendiri.
Sementara itu, Arfan berkerut kening mendengar pertanyaan dari sang majikan.
"Ahahaha ... lupakanlah! Aku hanya bercanda, tadi," kilah Fayra dengan cepat.
"Oh, begitu. Ya, sudah. Ayo, kita pulang!" ajak Arfan.
"Em! Ayo, let's go!" sahut gadis cantik itu.
...*****...
Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...
Arfan telah selesai mandi, setelah usai shalat Maghrib. Dia akan pergi ke rumah sakit. Sedangkan di sisi lain. Fayra tengah mondar-mandir tidak jelas di kamarnya saat ini.
Gadis cantik itu tak bisa berhenti memikirkan cara untuk ikut pergi bersama Arfan. Sampai pada akhirnya dia mendapatkan sebuah ide.
"Aha ... sebaiknya, aku bilang saja kalau aku mau periksa kesehatan ke rumah sakit. Jadi, sekalian bareng aja perginya ke rumah sakit. Ide bagus, tuh kayaknya." ujarnya, kemudian dia langsung bergegas berdandan dan lain sebagainya.
...*****...
Fayra menuruni anak tangga, kemudian memanggil Arfan yang pas sekali baru melintas di depan matanya.
"Arfan ...!"
"Ya, Nona! Ada apa, Nona?"
"Kamu mau ke rumah sakit, 'kan?"
__ADS_1
"Iya,"
"Aku ikut, ya! Aku juga ada keperluan di rumah sakit."
"Oh, ya sudah. Ayo!"
Mereka pun pergi bersama-sama.
"Nak, kamu nggak makan malam, dulu?" jerit Hazna.
"Nggak, Ma! Aku makannya nanti, aja!" balas Fayra dengan menjerit juga.
"Ah, aku belum kasih tahu dia pesan papanya tadi, lagi." sesal Hazna ketika sang putri sudah pergi.
"Nggak mungkin aku bilang melalui telepon, 'kan?!" tambah Hazna lagi.
...*****...
Di rumah sakit ...
"Non, perlu saya temani ke dokternya?"
"Oh, nggak perlu. Nanti, saya akan menemui dokternya sendiri saja. Soalnya, tadi saya udah temu janji melalui telepon dengannya. Jadi, sekarang dia masih sibuk dengan pasien lain." kilah Fayra lagi dan lagi.
"Oh, begitu."
"Boleh aku ikut menjenguk ibu kamu, gak?"
"Oh, iya tentu saja boleh, Nona."
Mereka pun berjalan menuju kamar rawat Sanah.
...*****...
Nadhifa, Sanah, Yusuf, Shafira dan calon yang akan di kenalkan pada Arfan. Mereka tengah berbincang-bincang saat ini. Tak lama kemudian, Arfan dan Fayra pun datang.
"Assalamualaikum," ucap salam Arfan dan Fayra.
"Waalaikumsalam!" jawab mereka semua yang ada di sana.
Hening!
Lalu, Nadhifa dengan cepat menarik lengan sang kakak.
"Mas, ayo, ke sini Nad kenalin sama ustadzah Maira." Nadhifa sungguh bersemangat sekali akan hal ini. Dia sampai-sampai mengabaikan Fayra begitu saja.
Tapi, Arfan tidak bisa mengabaikan Fayra begitu saja. Sebab, bagaimana pun Fayra adalah tanggung jawabnya.
"Tunggu, Dik Manis! Nona, ayo!" ajak Arfan sembari tersenyum.
"Oh, i-iya," jawab kikuk Fayra.
Pandangan mata Fayra menangkap jelas wajah cantik seorang wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Entah mengapa, hatinya seakan tertusuk belati. Sungguh sakit sekali!
"Nah, ini adalah ustadzah Maira Nadira. Dia yang ingin saya kenalkan padamu, Fan. Jadi, bagaimana? Apa kamu bersedia untuk melanjutkan hubungan ke tahap berikutnya?" tanya Yusuf dengan spontan saat Arfan baru saja mengambil posisi duduk.
"Itu semua saya serahkan pada ustadzah Maira. Apakah bersedia untuk melanjutkan atau tidaknya. Saya sudah ikhlas dan pasrah," jawab Arfan yang tak neko-neko.
"Insya Allah ... saya bersedia, Mas Arfan. Dan, lagi pula kita, 'kan, belum saling mengenal satu sama lain. Jadi, saya belum bisa memastikan apakah nantinya kita akan berjodoh atau tidak. Itu juga, 'kan, masih rahasia Allah." ujar Maira dengan lembut dan halus.
Ternyata, diam-diam Sanah justru lebih fokus menatap wajah Fayra. Dia seakan merasakan ada aura tak suka dan cemburu pada diri Fayra. Apalagi ketika Maira setuju untuk mengenal lebih dekat lagi dengan Arfan putranya.
"Emmm ... Arfan, bisakah kamu mengantarku pulang, sekarang?! Mendadak aku merasa sangat lelah," kata Fayra di tengah-tengah perbincangan Arfan dan Maira.
"Loh, bukannya Nona tadi ingin periksa ke dokter? Nona, 'kan, belum jadi periksa ke dokter, Nona. Kenapa malah pulang?"
"Tidak perlu lagi! Aku baik-baik, saja, kok!" tampik nya yang sudah mulai berdiri dan ingin pergi.
Sebelum itu, dia sempat berpamitan terlebih dahulu pada Sanah.
"Bu, saya permisi pulang dulu, ya! Maaf, kalau kedatangan saya menjadi pengganggu di sini!" ucap lembut Fayra pada Sanah. Sanah mengangguk tanda setuju.
Melihat sikap Fayra yang seperti itu, Sanah pun semakin yakin akan dugaannya.
"Sepertinya, dia menyukai Arfan. Sayang, aku belum bisa berbicara. Jika, aku sudah bisa berbicara apakah sudah terlambat? Dan aku pun tidak bisa menulis. Ah, ini sungguh membuat ku kesal!" ujar Sanah dalam hatinya.
"Maaf, semuanya! Kami permisi, dulu! Assalamualaikum," ucap Arfan yang sudah di tinggal pergi oleh Fayra.
Sementara itu, semuanya hanya menatap bingung melihat kelakuan Fayra barusan.
...*****...
"Nona, kenapa? Mengapa, tiba-tiba minta pulang? Saya jadi merasa tidak enak pada mereka, Nona." ujar Arfan sembari memfokuskan perhatiannya pada jalanan di hadapannya saat ini.
"Tidak apa-apa! Aku hanya merasa lelah saja. Apakah tidak boleh, hah?!" pekiknya atas keluhan Arfan padanya.
"Iya, boleh, Nona. Tapi, harusnya Nona sedari awal tidak perlu ke rumah sakit jika memang merasa lelah," terang Arfan lagi.
"Oh, apakah sekarang kamu berhak mengatur-ngatur ku, hmmm?! Jangan, sembarangan kamu, ya! Kenapa, sih?! Semua pria itu sama saja. Menyebalkan!" terangnya secara langsung melampiaskan kekesalannya pada Arfan.
"Baiklah, saya minta maaf! Maafkan, saya, Nona! Saya sudah lancang pada Nona. Lain kali, saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Kenapa dia? Kenapa mendadak bilang semua pria itu sama? Apa maksudnya? Apakah dia cemburu? Ah, tidak mungkin! Pasti ini hanya perasaanku, saja, 'kan?" tampik Arfan tak ingin berharap lebih. Ia takut sakit hati.
...*****...
Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...
"Minggir!!!" sentak Fayra ketika Arfan membukakan pintu mobil untuknya. Dia mendorong jauh tubuh Arfan dari hadapannya.
__ADS_1
"Huhhh ... salahku apa, sih? Kalaupun ada yang marah di sini. Bukankah, orang itu seharusnya aku? Kan, nona Fayra sendiri yang ingin ikut. Kenapa sekarang dia justru malah marah-marah tidak jelas?" ucap Arfan bingung dengan tingkah laku sang majikan.
...*****...