CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Titik Kelemahan dan Ketegaran


__ADS_3

Sejatinya semua yang telah terjadi adalah sebuah rentetan takdir yang harus kita lalui. Jalani dengan sepenuh hati. Berikan semua yang kamu miliki. Termasuk hati dan pikiranmu yang tengah kalut saat ini.


Masalah akan selalu ada, karena dia merupakan ujian bagi kita. Agar kita menjadi manusia yang pandai dalam menyikapi segala apa yang menghampiri.


Kuatkan hati bulatkan tekad. Melangkahlah lagi dan singkap kabut misteri dalam hidupmu saat ini. Jangan berikan ruang pada hatimu untuk menyerah! Tapi, berusahalah untuk tetap tegar dalam menjalani semuanya.


...*****...


Arfan telah puas mematuk diri di bangku. Ia kembali masuk untuk menemui istri dan iparnya, termasuk juga si kolega yang hendak ia hempas menjauh. Namun, urung jua hal itu terlaksana.


"Tidak baik melamun 'kan semua ini. Sebaiknya, aku mencari cara agar bisa memenuhi permintaan papa. Aku tidak ingin membuat papa kecewa." monolognya yang langsung beranjak meninggalkan tempatnya sekarang berpijak.


Derap langkah kaki Arfan terasa kian lama kian berat untuk di ajak berjalan. Sampai pada akhirnya suara dari seseorang benar-benar menghentikan pergerakan kakinya.


"Arfan ... tunggu ...!" pekik seseorang dari belakangnya.


Arfan berhenti dan menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya.


"Mas Raynar," gumamnya, ketika ia telah tahu siapa gerangan yang memekikkan namanya barusan.


"Fan, apa Savina dan Morgan sudah tiba, hmm?" tanya Raynar dengan satu tepukan pelan di pundak Arfan.


"Apa semua ini ... Mas Raynar yang melakukannya? Apa mas juga yang meminta Morgan untuk datang?" alih-alih menjawab, Arfan justru bertanya dengan raut wajah yang sudah tampak kecewa.


"Iya, Fan. Tapi, ada satu hal aku tidak bisa memahaminya, Fan. Sebenarnya, apa alasan kamu untuk tidak ingin melanjutkan hubungan kerjasama dengan pihak Morgan? Dari isi perjanjian kontraknya semua itu sudah bagus dan menguntungkan. Lalu, kenapa kamu tiba-tiba ingin menolaknya, Fan?"


"Duduk dulu, Mas! Kita bicarakan ini dengan duduk bukan berdiri seperti ini." Arfan menggiring Raynar untuk duduk di bangku taman yang tadi ia duduki bersama Morgan Tan.


Sementara itu, Morgan mengamati tindak-tanduk mereka dari dalam sana melalui cela kaca jendela.


"Morgan ...?"


"Ya," sahut Morgan kala Savina menegurnya.


"Apa yang sedang kamu lihat?"


"Tidak ada, hanya sebuah bangku taman," sahutnya dengan senyum terbingkai di wajahnya.


"Dasar aneh! Kurang kerjaan kamu, hmm?" tanya Savina dengan sedikit bernada ketus.


"Justru, pekerjaanku sangat banyak, My Sweety Girl. Apa kamu mau membantuku, hmm?" goda Morgan dengan nada manjanya.


Mendengar penuturan Morgan barusan. Tak khayal membuat Fayra tertegun tak percaya ketika tubuhnya tengah tak berdaya.


"A-apa? My Sweety Girl ...? Apa aku tidak salah dengar, Kak? Kak Vina sama Kak Morgan, apakah kalian ... memiliki hubungan khusus?"


Krik ... krik ... krik ....

__ADS_1


Savina dan Morgan Tan tampak kikuk untuk menjawab sebuah tanya yang Fayra sodorkan. Keheningan yang terjadi semakin membuat Fayra merasa adanya sebuah jawaban 'ya', yang akan ia dapatkan.


"Ouh ... jadi, benar? Aku benarkan, Kak?" tanya Fayra sekali lagi dengan ekspresi wajah yang lebih ceria dan sumringah.


"A-apanya?" jawab gugup Savina yang seakan malu, bila adiknya tahu ia memang mempunyai hubungan khusus dengan Morgan Tan.


"Alahhh ... jangan malu-malu gitu kali, Kak! Aku juga bisa lihat dari sorotan mata kalian berdua," bisik Fayra yang sengaja menggoda kakaknya yang memang tertutup itu.


Pada dasarnya, Savina bukanlah seorang gadis yang terbuka mengenai urusan hati dan perasaannya. Dia lebih cenderung memendam apa pun yang ia rasakan.


"Udah, ahhh ... jangan berasumsi yang bukan-bukan kamu! Sebaiknya, sekarang kamu istirahat, ya! Kakak dan Morgan akan ke luar. Biar kamu bisa istirahat tanpa gangguan." Savina menyelimuti sang adik, lalu memberikan senyuman manisnya.


"Makasih, Kak!" ucap Fayra yang merasa senang atas perlakuan Savina padanya.


Savina mengajak Morgan untuk ke luar dan membiarkan Fayra sendirian.


"Ayo, ikut aku! Biar Fayra bisa tidur dan beristirahat." Morgan hanya mengangguk pelan. Tak lupa ia ucapkan salam perpisahan pada Fayra.


"Cepat pulih! Kalau begitu, kami permisi dulu. Bye-bye, Fayra!"


"Bye-bye, Kak Morgan!" balas Fayra.


...*****...


Bangku taman di sekitar rumah sakit ...


"Jadi, itu alasan kamu menolak untuk bekerjasama dengan pihak Morgan, Fan?"


"Iya, Mas. Kalau papa tidak melarang, mungkin aku sudah langsung meresmikan hubungan kerjasama itu dengan Morgan, Mas."


Hening!


"Maaf, Fan! Sebelumnya, aku berpikir kamu terlalu gegabah dan tidak pandai dalam mengambil keputusan. Tapi, sekarang aku paham. Ternyata, ini semua masih ada hubungannya dengan masa lalu. Aku kira selama ini papa sudah melupakan hal itu. Tapi, tidak di sangka. Papa masih lagi ingat akan kenangan di masa silam,"


"Maksudnya, Mas?"


"Ini masalah hati, harga diri dan kehormatan, Fan. Sukar untuk di mengerti dengan penjelasan kata-kata semata." Raynar menepuk-nepuk lagi pundak Arfan.


"Keputusanmu sudah bagus, Adik Ipar! Aku mendukungmu dalam hal ini, tetap semangat, ya! Aku akan menemui Fayra dan juga calon ibu mertua." ucapnya dengan tingkat percaya diri yang hampir tak pernah menepi.


Arfan hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan si mas ipar, yang terlampau percaya diri dan tak kenal letih.


"Mas Raynar ... Mas Raynar ...! Ada-ada saja kamu itu, belum ada ikatan apa-apa sudah bisa percaya diri seperti itu. Beda denganku dulu." monolog Arfan yang masih setia pada posisi duduknya.


...*****...


Koridor rumah sakit adalah tempat pertama kali pertemuan Morgan Tan dengan Raynar. Sahabat semasa kecilnya itu, menatap dalam diam wajah tampan seorang Raynar Ravindra Maheswara.

__ADS_1


Tak hanya sampai di situ, kebungkaman itu terus berlanjut. Raynar seakan tak melihat keberadaan Morgan di depan matanya. Tapi, Savina menghentikan langkah si kakak gagahnya itu dengan spontanitas yang di luar dugaan.


"Eits ... Kak Ray! Mau ke mana, hah?!" pekik Savina dengan menyertakan sebuah tarikan baju pada kemeja yang di gunakan oleh kakaknya tersebut.


"Eh ... eh ... ehhh ...! Apa-apaan, sih kamu, Vina? Main tarik-tarik sembarangan, aja!" gerutu Raynar yang terlihat kesal.


Kejadian itu juga di lihat oleh Arfan dari kejauhan. Drama adik dan kakak yang akan berujung pada keributan itu berlangsung cukup lama. Alhasil, baik Arfan maupun Morgan mereka hanya bisa menjadi penonton setia.


"Kak, kenapa malah ingin pergi ngeloyor begitu, hmm? Seakan kakak tidak melihat keberadaan ku di sini. Seakan mata kakak dibutakan oleh sesuatu. Apa aku makhluk tak kasat mata, hah?!"


"Shuuuttt ... malu, Vina! Ini rumah sakit. Bukan, rumah papa yang bisa kamu jadikan tempat untuk marah-marah. Udah, sekarang kita damai, ya! Tadi, kakak emang sengaja melakukannya. Cuma sekedar mengetes kamu. Apakah kamu lupa pada wajah tampan kakak mu ini atau tidak? Hehe ..." alibi Raynar yang disertai dengan kelakarnya yang tak karuan.


"Dasar ... menyebalkan! Aku tidak akan lupa wajah buruk rupa mu, Kak. Mana bisa lupa kalau kamu itu adalah kakakku. Gak pulang bertahun-tahun pun aku tetap saja masih ingat pada wajah buruk rupa mu itu. Bukankah itu hal yang sangat menyebalkan, Kak? Ahahaha ..." ujar Savina yang tertawa di akhir kalimatnya. Gadis itu merasa geli sendiri, bila mengingat tingkat kepercayaan diri si kakaknya yang memang seperti itulah adanya.


"Vina, apakah kalian berdua sedang menjalin hubungan?" Kali ini Raynar mengatakan dengan penuh keseriusan.


"Memangnya, kenapa, Kak? Apakah salah bila kami memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman?" tanya Savina yang mulai merasa sesak di dadanya.


"Salah! Karena kalian berdua memang tidak akan ditakdirkan untuk bersama. Camkan itu baik-baik, Savina Maheswara! Kamu tidak di didik untuk menjadi seorang wanita yang lemah karena rasa cinta. Cinta yang memang tidak seharusnya tumbuh pada hatimu untuknya," ujar Raynar dengan kerlingan mata yang mengarah pada Morgan Tan setelahnya.


"Tapi, Kak ...," rengek Savina yang tak dapat mempercayai kenyataan yang ada.


"Tidak ada kata tapi, Savina! Jangan melakukan sesuatu hal yang tidak di halalkan oleh agama. Kita dan dia berbeda. Kamu tahu itu, ya, 'kan?"


"Iya, tapi--" ucapan Savina lagi-lagi tercekat. Sebab Raynar memberikan isyarat dengan telunjuknya yang mengarah pada bibirnya. Sebuah tanda bahwa Savina tidak boleh membantah.


Menyaksikan hal itu berlangsung di depan matanya. Morgan tentu tidak akan berpangku tangan. Ia lekas meminta penjelasan yang lebih dari Raynar untuknya dan Savina.


"Aku tidak mengerti, apa yang salah pada hubungan kami, Ray? Aku hanya ingin memberikan Savina kebahagiaan yang mungkin tidak bisa kamu berikan untuknya, Ray. Jangan, kalian bersikap egois seperti ini pada Savina dan aku, Ray!" bentak Morgan Tan yang tengah meluapkan kekesalannya.


"Kalian kata mu? Apa maksudmu, hah?!" pekik Raynar yang sudah melupakan di mana posisi mereka sekarang ini.


Kedua pria dewasa bila sudah tersulut emosi dan bila sudah merasa tersudut. Maka, tak akan ada satu pun yang beringsut. Masalah pun kian kalut.


"Ya, kamu dan semua orang yang menentang hubungan kami. Kalian yang tidak bisa memahami perasaan kami yang saling mencintai," terang Morgan dengan mengeraskan suaranya yang telah tersulut amarah.


"Bagus ... itu artinya kalian paham betul bahwa hubungan kalian di tentang, bukan? Jadi, untuk apa masih di pertahankan, hah?!" pekikan itu berhasil menggema di sepanjang koridor rumah sakit.


Kali ini Arfan tak tinggal diam. Ia segera berlari ketika melihat reaksi Morgan yang mulai berani. Berani untuk menarik kerah baju kakak iparnya.


"Cukup ...! Hentikan kegilaan kalian ini! Ini rumah sakit. Bukan tempat untuk kalian saling ribut dan bergelut dengan emosi yang berkabut!" Arfan menengahi pertikaian, yang hampir berujung pada perkelahian fisik yang membahayakan.


Sementara itu, Savina hanya bisa berurai air mata kesedihan yang seakan melemahkan keyakinannya untuk meraih bahagia.


"Hiks ...." tangis Savina yang berusaha ia redam, namun tak urung jua bisa ia lakukan.


"Apakah kami benar-benar tidak akan bisa bersama, Tuhan? Apakah kami akan Engkau pisahkan? Kenapa ....? Kenapa aku sulit sekali untuk bahagia, Tuhan ...? Mengapa aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang Fayra rasakan ...? Rasanya aku tidak kuat dan tidak sanggup lagi, Tuhan ...! Tolong, aku ...!" bisik pilu Savina dalam sudut hatinya dengan uraian air matanya yang tak kunjung sirna.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2