
Arfan sibuk membuat karya seni yang terbuat dari olahan kayu. Ia membuat beberapa buah karya sebelum satu telpon penting yang akan di terimanya. Diantaranya adalah vas bunga dan nampan untuk wadah tempat mengangkut makanan dan minuman.
Drrrttt ... drrrttt ... drrrttt ...!
Telpon Arfan pun bergetar, ia pun mengangkatnya.
"Assalamualaikum," ucapnya memberi salam.
"Waalaikumsalam, kamu di mana? Bisa kamu datang ke rumah saya sekarang juga?!" sahut penuh perintah dari seberang sana pada dirinya. Arfan pun dengan sigap menanggapi setiap kata demi kata yang terucap oleh seseorang di balik telpon itu.
"Baik, Pak! Saya akan segera ke sana. Maaf, tapi ... saya belum tahu alamat rumah Bapak, Pak!" ucap Arfan bingung.
"Gampang! Supir saya yang akan menjemput kamu sebentar lagi. Jadi, tolong kirimkan saja alamat rumah kamu di mana, ya!" perintah Adiwangsa dengan secepat kilat.
"Baik, Pak. Saya akan langsung mengirimkannya. Terima kasih banyak, Pak!"
"Ah, jangan sungkan! Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik nantinya!"
"Ya, Pak!"
"Kalau begitu, saya tutup dulu telponnya. Assalamualaikum,"
"Ya, Pak. Waalaikumsalam!" telpon pun terputus.
Arfan tampak begitu bersemangat dan antusias. Sebab, ini pengalaman pertama baginya untuk bekerja. Jadi, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bekerja dengan baik dan profesional nantinya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Allah! Bue, doakan Arfan, ya! Semoga, Arfan bisa melunasi semua biaya pengobatan bue nantinya. Dan juga membayar uang kuliah dik manis." ucap Arfan dengan mata berkaca-kaca.
Lalu, ia pun bersiap-siap tepat setelah mengirimkan alamat rumahnya pada Adiwangsa.
"Aku harus siap-siap sekarang. Nanti, tinggal menunggu jemputan datang." Di bawanya tubuh menuju kamar dan mengambil handuk lantas ia pun segera mandi dengan cepat.
...*****...
Bandara...
Hari ini, bertepatan dengan hari kedatangan kakak dari Fayra Maheswara yaitu Savina Maheswara. Perempuan cantik yang terlahir dari keluarga ningrat itu, sengaja melanjutkan S2 nya di University of Alberta di Kanada.
Entah ada angin apa yang membawanya untuk pulang ke Yogyakarta hari ini. Dia sengaja tak memberitahukan hal ini pada anggota keluarganya.
Sebab, ini adalah sebuah kejutan. Jadi, dia diam-diam pulang ke Indonesia untuk menghabiskan waktu liburan musim panasnya.
Setelah penerbangan yang cukup melelahkan, ia pun tiba di bandara YIA (Yogyakarta Internasional Airport).
"Hahhh ...! Akhirnya, sampai juga di tanah air tercinta. Nggak sabar ingin lihat wajah kaget mereka semua." ucap Savina dengan gaya super cool yang di lengkapi oleh kaca mata hitam yang melekat kuat pada matanya nan indah.
Dia pun mulai menyusuri bandara, ia hendak keluar dari sana.
...*****...
Fayra yang masih sibuk bekerja di perusahaan yang di kelolanya. Gadis itu tampak lihai mengerjakan setiap tugasnya. Seakan-akan ia adalah Master-nya.
"Bu, Fayra! Maaf, Bu. Ada yang ingin membeli furniture dengan model lain. Dia ingin merancang desainnya sendiri. Apakah bisa, Bu?" tanya salah satu pegawainya pada gadis cantik itu.
"Oh, iya. Persilakan dia untuk menemui saya." ucap Fayra.
"Baik, Bu. Permisi!" pegawai itu pun pergi lagi menjumpai si pembeli.
Beberapa saat kemudian ...
Tok ... tok ... tok ...!
"Masuk!" titah Fayra.
"Silakan, duduk!" seru Fayra pada tamunya itu.
"Oh, iya terima kasih, Mbak!" ucap pasangan suami istri itu.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu untuk Ibu dan Bapaknya?"
"E ... begini, Mbak. Kita mau punya lemari pakaian yang ukurannya lebih besar dan terbuat dari kayu yang paling bagus dan tahan lama, Mbak. Apa bisa, Mbak?" tanya suami dari ibu itu.
"Oh, gitu. Nanti, saya akan coba diskusikan hal ini pada pengrajinnya, ya Pak, Bu!"
"Oh, jadi bisa, ya Mbak?" tanya mereka berbarengan.
"Saya akan usahakan, ya. Saya belum bisa memberikan kepastian. Tapi, nanti saya coba tanyakan pada karyawan saya. Siapa tahu dia bisa menyanggupinya. Kalau begitu, ini kartu nama saya. Nanti, kalau masiha ada yang ingin di tambahkan lagi, bisa hubungi nomor saya." ucap Fayra sembari mengulurkan sebuah kartu nama pada pembelinya itu.
"Baik, terima kasih banyak, ya, Mbak! Mbaknya baik banget." ucap istri si bapak itu pada Fayra.
Fayra hanya tersenyum saja.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Mbak." pamit mereka pada Fayra.
"Ya, silakan Pak, Bu!" sahut Fayra pula.
Dengan selesainya perbincangan dan kesepakatan diantara mereka, Fayra pun memutuskan untuk pulang. Sebab, ini juga sudah hampir malam.
Fayra melirik jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 WIB.
"Wah, udah waktunya untuk pulang, nih! Kalau begitu, hari ini cukup sampai di sini." ucapnya yang langsung bergegas keluar dari ruangannya.
...*****...
"Semuanya ...! Hari ini, kalian boleh pulang. Jangan lupa, besok datang lebih awal. Karena ada hal yang ingin saya diskusikan dengan kalian semua besok, ya!"
"Baik, Bu!" ucap mereka semua.
Saatnya bagi Fayra menunggu jemputan nya.
Fayra duduk di dekat bangku di depan kantornya. Sambil memainkan mainan yang ada di tas sandangnya.
"Hahhh ... sampai kapan pak presiden itu akan menyita semua barang-barang ku? Hiks ... aku sangat merindukan Ervin ...!!!" ucapnya penuh rindu.
"Eh, tunggu dulu! Tapi, kenapa Ervin sama sekali nggak ada usaha untuk ketemu sama aku, sih?! Apa jangan-jangan dia udah ... ah, nggak! Nggak, mungkin dia tega melakukan itu padaku, 'kan?!" gerutunya dengan monolognya yang tak jelas.
Akhirnya, ada juga yang menjemputnya.
Ketika netranya melihat siapa yang datang untuk menjemput dirinya, Fayra berdecak kaget bukan kepalang.
"Loh ... kok Mas, sih yang jemput aku?!"
"Udah, buruan masuk! Nanti, kamu bisa masuk angin kalau terus-terusan di situ. Ayo, pulang!" ajak pria tampan itu pada Fayra.
Fayra pun masuk ke dalam mobil hitam itu dengan patuh.
__ADS_1
...*****...
Arfan yang juga mendapat jemputan langsung bergegas pergi menuju rumah sang majikan. Sebelum itu, ia berpamitan pada adik tercinta. Saat ini, Nadhifa juga akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibu mereka.
"Nad, Mas pergi dulu, ya! Doakan, Mas, ya! Supaya, Mas bisa mendapatkan kenyamanan dan rasa aman saat bekerja di sana nantinya." ucap Arfan meminta doa dari sang adik tercinta.
"Ia, Mas. Aku pasti akan mendoakan Mas, kok. Meskipun Mas ndak minta untuk di doakan. Kalau begitu, Mas hati-hati, ya!"
"Iya, Dik Manis! Kamu juga, ya! Mas titip salam rindu pada bue! Semoga, bue lekas sembuh! Amin ...!"
"Iya, Mas! Nanti, Nad sampaikan pada bue." Mereka pun berpelukan sesaat sebelum pergi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Mas!"
Lalu, Arfan segera membawa diri dan tasnya masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Dia juga melambaikan tangannya pada sang adik tercinta ketika sudah berada di dalam mobil tersebut.
...*****...
Di kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...
Malam ini, akan ada banyak kejutan tampaknya yang segera berlangsung di kediaman mewah keluarga Adiwangsa Maheswara.
Bagaimana tidak?!
Akan ada putri cantiknya yang baru saja tiba, di tambah lagi akan ada pengawal pribadi untuk Fayra. Dan masih ada lagi satu. Yaitu, putra satu-satunya keluarga Adiwangsa Maheswara pun akan turut serta meramaikan suasana nantinya.
Adiwangsa duduk menunggu kedatangan Arfan si pengawal pribadi sang putri. Sembari meneguk minuman hangat hasil buatan tangan sang istri.
"Wah, rasa kopi ini manis seperti dirimu, Sayang!" goda Adiwangsa pada sang istri yang merona dan tersipu malu karenanya.
"Ah, Mas ini bisa saja! Tumben, Mas pulang lebih awal hari ini. Ada hal penting apa yang membuat kamu buru-buru pulang, Mas?" tanya Hazna dengan nada lembutnya.
"Tidak, apa-apa! Nanti, kamu juga akan tahu, Sayang!" jawabnya datar.
Pertunjukan pun di mulai!
Terdengar suara bel berbunyi, lalu pembantu pun membuka pintu tersebut. Adiwangsa mengira adalah tamu yang ia tunggu-tunggu. Dengan senyuman merekah di wajahnya. Adi pun langsung berdiri dan berjalan menuju langkah kaki seseorang itu.
Dan betapa terkejutnya ia, ketika yang dilihat tak sesuai dengan perkiraannya.
"Sa ... Savina?!" jerit terbata dari mulut Adiwangsa.
"Vina ...! Kamu pulang, Sayang!" sambut bahagia Hazna kala ia melihat sang putri berdiri di hadapannya.
"Assalamualaikum, Papa, Mama! Kejutan ...!" ucapnya memberi salam.
"Waalaikumsalam, ia Mama dan Papa sangat kaget. Kamu kenapa pulang nggak bilang-bilang, hah?!"
"Namanya juga kejutan, Ma! Ya, udah pasti nggak bilang-bilang, 'kan?!"
"Kamu udah makan, Sayang?" tanya Hazna lagi.
"Udah, kok, Ma. Tadi, aku sempat mampir dulu di jalan untuk makan. Mama sama Papa udah makan malam?" tanyanya balik.
"Belum, kata Papa mau nunggu seseorang. Apa jangan-jangan yang di maksud Papa mu itu kamu, ya?!"
"Mana mungkin, Ma. Ini, 'kan kejutan! Jadi, mana ada yang tahu kalau aku akan pulang. Oh, ya. Di mana mas Raynar dan adik manjaku itu, Ma?" tanyanya celingak-celinguk mencari sosok kakak dan adiknya itu.
"Oh, gitu. Ya, udah. Kalau gitu, aku mau bawa koper ke kamar dulu. Sekalian mau mandi, udah gerah dan lengket banget, Ma."
"Iya, Sayang! Koper kamu nggak mau di antar sama pak Woso, Sayang?"
"Nggak, usah, Ma! Biar aku aja yang langsung bawa ke atas."
"Oh, ya sudah kalau begitu."
"Pa, aku pamit ke atas dulu, ya!"
"Ya, selamat istirahat, Sayang!" ucap Adi sembari mengelus lembut punggung sang putri.
"Jadi, sebenarnya kamu itu nungguin siapa, sih, Mas?!"
"Udah, bentar lagi kamu juga bakalan tahu. Yuk, duduk lagi!" ajak Adi pada sang istri.
Belum lagi sampai langkah mereka, sudah ada lagi yang membunyikan bel pintu rumah mereka.
"Nah, mungkin ini dia!" tebak Adiwangsa.
"Bisa jadi, ini Fayra, Mas! Biar aku yang buka, ya?"
"Ya, sudah. Pergilah!"
"Eh, Mbok, biar saya saja yang buka. Mbok, tolong siapkan makan malamnya, ya!"
"Baik, Nyonya!" lalu, si mbok pun kembali lagi ke dapur.
Sebelum masuk, Arfan sempat melihat sebuah mobil mewah berwarna merah terparkir di halaman rumah itu.
"Loh, kok kayak ndak asing, ya sama tuh, mobil?! Apa jangan-jangan ini mobil gadis yang menabrak aku waktu itu?!" Arfan mulai menduga-duga hal tersebut.
Hazna tak sabar membuka gagang pintu rumah, ketika ia telah membuka dengan lebar pintu rumahnya. Terlihatlah sosok seorang pemuda tampan yang berdiri di hadapannya.
Kali ini, Adiwangsa benar akan dugaannya. Lalu, dia pun bertanya pada sang istri.
"Siapa yang datang, Sayang?" tanya Adiwangsa penasaran.
"Assalamualaikum," ucap Arfan sopan.
"Waalaikumsalam! Mari, masuk!" ajak Hazna ramah.
Arfan pun masuk dan mengikuti si pemilik rumah dari belakang.
"Silakan, duduk!" sambut baik Adiwangsa pada Arfan.
"Terima kasih, Pak!" Arfan menyapu pandangan matanya ke sekeliling ruangan tersebut.
"Masya Allah ...! Rumah ini begitu indah sekali! Penghuninya juga ramah-ramah. Semoga, aku bisa bekerja dengan baik di sini! Tapi, kenapa aku di bawa ke rumahnya? Padahal, aku melamar pekerjaan di kantornya." ucap Arfan bermonolog dalam hatinya.
"Jadi, ini Mas tamu yang kamu tunggu-tunggu dari tadi sampai membuat kamu senyum-senyum sendiri, hum?" tanya Hazna bisik-bisik pada Adiwangsa.
"Shuuuttt! Diam lah! Ia, memang dia. Sekarang, tolong siapkan makam malamnya, ya!"
"Baik, Mas!"
__ADS_1
"Permisi, saya pamit ke belakang dulu!" ucap Hazna pada tamu istimewa suaminya itu.
"Oh, iya. Silakan, Bu!" sahut Arfan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah sipa mendengar apa pekerjaan kamu di sini, hum?!"
"Saya sudah sangat siap, Pak! Tapi, saya hanya merasa bingung saja, Pak."
"Kenapa?"
"Saya melamar pekerjaan di kantornya, Bapak. Tapi, kenapa malah di ajak ke rumah Bapak?"
"Oke, saya akan jelaskan semuanya sekarang, ya! Jadi, tugas kamu adalah ... menjadi pengawal anak saya!" jawab Adiwangsa tandas dan lugas.
"Pe, pengawal, Pak?!" Arfan terlonjak kaget mendengar ucapan Adiwangsa barusan padanya.
"Iya," jawabnya lagi.
"Apa kamu keberatan?"
"Ti, tidak sama sekali, Pak!" jawab Arfan gugup.
Seumur-umur, dia belum pernah menjadi pengawal. Mengenai apa saja yang harus di lakukan seorang pengawal pun dia tidak tahu.
"Aduh ...! Celaka, ini! Aku ndak bisa e ... jadi, pengawal?! Oh, Gusti ...! Cobaan apalagi, ini?!" keluh Arfan dalam hatinya.
Dan, suara bel berbunyi lagi. Kali ini, pintu itu di bukakan oleh si mbok.
"Non, Fayra! Yuk, masuk, Non!"
"Sebentar, Mbok. Ini, ada yang masih mau masuk lagi," tolak Fayra.
"Siapa lagi, Non?!"
"Nah, ini dia orangnya!"
"Wah, Den Raynar! Masuk-masuk, Den, Non!" seru sang pembantu rumah tangga itu dengan girangnya.
"Makasih, Mbok!" ucap Raynar.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
...*****...
"Assalamualaikum, Pa!" ucap salam kedua kakak beradik itu berbarengan.
"Waalaikumsalam," jawab Adiwangsa dan Arfan bersamaan.
Ketika Arfan melihat ke arah sumber suara si pemberi salam. Betapa kagetnya Fayra. Gadis itu hampir berteriak histeris. Kalau saja dia tak ingat ini di rumahnya. Sudah barang tentu dia akan berteriak sekuat-kuatnya.
Berbeda dengan Arfan. Dia memang tidak bisa mengenali Fayra. Sebab, gadis itu menutup matanya ketika pertama kali mereka bertemu. Dan di tambah lagi sinar matahari yang menyilaukan pandangan mata Arfan. Jadi, dia hanya bisa mengingat suara dan plat mobil merah yang Fayra gunakan saja.
"Dia lagi?!" pekik tak bersuara Fayra.
"Eh, kalian berdua kenapa bisa pulang bersama?"
"Kenapa lagi? Itu karena Papa menyita mobilku. Jadinya, aku menunggu jemputan. Eh, ... malah tidak ada yang datang menjemput ku!" keluh Fayra dengan muka juteknya.
Gadis itu pun buru-buru pergi ke kamarnya. Sedangkan Raynar dan Arfan hanya menjadi pendengar yang baik saja.
"Maaf, Fay! Papa lupa, tadi." ucap Adi santai. Dia memang tak ingat untuk menjemput Fayra. Malah ingatnya menjemput Arfan saja.
"Dia kenapa, Pa? Apa Papa menyita semua barang-barangnya, ya?" tanya Raynar penasaran.
"Sudahlah! Ini semua demi kebaikan dia juga," jawab tandas Adiwangsa pada putranya itu.
"Kalau begitu, ayo kita makan malam sekarang!" ajak Adiwangsa pada semuanya.
"Iya, Pa." jawab Raynar.
"Mari, Arfan! Ikut makan malam bersama kami. Saya sudah meminta istri saya mempersiapkan makan malam ini. Ayo!" ajaknya pada Arfan.
"Ya, terima kasih, Pak!"
Arfan pun mengekori mereka.
Kini, semua orang telah berkumpul kecuali Fayra dan Savina. Mereka tampaknya enggan untuk turun. Sepertinya, Savina kelelahan sedangkan Fayra ... mungkin gadis itu masih marah.
"Aku akan panggilkan anak-anak gadis di rumah ini, ya, Mas! Supaya mereka bisa ikut makan malam bersama kita."
"Tidak perlu! Tadi, Savina bilang dia sudah malam. Dan lagi ... dia juga pasti lelah," kata Adiwangsa dengan santainya.
"Loh, Savina udah pulang, Pa, Ma?!"
"Iya, baru saja!" jawab Hazna.
Sementara, Arfan hanya diam seribu bahasa.
"Kalau begitu, aku akan panggilkan Fayra saja."
"Tidak, usah! Dia pasti masih marah! Sebab, aku tadi lupa menjemputnya." jawab Adiwangsa lagi dengan ekspresi wajah yang sama.
"Sudah, kamu duduk saja! Ikut makan bersama kami," titah Adiwangsa yang tak bisa di tolak oleh Hazna.
Acara makan malam pun usai dengan khidmat.
...*****...
Kembali Adiwangsa memberikan penjelasan mengenai tugas-tugas Arfan terhadap sang putri. Tapi, kali ini mereka membahasnya di ruang kerja Adiwangsa.
Supaya, mereka lebih leluasa membicarakan hal itu. Sebab, urusan ini bersifat rahasia negara yang tak boleh sampai di ketahui oleh banyak orang.
...*****...
"Ma, papa membahas apa, sih dengan pria tadi?" tanya Raynar yang kini tengah menemani sang ibunda menonton televisi.
"Mama juga ndak tahu, Nak! Kalau kamu mau tahu, ya sana tanya langsung ke papamu itu!" titah Hazna tanpa beban.
"Mama kayak nggak kenal papa, aja! Kalau udah masuk ruang kerja, itu berarti urusan mereka sangat penting, Ma! Mana berani aku main masuk-masuk aja ke sana!" terang Raynar yang paham betul akan kebiasaan sang ayah.
"Nah, itu kamu tahu!" jawab Hazna enteng.
"Hahhh ... papa selalu penuh misteri!" ucap Raynar berkeluh kesah.
Sementara sang ibu hanya tersenyum saja melihat raut wajah sang anak yang mulai gundah gulana.
__ADS_1
...*****...