
Mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, Raynar sama sekali tak memikirkan tujuan kemana kakinya akan melangkah sekarang.
Dia tidak mungkin kembali ke apartemen yang mana apartemen itu adalah milik ayahnya. Dia hanya menumpang tinggal di sana. Toh, selama ini dia juga tak pernah menghasilkan uang sama sekali. Kerjanya hanya mengolah bisnis salah satu perusahaan milik ayahnya. Itu pun, dia sering gagal melakukannya.
Tapi, dia masih berani membawa sepeda motor yang sering di pakainya untuk sekedar konvoi-konvoi bareng teman-temannya.
"Ah, sial! Bangun tidur, udah langsung adu mulut sama, tuh pak Presiden! Bikin kesel aja, kan tuh si Kanjeng Romo!"
Di tengah-tengah kegalauannya untuk memikirkan langkah kemana ia akan pergi. Tanpa ia sadari, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melintas dengan sangat kencang di depannya. Hampir-hampir membuat mereka mengalami kecelakaan yang fatal.
Tapi, syukurlah hal itu tidak sampai terjadi. Sebab, baik Raynar maupun si pengendara mobil yang ugal-ugalan itu tabrakan.
Chiiittt ...
Chiiittt ...
Terdengar suara rem mobil dan sepeda motor milik Raynar dengan sangat kerasnya. Raynar pun menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Kemudian, ia menghampiri si pengendara yang ugal-ugalan tersebut.
Tuk ... tuk ... tuk ...
Raynar mengetuk kaca mobil hitam itu dengan serakah. Ia tak berhenti sebelum si pemilik mobil tersebut membuka kaca jendela mobilnya.
Akhirnya, wanita itu membuka kaca mobilnya dengan perlahan-lahan. Sebelum Raynar hendak menghardik si wanita, sempat-sempatnya Raynar terpesona oleh kecantikan si pengendara mobil ugal-ugalan itu.
"Maaf, maafkan saya, Mas! Tadi, saya tidak bermaksud untuk melintas begitu saja di hadapan Masnya. Saya tadi di kejar-kejar preman urakan yang mencoba untuk merampok saya." terang si wanita yang entah kenapa hanya di dengar sambil tersenyum oleh Raynar.
"Wah, tidak di sangka. Kabur dari rumah malah bertemu bidadari yang cantik seperti ini! Tahu begini, aku kabur dari dulu, deh!" celetuk Raynar yang tak tahu melihat situasi dan kondisi.
Rentetan penjelasan sudah wanita itu coba jelaskan pada Raynar. Tapi, si pemuda tampan itu malah asyik terlena dalam khayalan tingkat Dewa nya kini.
Sungguh miris sekali!
Wanita itu mendadak ilfil melihat pemuda tampan yang ada di hadapannya.
"Dih, nih orang di ajak ngomong, kok malah bengong, sih?! Bikin kesel, aja! Mana aku buru-buru, lagi mau ke rumah sakit. Eh, malah di tengah jalan banyak banget kendalanya." gerutunya tak suka dengan keadaan yang menimpa dirinya saat ini.
"Mas ...?! Mas ...!" panggil-panggil wanita itu pada Raynar.
"Eh, iya, maaf! Saya tadi sedang berpikir, saja. Kok, bisa, ya? Ada cewek yang hobinya ugal-ugalan menyetir mobil? Aduh ... Mbaknya nggak takut, apa? Nanti, kalau membahayakan diri Mbaknya dan orang lain, 'kan, bahaya banget, itu, Mbak ...!" nasihat Raynar yang semakin membuat si wanita tak tahan.
"Mas, tadi saya udah minta maaf dan juga sudah menjelaskan kenapa saya ngebut-ngebut seperti tadi ...! Masnya, nih yang nggak dengerin penjelasan saya. Makanya, Mas ... lain kali, tuh kuping di pakai dengan baik dan benar!" cecar si wanita saking kesalnya.
"Wah ...! Wah ... dia yang salah, malah dia yang ngotot. Cewek mah emang, gitu, ya! Udah, salah! Ngotot pula, tuh!" ujar Raynar yang cukup kesal juga.
__ADS_1
"Nih, orang bener-bener, ya! Cari ribut kayaknya dia!" wanita itu pun keluar dari mobilnya setelah bergumam geram di dalam mobilnya.
Bammm ...
Wanita itu menutup kasar pintu mobilnya dan mencoba bernegosiasi dengan si pemuda tampan, yang sangat mengganggunya saat ini.
"Mas ... to the point, aja, deh! Mas, ini maunya apa, sih? Saya lagi buru-buru! Kalaupun saya salah saya, 'kan, sudah minta maaf. Lalu, sekarang apa lagi masalahnya, Mas?!" tanyanya yang sudah kesal hingga ke ubun-ubun.
Tak hanya memaki Raynar, saking frustrasinya wanita itu sampai-sampai mengacak-acak rambutnya kasar.
"Waduh ... makin se.k.si aja, nih cewek!" ujar Raynar semakin kagum pada si wanita.
Tiba-tiba di tengah-tengah perdebatan mereka. Ponsel si wanita itu berbunyi, sehingga hal itu cukup untuk menghentikan berdebat sengit antara mereka.
Drettt ... drettt ... drettt ...
"Halo,"
"Clarissa ... segeralah kamu pergi ke kantor Ervin sekarang!" titah si penelepon yaitu Erwin Adicandra pada Clarissa.
"Baik, Pak! Saya akan segera ke sana sekarang juga!" jawab Clarissa si wanita yang tengah berdebat dengan Raynar.
"Maaf, Mas! Sekali lagi saya katakan, saya sedang buru-buru. Kalau ada yang lecet atau luka parah dan sebagainya. Ini, kartu nama saya. Mas tinggal hubungi saja nomor yang tertera di sana. Permisi, Mas!"
Buru-buru Clarissa pergi memenuhi panggilan dari si tuan penguasa hidupnya.
...*****...
Rumah sakit ...
"Bue ... kok, mas Arfan ndak kesini-kesini, ya?" tanya Nadhifa pada sang ibu yang sudah mulai bisa lagi berbicara beberapa hari lalu.
"Mung ... kin. Mas, mu si ... buk, Nad." sahut Sanah dengan terbata-bata.
"Sesibuk apapun, 'kan, harusnya mas kasih kabar ke Nad. Ini, nggak ...." gerutu Nadhifa dengan semburat kecewa di wajah ayunya.
Tak selang berapa lama kemudian, orang yang jadi bahan pembicaraan pun tiba dengan wajah yang penuh ketegangan.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Mas! Akhirnya ... Mas tampanku datang, juga. Mas, kenapa ndak bilang ke Nad kalau akan datang, hmmm? Nad, jadi, cemas sedari tadi nggak karuan, Mas!" curhat si adik manja namun mandiri itu pada sang kakak tampannya.
"Maafkan, Mas, ya, Dik Manis! Mas sama sekali tidak berniat membuat kamu dan Bue khawatir. Ada sedikit masalah di rumah majikannya, Mas. Makanya, Mas telat datang kesini." terang Arfan dengan lemah lembut.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mas. Sekarang, bue sudah bisa berbicara lagi, Mas. Walaupun, masih belum lancar, Mas." ucap senang Nadhifa pada sang kakak.
"Alhamdulillah, iya Dik Manis. Mas udah tahu, kok." ucap Arfan yang membuat Nadhifa berkerut kening karena heran.
"Lah, Mas tahu dari siapa? 'Kan, Nad belum ada kabarin Mas soal ini, Mas ...," ucap Nadhifa semakin penasaran dari siapkah gerangan si masnya tahu tentang hal tersebut, coba?
Sanah tersenyum dan terkekeh geli, kala ingatannya kembali teringat akan bisikan nya pada si nona muda anak lanangnya itu.
"Ya, tahu saja. Hehehe ...," ucap Arfan terkekeh sembari menghindar untuk menjawab pertanyaan si adiknya itu.
"Iiihhh ... Mas, kok gitu, sih Mas?! Nyebelin!" ujar Nadhifa ngedumel pada kakaknya yang tampan itu.
Ternyata, Fayra memandangi mereka dari balik kaca pintu kamar rawat Sanah. Samar-samar, ia melihat dan mendengar perbincangan di antara adik dan kakak tersebut. Hal itu semakin membuat dia merindukan semua kakak-kakaknya yang jauh dari sisinya saat ini.
"Manis sekali hubungan diantara mereka. Aku jadi iri pada Arfan yang bisa sedekat dan seakrab itu dengan adiknya." gumam Fayra dari balik pintu.
Tanpa ia sadari, air matanya pun menetes tiba-tiba. Fayra tak ingin masuk ke dalam. Sebab, dia tahu bahwa Nadhifa tidak akan suka akan keberadaan dirinya di sana.
Sementara di dalam sana, Arfan masih memikirkan Fayra yang tengah di landa masalah saat ini.
"Non, saya janji akan membuat senyum non merekah lagi. Sama seperti bunga yang mekar di pagi hari. Cantik dan indahnya menentramkan jiwa." ujar Arfan di dalam hatinya.
"Eh, Mas! Kok, malah bengong, sih? Liatin apaan, sih, Mas? Emang, ada apa di pintu itu, Mas?" tanya Nadhifa yang terkesan sangat cerewet melebihi seorang wartawan.
"Ah, ndak. Mas, hanya lagi memikirkan sesuatu, aja, Dik Manis!" ujar Arfan sembari mengacak-acak kerudung segi empat sang adik.
"Iya, Nad tahu Mas lagi mikirin sesuatu. Yang Nad tanya itu ... sesuatu yang Mas pikirkan itu apa, Mas ku ...?" ucap Nadhifa sembari mencubit geram kedua pipi si masnya.
Sanah merasa sangat bersyukur, kedua anaknya tumbuh dewasa dengan sangat baik dan hidup rukun. Rasanya, tak ada kebahagiaan yang jauh lebih baik daripada melihat keutuhan keluarganya. Ya, meskipun suami tercintanya entah masih hidup ataukah sudah tiada.
Namun, Sanah tetap mensyukuri segala apa yang telah Allah berikan kepadanya dan anak-anaknya.
Fayra di luar sana semakin merasa iri pada Arfan yang sedang tertawa di dalam sana bersama keluarganya.
"Seandainya, keluarga ku juga seperti keluarga Arfan. Tentu, aku juga akan hidup jauh lebih baik dari pada sekarang." gumam Fayra sendu.
...*****...
Tidak akan pernah sama takdir hidup setiap hamba.
Sebab, semuanya telah terukir indah di dalam kitabnya, 'Lauh Mahfudz'.
Jalani dengan sebaik-baik yang kalian bisa.
__ADS_1
Agar kalian tidak akan pernah menyesalinya.
...*****...