CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Terpesona Karena Dia Terlihat Berbeda


__ADS_3

Ketika kita memandangnya dengan hati


Bukan lagi dengan mata jasmani


Akan ada rasa yang sulit di mengerti


Sebab, hati adalah kekuasaan Ilahi Robbi


...*****...


Fayra yang tengah menunggu Arfan tiba, tak di sangka-sangka ada pesan masuk ke dalam ponsel miliknya. Gadis itu dengan sigap, meraih ponselnya dan membuka sebuah pesan WhatsApp dari sahabat nya.


Fay, hari ini aku butuh model, nih untuk gaun pengantin yang baru selesai aku rancang. Apa kamu bersedia menjadi modelnya, Fay? Tapi, aku merancang gaun pengantin yang menggunakan hijab. Jadi, kamu harus memakai hijab. Apa kamu mau, Fay melakukan pemotretan sebagai model gaun pengantin ku nanti jam tiga sore?


Mata Fayra terbelalak tak percaya!


Selama ini, dia tidak pernah menerima tawaran dari sahabatnya yang memang cukup alim dan religius itu untuk memakai hijab. Ini adalah untuk kali pertamanya Fayra memakai hijab. Setiap kali ia meminta Fayra untuk menjadi model dadakannya bila di butuhkan mendesak. Selama ini, sahabatnya itu hanya memberikan rancangan baju biasa saja. Seperti gamis yang bisa di pakai tanpa hijab atau sejenisnya.


"Apa?! Gaun pengantin?!" ujarnya seraya sedikit berteriak karena gugup dan terkejut.


"Ngada-ngada, aja, nih si Hasna! Ah, yang bener, aja aku pakai hijab?! Hijab, 'kan, bikin gerah! Panas, lagi!" ucap Fayra merutuki pesan sang sahabat karib.


Sejenak ia terdiam dan memikirkan sesuatu yang sudah pasti, 'menggila'. Namanya juga gadis bar-bar. Apa saja bisa dia lakukan demi tercapainya tujuan.


"Aha ... aku terima aja, deh! Lumayan, 'kan, sekali-kali berlagak jadi pengantin dadakan! Hihihi ...." tawanya memenuhi ruangan yang hanya dia sendirilah penghuninya.


Kemudian, gadis cantik itu mulai mengetik pesan balasan pada sang kawan.


Oke, deh! Aku mau terima. Asal, kamu juga mau melakukan satu hal untukku nanti, ya!


Pesan pun terkirim dengan sempurna dan langsung di baca oleh Hasna Haniyah, si gadis cantik yang berprofesi sebagai seorang desainer yang masih pemula.


Oke, aku akan penuhi apapun keinginan kamu. Asal jangan minta barang branded aja, deh! Aku pasti oke in.


Lagi, balasan dari Hasna, Fayra terima dengan lekas terbaca tanpa berlama-lama.


Tenang! Aku akan meminta hal yang masuk akal, kok. Eh, sebelumnya aku mau tanya. Apa kamu mendesain baju pengantin untuk prianya juga, Na?


Hasna membalas dengan secepat kilat.


Iyalah, tenang! Kalau itu aku udah ada modelnya, kok! Hehehe ... 😁😁


Fayra berkerut kening sesaat, seakan ia tengah memikirkan siasat. Kemudian, dia kembali lagi mengetik kata demi kata dengan jari jemarinya yang lentik dan lincah. Seakan tangannya sangat ahli seperti seorang penari yang amat terampil sekali.


Setelah pesannya terkirim pada Hasna, Fayra pun merasa lega. Dan di saat telah selesai berkirim-kirim pesan, Arfan pun datang membawa pesanan yang di minta sang majikan.


"Nona, ini pesanan Nona. Saya akan letakkan di sini, ya?" tanya Arfan sembari menata beberapa pesanan Fayra tadi padanya.


Namun, Arfan menjadi sangat heran. Ketika netranya menatap sekilas-sekilas wajah sang majikan. Tampaknya, si nona mudanya itu tengah merasa bahagia dan tidak lagi tertekan.


Fayra sempat merasa tertekan awal-awal kepergian dadakan sang kakak. Sebagai seorang adik, sejatinya ia amat sangat mencintai dan mengasihi, saudara dan saudarinya tanpa perlu mengharapkan pamrih.


Kini, senyum mengembang bagaikan bunga yang sedang mekar, tercetak jelas di bibir Fayra si gadis urakan dan kekanak-kanakan.


Ya, terkadang Arfan sampai di buat kelabakan oleh ulah majikan. Namun, tak jarang pula Fayra memberikan senyum merekah padanya, yang membuat jantungnya seakan tengah berlomba dalam pacuan kuda.


*Deg ... deg ... deg ...


"Apa ini?! Kenapa perasaanku seperti, ini? Mengapa setiap melihat senyuman nona Fayra membuatku sedikit lupa diri? Seakan, seluruh dunia ini hanya aku dan dialah yang menghuni. Astaghfirullah* ...!" monolog Arfan membatin.


Lama-lama, Arfan penasaran juga akan arti dari senyuman sang majikan. Sampai ia memberanikan diri untuk sekedar berbasa-basi.


"Nona ...!"


"Hmmm?" sahut Fayra yang masih setia dengan senyuman manisnya, tak lupa pula membuat nada bicaranya yang sedikit manja.


Hal itu justru semakin membuat Arfan mati kutu.


"Astaghfirullah ...!" Arfan hanya mampu beristighfar dalam hatinya saking gugupnya ia saat ini.

__ADS_1


"Eee ... emmm ...,"


"Mau ngomong apa, sih kamu, pengawal setiaku, hmmm?" ucapnya yang semakin manja.


Deg ... deg ... deg ...


Jantung pemuda tampan nan polos itu semakin tak menentu.


"Nona, apakah cuaca hari ini sangat cerah?" tanya Arfan yang sudah tak tahan dengan detak jantungnya yang tak karuan.


Fayra kemudian menarik maju kursi putarnya dan mendekat ke arah Arfan, yang masih lagi setia berdiri di samping sisi sebelah kiri, sang gadis yang menyentuh relung hati.


"Eh, Nona mau apa?!" sontak Arfan berteriak seakan Fayra ingin melecehkannya dirinya.


"Ahahaha ... kamu kenapa, hah?! Aku hanya ingin mengambil pesanan yang kamu bawa," ujar Fayra sembari tertawa renyah.


"Astaghfirullah ...! Nona, Nona tahu tidak? Saya hampir saja mati berdiri di sini," ucap Arfan blak-blakan.


Fayra merubah raut wajahnya dengan seketika. Fayra seakan menyiratkan ekspresi bertanya pada pria tampan yang ada di hadapannya.


"Maksudmu apa, hmmm? Kamu pikir aku akan membunuhmu, begitu?!" ucapnya sedikit tersulit emosi yang ada dalam diri.


"Ahahaha ... tentu saja, bukan! Bukan, seperti itu, Nona! Sungguh ... saya minta maaf! saya sudah salah berbicara barusan, Nona. Tolong, maafkan kesalahan saya barusan, Nona!" ucap Arfan dengan memelas. Sebabnya, Fayra dengan isengnya berpura-pura marah.


"Tidak mau!" tolak cepat Fayra, sembari membuang muka ke arah yang berlawanan dengan Arfan.


"Nona ... please ... jangan marah lagi, ya? Ya?" bujuk Arfan dengan raut wajahnya yang memelas belas kasihan.


"Oke, aku maafin kamu,"


"Alhamdulillah ...,"


"Eh, jangan senang dulu! Ada syaratnya,"


"Syarat?! Syarat apa, Nona?" tanyanya sembari garuk-garuk kepala.


"Kenapa kamu garuk-garuk kepala segala, hah?! Jangan, bilang ...,"


"Kamu banyak kutunya, ya? Ahahaha ...." tawa Fayra pecah. Sebab, ia terlalu bahagia mengerjai Arfan habis-habisan.


"Tidak, Nona! Saya selalu mencuci rambut saya. Pakai shampo, lagi. Pasti, kutu-kutu tidak akan berani menghampiri." tolak Arfan cepat terhadap tuduhan sang majikan.


"Bercanda! Kamu ih ... serius amat, sih jadi laki, Arfan! Aku, 'kan, jadi suka ngerjain kamu, deh! Sorry, ya!" ucap Fayra yang kemudian membuka makanan yang di beli Arfan untuknya.


Bagaimana reaksi wajah Arfan saat ini?! Udahlah, jangan di tanya lagi!


Sudah pasti memerah menahan malu dan sekarang dia semakin bingung untuk mengahadapi si nona mudanya, yang suka berubah-ubah.


"Nona Fayra ini manusia apa bunglon, sih? Suka bener buat aku kebingungan!" gerutu Arfan dari lubuk hatinya.


Tak di sangka, Fayra sudah selesai menyantap makan siangnya yang sudah telat.


"Selesai!" ucap Fayra ketika burger dan coffe latte nya habis.


"Nona, harusnya ucapkan Alhamdulillah setelah selesai makan. Lebih bagus lagi kalau membaca doa setelah makan."


"Hihihi ... maaf, Arfan! Aku tidak terbiasa mengucapkan itu ketika mau makan dan selesai makan. Tapi, aku akan bisa mengucapkan semua doa-doa itu, ketika nanti ada laki-laki yang bersedia mengajari ku saat aku menjadi seorang istri." ujar Fayra dengan percaya diri level seorang, 'Dewi'.


"Astaghfirullah ... apa harus menjadi seorang istri dulu baru mau belajar mengucapkan doa sebelum dan sesudah makan, Nona?" ucap Arfan mengelus dadanya dengan lemah lembut, karena prihatin terhadap nona mudanya yang tak mengerti apa-apa tentang ajaran agama.


"Udahlah, jangan ceramahi aku sekarang! Kalau mau ... nanti, setelah kamu sah jadi suami yang akan mengabdi, seumur hidupmu untuk mencintaiku!" ujar Fayra dengan tanpa aba-aba dan tanpa rem pula.


*Deg ...


"Astaghfirullah ... semudah itu dia berujar tentang pernikahan?! Benar-benar membuat ku semakin nyut-nyutan*!" monolog Arfan yang sudah entah ke berapa kalinya ketika ia di depan Fayra.


"Ayo, buruan kita pergi ke butik temanku!"


"Butik?! Mau apa ke sana, Nona?"

__ADS_1


"Banyak nanya! Bisa, nggak, sih? Kamu itu langsung jalan saja! Jangan, kebanyakan, kepo!" sentak Fayra dengan ketus dan judesnya ampun-ampun.


"I-iya, baiklah, Nona!" jawab Arfan pasrah dan patuh. Memang sudah seharusnya begitu.


Mereka pun pergi menuju lokasi yang di maksud oleh Fayra.


...*****...


Tibalah mereka di sebuah butik yang tampak sangat menarik. Di lihat dari segi manapun, butik milik Hasna memang sangatlah indah. Tampaknya, Arfan menyukai desain butik Hasna tersebut. Apalagi, ia adalah seorang pencinta seni.


"Wah ...! Masya Allah ... indah sekali butik ini. Desainnya menarik dan unik." gumam Arfan sebelum memasuki butik tersebut.


"Fan, buruan! Udah, di tunggu sama temanku di dalam," teriak Fayra yang sudah tak sabaran.


"Eh, iya ... iya, Nona!" Arfan pun segera menyusul Fayra yang sudah lebih dulu berjalan.


...*****...


"Hasna ...!"


"Oh, hai ..., Fay! Kok, kamu nggak bilang-bilang kalau mau datang cepat ke sini? Udah, nggak sabaran, ya?" ucap Hasna dengan senyum menggoda sang sahabat tercinta.


"Iya, Na. Aku pengen liat gaun pengantin kamu itu. Makanya, aku buru-buru ke sini sebelum jam tiga," ucap Fayra menggebu-gebu penuh semangat 45.


"Ehemmm ... apa itu orangnya yang buat kamu buru-buru minta aku ganti model prianya, hmmm?" goda Hasna sambil sesekali melirik ke arah Arfan yang tampak sedang memperhatikan sekitarnya yang di penuhi oleh baju-baju rancangan desain Hasna.


"Ah, iya! Dia orangnya, Na. Gimana? Tampan, nggak, hmmm?" kini balik Fayra yang seolah menggoda Hasna.


"Kali ini selera kamu agak beda, ya, Fay?"


"Maksudnya kamu ... apa, Na? Aku, nggak ngerti?"


"Apa dia orang yang diam-diam membuat kamu bisa move on dari Ervin, hmmm? Hayo, ngaku ...! Dia, 'kan?! Hem ... hem ... hem ...?" senggol Hasna berkali-kali pada lengan Fayra.


"Dih, bukan! Dia itu cuma pengawal pribadi aku yang di suruh pak presiden untuk jagain aku kurang lebih 24 jam!" ucap Fayra sedikit hiperbola.


"Hehehe ... okelah! Mungkin, kamu nya masih belum mau ngaku. Ya, udah kamu boleh langsung liat dan pakai gaunnya sekarang. Yuk, aku aja yang langsung antar kamu ke ruang ganti."


Arfan tak menyadari bahwa sang nona mudanya telah tiada di dekatnya.


"Lah, kemana nona Fayra perginya?" tanya Arfan kebingungan mencari-cari keberadaan Fayra.


Sudah cukup berkeliling, namun nihil!


Arfan tak kunjung menemukan nona nya itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk duduk melihat majalah-majalah fashion yang ada di atas meja yang ada di ruangan tersebut.


Tak lama kemudian, Fayra pun datang menghampiri Arfan dengan balutan gaun pengantin berwarna putih, yang telah di rias cantik bak bidadari surgawi, yang sungguh menawan hati.


"Arfan ...!" panggil Fayra dengan nada lemah lembutnya.


Arfan menghentikan aktivitasnya yang sedang membolak-balik halaman majalah fashion, yang ada dalam genggaman.


Kini, matanya berotasi memandangi setiap keindahan yang melekat pada si nona majikan.


"Masya Allah ...! Sungguh indah yang ada di hadapan hamba saat ini, ya Allah ...!" gumam Arfan yang tak dapat di dengar oleh Fayra. Sebab, jarak mereka agak jauh.


"Bagaimana? Cantik, nggak?" tanya Fayra dengan nada lugunya.


"Masya Allah ... ini beneran, Non Fayra?"


"Iya, ini aku, Arfan!"


"Nona terlihat sangat cantik dengan memakai hijab seperti ini, Nona!" puji Arfan dengan jujur dan setulus hatinya. Fayra hanya bisa tersenyum dan tersipu malu.


Deg ... deg ... deg ...


Saat ini, Arfan mulai mengingat kembali, apa yang tadi di katakan oleh ibunya yang mulai terngiang-ngiang lagi di pikiran dan hatinya.


"Bue ... kenapa Arfan merasakan semua yang bue katakan tadi terhadap nona Fayra? Apakah ini pertanda? Ataukah, hanyalah ujian bagi Arfan saja, Bue ...!" lagi-lagi ia harus di hadapi dengan keraguan yang semakin bercokol di relung hati terdalamnya saat ini.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2