CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Pertemuan dan Pelepasan Rindu


__ADS_3

Kau yang datang dari jauh


Mengapa bisa menemukan diriku?


Adakah garis takdir antara aku dan dirimu?


Seakan Tuhan sengaja membuat ku rapuh


Agar kau pun datang menemui ku


Sudah, cukup! Beritahu aku siapa dirimu?!


...{Savina Maheswara}...


...*****...


Savina masih menengadah menatap lekat wajah tampan nan rupawan. Tak hanya sampai di situ. Gadis cantik dan manis itu, juga mulai membuka dialognya pada sesosok tubuh tinggi, nan gagah di hadapannya saat ini.


"Ka, kamu ...? Si, siapa kamu sebenarnya? Ke, kenapa kamu bisa ada di sini? Di hadapan ku saat ini?" Bukan hanya satu atau dua kalimat tanya, yang Savina lontarkan pada pria berwajah Chinese tersebut.


Satu lengkungan manis yang terus mengembang pria tampan itu sajikan. Hal itu membuat Savina semakin penasaran.


"Hi! Can you understand what I just said? " tanya Savina kemudian.


(Hai! Apakah kamu bisa mengerti ucapan ku?)


"Ya, aku paham! Apa benar kamu adalah Savina Maheswara?"


Savina tercengang!


Di saat dia sedang berpikir keras akan sosok pria asing itu, si pria justru telah mengenal dan tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


"Ke, kenapa kamu bisa tahu namaku?"


Klik ...


Tatapan mereka saling mengunci satu sama lainnya. Dan ... Savina pun semakin tenggelam, dalam perasaan aneh yang kini tengah menyelimuti dirinya.


...*****...


Yogyakarta ...


Setelah beberapa hari menjabat posisi tertinggi di perusahaan. Arfan sudah mulai di sibukkan dengan berbagai acara dan rapat penting lainnya. Sampai-sampai, Fayra yang tengah berbadan dua mulai marah-marah di rumah.


"Pa, memang nggak bisa, ya? Kalau mas Arfan rehat sejenak dari rutinitasnya di perusahaan? Aku ingin kami liburan! Aku bosan ada di rumah, Pa! Apa Papa lupa, ya? Waktu setelah kami menikah, Papa sama sekali tidak memberikan kami waktu untuk honeymoon, Pa! Jadi, please ...! Kali ini ... aja, Pa. Tolong ...! Izinkan kami untuk pergi honeymoon. Boleh, 'kan, Pa?!" rengek Fayra yang seakan tak ingin di bantah!


Adiwangsa menghela nafas panjang!

__ADS_1


"Hahhh ...! Fayra? Boleh Papa juga minta sedikit lagi waktu padamu, hmmm? Papa hanya tidak mau orang-orang akan meragukan kinerja suami kamu di perusahaan nanti, Nak!" terang Adiwangsa, sejenak ia mengehentikan laju ucapannya. Agar, anaknya mau sedikit saja mencerna.


"Fayra, Papa tidak mau kalau nanti Arfan menjadi buah bibir orang-orang yang mencemoohnya. Kasihanilah suami kamu, Nak! Dia tengah berupaya untuk membuktikan dirinya di perusahaan. Agar, tidak ada lagi yang meremehkan dirinya, Nak! Sampai di sini, apa kamu sudah paham?!" ucap Adiwangsa penuh penekanan dalam setiap katanya.


Fayra bergeming!


Nampaknya, ia mulai bisa memahami situasi dan kondisi yang tengah di hadapi oleh suami terkasih.


Tak perlu waktu lama, bagi Adiwangsa untuk membuat anaknya bisa memahami situasi saat ini. Adiwangsa juga berat mengambil sikap seperti ini! Sebab, sang anak manja tengah berbadan dua.


Fayra berjalan menaiki anak tangga dengan langkah kakinya yang gontai dan semakin melemah. Lama kelamaan langkah itu membuatnya hampir terjatuh.


"Ahhh ...!" pekik Fayra yang hampir saja mencelakai dirinya dan calon anak mereka.


Hap ...


Syukurlah, tangan sang suami secepat kilat menyambar tubuh lemah sang istri terkasih.


"Fayra, Sayang! Kamu kenapa, hmmm? Apa kamu masih pusing, lelah atau masih lemah?" tanya Arfan yang kala itu tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Fayra menggelengkan kepalanya, sebagai bentuk jawaban dari setiap pertanyaan yang di sodorkan.


"Mas antar kamu ke kamar, ya?" Fayra mengangguk dan pasrah.


Adiwangsa yang melihat adegan sendu di atas anak tangga. Ia pun merasa amat sangat bersalah!


"Maafkan, Papa, Fay! Papa telah gagal menjadi ayah yang baik bagimu dan kakak-kakakmu nak. Semoga, suamimu akan selalu merawat mu penuh cinta! Aamiin ya rabbal alamin ...!" sebuah doa dari dalam lubuk hati Adiwangsa, terucap dengan tanpa kata dari bibirnya.


...*****...


Nadhifa dan Sanah tengah memilih beberapa sayur-mayur. Mereka sedang fokus memilih, tiba-tiba ada saja ucapan tak mengenakan hati tentang Arfan. Ibu-ibu tukang rumpi sudah biasa merasa iri pada kebahagiaan orang lain.


"Eh, dengar-dengar anaknya Jeng Sanah itu sekarang udah sah menjabat jadi CEO di perusahaan keluarga pak Adiwangsa, ya? Aku kok, yooo ... ndak habis pikir! Kenapa, seorang Arfan bisa jadi menantu dari keluarga kaya raya dan terpandang seperti pak Adiwangsa, ya? Apa Jeng Sanah dan keluarga pakai guna-guna, ya? Supaya itu anak pak Adiwangsa suka sama anaknya kamu, Jeng. Apa ucapan ku ini benar, Jeng?" tanya nyinyir salah satu ibu-ibu yang sedang berbelanja juga pada Sanah.


Sekuat dan sesabar mungkin Sanah mencoba untuk menyahuti ucapan tak mengenakan hati. Seutas senyum pun ia berikan sebagai awal dari sebuah jawaban.


"Maaf, Jeng! Bukankah, tidak baik berbicara tanpa dasar yang jelas?" Sanah malah balik bertanya pada si ibu nyinyir tersebut.


Tapi, berbeda dengan apa yang akan Nadhifa lakukan. Gadis itu telah bersiap-siap untuk melabrak si ibu nyinyir dengan kekuatannya.


"Eh, Bu! Jangan asal bicara, ya! Mas ku itu tidak seperti yang Ibu katakan!" Sanah menghentikan ucapan terlanjur emosi sang anak. Sanah membawa pulang anak gadisnya dan menghentikan acara berbelanja mereka.


"Sudah-sudah! Ayo, kita pulang saja!" Sanah lekas menarik tangan anak gadisnya untuk segera menjauh dari si ibu nyinyir tersebut.


"Loh, Bu'e ... kenapa kita malah pulang, sih?! Kita sama sekali ndak salah, kok!" protes Nadhifa pada sang ibu.


"Nad, Bu'e ndak mau kalau sampai kamu jadi bahan olok-olok, 'kan! Bu'e malu, Nad ...! Sudahlah, lebih baik kita pulang saja, ya?!" bujuk Sanah pada anaknya yang keras kepala.

__ADS_1


"Ya, udah, deh!" sahut Nadhifa yang sebenarnya masih kesal. Tapi, ia lebih memilih untuk patuh pada perintah ibunya.


...*****...


Kanada ...


Pertemuan Savina dan pria keturunan Chinese itu, tampaknya sudah membuahkan hasil yang baik. Savina pun, kini tak lagi merasa sendirian. Berkat tangan terulur sang pemuda blasteran Indo-Chinese membuat ia merasa memiliki teman.


"Morgan Tan! Apa kamu pernah merasakan hidup sebatang kara di dunia ini?" Pertanyaan Savina sukses membuat Morgan tertegun sesaat.


Manik mata Morgan Tan yang kala itu tengah tertuju pada Savina, begitu jua sebaliknya. Lagi, tatapan mereka saling bertemu dan mengunci.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu padaku?" sahutnya dengan masih menatap Savina dalam jarak yang cukup dekat.


Tak dapat menampik rasa yang ada, Savina berusaha untuk menutupi rasa bahagia dan malunya secara bersamaan. Ia alihkan pandangan matanya menghadap ke sebuah objek lain yang ada di sana.


"Tidak apa-apa! Hanya bertanya, saja. Apakah ada yang salah?"


"Tidak ada yang salah! Aku juga hanya sekedar bertanya balik padamu," ucap Morgan yang masih menatap Savina dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.


"Oh, begitu! Oh, ya. Apakah aku boleh bertanya lagi?"


"Pertanyaan mu yang tadi saja belum aku jawab. Dan sekarang kamu masih ingin bertanya, lagi?!"


"Iya. Apakah kamu keberatan, Morgan?"


"Ahahaha ... kamu sangat lucu, Savina! Baiklah, akan aku jawab semua pertanyaan darimu. Oke, yang tadi aku akan langsung jawab. Ya, aku pernah merasakan hal yang kamu tanyakan tadi padaku," jawab Morgan dengan mengalihkan pandangan matanya pada salah satu wahana yang ada di taman hiburan saat ini.


"Kalau begitu, kita sama!"


Hening!


"Sejak kapan kamu mengenal papaku?"


"Sejak saat kami memulai bisnis bersama," jawab Morgan Tan dengan seringainya yang membuat Savina bertanya-tanya.


"Kenapa dia memberikan ekspresi seperti itu?" tanya Savina dalam kegugupan dirinya yang kini hanya terdiam seribu bahasa.


"Lalu, apakah kamu juga mengenal adikku, Fayra? Dan ... juga kakakku, Raynar?"


Morgan Tan bergeming!


Savina semakin di buat penasaran dan ingin lebih mengenal sosok Morgan Tan secara mendalam.


Cukup lama Morgan Tan terdiam dalam alam pikirannya sendiri. Sampai-sampai Savina lelah menanti.


Gadis itu pun telah kehilangan kesadarannya. Sebab, ia merasa kelelahan selama beberapa hari ini tidurnya pun berkurang. Terlalu banyak tugas kuliah yang membuat ia jadi amat sangat tertekan. Itulah mengapa, kini ia bisa tertidur dengan pulasnya tanpa memandang situasi dan keadaan.

__ADS_1


"Gadis yang gigih dan tangguh! Aku salut padamu! Inilah alasan ku untuk bertekad sejauh ini menemui dirimu. Sejak saat malam itu, aku sudah mulai tertarik padamu, Savina Maheswara! Apakah kamu pun juga akan tertarik padaku, nanti? Entahlah! Aku akan mengikuti alur yang Tuhan gariskan!" ucap Morgan Tan dalam nada bergumam.


...*****...


__ADS_2