
Resepsi pernikahan Arfan dan Fayra masih terus berlangsung. Pelaminan nan megah itu, selalu di banjiri dan tak henti-hentinya, para tamu berfoto-foto ria di sana.
Arfan dan Fayra cukup kewalahan melihat antusiasme, para tamu undangan yang ingin berfoto bersama mereka.
Di atas pelaminan itu, juga tersaji gelak tawa. Sebab, Fayra selalu bisa membuat suasana jadi ceria.
Bahkan, tak khayal Fayra yang lebih dulu menyapa para tamu undangan, yang ingin berfoto bersama dirinya dan sang suami.
"Hai ...! Apa kabar kalian berdua, hmmm? Kenapa baru menampakkan diri?" tanya Fayra pada kedua sahabatnya yaitu Hasna Haniyah dan Selty Apriani.
"Alhamdulillah, aku baik. Aku habis pulang dari Prancis, Fay. Ya, untuk melakukan ini!" tunjuk Hasna, sembari memegang gaun pengantin yang menjadi pembalut tubuh Fayra saat ini.
"Iya, aku juga ikutan sama dia ke Perancis, Fay! Sumpah ...! Seru banget, Fay! Banyak cowok tampan bertebaran di sana," ujar girang Selty dengan binar matanya yang selalu saja mendamba seorang pria.
Fayra tersenyum dan tergelak mendengar ocehan dari sahabat-sahabatnya itu.
"Jadi, kalian berdua habis melakukan perjalanan bisnis, begitu?"
"Iya, Fay. Aku sangat-sangat senang bisa bekerjasama dengan sahabat sendiri," tutur Hasna sambil melirik ke arah Selty.
"Oh, oke! Yuk, foto-foto dulu!" ajak Fayra pada kedua sahabatnya, yang sudah di pelototi banyak orang.
Mereka pun mengambil foto bersama beberapa kali jepretan.
Nadhifa terlihat masih gusar dan sebal. Gadis itu sesekali berucap lirih dengan temannya.
"Eh, Zahra! Kamu, kok malah asyik-asyik fotoin mas ku terus, sih?" protesnya pada temannya yang mencuri-curi kesempatan untuk menangkap potret Arfan dan Fayra dari kejauhan.
"Dih, kamu kenapa, sih? Mas mu saja ndak marah, kok! Kenapa kamu malah marah-marah, Nad? Aku heran, deh sama kamu, Nad!"
"Kenapa? Hah?!"
"Mas mu, 'kan nikah sama orang sing koyo royo. Lah, koe kok, malah ndak suka, sih?"
"Bukan urusanmu! Udah, ah ... yuk, cari tempat yang lain!" Nadhifa menarik tangan temannya itu.
"Kamu ndak mau foto-an sama mas mu, Nad?"
"Wis, ndak usah mikirin itu! Buruan jalan!" hardik Nadhifa pada temannya.
...*****...
Semakin lama semakin banyak saja tamu undangan yang berdatangan. Arfan dan Fayra turun dari pelaminan untuk mengganti pakaian mereka. Sekaligus, untuk melaksanakan shalat Dzuhur.
Fayra tampak kesulitan untuk membawa gaun pengantinnya. Agaknya, gaun itu tampak lebih berat dari sebelumnya. Padahal, ketika menjadi foto model dadakan, gaun pengantin itu tidaklah seberat sekarang.
"Sini, saya bantu!" tawar Arfan dengan tangan terulur.
Fayra mendadak ragu-ragu untuk menyambut tangan terulur Arfan padanya. Namun, untuk mempersingkat waktu lamunan Fayra. Arfan dengan segera menarik tangan istrinya dan mengiringi langkah Fayra.
Semua orang tampak takjub dengan pemandangan mesra, yang tersaji di depan mata mereka.
"Wah ...!" begitulah ucapan semua orang sambil terkesima.
...*****...
Di ruang ganti pakaian pengantin ...
Arfan terlebih dulu menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut, guna untuk berwudhu menyucikan diri. Setelah itu, ia pun melaksanakan shalat. Namun, sebelum itu ia sempat mengajak sang istri yang masih repot dengan gaun pengantinnya.
"Mau shalat berjama'ah?" tawar Arfan pada Fayra.
Entah mengapa, Fayra langsung menganggukkan kepalanya.
"Saya tunggu di sana, ya!" tunjuk Arfan pada salah satu kamar, yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Eh, Mbak. Tolong, bantu saya dengan segera. Saya mau shalat berjama'ah bersama suami saya," ucap Fayra pada MUA yang meriasnya.
"Siap, Mbak."
Setelah semua hijab itu di lepas dan Fayra kini telah memakai baju biasa. Kemudian, Fayra masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah selesai, ia pun menyusul Arfan yang sudah menantinya di salah satu sudut kamar, dalam ruangan tersebut.
"Ayo, shalat!" ucap Fayra yang telah memakai mukenah.
__ADS_1
Arfan tersenyum dan memandangi Fayra dengan tatapan penuh cinta. Mereka mulai melaksanakan shalat Dzuhur berjama'ah.
Usai melaksanakan shalat, mereka berdoa dan ini untuk pertama kalinya Fayra menyalami tangan lembut Arfan. Fayra meletakkan tangan Arfan pada keningnya. Kemudian, Arfan mengucap syukur.
"Alhamdulillah, ini adalah shalat pertama kita sebagai suami istri, Nona Fayra." ucap Arfan yang membuat Fayra tertegun untuk sesaat.
Tampak raut protes membingkai indah wajah Fayra. Sebelum satu kalimat ia lontarkan pada sang suaminya.
"Kamu masih memanggilku dengan sebutan, 'Nona', Fan? Tidak adakah panggilan yang lebih baik daripada itu, hmmm? Aku, 'kan, sekarang istrimu," ucapnya kesal dan cemberut.
"Hehe ... maaf! Saya belum terbiasa, No ... eh, maksud saya istri. Maafkan, aku istriku!" ucap Arfan sembari menelisik wajah Fayra, yang sudah memerah dengan bola matanya.
"Sebaiknya, aku pergi sekarang, Fan!" tandasnya yang langsung bangkit dari duduknya.
"Eh, tunggu dulu! Tidak adil rasanya kalau hanya saya yang merubah panggilan, bukan?" ucap Arfan yang berhasil membuat jantung Fayra berdebar-debar.
Deg ... deg ... deg ...
"Nanti, akan aku pikirkan bagaimana cara memanggil mu, Fan!" ucapnya langsung berjalan secepat kilat untuk kembali bersiap.
Arfan hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum bahagia.
"Istriku, kau begitu lucu!" ucapnya tanpa sadar.
Arfan juga berdiri dari duduknya dan kembali lagi untuk bersiap-siap merias diri.
...*****...
Dengan hati yang ikhlas dan tegar, Maira Nadira beserta keluarga, turut datang menghadiri pesta pernikahan sang mantan tunangan tidak jadinya.
Ustadzah Shafira dan ustadz Yusuf juga ikut hadir, bersama dengan rombongan keluarga besar, kyai Abdul Malik beserta Halimah istrinya.
Begitu juga dengan Ervin Adicandra beserta sang ayahanda nya yaitu Erwin Adicandra. Jika, Erwin memasang wajah penuh percaya diri. Berbanding terbalik dengan sang anak yang memasang wajah memelas dan iba.
Beruntung, ada Clarissa di sampingnya yang menguatkan Ervin saat ini.
Tentu saja iba!
Jalinan cinta kasih yang Ervin rajut bersama dengan Fayra sangatlah lama. Mereka di pisahkan oleh keegoisan, yang bersemayam di dalam dada kedua ayah mereka.
"Selamat datang, Pak Erwin Adicandra yang terhormat!" sapa tegas Adiwangsa pada Erwin Adicandra.
"Terima kasih atas sambutannya, Pak Adiwangsa Maheswara yang terhormat! Kalau begitu, saya akan menikmati hidangan yang kalian sajikan bersama putraku yang sangat elegan dan mapan! Tidak seperti ... menantu, Anda!" sindir Erwin Adicandra dengan terang-terangan.
Adiwangsa memberikan senyum menusuk relung hati Erwin beserta Ervin.
"Setidaknya, menantuku itu orang yang mengerti akan kesopanan. Dan lagi, dia tidak hanya sopan. Melainkan, juga mengerti akan dunia fana ini. Dia jauh lebih pintar dari pada anak seseorang yang tidak pandai dalam beretika." balas Adiwangsa dengan sindiran telak pada Erwin Adicandra.
"Mas ...," tegur Hazna pada suaminya. Hazna selalu mendampingi sang suami. Takut, jika nanti Adiwangsa lepas kendali.
Muak dengan perkataan yang di lontarkan sarkas oleh Adiwangsa. Erwin mengajak putranya dan juga Clarissa Anastasya mencari kudapan.
...*****...
Kerlingan mata Raynar merotasi sempurna, kala netranya melihat lagi gadis yang membuat jantungnya berdetak tak karuan di jalanan aspal.
Peristiwa itu masih bisa teringat jelas dalam benak Raynar. Walaupun, itu terjadi sudah beberapa bulan silam.
"Apakah benar itu, dia? Atau ... apakah mataku yang salah melihat?" ucap Raynar dengan mengucek-ngucek matanya.
"Kenapa, sih, Kak? Kamu lihat hantu, hah?" sentak Savina dengan raut muka masamnya, yang masih belum bisa menerima kenyataan tentang pernikahan Fayra dan Arfan.
"Ah, ng-nggak! Kakak mau cari makanan enak, ya! Kamu diam di sini, aja! Jangan membuat onar, paham!" ancam Raynar sebelum pergi meninggalkan sang adik yang tengah gundah.
"Hadehhh ... memuakkan sekali berada di sini. Lebih baik, aku ke tempat yang lebih sepi." Savina pun berjalan menuju pintu keluar.
...*****...
Para tamu terus saja berdatangan, diantarnya ialah teman-teman SD, SMP, SMA bahkan teman kuliahnya Fayra dan Arfan.
Mereka berkumpul berbaur menjadi satu untuk berfoto dengan Fayra dan Arfan.
"Makin cantik aja, Fay?" celetuk teman-teman wanita pada Fayra.
"Makasih," balas Fayra.
__ADS_1
"Eh, tapi ... kok, kamu malah nikah sama orang lain, Fay? Bukannya, kamu dulu itu pacaran sama si Ervin, ya?" ucap salah satu teman sekolah Fayra yang memang tahu seluk-beluk, sejarah percintaan Fayra dan Ervin.
Mata Fayra berkaca-kaca, menatap sendu pada wajah tampan Arfan yang mulai tertunduk diam.
"Ah, udahlah! Jangan, ngomongin hal yang udah lewat! Yuk, foto bareng, lagi!" ucap Fayra yang seakan memunculkan gairah semangat dalam dada Arfan, yang mulai redup redam tadinya.
Syukurlah! Fayra bisa merubah suasana tegang menjadi cair seketika. Arfan dapat lagi menatap kamera dengan wajah nan ceria. Semua itu berkat kecerdasan Fayra yang pandai menempatkan diri dalam situasi.
...*****...
Clarissa sedang sibuk mencari-cari makanan yang untuk di makannya. Saat ini, gadis cantik itu tengah di tinggal sendirian oleh Ervin dan Erwin. Jadi, dia pun merasa bebas dan bisa melakukan semuanya sesuai dengan keinginan hatinya.
"Wah, makanan di sini enak-enak semua menunya. Aku mau ambil yang ini, ah!" celetuknya.
Tanpa ia sadari, sudah ada satu sosok yang tengah berdiri gagah di sampingnya. Pria itu menatap wajah Clarissa dengan tatapan penuh damba.
"Hai ... masih ingat padaku?" sapa Raynar dengan tampang sok cool dan sok tampan.
"Ck, kenapa harus bertemu sama nih orang, sih? Emang, ya! Dunia itu sempit, banget! Hadehhh ... nyebelin!" gerutu Clarissa dengan wajah juteknya.
"Heh?! Jangan kamu pikir aku tidak tahu kelakuan mu, ya? Kamu jauh lebih menyebalkan, tahu!" ucap Raynar dengan wajah sok tampan.
"Udah, ah! Jangan, ganggu saya, Mas! Urusan kita sudah selesai. Jadi, jangan mencari-cari alasan untuk mengobrol dengan saya, Mas. Maaf, Mas! Menjauh lah sekarang, nanti calon suami saya akan marah bila Mas mendekati saya," ucap Clarissa dengan sarkas.
"Aku tidak peduli! Ini adalah pesta pernikahan adikku. Kenapa aku yang harus pergi? Seharusnya, tunangan kamu yang pergi dari sini." Raynar semakin percaya diri.
"Emang! Dia memang sudah pergi tidak tahu kemana," jawab Clarissa yang masih asyik memilih dan memilah makanan.
"Nih, cewek benar-benar buat gue penasaran!" batin Raynar.
Sapaan kedua sobatnya membuat Raynar terkejut.
"Hai, Bro!! Apa kabar, Lho, hah?" sapaan sok akrab dari mulut Robby Danuarta pada Raynar.
Sedangkan, Jodi Prakash hanya bergeming! Ia sadar akan rasa yang tak pantas dalam hatinya, untuk Fayra harus segera musnah.
Clarissa pun memanfaatkan peluang yang ada untuk kabur dari Raynar. Raynar hanya tersenyum saat melihat gelagat lucu dari Clarissa yang berusaha kabur darinya.
Lalu, Raynar asyik mengobrol dengan kedua sahabatnya.
...*****...
Beberapa menit sudah berlalu, tibalah saatnya bagi Maira Nadira menyalami kedua pengantin baru yang tengah berbahagia saat ini.
"Aku merana! Namun, aku tidaklah hampa. Aku kecewa! Tapi, aku tidak berduka. Ada Allah tempatku berkeluh kesah dan meminta. Jadi, aku akan berusaha untuk tetap tegar menghadapi segalanya. Semoga, aku kuat ya, Robb! Aamiin ...!" doa Maira Nadira dengan hati yang ikhlas dan tabah.
Dengan langkah berani dia menyambangi pelaminan itu. Di ikuti juga oleh Jodi Prakash dari belakangnya. Maira yang berjalan beriringan dengan uminya. Sedangkan, Jodi Prakash yang berjalan sendirian, dengan percaya diri ia melangkahkan kakinya ke atas pelaminan.
Mereka semua mengantri untuk mengucapkan selamat pada pengantin baru.
"Selamat, ya Mas Arfan dan Mbak Fayra! Semoga, sakinah mawaddah warahmah!" ucap tulus yang terlisankan oleh Maira dan uminya.
"Terima kasih banyak ustadzah Maira dan Ibu," ucap Arfan yang merasa amat sangat bersalah.
"Terima kasih banyak, Ustadzah Maira!" ucap Fayra yang juga sama merasa bersalahnya pada Maira.
Saat akan turun dari pelaminan, netra Maira dan Jodi saling bertemu untuk sesaat.
"Astaghfirullah ...!" ucap batin Maira yang tak sengaja menatap wajah lawan jenisnya.
Sesaat, Jodi juga terpaku ketika melihat Maira turun dari pelaminan.
...*****...
Setiap insan telah di berikan takdir oleh-Nya.
Hanya saja, butuh waktu untuk bisa bertemu dengan seseorang yang memang Allah takdir, 'kan untuk kita.
Siapa?
Kapan?
Di mana?
Hanya Allah saja yang akan tunjukkan jalan untuk menjawab semua tanya itu!
__ADS_1
...*****...