
Tatapan bingung penuh tanya masih setia menggelayut manja dalam benak Fayra. Gadis itu tak bisa mengurungkan niatnya untuk lekas bertanya pada Arfan yang ada di hadapannya.
Sontak, di bawanya tubuh bergerak untuk berdiri sejajar dengan lelaki tampan yang ada di hadapan. Seiring gerakan naik tubuhnya, Fayra tak sedetikpun melepas pandang pada Arfan.
Ketika dirinya telah sejajar dengan tubuh gagah milik Arfan. Dia langsung mencecar Arfan dengan pelbagai macam pertanyaan di benaknya.
"Kamu ...!" Sentakan pertama Fayra, yang membuat Arfan terpaksa menoleh pada gadis cantik itu dengan segera.
"Apa maksudmu mengembalikan uang ini padaku, hah?! Apa kamu berpikir aku akan menerima apa yang telah aku berikan, begitu?! Salah! Aku tidak akan menerima uang ini. Jadi, tolong kamu ambil lagi uang ini!" Geramnya dan dia kembali ingin melemparkan uang tersebut pada Arfan.
Tapi, kali ini dengan cepat tangan Arfan menghentikan tindakan sang majikan.
"Cukup, Nona! Simpanlah lagi uangmu ini! Aku sungguh tidak membutuhkan uangmu ini. Lagi pula, kaki ku juga sudah berangsur pulih. Meskipun bukan dengan memakai uang pemberian darimu."
Hening!
Namun, tangan Arfan masih kekeuh memegangi tangan mulus Fayra. Sampai-sampai, Fayra sedikit meringis kesakitan.
"Auh ... ahhh ...!" keluh Fayra, sontak Arfan langsung melepaskan genggaman tangannya dari sang majikan.
"Ma-maaf, Nona! Saya ... benar-benar tidak bermaksud lancang padamu, tadi. Saya hanya tidak mau Nona ...,"
"Lupakanlah!" sambar Fayra cepat dan mengibas-ngibas 'kan tangannya karena sakit.
"Cepat masuk mobil!" titah Fayra kemudian. Fayra terpaksa menuruti keinginan sang ayah. Sebab, ia tak ingin menambah hukuman dari sang ayah untuknya.
"Ba-baik, Nona!" Arfan pun membukakan pintu mobil untuk Fayra dan menunggu gadis itu masuk ke dalam mobil. Lalu, setelahnya barulah ia masuk ke dalam mobil.
Dari dalam, Adiwangsa tersenyum bahagia. Karena keinginan hatinya telah terpenuhi.
"Dengan begini, aku baru merasa aman sekarang." Ucapnya lirih sambil memandangi kepergian sang putri.
Dari belakangnya, terdengar suara kaki seseorang mendekati dirinya. Adiwangsa pun menoleh.
"Pa, aku mau jalan-jalan keliling Jogja. Bolehkan, Pa?" tanya Savina penuh harap.
"Ya, baiklah! Tapi, kamu pergi sama kakakmu, ya! Papa tidak mau anak gadis Papa keluyuran sendirian." ucap Adiwangsa sembari memberikan kecupan hangat di dahi sang putri mandirinya.
"Makasih, Pa!" Kemudian Savina memeluk erat tubuh sang ayah tercinta.
Kebetulan, Raynar pas lewat di dekat mereka. Niatnya Raynar ingin pergi ke apartemennya. Tapi, ia harus mengurungkan niatnya tersebut.
"Kak, temani aku, ya jalan-jalan keliling Jogja?" pinta manja Savina pada sang kakak.
"Apa?! Jalan-jalan?! Harus banget sekarang, ya?" Raynar terlonjak kaget, sembari menggaruk tengkuknya.
"Kenapa?! Jangan bilang kalau kamu tidak mau, ya Raynar! Papa bisa saja membuat kamu tidur di jalanan kalau sampai kamu menolak keinginan adikmu. Mengerti?!" Ancaman hakiki keluar dari bibir Adiwangsa begitu saja.
"Aih ... bukan seperti itu, Pa. Hari ini, Raynar mau masuk kantor. Papa juga 'kan yang melarang Raynar untuk bermalas-malasan?" alibi Raynar.
"Hari ini pengecualian. Oke?!"
"Ya, ya, ya ... baiklah Pak Presiden! Aku akan putar haluan dari seorang CEO menjadi Tour Guide untuk sang putri Presiden khusus untuk hari ini. Hehehe ...." kelakar Raynar dengan ucapannya yang over dosis berlebihan.
"Yeyyy ... akhirnya ... Jogja ... I'm coming ...!" teriak girang Savina sambil berlari keluar rumah.
...*****...
Di perjalanan menuju perusahaannya, Fayra hanya terus memikirkan Ervin.
"Apa Ervin sama sekali tidak merindukan aku, ya? Kenapa dia sama sekali tidak ada usaha untuk bertemu denganku? Apakah semua pengorbanan yang udah aku lakukan ini akan sia-sia? Ah, ... sebaiknya aku datangi kantornya nanti sepulang kerja."
"Non ...! Nona ...?! Kita mau kemana, nih? Saya belum tahu tempat kerja Nona, 'kan?!" Arfan melontarkan pertanyaan, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang merasa bingung.
Sementara, Fayra masih setia dalam lamunan panjangnya. Tak tahan dengan sikap sang majikan yang kurang sopan. Arfan pun bertindak di luar dugaan. Dengan sangat terpaksa ia lakukan hal ini. Demi mendapatkan perhatian dari sang majikan.
Chiiittt ...!
"Ya, ampun ...! Dasar GILA!!! Kamu mau bunuh aku, ya! Hah!!! Kenapa pakai aksi ngerem mendadak segala, sih?!" bentak Fayra yang kaget bukan kepalang.
Lalu, apa yang di lakukan oleh Arfan?
Pemuda tampan itu hanya bisa nyengir kuda, sebab dia juga merasa bersalah. Namun, tak tahu harus berbuat apa. Alhasil, ide gila lah yang tiba-tiba muncul di kepala. Dan ... langsung saja di praktekkan menjadi nyata.
"Hehehe ... maafkan saya, Nona! Saya sudah coba dengan cara lembut. Tapi, Nona tetap saja diam dan mengabaikan saya. Jadi, ya ... mau tidak mau terpaksa, deh!" alibi Arfan yang sekali lagi dengan gerakan yang serupa-- garuk-garuk kepala.
"Kamu, ya ...! Bener-bener senang banget bikin masalah sama saya!" tuduh Fayra yang tak terima terhadap sikap Arfan padanya. Praduga Fayra sungguh kejam luar biasa.
"Iya, saya tahu saya salah. Nona boleh, deh minta apa saja. Nanti, saya pasti akan melakukan apapun yang Nona minta." Arfan pun kian pasrah.
"Bagus, ada gunanya juga aku melamun tadi. Jadi, aku bisa manfaatkan situasi ini, deh!"
"Oke, kalau begitu nanti kamu harus menemani saya ke kantor seseorang. Dan ... ingat! Jangan, ceritakan hal ini pada papa!" ancam Fayra tegas pada Arfan.
"Oke, kali ini karena saya salah saya akan menuruti perintah Nona. Tapi, tidak untuk yang selanjutnya. Karena tugas saya adalah ...,"
"Saya nggak mau tahu dan nggak perlu kamu jelaskan! Paham?!" sambar Fayra cepat.
"Baiklah, kalau begitu saya juga tidak perlu capek-capek mejelaskan pada Nona, karena itu terlalu rumit dan melelahkan."
"Tuh, 'kan, saya sampai lupa! Oh, ya. Kita mau kemana, Nona?"
"Ke kantor saya lah! Kemana lagi, coba, hah?!" sentak Fayra.
"Saya tahu itu, Nona. Yang saya tidak tahu itu ... alamat kantor Nona di mana?" terang Arfan dengan ekspresi wajah yang sudah tidak bisa di jelaskan lagi. Pemuda tampan itu benar-benar merasa sangat lelah dan letih menanggapi majikan super jutek dan nyebelin seperti Fayra ini.
Fayra pun menunjukkan arah kantornya dan memberikan instruksi pada Arfan sepanjang perjalanan mereka.
__ADS_1
...*****...
Di perusahaan mebel Fayra Maheswara ...
"Oke, kita sampai. Saya akan masuk sekarang. Kamu mau nunggu saya di mana itu terserah kamu," ucap tandas Fayra sebelum ia turun dari mobil.
"Saya akan tetap mengikuti Nona kemanapun Nona pergi. Kata Pak Adi, saya harus ikut kemanapun kaki Nona melangkah." Arfan lalu ikut turun dan mengiringi langkah Fayra.
"Ya, ampun ...! Apa papa benar-benar sudah gila, ya?! Kenapa orang seperti kamu harus banget ngikutin kemanapun aku pergi, sih?! Hahhh ..."
"Sudahlah, Nona! Kita jangan terus menerus ribut-ribut tidak jelas. Saya hanya menjalankan tugas saya, itu saja! Nona juga silakan menjalankan tugas Nona. Kita sama-sama mengemban tugas masing-masing, Nona. Jadi, ayo kita lakukan tugas kita masing-masing dengan tenang! Oke?!" Kali ini Arfan bertindak bijak.
"Arrgghhh ... benar-benar ngeselin!!!" Fayra meluapkan amarahnya. Tapi ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka pun masuk ke dalam perusahaan mebel itu bersama-sama.
...*****...
Saat ini, Fayra sedang mendiskusikan tentang pembuatan lemari pakaian yang di minta oleh pelanggannya kemarin. Jadi, cukup lama mereka berdiskusi di ruang rapat tersebut.
Namun, karyawan wanita yang ada di dalam sana justru malah lebih fokus menatap wajah tampan Arfan, yang tengah berdiri di luar ruangan. Ruangan yang berdinding kaca itu tentunya bisa memantau situasi yang ada di sana.
Fayra yang melihat salah satu karyawan wanita yang tak fokus. Sontak, dia langsung melempar bolpoin pada sang karyawan wanita tersebut.
"Auh ...!" Wanita itu mengadu dan langsung kembali memfokuskan perhatiannya pada diskusi mereka.
"Fokus!!" bentak Fayra pada karyawannya.
"Ba-baik, Bu!" sahutnya malu.
Fayra juga sempat melihat ke arah Arfan yang masih setia menunggunya selesai rapat.
"Hahhh ... dia benar-benar kekeuh! Salah sendiri, siapa yang minta kamu untuk ikutan masuk ke sini. Jadi kamu harus sabar menungguku. Ini lagi ... matanya jelalatan banget, sih! Pakai lihat-lihat Arfan segala!" Fayra menggerutu tak menentu.
"Oke, jadi, kita sudah simpulkan akan pilih model seperti ini, ya!"
"Iya, Bu!"
"Kalau begitu, kita lanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu memproduksinya. Sampai di sini, apakah ada pertanyaan?"
"Tidak, Bu!"
"Bagus, cepat kerjakan sekarang juga!"
Akhirnya, rapat pun selesai. Fayra keluar dari ruang rapat dan menuju tempat produksi. Yaitu pengelolaan pembuatan lemari pakaian tersebut.
"Ikut saya!"
"Baik, Nona!"
Terlihat Fayra sangat jauh berbeda saat ia menjelaskan pada bawahannya mengenai pembuatan lemari pakaian tersebut.
"Ternyata, dia bisa juga menjadi bos yang baik." puji Arfan yang hanya terucap dalam hatinya.
"Ternyata, dia juga menyukai bidang mebel dan furniture. Aku baru tahu ada juga perempuan yang tertarik dengan bidang ini." ujar Arfan lirih.
Perlahan Arfan mendekati pekerja yang tengah kesulitan, untuk membentuk bagian dari salah satu sudut lemari yang dirancangnya.
"Perlu bantuan? Saya bisa membantu Anda, Pak. Sini, biar saya kerjakan bagian ini." Arfan dengan suka rela menawarkan bantuan.
Fayra yang melihat hal itu, dia merasa kagum. Ya, walaupun kekagumannya tak ia ucapkan melalui lisan. Dia hanya bisa mengangumi Arfan dalam diam. Sebab, rasa gengsi masih bertahtah di hati.
"Ternyata, dia juga bisa menggunakan alat-alat itu."
"Sudah! Ini tinggal di poles dan di rakit lagi bagian yang lainnya." ucap Arfan memberikan instruksi.
"Wah, terima kasih banyak, Mas!"
"Sama-sama, Pak!"
"Oke, semuanya! Tolong lanjutkan tugas kalian! Saya akan pergi sebentar. Jadi, jangan ada yang coba-coba untuk melarikan diri dari tugasnya masing-masing. Mengerti?!"
"Siap! Mengerti, Bu!"
"Ayo, Arfan! Kita pergi ke tempat yang saya maksud tadi."
Mereka pun meninggalkan perusahaan mebel menuju kantor Ervin Adicandra.
...*****...
Di kantor Ervin Adicandra ...
"Tolong kali ini, kamu jangan ikut dengan saya! Mengerti?!"
"Maaf, Nona! Dengan tegas harus saya katakan pada Nona. Saya tidak akan membiarkan Nona sendirian masuk ke dalam sana." tolak Arfan mentah-mentah.
"Oh, ya, ampun ...! Terserahlah!" Fayra kian jengkel dibuatnya.
Fayra lalu masuk ke dalam kantor Ervin dan dia menuju ruangan Ervin, tanpa menundanya sama sekali.
Ketika gagang pintu itu di tarik untuk di buka, Fayra menatap lekat wajah sang kekasih yang tengah mesra dengan seorang wanita. Bola matanya membulat sempurna. Dan netranya mulai mengembun seketika. Lalu, bulir-bulir air bening mulai meminta untuk di keluarkan dengan segera.
"Ervin ...!!" teriak Fayra tak percaya pada penglihatannya.
"Fa, Fay ... Sayang!" ucap Ervin terperanjat karena terkejut.
"Siapa wanita ini, Vin?! Jadi, ini yang membuat kamu sama sekali tidak berusaha untuk menemui ku, ya?! Karena dia ... iya ...?! Jawab aku, Vin!!" tuntut Fayra dengan mata yang sudah basah.
__ADS_1
"Bu-bukan seperti itu, Fay! Aku sudah berusaha menghubungi kamu. Tapi, nomor mu tidak pernah aktif!" bantah Ervin.
"Lalu, apa harus kamu menjalin hubungan dengan wanita lain hanya karena nomorku tidak bisa di hubungi, hah?!"
"Tidak, Sayang! Di-dia ini tiba-tiba datang dan duduk di pangkuanku. Aku sama sekali tidak tahu apa motifnya, Sayang. Percayalah!" Ervin berusaha menerangkan yang sebenarnya.
Sedangkan si wanita yang menjadi sumber malapetaka diantara hubungan Fayra dan Ervin, dia tersenyum senang.
"Misi selesai." wanita itu menyeringai senang.
"Nggak! Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu, Vin! Mulai hari ini, kamu dan aku putus!" Fayra pun keluar dengan tergesa-gesa.
"Fay ...! Fay ...! Kamu salah paham, Fay! Aku sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ya, Tuhan! Kenapa jadi begini, sih?! Aku, 'kan tidak salah!" Ervin pun menjadi gundah gulana.
Arfan mengejar Fayra yang sudah berlari lebih dulu. Dan Ervin juga berlari mengejar sang kekasih yang salah paham terhadapnya saat ini.
"Nona, tunggu!" teriak Arfan.
"Fay, Sayang! Tunggu dulu, Fay!" jerit Ervin pula.
Fayra langsung masuk ke dalam mobil dan dia duduk di kursi depan. Ervin masih berusaha untuk menggapai tangan Fayra. Namun, dengan sigap Arfan menghentikan tindakan Ervin tersebut.
"Maaf, Mas! Tolong, menjauh lah darinya! Jangan sampai saya berbuat kasar pada Anda!" ucap tegas Arfan pada Ervin.
"Siapa kamu, hah?! Kenapa kamu melarang ku untuk mendekati kekasihku, hah?!"
"Mas tidak perlu tahu siapa saya! Tapi, saya sudah tahu kalau Mas adalah mantan pacarnya. Jadi, status Anda sekarang tidak lebih dari sekedar orang asing saja." ujar Arfan dengan tanpa beban.
"Permisi!" Arfan pun membawa Fayra pergi.
...*****...
Sepanjang jalan Fayra menangis dengan keras. Dan itu cukup membuyarkan konsentrasi Arfan.
"Nona ...! Tolong, berhentilah menangisi pria seperti dia! Dia tidak pantas untuk Nona tangisi, Nona! Jadi, berhentilah sekarang juga!" seru Arfan yang tidak tahan dengan suara Fayra yang menggema memenuhi mobil.
"Arfan ...! Hiks ..., hiks ...,"
"Ya, Nona. Ada apa?"
"Bawa aku ke suatu tempat yang indah!" titahnya dengan suara yang sendu.
"Baik, Nona!"
Arfan pun membawa Fayra ke tempat di mana ia dan Nadhifa sering berkunjung, kala hati mereka sangat merindukan sang ayah tercinta.
...*****...
Pantai ...
"Keluarlah, Nona! Kita sudah sampai," ujar Arfan yang lebih dulu keluar dari mobil. Kemudian, dia membukakan pintu mobil untuk Fayra.
"Ki, kita ... ada di mana?" tanyanya yang mulai menyapu pandangan ke arah pantai yang ada di depan matanya.
"Pantai, Nona. Ayo, saya akan ajak Nona mencari tempat ternyaman di pantai ini!" Arfan tanpa ragu-ragu untuk menarik tangan Fayra keluar bersamanya.
Setelah itu, mereka duduk di salah satu tumpukan batu-batu yang ada di sana.
"Di sinilah tempat saya dan adik saya mencurahkan isi hati kami ketika kami merindukan ayah kami,"
"Memangnya, ayah kamu kemana?" tanya Fayra ragu-ragu.
"Saya juga tidak tahu, Nona. Tapi, saya berharap dia masih ada di suatu tempat yang saya tidak tahu itu di mana." Arfan berusaha untuk tetap tegar.
"Maaf! Saya tidak bermaksud untuk ...,"
"Akhirnya ...,"
"Akhirnya, apa?"
"Kata 'maaf' itu saya dengar darimu, Nona! Hehe ... lucu sekali bukan? Saya harus mendengarkan kata 'maaf' mu di tempat ini. Tempat ini terlalu jauh, tapi ya sudah, tidak apa-apa! Saya sudah memaafkan, Nona untuk semuanya,"
"Kamu masih mengharapkan kata 'maaf' dariku atas peristiwa itu, ya?"
"Tidak juga," ucap Arfan datar.
"Oh,"
"Hmmm. Sudahlah, Nona! Lupakanlah, pria yang memang belum ditakdirkan Allah untukmu. Mungkin ... Allah ingin memberikan pria yang lebih baik darinya untukmu." ucap tandas Arfan, yang membuat Fayra terdiam dan terus memandangi wajah tampan pria di sampingnya kini.
Sedangkan yang di tatap, malah sibuk melempar pandangan ke arah laut yang ada didepan mereka.
"Apakah dia sedang memberikan aku sebuah perhatian, melalui sikap dan tutur katanya hari ini padaku? Ataukah aku yang sudah salah mengira lagi, akan sikapnya kali ini?"
"Nona ...?" Arfan melambaikan tangannya di hadapan Fayra.
"Oh, ... iya? Kenapa?"
"Apa, Nona melamun?"
"Ti, tidak! Memangnya, kenapa, hah?"
"Dari tadi saya bertanya, tapi Nona malah diam saja. Kita mau berapa lama di sini?" tanya Arfan lagi setelah sekian kali bertanya.
"O, oh! Itu ... eee ... kita pulang saat matahari terbenam saja. Aku ingin melihat sunset di sini," jawab Fayra gugup dan tersipu malu.
"Oh, begitu. Baiklah!"
__ADS_1
Mereka pun menatap langit yang hampir berwarna jingga.
...*****...