
Satu bulan kemudian ...
Tak terasa detik waktu telah mencapai satu bulan lamanya, Arfan bekerja pada keluarga ningrat ternama. Ia sudah mulai membiasakan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan keluarga ningrat itu.
Satu bulan pula ibunya belum juga sadarkan diri. Entah mimpi panjang seperti apa yang di alami oleh sang ibu terkasih. Sehingga, ia tak lekas terjaga dari tidur yang membuatnya terlena.
Satu bulan pula kesedihan dan keputusasaan melanda jiwa Arfan dan Nadhifa. Sebab, sang ibu masih lagi betah dan setia dengan matanya yang kian tertutup rapat serapat-rapatnya.
...*****...
Hari ini, hari Arfan menerima gaji pertamanya. Rencananya ia akan membayar biaya pengobatan ibunya dan juga akan membayar biaya kuliah sang adik.
Pagi ini, seperti biasanya pria tampan itu akan mengantarkan sang majikan cantiknya ke perusahaan. Dan setelah itu ia meminta izin untuk pergi membesuk ibunya ke rumah sakit.
Pagi-pagi sekali Adiwangsa telah memanggil Arfan untuk menemuinya di halaman. Pria itu pun menjumpai sang majikan nan berhati bak malaikat tersebut.
"Ada apa Bapak mencari saya, Pak?" tanya Arfan yang baru saja tiba di dekat Adiwangsa.
Adiwangsa pun menoleh dan melukiskan senyuman di wajahnya nan telah tampak tua, namun masih terlihat tampan dan menawan.
"Ini, uang untuk gaji mu bulan ini. Lalu, ini uang untuk biaya pengobatan ibumu dan ini untuk uang biaya kuliah adikmu. Adikmu masih kuliah, 'kan?!" tangan Adiwangsa terulur memberikan 3 bungkus uang yang telah terbagi-bagi peruntukkannya.
Sungguh baik hatimu Adiwangsa!
Arfan menatap dalam diam atas pemberian sang majikan. Dia hendak menolak, buru-buru Adiwangsa menyatakan sesuatu yang dapat membuat Arfan tertunduk patuh.
"Tapi, Pak ...,"
"Oh, ya. Saya tidak menerima yang namanya penolakan! Jadi, jika kamu masih ingin membantu biaya pengobatan ibumu serta kuliah adikmu. Maka, kamu harus patuh! Mengerti?!" ancam Adiwangsa yang sebenarnya berniat baik.
"Saya akan menerima semua ini, tapi ... izinkan saya selalu mengabdikan diri pada Bapak selamnya, Pak!" ucap Arfan tertunduk memberikan penghormatan kepada Adiwangsa sang majikan.
"Jika, mau mu seperti itu. Maka, menikahlah dengan salah satu putriku." ucap tandas Adiwangsa yang membuat Arfan membulatkan matanya sempurna.
"A ... apa, Pak?!" jerit Arfan tak percaya atas apa yang di dengarnya barusan.
"Hahaha ... saya hanya bercanda! Ini karena kamu terlalu kaku, Arfan. Ya, sudah. Kalau begitu, saya pamit, ya!" ucap Adiwangsa sembari menepuk-nepuk pundak gagah Arfan, lalu ia pun segera melangkah pergi.
Sementara itu, Arfan masih saja termangu atas candaan sang majikan.
"Huhhh ... aku bisa gila bila benar-benar hal itu terjadi tadi!" gumam Arfan menarik nafasnya dalam-dalam.
...*****...
Fayra yang telah bersiap-siap dan tampil cantik, muncul di hadapan Arfan yang masih lagi setia dengan lamunan. Sampai-sampai, gadis itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Arfan si pria tampan.
"Arfan ...! Arfan ...!" jerit Fayra yang akhirnya berhasil membangunkan Arfan dari lena.
"Eh, iya, Non!"
"Dih, kamu pagi-pagi udah ngelamun! Awas, ntar ke sambet baru tahu, kamu!" celetuk Fayra sekenanya.
"I-iya, Non!" jawab Arfan kikuk dan sekaligus malu.
"Aih, kenapa bisa melamun begitu, sih tadi aku?!" sesal Arfan di dalam hatinya.
"Yuk, buruan jalan!" titah Fayra pada sang pengawal.
"Baik, Non!"
...*****...
Di perjalanan ...
Hening!
Beberapa saat kemudian ...
"Non, nanti setelah mengantarkan Nona, bolehkah saya ...," Arfan ragu-ragu untuk menyampaikan niatnya pada Fayra.
Namun, seolah telah mengerti akan maksud Arfan. Fayra langsung bisa mengetahui hal apa yang di maksud Arfan padanya.
"Kamu mau pergi ke rumah sakit?" imbuhnya,
"Ba, bagaimana bisa Non Fayra tahu?!"
"Gampang! Itu udah terlihat jelas di kening mu!" celetuk Fayra seenaknya.
"Heh?!" sontak Arfan langsung memegang keningnya. Seakan ia ingin memeriksa apakah benar begitu terlihat jelas di keningnya saat ini. Ya, kurang lebih seperti itulah gambaran kelakuan Arfan si pemuda tampan saat ini.
"Hahaha ... Arfan ... Arfan ...! Kamu benar-benar aneh, ya! Ya, sudah. Pergilah! Aku tidak akan melarang mu untuk menjenguk ibumu," ujar Fayra yang masih tersenyum manis.
"Terima kasih banyak, Non!"
"Nggak, usah berlebihan, deh!" imbuh gadis cantik itu, dia seakan enggan untuk meladeni sikap Arfan yang dinilainya agak berlebihan.
...*****...
Fayra pun tiba di perusahaannya, lalu ia pun segera keluar dan berjalan menuju ke dalam.
"Non, saya antar dulu ke dalam, ya!" ucap Arfan berbaik hati.
"Tidak, perlu! Kamu langsung pergi saja sana! Semakin cepat, maka semakin baik, 'kan?!"
__ADS_1
"Sekali lagi, terima kasih banyak, ya Non!"
"Oh, emmm ...!" jawabnya acuh tak acuh.
Biarpun begitu, Arfan tetap berterima kasih setulus hati pada Fayra. Walaupun, sikap Fayra memang masih sangat menyebalkan baginya. Tapi, tak mengapa! Sebab, Arfan telah terbiasa.
...*****...
Di rumah sakit ...
Arfan berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Dan sampailah ia di depan kamar rawat sang ibunda tercinta.
Di sana sudah ada ustadz Yusuf yang selalu setia menggantikan Arfan menjaga ibunya. Arfan pun menyapa dan memeluk sang ustadz.
"Assalamualaikum, Ustadz!" ucap salam Arfan dan kemudian ia memeluk Yusuf.
"Waalaikumsalam, Fan. Akhirnya ...,"
"Iya, Ustadz! Maaf, saya baru bisa datang berkunjung. Sebab, pekerjaan saya lumayan menumpuk. Hehehe ...,"
"Iya, tak apa! Oh, iya. Kamu sudah sarapan?"
"Alhamdulillah, sudah, Ustadz. Ustadz sendiri, sudah sarapan, 'kah?"
"Alhamdulillah, juga sudah." sahut Yusuf.
Sudah cukup lama Arfan dan Yusuf duduk di depan kamar rawat Sanah Mufidah. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Diantara obrolan mereka adalah seputar pekerjaan dan ... tentang wanita yang cocok untuk Arfan.
"Jadi, bagaimana, Arfan? Apakah sekarang kamu sudah menemukan tambatan hati, hmmm?" tanya Yusuf sedikit menggoda Arfan.
"Ah, Ustadz bisa saja! Saya belum menemukan yang ingin di jadikan istri, Ustadz. Apa boleh ... saya meminta tolong pada Ustadz untuk mencarikan jodoh untuk saya di pesantrennya, Ustadz?" tanya balik Arfan yang membuat Yusuf terperangah tak percaya.
"Seriusan ...?! Kamu mau saya bantu cariin jodoh, gitu?! pekik Yusuf tak percaya.
Lalu, Arfan mengangguk malu-malu.
"Kalau Ustadz berkenan, saya mau, Ustadz." imbuh Arfan tertunduk.
"Insya Allah, ya! Saya akan berusaha yang terbaik untuk kamu. Semoga, salah satu ustadzah yang ada di pesantren mau berkenalan dengan kamu nanti,"
"Aamiin!!! Terima kasih, Ustadz! Terima kasih banyak!" ucap Arfan meraup senang dengan menggenggam tangan Yusuf si ustadz baik hati.
Mereka pun saling melempar senyum satu sama lain.
"Kalau begitu, saya mau masuk melihat kondisi ibu saya, Ustadz." pamit Arfan pada Yusuf.
"Oh, iya. Silakan!"
"Bue ...!!! Bue, tunggu, ya! Arfan akan panggilkan dokter sekarang," Arfan pun berlari lagi keluar.
Melihat Arfan yang panik, Yusuf spontan bertanya.
"Ada apa, Fan? Kenapa kamu panik, begitu?"
"Bue ..., Bue, Ustadz ...,"
"Bue mu kenapa?"
"Beliau telah sadar tapi sedang kejang-kejang sekarang, Ustadz!"
"Kalau begitu, biar saya saja yang panggil dokter. Kamu tetaplah di dalam, ya!"
"Makasih, Ustadz!"
"Ya." Yusuf pun berlari mencari dokter.
Arfan kembali masuk ke dalam, di lihatnya ibunya masih mengalami kejang-kejang.
"Bue ... sabar, ya! Sebentar lagi, dokter pasti datang!" ucap Arfan sembari memegangi tangan sang ibu dan menciuminya.
Tak lama kemudian, dokter pun datang.
"Permisi, Mas! Biar saya periksa, ya!"
"Ya, Dok!"
Sang dokter melakukan tugasnya dan memeriksa kondisi Sanah dengan teliti. Setelah memberikan suntikan penenang, Sanah pun kembali tenang.
"Bagaimana, Dok keadaan ibu saya?" tanya Arfan tak sabaran.
"Beliau mengalami kejang akibat tekanan pada otaknya. Sehingga, hal itu cukup mempengaruhi kinerja tubuhnya. Jadi, itu sebabnya ia mengalami kejang-kejang seperti tadi. Tapi, itu tidak akan berkelanjutan. Jadi, tenang saja!" terang dokter Hasan pada Arfan.
"Hahhh ... Alhamdulillah! Syukurlah, jika seperti itu," lalu, Arfan teringat kembali kejadian sebelumnya yaitu pada saat ibunya membuka mata tadi.
"Oh, iya, Dok. Tadi, saya lihat ibu saya sudah membuka matanya, Dok. Apakah bisa di artikan kalau dia tadi sadarkan diri?"
"Untuk sesaat, ya. Seperti itulah gejalanya. Sabar, ya, Mas! Semoga, sebentar lagi ibu Anda akan sadar kembali."
"Aamiin ... makasih banyak, ya Dok!"
"Sama-sama! Kalau begitu, saya permisi dulu!"
"Silakan, Dok!" ucap Arfan dan Yusuf bersamaan.
__ADS_1
Dokter muda dan tampan itu pun melenggang keluar meninggalkan Arfan dan Yusuf.
"Kalau ada apa-apa, kabari saya, ya, Ustadz! Maaf, saya tidak bisa lama-lama di sini!"
"Iya, pasti!"
"Kalau begitu, saya pamit dulu, Ustadz. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam!" balas Yusuf pula.
Hening!
Kemudian, entah ada angin apa yang terjadi. Sanah pun membuka matanya dan berkata, "Arfan ...!" ucapnya lirih dan lemah.
Arfan membalikkan badannya, mencoba untuk memastikan apakah dia salah dengar atau memang benar.
"Bue ...!" gumamnya dan membalikkan tubuhnya ke belakang lagi. Di tatapnya wajah sang ibu yang ternyata, memang sudah sadar sepenuhnya.
Belum lama dokter Hasan Ibrahim dari sana, kembali sang dokter di panggil ke sana oleh Yusuf.
Setelah semuanya di periksa lagi oleh Hasan, Sanah pun di nyatakan telah sadar dari komanya.
"Alhamdulillah, akhirnya ibu Anda sudah siuman, Mas Arfan. Selamat, ya! Selamat datang kembali, Ibu!" ucap Hasan dengan ramahnya.
Sanah hanya bisa tersenyum lemah dengan bibir pucat nya itu.
"Terima kasih banyak, Dok!"
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu, saya permisi lagi!"
"Ya, Dok. Silakan!" sahut Arfan terlampau senang.
Arfan mencium tangan sang ibu dan mencium keningnya juga.
"Alhamdulillah, akhirnya Bue siuman juga."
"Iya, Fan. Kalau begitu, saya akan mengabari istri saya. Biar nanti dia bisa datang ke sini bersama Nadhifa."
"Iya, Ustadz. Saya juga ingin menghubungi bos saya. Sepertinya, saya akan cukup lama ada di sini."
Mereka pun sama-sama menghubungi orang yang di maksud.
Benar apa yang telah di prediksikan oleh Hasan, bahwa Sanah akan sulit untuk berbicara seperti biasanya. Hal itulah yang di rasakan oleh wanita paruh baya itu saat ini.
Walaupun demikian, ia tetap bersyukur. Sebab, Allah masih memberikan kesempatan baginya untuk tetap bersama anak-anak yang ia sayangi selama ini. Anak-anak yang selalu menjadi sumber semangatnya, dalam menjalani kehidupan selama ini.
"Alhamdulillah, ya Allah Yang Maha Agung dan Yang Maha Kuasa! Hanya karena rasa cinta dan kasih sayang dari-Mu sajalah hamba masih bisa kembali untuk menjalani kehidupan hamba." ucap syukur Sanah dalam hatinya.
Di tatapnya punggung sang putra semata wayangnya. Betapa besar rasa sayang yang ia sematkan pada sang putra mahkota itu. Sampai-sampai, ia akan rela menukar nyawanya demi kebahagiaan sang anak tercintanya tersebut.
Ya, seperti itulah gambaran rasa cinta yang di rasakan oleh Sanah terhadap anak-anaknya. Begitulah ibu, ia akan lebih peduli pada anak-anaknya. Ketimbang kepentingannya sendiri!
...*****...
Ibu ...
Kasihmu seluas dunia
Bukan lagi seluas samudera
Kau wanita yang tak kenal kata lelah
Apalagi harus menyerah
Kendatipun sulit bagimu untuk melangkah
Namun, kau tetap melakukannya
Sebab, rasa cinta yang tertanam di dalam jiwa
Mampu mengalahkan seluruh amarah
Walaupun aku selalu membuat luka
Kau akan selalu memberikanku cinta
Walaupun aku selalu durhaka
Engkau akan tetap tersenyum bahagia
Duhai ... Ibuku ...
Kau adalah permata hatiku
Izinkan ku untuk memberimu bahagia
Walaupun akan sulit mewujudkannya
Namun, aku akan tetap berusaha
Sekuat dan semampu yang ku bisa
...*****...
__ADS_1