CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Menyikapi Situasi


__ADS_3

Syukuri apa yang kita miliki saat ini!


Bersiap diri untuk apa yang akan kita hadapi!


...{Arfan Alhusayn}...


...*****...


Rapat telah usai. Namun, Adiwangsa menghentikan langkah putra semata wayangnya.


"Raynar, tunggu ...!" panggil Adiwangsa dengan setengah berteriak.


Raynar pun patuh dan menghentikan langkah gagahnya. Namun, tubuhnya enggan untuk berbalik badan.


"Semoga, Allah selalu menjaga mu di luar sana, Nak! Papa hanya tidak mau kamu kembali ke masa di mana kamu terlena akan dunia yang penuh tipu daya!" Adiwangsa memberikan nasihat, sembari berjalan mendekati putranya dengan hati-hati.


Lalu, ia menepuk pelan pundak sang anak. Dan ia pun menempelkan erat tangannya pada pundak sang anak.


Deg ...


Jantung Raynar berdetak karena terkejut!


Sebab, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada tangan gagah sang ayah saat ini. Ada sebuah getaran hebat yang ia rasakan dalam tangan kokoh itu.


"Apa ini? Mengapa aku seolah merasakan kehangatan kasih sayang darinya? Orang yang selama ini, tak pernah bisa aku rasakan kasih sayangnya. Apakah benar ia tengah menyalurkan rasa sayangnya padaku saat ini?" Salah satu sudut hati Raynar berucap bimbang.


"Teruskan istiqomah mu, Nak! Papa akan selalu mendoakan kamu. Dan ... pulanglah! Jika, memang kamu sudah tidak kuat!" ucap Adiwangsa dengan nada lirih. Namun, masih menyiratkan ketegasan di dalamnya.


Sorot mata itu membuat Raynar seketika tergamang dan tersentuh!


Hati nurani terdalamnya sudah mulai merasakan kehangatan sang ayah. Ternyata, di balik sikap tegas sang ayah selama ini. Ini adalah kali pertamanya, merasakan kehangatan kasih sayang yang tulus dan nyata dari sang, 'Presiden'. Ya, gelar itu nyatanya memang pantas di sematkan olehnya pada sang ayah.


Ada banyak sikap sang ayah yang tak pernah ia bisa menebaknya. Sama halnya dengan apa yang Arfan pikirkan saat ini. Laki-laki itu, hanya bisa menatap tenang pada arah ayah mertua dan kakak iparnya.


Sayang!


Tampaknya, sebuah drama haru yang tengah tersaji di hadapan Arfan saat ini tak bisa berlangsung lama. Sebab, Fayra menelpon Arfan dengan sangat histeris di seberang sana.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, Mas! Mas, cepetan pulang ...! Harus sekarang! Aku nggak bisa menunggu lagi!" ucap Fayra dengan menggebu-gebu.


"Iya, sabar, ya! Jangan, buat mas panik, Sayang!" ucap Arfan mencoba untuk setenang mungkin yang dia bisa.


Namun, sifat bar-bar sang istri malah semakin menjadi-jadi di seberang sana.


"Nggak, Mas! Aku mau kamu tutup teleponnya sekarang! Dan ... cepetan pulang!" telepon pun mati detik itu jua.


"Astaghfirullah ...! Apa yang sebenarnya terjadi pada Fayra?!" gumam panik Arfan karena ulah sang istri tercintanya.


"Ada apa, Fan?" tanya serempak dan kompak Adiwangsa dan Raynar.

__ADS_1


"Fayra, Pa, Mas. Dia nyuruh aku cepetan pulang," sahut Arfan.


"Ya, udah. Kalau gitu kita pulang sekarang, ya!" titah Adiwangsa pada Arfan.


"Aku juga akan ikut," timpal Raynar pula.


"Ayo!" seru Adiwangsa pada Arfan dan Raynar.


Mereka bertiga pun lekas berangkat dengan sangat cepat.


...*****...


Kediaman Adiwangsa Maheswara ...


Ketiga pria tampan berbeda usia dan tingkat kedewasaan juga tentunya. Mereka telah tiba dengan selamat dan cepat di rumah megah, milik Adiwangsa Maheswara.


Tergesa-gesa dan buru-buru mereka langsung menuju kamar Fayra dan Arfan. Ketika pintu kamar yang memang tidak tertutup itu, menampilkan wajah seorang wanita yang tengah berbahagia.


Raut wajah itu seakan laksana bunga yang sedang merekah. Bagaikan sebuah perhiasan yang berkilau-kilauan. Terlihat sudah Fayra yang tengah merasakan binar-binar indah di wajahnya nan ayu. Bagaikan sebuah kuntum bunga mawar yang menebar harumnya.


"Fay? Ada apa ini sebenarnya, hah?!" tanya sang kakak yang setengah memekik pada sang adik.


Bukan jawaban yang di sampaikan Fayra pada sang kakak. Melainkan, sebuah pelukan hangat yang ia berikan pada sang suami, penjaga hati dan pemilik raganya saat ini. Dan ... untuk selamanya, itulah harapnya dalam setiap doa.


"Aku senang banget kamu akhirnya pulang, Mas!"


Arfan tercengang!


Tak hanya itu, Arfan juga merasa amat sangat malu!


"Fay, lepaskan, ya?! Malu sama papa dan yang lainnya," bisik Arfan tepat di telinga sang istri.


Fayra melepaskan pelukannya dan segera mengutarakan sebuah kabar berita.


"Oke! Aku akan jelaskan pada semuanya, bahwa saat ini ... aku sedang hamil! Aku hamil sudah empat mingguan, Mas!" ucap Fayra, dengan wajah yang sumringah dan senyum yang terus-menerus terukir dari bibir manisnya.


Baik Arfan, Adiwangsa maupun Raynar yang baru saja tahu kabar itu, mereka amat sangat bahagia mendengarnya.


"Alhamdulillah, ya ... Allah! Akhirnya, keluarga ini akan segera kedatangan seorang malaikat kecil," ucap Adiwangsa dengan penuh rasa syukur dan haru.


"Alhamdulillah! Selamat, ya, Fay, Arfan! Semoga, calon ponakan ku selalu sehat dan baik-baik saja! Aamiin ya rabbal alamin!" ucap Raynar yang juga turut mendoakan calon ponakannya.


"Aamiin ...! Terima kasih banyak, Mas!" ucap Arfan pada Raynar.


"Aamiin ...!" sahut Fayra pula.


Hazna turut bersuara atas sikap Fayra yang terkesan sangat berlebihan.


"Maaf, ya semaunya! Kalian jadi ... kejar-kejaran untuk pulang. Hahhh ... Fayra ini benar-benar membuat semua orang jadi heboh! Tadi, dokter Febriani mengatakan, bahwa ... kehamilan Fayra mengalami sedikit kendala. Tapi, syukurlah semuanya sudah lebih baik. Sebab, Fayra tadi di berikan suntikan penguat kandungan," ucap Hazna dengan raut wajah yang cemas bercampur senang.


"Huhhh ...! Alhamdulillah, Allah selalu menjaga mu dan calon anak kita, Fay Sayang!" ucap Arfan, dengan binar kebahagiaan di wajahnya, saat menatap paras cantik sang istri yang memang masih terlihat pucat dan lelah.

__ADS_1


"Sebaiknya, panggil terus dokter Febriani untuk selalu mengecek kondisi Fayra. Jangan sampai kandungan Fayra kenapa-kenapa!" titah Adiwangsa dengan ekspresi wajah yang cukup sangar!


"Baik, Mas! Aku akan menjaga calon cucu pertama kita dengan sangat hati-hati," sambut Hazna dengan senyum yang tak lupa ia sematkan di bibirnya.


"Kalau begitu, biarkan Fayra istirahat. Ayo, kita keluar saja!" Semua orang pun keluar, setelah mendapatkan perintah dari si calon kakek di rumah ini.


Kini, tinggallah Fayra dan Arfan di dalam istana cinta mereka.


"Mas ...?"


"Hmmm? Kenapa, Sayang?"


Bukannya berbicara, Fayra malah menggamit lengan sang suami mendekat dan lebih dekat lagi pada dirinya.


"Ada apa? Katakanlah, apa yang kamu butuhkan saat ini, hmmm?" tanya Arfan selembut mungkin pada sang istri.


"Aku ingin ...," Fayra menahan keinginan untuk mengutarakan maksud hatinya pada sang imamnya.


"Ingin apa? Ayo, katakanlah! Jangan, ragu-ragu!" seruan Arfan dengan nada yang masih lagi sama.


"Aku ingin bertemu dengan kak Savina, Mas! Hanya itulah keinginan hatiku saat ini, Mas! Dia sama sekali tidak ada kabar, Mas! Ponselnya juga sangat sulit di hubungi. Belum lagi, sosial medianya juga tidak pernah aktif lagi, Mas. Seolah, dia memutuskan semua koneksi. Agar, aku ataupun yang lainnya tidak bisa menghubungi dirinya, Mas. Aku takut ... aku takut mimpi ...," Arfan langsung memeluk erat tubuh lemah sang istri, yang tengah mengandung buah hati mereka saat ini.


"Shuuuttt ...! Tidak baik berpikir yang bukan-bukan, ya! Sebaiknya, kita selalu mendoakan yang terbaik untuknya yang sedang berjuang di negeri orang. Kamu paham, 'kan maksud Mas?"


"Iya, Mas. Aku paham!" Fayra kembali membenamkan kepalanya dalam pelukan sang suami.


...*****...


Kanada ...


Gadis cantik tengah memandang jauh ke arah laut lepas. Sorot matanya yang seakan berkabut, membuat semua pandangannya menjadi kusut.


Tak ada senyum!


Tak ada tawa!


Yang ada hanya air mata!


Bibirnya mengatup! Namun, hatinya terus berkicau bagaikan seekor burung yang tengah bersiul merdu. Tapi, berbeda jauh dengan apa yang Savina Maheswara lakukan saat ini dalam palung hatinya.


"Allah ...! Adakah rasa yang lebih menyakitkan dari pada ini?! Allah ...! Adakah derita yang lebih pedih dari ini?! Aku lemah! Aku kalah! Dan ... aku rasa aku tak pantas untuk berada di rumah! Mungkin, inilah sebabnya aku berada jauh dari yang katanya adalah keluarga. Tapi, entah mengapa aku rasa aku bukanlah anak mereka yang di harapkan untuk ada. Hiks ...!"


Savina pun terduduk dari berdirinya. Ia merasa benar-benar sangat rapuh saat ini. Dan ... ada sebuah tangan yang sama seperti saat di pesta pernikahan sang adik tercintanya.


Tangan gagah itu, kembali memberikan sapu tangan yang berwarna sama seperti sebelumnya. Kini, Savina bisa melihat dengan amat sangat jelas wajah rupawan itu.


"Ka, kamu ...?" ucapnya dengan rasa keterkejutan yang timbul dengan sendirinya.


Jawaban berupa senyuman yang Savina dapatkan. Gadis itu semakin di buat penasaran! Mengapa, mereka bisa bertemu lagi? Di tempat yang sudah sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


Siapakah dia sebenarnya?

__ADS_1


Kira-kira, seperti itulah benak Savina mempertanyakan tentang pria rupawan tersebut.


...*****...


__ADS_2