
Usai sudah beberapa lembar surat yang Fayra tulis untuk sang kakak tercinta. Kini, wanita cantik itu tengah memasukkan surat tersebut ke dalam sebuah amplop.
Nanti, ketika suaminya pulang ke rumah. Maka, dia akan meminta sang suami untuk memberikan surat tersebut pada sang kakak yang ia rindukan selama ini.
"Alhamdulillah, selesai juga nih, surat. Kalau udah di kasih amplop lebih kelihatan rapi, deh!" ujar Fayra sembari membenahi peralatan tulisnya tadi.
...*****...
Setelah makan siang bersama koleganya, Arfan pun pulang lebih awal. Dia berencana untuk mengajak sang istri untuk bertemu dengan ibunya. Sebab, ia ingin berpamitan pada ibu dan adiknya.
Sepertinya, cukup lama Arfan akan berada di luar negeri. Jadi, akan lebih baik jika dia berpamitan lebih awal. Takutnya, nanti malah terhalang karena urusan lainnya.
"Ham, setelah ini kita langsung pulang ke rumah, ya! Saya ingin mengajak istri saya untuk bertemu dengan ibu saya," seru Arfan pada Hamas yang duduk di samping supir.
"Baik, Pak! Kalau begitu, urusan yang lainnya biar saya saja yang handle di kantor. Setelah saya mengantar bapak, saya akan langsung ke kantor pakai taksi, Pak."
"Eh, nggak perlu repot-repot! Saya akan minta supir untuk antar kamu ke kantor. Dan saya akan memakai mobil istri saya saja nanti." saran Arfan pada sang asisten pribadinya.
"Oh, terima kasih banyak, Pak!" balas Hamas dengan menghadapkan wajahnya ke arah Arfan yang duduk di kursi belakang mobil.
"Ya, sama-sama." Tak ada lagi obrolan di antara mereka.
...*****...
Kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Sejak memutuskan untuk pensiun, Adiwangsa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merawat dirinya. Seperti, berolahraga dan berjalan-jalan bersama istri tercintanya, kemana pun yang mereka inginkan.
Misalnya saja pada hari ini, Adiwangsa sengaja mengajak Aneira Hazna untuk sekedar mengecek kondisi kesehatan mereka ke rumah sakit.
Tapi, sebenarnya ada tujuan lain di balik niat Adiwangsa tersebut pada istrinya. Dia secara tidak langsung ingin menunjukkan sesuatu pada sang istri tercintanya.
Jadi, tinggallah Fayra di rumah bersama beberapa asisten rumah tangga saja. Sehingga, Arfan tak melihat sosok ayah mertua dan ibu mertuanya, ketika pria itu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap salam Arfan ketika melihat pintu rumah yang sudah terbuka lebar.
"Wa'alaikumsalam, eh ... Den Arfan sudah pulang," sahut si mbok pada Arfan.
"Iya, Mbok. Kok, rumah sepi, Mbok? Mereka semua pada kemana, Mbok?"
"Non Fayra ada di kamar, Den. Kalau nyonya dan tuan Adiwangsa mereka sedang keluar, Den," terang si mbok.
"Oh, gitu. Makasih, Mbok. Saya pamit ke kamar dulu, Mbok. Permisi!"
"Ya, Den. Mbok juga mau keluar sebentar beli bumbu,"
"Ya, Mbok"
...*****...
Arfan pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sesampainya di lantai atas, tepatnya di depan pintu kamar mereka. Pintu yang memang tak rapat, sehingga memberikan keleluasaan bagi netra Arfan untuk melihat sang istri saat ini.
"Sedang apa dia?" tanya berbisik Arfan dari balik cela pintu kamar yang terbuka sedikit.
Perlahan-lahan, Arfan semakin masuk ke dalam dan mendekati sang istri yang sedang duduk di depan meja riasnya.
Dan ... tangan Arfan pun memegang pundak sang istri. Sehingga, hal itu cukup membuat Fayra terkejut seketika.
"Eh, Mas! Kapan Mas pulang? Kok, aku nggak dengar suara langkah kaki mu, Mas?"
"Sengaja," jawab Arfan singkat.
"Tumben, mas pulang cepat. Ada apa, Mas?"
"Mas mau ajak kamu ke rumah bu'e. Bu'e, pasti udah kangen sama kita. Jadi, sekalian pamit juga ke bu'e," terang Arfan yang masih memegang pundak sang istri.
__ADS_1
Fayra membalikkan badannya dan menatap netra sang suami.
"Mas, memang mas mau pergi berapa lama?"
"Belum tahu, Fay. Bisa sebentar dan juga bisa lama," jawabnya ambigu.
"Ya, udah. Kalau emang belum tahu pasti, aku akan tetap siapin baju mas untuk beberapa hari. Kalau kurang nanti mas bisa beli di sana aja, ya?"
"Iya, makasih banyak ya, Fay!"
"Mas, aku ini istri mu, Mas. Jadi, nggak perlu berterima kasih, ya! Jangan perlakukan aku seperti orang asing, Mas!" pinta Fayra yang sudah mengemasi lagi barang-barang suaminya.
"Mas, aku titip sesuatu untuk kak Savina, ya? Boleh 'kan, Mas?" tambahnya lagi.
"Apa yang kamu ingin berikan padanya?"
"Ini sebuah surat yang berisikan kerinduan ku padanya, Mas. Jadi, boleh aku titip padamu, Mas?" Arfan mengangguk dan tersenyum.
Fayra pun memasukkan suratnya ke dalam koper Arfan. Kemudian, mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Arfan.
...*****...
Kediaman Sanah Mufidah ...
Kaki sudah menginjak rerumputan yang ada di halaman rumah. Kemudian, Arfan mengajak sang istri untuk lekas masuk ke dalam rumah.
"Yuk, kita masuk!"
"Ya, Mas." sahut Fayra sembari menggandeng tangan sang suami.
"Assalamualaikum, Bu'e!" ucap salam sepasang suami istri tersebut.
Pintu pun terbuka, terlihatlah wajah sang ibu yang penuh cinta di sana.
"Wa'alaikumsalam, anak dan menantuku." Arfan dan Fayra pun menyalami tangan sang ibu di hadapan mereka itu dengan khidmat.
Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu minimalis di rumah itu.
"Nad, kemana ya, Bu'e?"
"Oh, dia masih kuliah. Nanti, dia akan pulang setelah selesai tugas kelompok katanya. Bu'e juga kurang tahu jam berapa anak itu akan pulang. Soalnya, tadi di pasar dia sempat ingin berantem," Sanah langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia baru sadar kalau dirinya keceplosan pada Arfan dan Fayra.
"Mau berantem karena apa, Bu'e?"
"Eh, bukan apa-apa! Biasalah, dia memang seperti itu, 'kan? Adik kamu itu memang sukanya berantem. Jangankan sama orang, sama kamu juga dia sering berantem, 'kan?" alibi Sanah agar tak ketahuan oleh anak dan menantunya.
Fayra pun menunduk, sebab ia tahu mengapa Arfan dan Nadhifa sering sekali bertengkar. Tentu saja karena dirinya. Itulah isi pikiran Fayra saat ini.
"Tumben sekali kalian datang di jam sekarang. Ada apa ini?" tanya Sanah lagi.
"Begini, Bu'e ... Arfan rencananya akan mengadakan perjalanan keluar negeri. Jadi, Arfan sekalian ingin pamit pada bu'e dan Nadhifa. Tapi, sepertinya Nad akan lama pulang. Jadi, Arfan titip salam aja ke dik manis ya, Bu'e,"
"Iya, Nak. Nanti, bu'e pasti sampaikan pada adikmu itu. Sebelum itu, ayo kita makan siang bersama!" ajak Sanah pada anak dan menantunya.
"Bu'e, ini kami ada sedikit uang untuk tambahan belanja bu'e dan Nadhifa. Tolong, Bu'e terima, ya?!" ucap Fayra dengan sedikit memohon.
"Tapi, ...,"
"Sudahlah, ambil saja, Bu'e. Fay mau bu'e dan Nadhifa bisa membeli apapun yang kalian butuhkan, ya?"
"Baiklah, terima kasih banyak, Nak!"
Mereka pun lekas makan siang bersama. Makan siang yang amat sangat menyenangkan.
...*****...
__ADS_1
Kanada ...
Perjalanan panjang yang melelahkan, membuat Arfan membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk di salah satu hotel di Kanada.
Tak jauh berbeda dengan sang asistennya. Hamas juga tampak sangat lelah. Alhasil, mereka pun terbaring tak berdaya di atas kasur empuk mereka.
Setelah kepergian dirinya ke Kanada, Fayra lebih sering lagi menghubunginya. Sebab, ada perasaan rindu yang selalu menyelubungi hati keduanya.
Namun, kali ini suara bising dari ponselnya tak mampu membuat Arfan terjaga. Sakingkan lelahnya ia sampai-sampai tak sanggup untuk menjawab telepon dari Fayra.
Tut ... tut ... tut ....
Baru saja berbaring, Fayra sudah menghubungi Arfan beberapa kali. Namun, akibat mata lelah. Pria itu tak sanggup untuk mengembalikan kesadaran dirinya. Sebab, rasa kantuk yang dideranya begitu luar biasa hebatnya.
...*****...
Sementara itu di Yogyakarta, Fayra membuat semua orang resah.
"Fay, lebih baik kamu ikut papa sama mama ke rumah sakit hari ini, ya? Siapa tahu, nanti setelah kamu pergi periksa ke rumah sakit. Suamimu segera menghubungi kamu," usul Hazna pada anaknya.
"Ya, udah, deh! Mungkin, mama benar. Tapi, apa nggak sebaiknya dokter Febriani saja yang datang ke rumah, Ma?"
"Mendingan, kamu ikuti saja saran mama kamu, Fay. Biar kamu nggak bosan di rumah," kata Adiwangsa nimbrung begitu saja.
"Ya, okelah. Fay nurut, aja."
Mereka pun pergi ke rumah sakit lagi.
...*****...
Kanada ...
Cukup lama sudah Savina tak ada memberikan kabar apapun pada keluarganya. Hari demi hari Savina kini lebih berwarna. Hampir setiap hari Morgan Tan menemaninya kemanapun yang ia inginkan.
"Morgan, apa kamu tidak pernah sibuk?" tanya Savina di sela-sela sarapan pagi bersama mereka.
"Sibuk itu pasti! Tapi, menemani kamu juga sesuatu hal yang paling aku gemari. Jadi, setelah selesai menemani kamu. Aku bisa lanjut beraktivitas lagi, 'kan?"
"Iya, tahu. Tapi, kenapa kamu ingin selalu menemani ku? Apa alasannya, Morgan?"
Morgan meletakkan garpu dan pisau yang ada di tangannya. Kemudian menggenggam tangannya. Lalu, mulai menatap lekat wajah Savina.
"Ke, kenapa kamu malah menatapku seperti itu?"
"Ingin saja! Apakah salah?"
"Aneh! Keinginan kamu itu terlalu aneh, Morgan. Jujur, aku masih belum bisa memahami siapa kamu? Bagaimana kamu bisa mengenal ku dan keluarga ku dengan baik?"
"Savina ... belum saatnya bagimu untuk tahu akan latar belakang keluarga ku dan kehidupan ku. Masih banyak fase yang harus aku dan kamu lalui sebelum itu." batin Morgan berujar datar.
"Tebak saja olehmu! Aku ini sebenarnya siapa? Bukankah, kamu mahasiswi yang cantik dan pintar? Jadi, tidak akan sulit bagimu untuk menebak siapa aku, 'kan?!" tantang Morgan pada Savina.
Rasa kesal menyeruak masuk ke dalam relung hati Savina. Gadis itu pun menenggak minuman hingga tandas.
Lalu, ia pun berdiri dan bergegas.
"Aku sudah kenyang! Sebaiknya, aku pergi kuliah sekarang. Oh, ya ... jangan datang lagi untuk menemui ku! Sebaiknya, kita tidak perlu bertemu lagi mulai detik ini. Permisi!!!" ucap kasar Savina dengan wajahnya yang gusar dan mulai bergetar.
"Tunggu dulu ...! Urusan di antara kita tidak akan pernah selesai dengan mudah, Savina! Kamu dan aku masih akan bertemu lagi untuk kedepannya. Jadi, persiapkan dirimu dengan mental baja. Apa kau mengerti?!"
Savina enggan untuk berbalik badan. Ia memutuskan untuk tetap melangkah menjauh dari Morgan Tan.
Sementara itu, Morgan hanya bisa tersenyum bahagia melihat tingkah Savina.
"Wanita memang ada-ada saja kelakuannya." ujar Morgan tanpa sadar.
__ADS_1
...*****...