
Cukup lama Arfan dan Hamas menunggu kedatangan Savina Maheswara. Mereka janji bertemu di tempat yang biasa Savina datangi. Sebuah kafetaria yang menjadi tempat favorit bagi Savina. Mengingat tempat itu juga yang sering ia kunjungi bersama Morgan Tan, si pria misterius yang masih lagi terpatri dalam ingatan dan hati nurani si gadis berponi.
Savina melenggang menghampiri si adik ipar yang pernah ada di hati. Namun, tidak lagi untuk saat ini. Apalagi, semenjak dirinya telah membaca dengan penuh kesadaran akan surat sang adik manjanya. Hal itu semakin membuat Savina terenyuh dan menaruh rasa haru biru.
Kini, Savina merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Perasaan cinta tulusnya terhadap Arfan, mulai tergantikan dengan perasaan bahagia sebagai kakak ipar saja.
Ya, bukankah seharusnya memang begitulah yang benar di lakukan oleh Savina Maheswara?
"Mbak iparnya Bapak sudah datang, Pak. Apa perlu saya sedikit menjauh terlebih dulu, Pak?" tanya Hamas yang tak ingin menjadi pengganggu di antara Arfan dan Savina.
"Tidak, kamu tetaplah di sini, Ham. Saya akan berpamitan saja pada kakak ipar. Jadi, kamu tidak harus pergi kemana-mana." sahut Arfan dengan penuh titah pada asisten pribadinya.
Tibalah Savina dengan raut wajah yang lebih ceria dari sebelumnya. Bahkan, gadis cantik berponi itu sudah mulai bisa mengembangkan senyuman termanisnya.
"Hai, selamat pagi, Fan, Ham!" sapa lembut Savina dengan senyum terus terukir di bibir.
"Pagi, Mbak!" balas Arfan dan Hamas dengan di barengi oleh anggukan kecil.
"Jadi, ada perlu apa kalian pagi-pagi begini meminta ku datang kemari, hmm?" tanya Savina dengan nada yang lemah lembut. Sehingga, membuat Hamas terperangah di buatnya.
"Apa dia baru saja mendapatkan mimpi yang terlampau indah? Makanya, dia bersikap manis sepagi ini? Atau ... bisa jadi dia manis di pagi hari. Lalu, berubah galak di malam hari? Ah, ... entahlah! Aku benar-benar sakit kepala karenanya," gumaman Hamas di balik dinding hatinya.
Lalu, samar-samar netra Hamas melirik sekilas-sekilas, pada wajah cantik yang sedikit tertutupi poni itu.
Savina sengaja sedikit merubah penampilannya. Agar terlihat lebih fresh saja. Sebab, ia mulai bosan dengan gayanya yang terkesan kaku dan monoton begitu-begitu melulu.
"Kami hanya ingin berpamitan saja, Mbak. Jadi, maaf, ya kalau kami mengganggu, Mbak Savina." ujar Arfan yang mulai melirik sedetik ke arah Hamas.
Netra Arfan seakan memberikan isyarat untuk Hamas mengemasi barang-barang mereka. Lalu, lekas pergi dari kafetaria yang menjadi saksi perpisahan mereka di Kanada.
Langkah Arfan mendadak pendek, ketika ia kembali teringat kedekatan sang kakak iparnya dengan seorang pria yang bernama Morgan Tan.
"Mbak ...?" panggil Arfan yang sedikit memalingkan wajahnya ke arah Savina berada.
"Ya ...?"
"Apakah, Mbak kenal dengan pria yang menarik paksa tangan Mbak, saat pertama kali kita bertemu di sini?"
Deg ...
Jantung Savina berdetak kalut. Ia menggiring pemikirannya pada seseorang yang beberapa waktu ini, memang selalu menemani hari-hari sepinya di tempat ini.
"Kenapa? Apakah kamu kenal dengannya, Fan?" tanya balik Savina, sembari bergumam dalam alam pikirannya sendiri.
"Aku berharap, Arfan kenal dengannya. Agar aku bisa mengorek informasi tentangnya pada Arfan saja. Tidak perlu lagi pada orang lain. Tapi, tunggu ... bukankah, kemarin itu Arfan seperti tidak mengenal Morgan?!"
"Tidak, Mbak. Justru, saya mau tanya pada Mbak Savina. Mungkin saja, Mbak Savina mengenalnya. Kalau begitu, kami permisi sekarang, Mbak. Penerbangan kami sudah hampir dekat," ucap Arfan berpamitan pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Oh, iya. Hati-hati, ya kalian berdua!" Arfan dan Hamas mengangguk pelan.
Bukan Hamas namanya bila tak bisa membuat Savina murka dan marah-marah. Sebelum mereka pergi, Hamas menyempatkan diri untuk sekedar berguyon dengan Savina. Niat awalnya sih, hanya ingin menghibur si wanita bak bidadari surgawi.
Alangkah sialnya, Hamas justru malah membuat dongkol hati Savina. Ketika kaki hendak melangkah pergi, Hamas diam-diam mengeluarkan sebuah bolpoin dari saku bajunya. Dia ingin memberikan itu untuk Savina. Hamas berpikir itu akan menjadi sebuah hadiah perpisahan di antara mereka. Tapi, tiba-tiba bolpoin itu terpental dan mengenai wajah Savina.
Tuk ...
"Aduh ...." Savina mengadu karena rasa sakit di bagian keningnya nan mulus putih bersih, harus di cicipi oleh hantaman tiba-tiba dari bolpoin milik Hamas.
"Ups ... kenapa malah tuh bolpoin jadi mental ke keningnya, sih? Hadehhh ... salah paham, tuh pasti si mbak Savina padaku," gumamnya, seperti seekor semut merah yang mulai merasa bersalah.
"Hamas ...!!! Kamu itu apa-apaan, sih, hah?! Kamu punya dendam masa lalu sama saya, ya? Tega banget lempar bolpoin itu ke saya," hardik Savina yang amat sangat marah.
Bukannya menunjukkan raut wajah bersalahnya. Hamas malah terkekeh geli melihat wajah ayu Savina yang berubah seperti udang yang baru saja di rebus.
"Hehehe ... maaf, Mbak! Sumpah, deh! Saya itu tadi sama sekali tidak berniat untuk melempar, tuh bolpoin ke mukanya, Mbak. Tapi, emang kayaknya, tuh bolpoin pengen terbang ke mukanya ... Mbak Savina, deh!" seloroh Hamas dengan terlewat santainya.
Arfan hanya bisa menghembuskan nafasnya samar-samar. Tak ingin berlarut-larut dalam pertikaian Savina dan Hamas. Arfan segera mengambil tindakan cepat dan sigap.
"Ham ...! Ayo, nanti kita ketinggalan pesawat gara-gara kamu terus-terusan berdebat dengan kakak ipar saya," titah Arfan dengan sedikit menarik tangan sang asisten pribadinya.
"Eh, i-iya, Pak. Maaf, Pak! Saya ti--," ucapan Hamas harus tercekat karena Arfan langsung menyambar penjelasannya begitu saja dengan raut wajah yang sedikit murka.
"Udah, jangan banyak berdebat, Ham! Buruan jalan! Maaf, Mbak kami pamit sekarang. Assalamu'alaikum, Mbak!"
Dari salah satu sudut di kafetaria itu, ada sepasang mata yang masih lagi setia memperhatikan Savina sejak semula.
Kerlingan mata itu tak kunjung jua berpaling dari Savina Maheswara. Matanya kian tajam kala Savina sempat berdebat manis dengan Hamas. Tatapan tak suka, kesal, marah, benci menguasai diri sang pemantau itu saat ini.
"Dasar pria menyebalkan! Sungguh, akan aku pastikan kamu menyesal telah mendekati Savina ku. Ya, hanya aku saja yang akan memiliki Savina Maheswara. Savina tidak akan pernah aku biarkan lolos begitu saja. Sia-sia perjuangan ku selama ini bila aku tak bisa mendapatkan dia." gumam berang si pemantau yang terbakar api cemburu itu.
...*****...
University of Alberta ...
Usai dari pertemuan mendadaknya dengan si adik ipar. Sekarang, Savina melenggang ke kampusnya. Ia tak menyadari bahwa, langkah kakinya di ikuti oleh seseorang dari belakang.
Savina terus berjalan menelusuri koridor kampus. Kaki di ajak berkeliling kampus olehnya, hingga sampailah ia pada perpustakaan kampus.
Savina masuk ke dalam perpustakaan, lalu ia mulai mencari buku yang ia butuhkan. Tak ada angin tak ada hujan badai. Tiba-tiba, salah satu buku terjatuh. Kemudian, Savina mendekat ke arah buku yang terjatuh itu.
Savina semakin mendekat ke arah buku tersebut. Tak sengaja lensa kontaknya menangkap sebuah sepatu hitam mengkilap. Sadar bahwa ada seseorang yang tengah berdiri di balik salah satu rak buku-buku itu. Savina lekas berdiri dari posisi berjongkok nya untuk mengambil buku yang terjatuh tadi.
Akibat dirinya yang terlampau takut, Savina memutuskan untuk menjauh dari sana. Sebab, ia takut akan terjadi sesuatu padanya nanti bila berlama-lama di tempatnya berada.
"Aku harus kabur sekarang! Katanya, perpustakaan kampus ini agak sedikit angker. Mungkin, sekarang hantu penunggu kampus sedang mulai menunjukkan eksistensinya padaku. Wah, gawat ini ...!" Savina berucap dalam otaknya saja yang sudah terlampau gelisah.
__ADS_1
Savina mulai melangkah pelan-pelan dan sangat berhati-hati sekali.
Tap ... tap ... tap ....
Hap ....
Sejurus kemudian, ada sebuah tangan panjang menarik pergelangan tangan Savina.
"Ahhh ...!" Savina berucap lirih dan wajahnya memerah ketika melihat seorang pria yang beberapa waktu lalu menemani kesendiriannya.
"Morgan ...?" celetuk Savina kala netranya beradu tatap dengan netra sang lawan.
Seringai yang penuh misteri Morgan tunjukkan lagi pada Savina. Tapi, kali ini lebih mengandung senyum yang penuh arti. Tidak sekedar senyum manis yang membuat jantungnya Savina berdegup kencang. Tetapi, juga membuat tubuh Savina membeku.
"Hai ...! Tolong, jangan usir saya lagi, ya! Ayo, kita pergi ke kelas kamu sekarang!" Morgan menarik lembut tangan gadis cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Tubuhnya masih kaku, jantungnya masih bertalu-talu dan otaknya otaknya pun masih beku. Entah apa yang tengah terjadi pada Savina saat ini. Dia hanya dapat mengikuti alur Morgan tanpa penolakan.
Susana itu langsung berubah, ketika Morgan mengangkat telepon dari seseorang.
"Halo ...!"
"Morgan, bagaimana dengan tugas yang papa berikan padamu, hmm? Apa kamu sudah bisa menyelesaikannya?"
"Belum, Pa. Tapi, nanti aku akan urus semuanya, Pa. Jadi, Papa jangan khawatir! Aku bukan anak kecil lagi, Pa!"
"Bagus! Papa tunggu kabar baik darimu, ya! Sekarang kamu bersama dengan gadis itu, 'kah?"
"Hemmm ... aku tutup dulu teleponnya, Pa. Dah ...!"
Morgan kembali memfokuskan perhatiannya pada Savina. Tapi, ternyata Savina sudah tidak berada di belakangnya. Ketika tadi Morgan mengangkat telepon. Savina pun sudah masuk ke dalam kelasnya.
"Ah, sial! Aku kehilanganmu lagi Savina. Tapi, tidak apa-apa. Nanti, aku akan menjumpai mu lagi dan mengikat mu terus denganku. Akan ada pelangi setelah kamu bersedih Savina Maheswara. Sampai nanti ... kamu akan tahu segalanya. Tapi, sebelum itu semua terjadi kita mainkan sebuah drama romansa saja." ucapnya dengan senyum menyeringai.
...*****...
Di dalam pesawat ...
Hamas sudah tertidur pulas karena lelah. Entah mimpi apa yang Hamas alami. Sehingga ia tersenyum-senyum bahagia dalam lelapnya.
Sementara itu, Arfan masih lagi teringat akan sosok Morgan Tan yang penuh misteri.
"Morgan Tan! Siapa sebenarnya kamu? Aku harus bisa menemukan fakta tentang kamu. Supaya aku merasa tenang." ucap Arfan lirih, lalu bola matanya tak sengaja memandangi wajah Hamas yang tersenyum-senyum sendiri.
"Ckckck ... jangan bilang kalau saat ini dia tengah berdebat dengan ipar ku di alam mimpi. Sungguh, kamu pria yang cocok untuk kakak ipar ku Hamas." ucap Arfan yang di barengi dengan senyuman.
...*****...
__ADS_1