CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Fayra Mendadak Patuh


__ADS_3

Kilau rawi di pagi hari, menambah asri setiap pemandangan yang tersaji. Bulir-bulir embun jatuh menetes membasahi dedaunan pohon. Serta tak lupa pula menebar hawa dingin yang menusuk tulang nan berbalut kulit.


Gadis cantik dengan rambut yang acak-acakan, tampak mengerjapkan matanya. Mencoba untuk menyingkap kelopak matanya dan menangkap gambar, melalui lensa kontak bola mata hitamnya.


Ia meraba-raba ke atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Mencari-cari keberadaan sebuah jam yang sudah menjadi alarm baginya untuk bangun dari tidur lelapnya.


Sudah beberapa hari ini, Fayra selalu rutin menghidupkan alarm pada jam kesayangannya itu.


Bola matanya membulat sempurna, ketika ia melihat dengan jelas jam saat ini menunjukkan pukul 07.05 WIB.


"Ya, ampun ...! Aku kesiangan lagi ...! Aishhh ... sial! Padahal, aku udah pasang alarm, eh ... tapi masih aja kesiangan. Gimana, dong ini?! Aaaa ...!" rengeknya dengan wajah yang gusar.


Buru-buru gadis cantik itu mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Sedangkan sang kakak sudah ready sedari tadi. Malahan, Savina telah duduk menemani Arfan mengelap mobil merah Fayra.


"Arfan ...!" sapa Savina ramah yang di selimuti maksud terselubung di dalamnya.


"Eh, iya, Nona! Ada apa?"


"Kamu sebenarnya merasa nyaman nggak, sih jadi bodyguard si Fayra?" tanyanya to the point.


"Emmm ... kenapa tiba-tiba, Nona bertanya seperti itu?" tanya balik Arfan sedikit membuat Savina terdiam.


Hening!


"Ahahaha ... tidak apa-apa! Aku hanya ... hanya bertanya saja. Ah, iya hanya itu," kilahnya berbohong demi menutupi rasa cemburunya terhadap sang adik.


"Saya akan melakukan apapun demi mendapatkan biaya untuk perawatan ibu saya, Nona. Lagi pula, pekerjaan ini, 'kan halal. Jadi, kenapa saya harus merasa tak nyaman? Toh, saya bekerja dengan baik dan tidak berbuat yang aneh-aneh." jawab lugas dan tandas Arfan yang membuat Savina mati kutu.


"Oh, gitu, ya? Hehehe ... iya kamu benar. Oke, kalau gitu, selamat bekerja! Saya permisi dulu!" ucap Savina yang sudah mulai melihat sosok Fayra, lalu dia pun memilih untuk pergi berolahraga di sekitar kompleks perumahannya.


"Silakan, Non!" sahut Arfan untuk terakhir kalinya.


Sekilas Fayra melirik ke arah sang kakak dan dia berkata dalam hatinya, "Kak, Vina ...! Tumben, dia bangun pagi langsung keluar rumah. Ada apa gerangan?"


Tapi, ia lebih memilih untuk menemui Baginda raja yang mulia pak presiden di rumahnya. Siapa lagi jika bukan, 'Adiwangsa Maheswara'.


Adiwangsa yang bersiap-siap untuk pergi ke kantor pun, segera di hadang terlebih dulu oleh si putri manjanya. Fayra menghentikan langkah papanya yang hendak berjalan menuju pintu.


"Pa, boleh aku minta lagi semua fasilitas ku yang Papa sita, gak? Aku janji akan mematuhi semua yang Papa inginkan. Bagaimana, kesepakatan yang bagus, bukan?" ujar Fayra dengan kerlingan matanya yang menggoda sang ayah.


"Ck, tumben sekali kamu bertingkah seperti ini. Pasti telah terjadi sesuatu, 'kan?!" ledek Adiwangsa dengan percaya diri pada sang putri.


"Pa ... bisa nggak, sih? Nggak, usah ingin tahu urusan privasi aku ...? Yang penting, 'kan, aku mau menuruti keinginan Papa. Jadi, mana ponsel dan juga ATM aku, Pa?" Fayra mengulurkan tangannya meminta semua barang-barangnya di kembalikan dengan segera.


"Baik, Papa akan kembalikan semuanya padamu. Tapi ...,"

__ADS_1


"Tapi? Tapi, apalagi, sih, Pa?!" rengek tak tahan Fayra yang sudah geram melihat tingkah laku sang ayah padanya.


"Arfan tetap Papa minta untuk mengikuti kamu kemana-mana. Paham?!"


"Udah tahu, Pa ...," ucapnya kesal bercampur emosi.


"Ya, sudah. Berhubung Papa udah janji untuk membesuk ibunya Arfan di rumah sakit. Tapi, mendadak Papa ada meeting. Jadi, tolong kamu gantikan Papa, ya!" titahnya yang tak dapat di bantah oleh Fayra.


Sejenak Fayra mencerna ucapan papanya. Pasalnya, ia tak pernah tahu bahwa tingkat kepedulian sang ayah terhadap sesama nyatanya masih ada.


"Hei ... kok, kamu malah bengong, sih?!" sentak Adiwangsa pada Fayra.


"Oh, hehehe ... nggak ... nggak, apa-apa, kok, Pa! Aku cuma kepikiran, aja. Sejak kapan ibunya Arfan itu masuk rumah sakit, ya? Gitu, Pa!" kilahnya berbohong.


"Oh ... Papa kira kamu kenapa tadi. Ya, sudah. Cepatlah, pergi ke perusahaan mu dan nanti sepulang dari kerja jangan lupa temani Arfan, ya! Oh, atau begini saja. Gimana kalau pagi ini kalian jenguk ibunya Arfan dulu? 'Kan, lebih cepat lebih baik. Dia pasti merindukan ibunya, Fay. Jadi, kamu bersikap baik, ya padanya!" ucap Adiwangsa sembari menepuk-nepuk pundak sang putri.


"Oh ...? Emm, ya, Pa! Papa tenang, aja! Aku, 'kan tadi udah janji sama Papa," ucapnya seraya nyengir kuda.


"Ya, udah. Papa pamit sekarang, ya!"


"Ya, hati-hati, Pa!" Fayra pun mencium punggung tangan sang ayah.


"Eh, Mas! Tunggu, ini jam tangan kamu ketinggalan," jerit Hazna yang sedikit berlari mengejar langkah sang suami.


"Oh, iya. Syukur kamu mengingatkan, Sayang!" ujar Adiwangsa.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, hati-hati, Mas!"


Adiwangsa pun pergi lebih dulu di bandingkan Fayra.


"Ma, kalau gitu, Fay juga berangkat sekarang, ya! Assalamualaikum, Ma!"


"Waalaikumsalam, Nak! Hati-hati!"


"Iya, Ma." Fayra pun menyalami sang ibu lalu pergi.


...*****...


"Fan, yuk jalan sekarang!"


"Baik, Non!" Arfan pun membukakan pintu mobil untuk Fayra. Kemudian mereka lekas pergi.


"Eh, Fan!"


"Ya, Non?"

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit dulu. Papa minta aku untuk menggantikan dia menjenguk ibu kamu," seru Fayra dengan nada datarnya pada Arfan.


"Hah?! Ng-nggak, salah, Non? Kenapa kita nggak ke perusahaan dulu, Non?"


"Ini perintah papa, Fan! Udah, deh! Jangan, debat pagi-pagi! Apa kamu nggak bosan, ya? Tiap hari maunya debat mulu ... heran, deh aku sama kamu, Fan!" ujar Fayra sembari mengotak-atik ponselnya dengan nada geram yang masih tersisa.


"Oh, baiklah kalau begitu, Non. Terima kasih banyak ya, Non!"


"Kalau mau bilang makasih, bilang ke papa jangan ke aku. Aku cuma menjalankan perintah papa aja," ucap Fayra masih tak berubah, gadis itu kembali ketus pada Arfan.


"Iya, tetap saja saya berterima kasih juga pada Nona. Sebab, Nona sudah mau ikut menemani saya ke rumah sakit," terang Arfan.


"Bisa diam, nggak, sih?! Ganggu tau!" sentak Fayra sarkas pada Arfan.


Arfan tak berkata apapun lagi. Pria tampan itu benar-benar patuh kali ini. Dia mengunci rapat-rapat mulutnya.


Hening!


Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah sakit tempat ibu Arfan di rawat.


Arfan membukakan pintu mobil untuk Fayra dan gadis itu keluar dengan anggunnya. Setelahnya, Arfan berjalan lebih dulu meninggalkan Fayra yang masih sibuk dengan ponselnya.


Sadar tak ada komunikasi apapun dari sang pengawal, barulah Fayra terbangun dari lena-nya.


"Lah, kok aku malah di tinggal, sih?! Benar-benar tuh orang, ya! Cari masalah nampaknya." ujar kesal Fayra dengan langkah kaki yang amat sangat cepat sekali.


...*****...


Di ruang ICU ....


"Assalamualaikum, Bu'e! Apa kabarnya Bu'e hari ini? Arfan harap Bu'e baik-baik saja! Bu'e ... kapan Bu'e akan bangun dan bercanda lagi bersama kami, Bu'e?" ucap Arfan dengan lirih di samping tempat tidur ibunya.


Fayra yang memperhatikan dari kejauhan, ia hanya bisa bergeming dan setia dalam mode itu untuk waktu yang lama.


"Bu'e ... doakan Arfan, ya! Supaya, Arfan bisa segera melunasi semua biaya pengobatan Bu'e. Jadi, Bu'e harus tetap terus bertahan, ya! Bu'e ... sadarlah, Bu'e! Arfan akan memenuhi keinginan Bu'e yang menginginkan seorang menantu. Insya Allah, Arfan akan langsung mencari calon istri, jika Bu'e nanti telah sadarkan diri." ucapnya, berharap sang Maha Kuasa mengabulkan doa-doanya itu nanti.


Hening!


Fayra, gadis itu benar-benar menjadi seorang yang pendiam dan tak lagi membuat onar. Ternyata dalam diamnya, Fayra berkata-kata melalui hatinya.


"Semoga, Allah akan mengabulkan doa mu itu, Arfan! Tapi, ada satu hal yang aku sangat penasaran tentang mu, Arfan. Apakah benar kamu itu pria yang baik? Atau jangan-jangan ... kamu hanya pura-pura baik?!" pikir Fayra yang masih meragukan kebaikan seorang Arfan.


Entah apa yang membuat gadis itu bisa berpikiran buruk pada pemuda seperti Arfan. Seolah ia belum bisa percaya seutuhnya dengan segala sikap baik, yang di tunjukkan Arfan padanya dan juga keluarganya.


"Aku pasti akan menguji dirimu, Arfan! Tunggu dan lihatlah! Apa yang akan aku lakukan padamu, nanti." monolog Fayra yang tengah merencanakan sesuatu terhadap sang pengawal pribadinya tersebut.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2