
Suara adzan Shubuh telah berkumandang. Saatnya bagi Arfan bangkit dari tidurnya. Sebelum itu, ia coba membangunkan sang istri yang masih tampak lelah.
"Assalamualaikum, Istriku! Bangun, sudah waktunya shalat Shubuh," ucapnya yang hanya di jawab dengan deheman saja oleh Fayra.
"Hemmm,"
"Bangun! Ayo, kita mandi dan bersiap-siap untuk shalat berjama'ah!" ajak Arfan yang sudah mulai berjalan menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian, Arfan telah selesai mandi. Tapi, Fayra masih setia dengan tidurnya.
Arfan tidak ingin memaksa sang istri untuk bangkit dari tidurnya. Dia sengaja membiarkan Fayra tertidur untuk beberapa waktu lagi.
Tak berapa lama kemudian, Fayra terbangun dan segera membenahi pakaiannya. Lalu, berjalan menuju kamar mandi dengan sangat pelan-pelan.
Dia pun mengguyur badannya dengan air shower. Setelah ritual mandi selesai, ia segera shalat Shubuh sendirian. Sebab, Arfan sudah tidak lagi ada di kamar. Setelah usai shalat, Fayra kembali lagi membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya.
...*****...
Silau pandangan mata Fayra yang terkena sinar matahari pagi. Semalam, ia seakan bermimpi melakukan hal romantis dengan suaminya. Padahal, hal itu bukanlah suatu mimpi melainkan suatu kenyataan.
"Selamat pagi!" sapa Arfan yang sudah terlihat sangat rapi.
"Emmm, pagi!" sahut Fayra dengan mata yang masih belum bisa terbuka sepenuhnya.
"Sarapannya di makan dulu, ya! Saya mau turun untuk menemui papa mertua. Beliau ingin membicarakan sesuatu hal yang penting katanya. Jangan lupa di habiskan sarapannya, ya! Saya turun sekarang, selamat menikmati!" ucap Arfan yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
Fayra membuang selimut yang membalut tubuhnya. Kemudian, mulai mengambil sarapan pagi yang di bawakan oleh suaminya.
"Emmm, wanginya menggoda selera." Fayra mulai menyantap sarapannya dengan sangat lahapnya.
...*****...
Di ruang kerja Adiwangsa Maheswara ...
Arfan tak tahu menahu soal apa yang akan Adiwangsa Maheswara bicarakan dengannya. Tercetak sudah raut gelisah pada wajah tampan Arfan.
"Duduklah dengan tenang, Menantuku! Aku tidak akan membuatmu merasa tertekan. Jadi, tenangkan dirimu, ya!" ucap Adiwangsa dengan mimik muka yang sulit di artikan oleh Arfan.
"Sebenarnya, ada apa Papa memanggil saya ke sini?" ucap Arfan dengan memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Papa dengar, kamu itu memiliki keahlian dalam bidang seni furniture, ya? Apakah itu benar, hmmm?"
"Iya, itu memang benar, Pa. Tapi, apa hubungannya dengan di panggilnya saya ke sini, Pa?"
"Papa ingin memberikan kamu kesempatan untuk memimpin perusahaan Papa yang juga bergerak di bidang furniture. Bagaimana, apakah kamu bersedia melakukannya, Arfan?"
Sejenak, Arfan berpikir!
Ia tampak tak bisa mempercayai hal yang baru saja di dengarnya.
"Apa yang kamu pikirkan, Arfan? Apakah kamu tidak bersedia melakukannya, Fan?" tanya Adiwangsa lagi pada menantunya itu.
"Bukan! Bukan seperti itu, Pa. Hanya saja ... saya masih terlalu amatir untuk memimpin perusahaan, Pa. Jadi, masih perlu banyak belajar lagi, Pa."
"Tidak apa-apa! Kamu bisa pelajari itu dari istrimu. Dia juga bergerak dalam bidang yang sama denganmu. Jadi, akan lebih mudah bagimu untuk belajar darinya. Nanti, Papa akan minta Fayra untuk mengajari kamu memimpikan perusahaan, ya!"
"Baiklah, Pa. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk memanaskan mobil." Arfan bangkit dari duduknya.
Adiwangsa hanya menatap penuh harap pada menantunya itu.
__ADS_1
"Arfan ... Arfan! Kamu benar-benar terlalu polos dan baik hati. Sudah menjadi menantu saja masih begitu sopan. Hal ini yang sangat aku senangi darimu, Fan." tutur Adiwangsa.
...*****...
Fayra menuruni anak tangga dengan langkah yang hati-hati. Terlihat oleh matanya Arfan tengah berada di bawah sana.
"Mas ...!" teriak Fayra dengan wajah yang memelas.
"Ya?" sahut Arfan dari bawah.
"Bisa bantu aku berjalan?"
"Oh, iya tunggu sebentar! Mbok, saya titip ini nanti tolong kasih ke ibu dan adik saya, ya!" ucap Arfan yang sedang memberikan sebuah amplop pada mbok Minah.
"Iya, Le." jawab si mbok padanya.
Arfan segera berlari menuju sang istri tercintanya.
"Kenapa turun kalau masih sakit, hmmm?" tanya Arfan sembari berbisik yang membuat wajah Fayra memerah.
"Ish, kamu apaan, sih, Mas! Aku ingin pergi ke perusahaan hari ini. Oh, ya. Tadi, papa bilang apa ke kamu, Mas?"
"Dia minta saya untuk jadi pemimpin di perusahaan. Tapi, saya masih ragu. Sepertinya, saya tidak pantas untuk hal itu," ucap Arfan dengan raut wajah yang tak percaya diri.
"Maksudnya kamu, papa minta kamu untuk jadi CEO, gitu, Mas?"
"Em, benar! Tapi, ..."
"Jangan, khawatir, Mas! Aku akan membantu kamu, ya! Jadi, kamu harus semangat! Oke?!"
"Makasih banyak, ya, Istriku!"
"Eh, apa tidak sebaiknya kita pamitan dulu pada papa dan mama serta pada ibu ku, hmmm?"
"Tidak usah, Mas! Mereka pasti masih lelah karena acara semalam," tolak Fayra cepat.
"Kalau di pikir-pikir, aneh juga, ya? Biasanya, pengantin baru itu, tidak langsung bekerja. Kita, malah langsung bekerja," ucap Arfan sembari terkekeh.
"Iya, juga, sih! Tapi, mau bagaimana lagi? Costumer udah pada minta pesanannya di ambil, Mas." keluh Fayra.
"Ya, udah. Yuk!"
Mereka pun pergi menuju mobil bersama-sama.
...*****...
Di perjalanan ...
Dalam diam Fayra terus berpikir dalam otaknya.
"Apakah ini adalah orang yang sama dengan yang tadi malam? Kenapa, aku merasa sekarang dia sangat berbeda dari semalam? Semalam, dia terlihat sangat romantis. Lalu, kenapa sekarang mendadak balik menjadi kaku, lagi? Aduh ... aku jadi makin gelisah dibuatnya." gumam Fayra membatin.
"Ada apa, hmmm?"
"Oh, nggak! Aneh, aja!"
"Apanya yang aneh?"
"Kamu ... kenapa beda dari yang semalam, sih, Mas?" tanya Fayra yang sudah mulai tertunduk malu.
__ADS_1
"Semalam? Memangnya, saya kenapa semalam?" tanya Arfan yang seolah melupakan kejadian romantis di antara mereka semalam. Dan itu membuat Fayra tampak kesal.
"Apa?! Jadi, kamu melupakan hal itu begitu saja, Mas?"
"Hal yang mana, Istriku?"
"Ya, yang itu ... masa kamu lupa, sih?!" cecar Fayra mendengus kesal.
Arfan tersenyum, ia sengaja melakukan hal itu. Baginya, sesekali membuat istri manjanya kesal tidak apalah. Toh, nanti istrinya itu juga akan kembali ceria lagi.
"Kamu beneran lupa, Mas?" Fayra sudah semakin kesal.
"Bagaimana mungkin saya melupakan hal teramat indah itu, Istriku? Aku hanya bercanda tadi," ucap Arfan dengan senyum merekah di bibirnya.
"Oh, gitu! Jadi, kamu sengaja buat aku malu, iya?"
"Bukan seperti itu! Sudahlah, jangan di bahas lagi, ya!"
...*****...
Di perusahaan Fayra Maheswara ...
"Mas, kamu bisa perhatikan apa yang aku kerjakan. Nanti, ketika kamu masuk ke perusahaan papa. Kamu tidak akan kaku lagi nanti. Paham, 'kan?"
"Iya, paham, kok!"
"Nanti, ketika aku menjelaskan sesuatu pada semua karyawan. Kamu harus bisa berinteraksi dengan cepat, mengerti?"
"Iya-iya! Ya, sudah. Sebaiknya, sekarang kita masuk ke dalam. Pasti, mereka sudah menunggu kamu," ucap Arfan sembari menggandeng lengan Fayra.
Ketika mereka baru saja masuk ke dalam perusahaan. Seluruh karyawan sudah berkumpul untuk memberikan kejutan pada Fayra, yang sudah resmi melepas masa lajangnya.
Dalam hitungan satu, dua dan tiga ...
"Surprise ... selamat atas pernikahannya, Bu Fayra!" ucap mereka semua dengan penuh semangat.
"Wah, terima kasih banyak semuanya! Kalian kenapa pada sibuk-sibuk, sih?"
"Nggak, apa, Bu! Kita semua sengaja melakukan hal ini, supaya Bu Fayra lebih semangat lagi bekerjanya," tutur salah satu karyawan pada Fayra.
"Ternyata, jodoh Bu Fayra pengawal pribadinya, ya! Kami turut senang atas pernikahan kalian berdua. Selamat, ya, Mas Arfan!" ucap salah satu karyawan pada Arfan.
"Terima kasih banyak!" sahut Arfan malu-malu.
...*****...
Seusai merayakan penyambutan Fayra sebagai pengantin baru. Semua karyawan kembali lagi untuk bekerja.
Fayra mulai mendengarkan setiap ide-ide dari karyawannya. Dia menyimak dengan teliti apapun yang di sampaikan oleh karyawannya. Arfan juga dengan setia mengamati jalannya meeting yang di lakukan oleh Fayra.
Biar bagaimanapun juga, ia harus banyak-banyak belajar mulai dari sekarang. Sebelum, gelar kehormatan CEO ia emban.
Gelar yang tak pernah ia pikirkan, gelar yang tak pernah menjadi tujuan. Kini, seakan hadir dengan cuma-cuma di depan matanya.
Hidupnya yang mendadak berubah, membuat Arfan menjadi orang yang sangat bersyukur. Sebab, ia juga tak pernah menyangka bahwa, dirinya akan bisa menjadi menantu dari keluarga terpandang.
"Ayah ... apakah kamu masih hidup di suatu tempat saat ini? Entah mengapa, aku merasa amat sangat merindukan mu, Ayah! Adakah kamu juga merindukan kami yang ada di sini?" Arfan berdialog dalam diamnya.
Sementara itu, Fayra menatap penuh senyum pada suaminya tersebut. Sikap bar-bar Fayra sekarang sudah tidak lagi terlihat. Kini, Fayra lebih sering bersikap manis dan dewasa. Semua itu berkat campur tangan Arfan.
__ADS_1
...*****...