CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Rapat Dadakan Pemindahan Kekuasaan


__ADS_3

Tak main-main memang!


Adiwangsa selaku CEO grup Maheswara Corp. Ia mulai melakukan gencatan senjata, sudah seperti orang yang akan berperang di medan pertempuran saja.


Semua para petinggi pemegang saham, ia kumpulkan demi mengadakan pertemuan dadakan yang ia gelar hari ini. Termasuk Bramantyo yang sudah menjadi rekan bisnisnya selama ini. Ya, si mulut besar dan berotak licik, seperti Bramantyo memang tak akan pernah ketinggalan.


Entah apa alasan Adiwangsa Maheswara, masih lagi tetap setia pada koleganya yang satu itu.


Adiwangsa menduduki kursi CEO yang sudah bertahun-tahun ia tempati itu dengan gagah. Sementara sang menantu barunya nan masih lagi meraba dalam dunia bisnis, masih duduk sebagai wakil CEO tepat di samping Adiwangsa.


Mata Adiwangsa tertuju pada Arfan Alhusayn saat ini. Pemuda yang telah berubah gelar menjadi menantu itu, segera lekas menundukkan kepalanya. Sebab, Arfan sadar bentul akan posisinya saat ini.


"Selamat pagi, semuanya! Mohon, dengarkan baik-baik apa yang akan saya sampaikan ini! Saya tidak akan pernah mengulanginya. Jadi, jika ada yang tidak bisa menerima keputusan yang akan saya sampaikan ini. Tolong ... ajukan itu di depan saya detik ini juga! Satu hal yang harus kalian selalu ingat. Bahwa, saya tidak akan pernah menerima yang namanya penolakan tanpa adanya alasan yang jelas!" kalimat tegas, lugas dan cerdas selalu menjadi ciri khas Adiwangsa saat menjadi seorang CEO.


Besar harapnya saat ini, bahwa Raynar selaku anaknya akan bisa memimpin dan menggantikan posisi saat ini. Tapi, apa hendak di kata? Toh, Raynar telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


Satu-satunya orang yang bisa dan dapat Adiwangsa percayai hanyalah Arfan Alhusayn, menantu nan shaleh dan berbudi baik nan lemah lembut.


Kendati demikian, Adiwangsa tetap merasa meragu. Apakah Arfan akan mau menerima detik ini juga jabatan CEO nya ataukah Arfan akan menolaknya?


Demi menyudahi rasa penasaran dalam dadanya. Adiwangsa lekas mengumumkan pengunduran dirinya, atas jabatan yang sudah lama di emban olehnya selama ini.


"Hari ini, saya umumkan pada kalian semua. Bahwa, saya akan melepaskan jabatan saya dan akan di gantikan oleh ...," mata Adiwangsa tertuju pada menantunya, Arfan.


Bola mata mertua dan menantu itu pun saling bertemu. Saat ini keduanya sama-sama saling bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Arfan, bersiap-siaplah untuk memimpin perusahaan ini!" bisik tegas Adiwangsa dalam hatinya.


"Ya, Allah ...! Bila sampai ayah mertua tetap melancarkan niatnya. Aku akan meminta waktu. Sesuai dengan perbincangan ku dan istri ku tadi malam." hati Arfan bergetar hebat! Sebab, ia sepertinya tidak siap atau lebih tepatnya belum siap untuk menerima jabatan tertinggi di perusahaan milik ayah mertuanya itu.


📃 Flashback On 📃


Malam itu, saat Arfan telah selesai melaksanakan shalat Isya berjama'ah bersama istri tercintanya. Ia mulai membuka pembicaraan pada istri terkasih.

__ADS_1


"Fay?"


"Hmmm, iya, Mas? Ada apa, Mas? Apakah kepala Mas masih sakit? Apa perlu aku pijit lagi?" tanya Fayra bertubi-tubi bagaikan tak bertepi.


"Bukan! Tidak, ini lebih dari sekedar sakit kepala biasa, Istriku. Ini ... bahkan, jauh lebih sakit dari sebelumnya," terang Arfan semakin terlihat tertekan.


"Sini!"


"Mau ngapain?" tanya Arfan semakin bingung karena ulah istrinya yang di luar dugaan, kembali lagi muncul kepermukaan.


Fayra telah meletakkan bantal di pangkuannya dan memanggil sang suami, untuk mendekat ke arahnya.


"Kamu mau berbuat apa kali ini, Istriku?


"Kemarilah, Mas ...! Aku bukan hendak ingin memakan mu! Aku hanya ingin menghilangkan beban berat yang sedang kamu pikul saat ini, Mas ...! Ini pasti tentang jabatan CEO itu, 'kan?!" Tak di sangka oleh Arfan. Ternyata, istrinya amat sangat mengerti dan memahami situasi sulit yang tengah ia hadapi saat ini.


"Tapi, aku ...," Arfan masih tampak takut-takut dan tak bisa mempercayai sang istri saat ini.


"Dih, lama! Buruan sini, Mas ...!" Fayra tampak agresif dan menarik paksa tangan Arfan ke dalam pangkuannya.


Arfan tak menolak setiap belaian hangat nan lembut tangan sang istri padanya. Ia bahkan, berharap Fayra akan bisa untuk selalu bersikap lemah lembut dan penuh kasih padanya. Hingga akhir hayatnya dan bahkan, jika bisa ia ingin mereka tetap bersama hingga Jannah (surga).


"Mas ...! Sebagai seorang istri, sudah sepatutnya aku turut andil untuk membantu kamu dalam masa sulit mu. Jadi, jangan pernah berpikir kamu akan menghadapi tantangan ini sendirian. Ada Allah dan aku yang akan mengarungi kehidupan ini bersamamu hingga tak berbatas waktu."


Deg ...


Gluk ...


Jantung dan saliva Arfan seakan tak bisa lagi menahan fungsinya untuk bekerja. Dia terus berpikir dalam hati maupun otaknya.


"Apakah ini masih kamu yang sama, Istriku? Mengapa, aku melihat cahaya iman dalam setiap ucap dan tatapan mu padaku saat ini? Apakah aku salah memahami akan sikap bar-bar mu selama ini padaku?" batin Arfan kalut dan sedikit kusut.


Namun, Fayra tetap melanjutkan kata demi kata yang ada dalam hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Jika, Mas merasa tidak nyaman dan tidak ingin menerima jabatan itu ... maka, jangan Mas lakukan, ya?! Ini, demi kebaikan kamu, Mas. Aku tidak hendak melihat kamu menjadi terpuruk dan tertekan hanya karena Pak Presiden, eh, maksudku papa meminta kamu untuk menerima jabatan CEO tersebut, Mas." Fayra masih lagi setia menyibakkan rambut hitam legam Arfan, yang menutupi sebagian wajah tampan suaminya itu.


"Terima kasih banyak, Istriku! Apakah malam ini aku ... boleh ...," Arfan tampak ragu-ragu. Akan tetapi, Fayra tersenyum dan mengangguk. Seolah, ia telah bisa memahami apa yang di inginkan oleh suaminya tersebut.


📃 Flashback Off 📃


Setelah mengingat semua perkataan istrinya, Arfan pun telah mempersiapkan mentalnya. Jadi, dia insya Allah tidak akan meragu lagi dalam mengambil keputusan nanti.


"Arfan Alhusayn!" ucap tegas dan lugas yang amat sangat jelas dari mulut Adiwangsa. Adiwangsa pun telah melakukan gencatan senjatanya.


Semua orang lantas beranggapan yang bukan-bukan pada Arfan. Apalagi, mereka tidak pernah melihat kinerja Arfan yang mumpuni selama ini.


Tentu saja sebagian mereka ada yang pro maupun kontra, terhadap keputusan Adiwangsa Maheswara tersebut.


Namun, semua itu tidak berani mereka sampaikan dengan gamblang. Hanya mampu berbisik-bisik yang membuat telinga Arfan terusik.


Sekarang, giliran Arfan yang akan membuat semua orang tercengang dalam ruang rapat tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya, Pak CEO yang terhormat! Saya sungguh tidak bisa menerima jabatan ini," ucap tertahan Arfan yang membuat Adiwangsa penasaran.


"Tapi, kenapa kamu menolaknya, Arfan? Bisa berikan saya alasan yang tepat dan akurat?" tanya menohok sang ayah mertua pada sang menantu shalehnya itu.


"Berikan saya waktu untuk memberikan alasan, yang dapat membuat Bapak bisa memahami dan mengerti, akan maksud dan tujuan saya sebenarnya, Pak! Dalam kurun waktu satu Minggu ke depan. Jika, saya masih belum bisa mengutarakan alasan yang paling tepat untuk menolak jabatan ini. Maka, saya bersedia menjabat dan mengemban amanah berat ini dalam hidup saya. Sekalipun, saya akan mengorbankan banyak waktu saya untuk mengabdi pada perusahaan ini. Sehingga, nantinya saya akan sibuk untuk membuktikan diri pantas dan layak duduk di kursi sekelas CEO yang Bapak berikan kepada saya," ujar Arfan yang mampu membuat semua orang di sana terpukau.


Lagi, Arfan mengutarakan pendapat yang menari-nari di otaknya.


"Saya hanya ingin menduduki jabatan CEO itu karena saya mampu. Bukan karena saya ini adalah menantu!" tepis Arfan yang mematahkan ucapan seseorang, yang sempat di dengarnya tadi sebelum ia angkat bicara di hadapan mereka semua.


Sampai di sini, Adiwangsa semakin merasa takjub akan sifat dan sikap yang di miliki oleh menantunya itu. Belum lagi karakter Arfan yang tenang bagaikan sebuah air.


Air yang tenang bukan berarti ia tak akan dapat membahayakan keselamatan!


Justru, air yang tenang itu malah mengundang banyak pertanyaan!

__ADS_1


Begitulah, kiranya sosok Arfan yang saat ini tengah di tatapan oleh puluhan pasang mata, yang memandangnya dengan tatapan penuh rasa penasaran!


...*****...


__ADS_2