
Taman hiburan adalah tempat yang paling asyik untuk menjadi tempat me-refresh otak yang terhimpit beban pikiran. Wahana permainan pun akan bisa membuat orang-orang menjadi betah berlama-lama di taman hiburan.
Arfan dan Fayra bermain permainan yang terbilang mudah dan menyenangkan. Mereka bagaikan anak kecil yang baru saja mengenal permainan.
Sindu Kusuma Edupark (SKE) adalah sebuah taman hiburan di Jogja yang mengangkat konsep taman bermain sekaligus edukasi. Ada banyak wahana permainan di sini, termasuk bianglalanya yang terkenal, Cakra Manggilingan, yang punya tinggi 48 meter.
Ketinggiannya ini, bisa membuat kita melihat tidak cuma area SKE saja, tapi juga sebagian kota Jogja dan bahkan Gunung Merapi juga!
Selain itu, Sindu Kusuma Edupark memiliki berbagai macam wahana lainnya. Seperti Bioskop 8D, Montor Tumbur, Panggon Lunjak, Kursi Mabur, Taman Lampu, hingga House of Terror. SKE juga punya area edukasi seperti museum Omah Batik dan Omah Musik.
Namun, Arfan lebih memilih permainan yang aman untuk mereka mainkan. Agar mengantisipasi terjadinya sesuatu hal yang buruk pada calon anak mereka, yang ada di dalam rahim sang istri.
Arfan pun memutuskan untuk bermain bianglala saja. Itu pun sebenarnya ia masih amat sangat cemas. Berhubung Fayra terlampau antusias ingin naik, apa boleh buat? Arfan hanya bisa berpasrah dan selalu menjaga Fayra dengan ketat.
"Mas ...?"
"Hemmm,"
"Ayo, buruan kita naik bianglala itu, ya?"
"Sabar, Sayang! Pelan-pelan jalannya, kamu harus hati-hati, ya! Ingat, sekarang kamu sedang hamil, Sayang!" ucap Arfan over protektif.
"Iya-iya, Mas ... 'kan, ada kamu yang nemenin aku di sini. Jadi, aku akan baik-baik aja, Mas. Ayo, ... buruan, Mas ...!" rengeknya manja pada Arfan.
"Ya, ayo!"
Mereka pun menaiki wahana permainan bianglala itu dengan senyum dan tawa bahagia, yang selalu memayungi mereka.
Sepanjang permainan Arfan di buat deg-degan. Sementara, Fayra ia puas tertawa cekikikan melihat wajah suaminya yang mulai pucat pasi. Sepertinya, Arfan mulai ketakutan.
"Fay, udahan mainnya, ya ...?" bujuk Arfan yang tampak lemas.
"Aku masih ingin main, Mas. Aku belum puas. Sebentar lagi, ya?" tawar Fayra yang mencoba merayu sang suami yang tampak sudah tidak betah.
"Tapi, Sayang ...."
Lalu, tiba-tiba Fayra merasa kesakitan pada bagian perutnya.
"Aghhh ... auh ... M-Mas ... perutku," ucap Fayra sudah mulai memperlihatkan wajah menahan rasa sakitnya.
"Sayang, perut kamu kenapa, hmm?!" Arfan mulai panik dan ia lekas melambaikan tangan minta berhenti.
"Ayo, kita pergi ke rumah sakit sekarang!" titah Arfan tanpa ingin menerima bantahan.
Tim petugas taman hiburan itu pun juga lekas membantu Arfan dengan membukakan pintu mobil untuk Fayra. Sebab sekarang Arfan telah merengkuh tubuh Fayra ke dalam gendongannya.
Sesampainya di parkiran, ia pun tak luput berterima kasih pada petugas tersebut. Lalu, ia bergegas membawa Fayra ke rumah sakit.
"Fay, bertahan sebentar, ya! Mas akan secepatnya membawa kamu ke rumah sakit."
Fayra terus saja meringis kesakitan. Wanita itu terus memegang perutnya yang teramat sakit. Keringat mulai bercucuran membasahi wajah dan tubuh Fayra.
__ADS_1
Arfan yang tengah mengemudi juga di buat panik tak berkesudahan. Ia terus berdzikir dalam hatinya dan berdoa. Mendoakan yang terbaik untuk istri dan calon anak mereka tentunya.
Pastilah siapapun suami yang amat menyayangi istrinya ia akan berbuat hal yang sama seperti Arfan saat ini. Berdoa dan tak luput dari yang namanya usaha.
"M-Mas ...? Aghhh ... sakit, Mas ...!" desah Fayra yang sudah tak lagi bisa menahan rasa sakitnya.
"Iya, Sayang?" sahut Arfan semakin panik.
"Ka-kapan kita sampainya?" ucap Fayra semakin lirih yang hampir-hampir hilang kesadaran.
"Ini sebentar lagi kita sampai," sahut Arfan dengan mencoba tetap bersikap tenang. Ia tak mau membuat keadaan malah semakin tak bisa di kendalikan.
"M-Mas ...." panggil Fayra untuk yang terakhir kalinya sebelum ia menutup rapat matanya. Kesadaran Fayra pun hilang detik itu jua.
"Astaghfirullah hal adzim ...! Fay, bangun, Sayang ...! Bangun ...!" seruan Arfan sama sekali tidak mempan. Fayra sudah tidak bisa lagi mendengarkan ucapan Arfan.
Chiiittt ....
Arfan mengerem mobilnya dan berhasil membawa Fayra ke rumah sakit. Dia dengan segera membuka pintu mobil dan menggendong Fayra menuju brankar yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Sesampainya di dalam rumah sakit, Arfan sempat berselisih dengan Raynar si kakak iparnya. Ia pun di tanya-tanya oleh Raynar.
"Arfan ...? Fayra kenapa? Fan ...!" sentak Raynar yang ikutan panik seperti Arfan.
"Panjang ceritanya, Mas. Nanti, saya akan ceritakan semuanya ke mas. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Fayra dan calon anak kami," sahut Arfan tak tenang.
Raynar pun terdiam dan tak banyak bertanya lagi.
"Terima kasih, Sus!" ucap Arfan dan Raynar.
Suster pun berlalu pergi dengan membawa serta Fayra bersamanya.
Arfan dan Raynar menunggu dengan cemas di kursi tunggu.
"Jadi, sebenarnya ada apa ini, Fan? Kenapa Fayra bisa ngedrop seperti itu, hah?!" pekik tertahan seorang Raynar.
"Tadi, kami bermain bianglala, Mas. Dan--"
"Dan kamu malah menyetujui hal itu, iya?!" sela cepat Raynar yang tampak kecewa pada sikap ceroboh Arfan.
Arfan tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam membisu seribu bahasa. Tak ada satu patah kata pun yang ia sanggah dari ucapan sang kakak iparnya.
"Kamu 'kan tahu kalau Fay itu sedang hamil ... tapi, kamu malah ... aghhh ...!" Raynar juga tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya bisa mengusap dan meraup wajahnya gusar.
Clarissa dan ibunya kebetulan melihat Raynar dan Arfan di sana. Tampaknya Clarissa baru saja dari luar bersama ibunya. Saat ini ia sedang mendorong kursi roda ibunya.
"Eh, itu si Raynar kenapa?" gumamnya lirih.
"Cla, berhenti sebentar, Nak!" pinta Nafisah dengan memegang salah satu tangan putrinya.
"Ke-kenapa, Bun? Kok, berhenti di sini?" tanya heran Clarissa, yang sebenarnya tak mengerti maksud ibunya itu.
__ADS_1
"Bunda ingin bertanya pada calon menantu bunda, Nak. Kenapa dia terlihat sedih begitu?" ucap terlampau percaya diri Nafisah akan anggapannya terhadap Raynar.
"Bun, udah, ya! Jangan mulai lagi tentang hal ini. Cla dan Raynar nggak pernah ada hubungan apa-apa, Bun!" tampik Clarissa yang tak ingin ibunya terlalu berharap akan sesuatu hal yang belum lagi jelas. Dan lagi ... Clarissa tak ingin terlibat terlalu dalam dengan Raynar.
"Ya, sudah. Tetap saja bunda ingin kita berhenti dan menanyakan pada calon, maksud bunda pada Raynar. Mengapa dia dan pria itu ada di sana?" kata Nafisah yang kekeuh akan keinginannya itu.
"Iya-iya, kita berhenti di sana dan menanyainya." sahut tak berdaya Clarissa pada akhirnya yang terpaksa luluh jua pertahanannya.
Clarissa mendorong kursi roda ibunya dan mendekat ke arah Arfan dan Raynar berada. Sesampainya di sana, Raynar tak seperti biasanya bila bertemu Clarissa. Biasanya pria tampan itu akan langsung ceria dan bahagia.
Tapi, kali ini tak lagi ada senyum jahil dan tawa renyah itu dari bibir sensual Raynar.
"Nak, Raynar ...?" sapa Nafisah dengan lembut.
Raynar tersadar dari kepanikannya. Ia pun mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
"Ya, Bu? Ada apa, Bu?" sahutnya sopan dan santun. Bahkan, ia berjongkok di hadapan Nafisah. Hal itu cukup membuat Clarissa tersentuh.
"Kenapa kamu terlihat sedih begini?" Nafisah melihat tatapan mata Raynar berkaca-kaca dan mulai mengembun.
Satu lengkungan manis Raynar berikan sebagai bentuk alibi demi menutupi yang sebenarnya terjadi. Serta sebagai tanda bahwa dia tidak seperti yang di duga Nafisah. Meskipun itu memang benar adanya bahwa ia tengah bersedih saat ini.
"Saya baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir. Calon menantu ibu ini tidak sedih. Sekarang, ibu pergilah beristirahat, ya!" pinta lembut dan halus.
Arfan yang tak pernah melihat sikap lemah lembut seorang Raynar pun ikut sedikit terkejut. Pasalnya, selama yang ia tahu Raynar itu bukanlah tipikal orang yang lemah lembut.
"Mbak Manis ... bawa calon ibu mertua ku beristirahat sekarang, ya! Dia harus segera sembuh dan kembali lagi sehat seperti dulu. Benar, 'kan, Bu?" ucap Raynar yang terus berusaha menutupi kesedihannya.
"Dia kenapa? Apa sekarang dia mencoba untuk terlihat kuat? Padahal, aku dengan jelas bisa melihat raut kesedihan itu di wajahnya. Apakah dia sengaja melakukan hal ini demi kesehatan bunda?" bisik hati kecil Clarissa Anastasya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, ya!" pamit Clarissa pada Raynar dan Arfan. Kedua pria itu tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.
Sepeninggalan Clarissa dan ibunya, Raynar kembali duduk di dekat Arfan.
"Apa kamu tidak akan memberitahukan hal ini pada papa dan mama, Fan?"
"Saya tidak ingin mereka khawatir, Mas. Jadi, kita tunggu saja apa kata dokter nanti," sahut Arfan lemah.
"Benar juga. Kesehatan papa sepertinya mulai menurun. Akhir-akhir ini, papa sering berkunjung ke rumah sakit. Kalau cuma check kesehatan saja, 'kan, cukup sekali sebulan. Ini tidak. Hampir setiap hari malah. Alasannya, sih dia bilang ingin bertemu denganku. Padahal dia sedang sakit," ucap Raynar tanpa sadar.
"Maksudnya mas Raynar apa, Mas?" tanya Arfan yang memutar kepalanya menoleh ke arah sang ipar.
"Eh, memangnya aku bilang apa barusan, Fan?" alibi Raynar dengan berpura-pura lupa.
"Apa benar papa sedang sakit, Mas?"
"Ah, kamu! Sudah, jangan berpikir yang bukan-bukan! Sebaiknya, kita fokus pada keadaan Fayra saja."
Hening!
Baik Arfan maupun Raynar, tidak ada yang yang bersuara sampai dokter datang menghampiri mereka.
__ADS_1
...*****...