CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Perubahan Sikap Adiwangsa Maheswara


__ADS_3

Detik waktu terus bergulir dan berjalan sesuai rotasi bumi. Sudah hampir 2 Minggu berlalu, setelah kepergian Savina yang terkesan tak ingin lagi kembali ke rumah. Semula, Adiwangsa tak percaya dan tak menduga, bahwa putri tertuanya akan bersikap demikian.


Bagi Adiwangsa, selama ini sikap Savina di nilainya cukup dewasa. Bahkan, sangat-sangat dewasa ketimbang si putri manjanya Fayra.


Lalu, hal apakah gerangan yang membuat pemikiran putrinya itu berubah?


Adiwangsa tak pernah berniat untuk pilih kasih! Apalagi, sampai membuat anak-anaknya berpikir bahwa, dia orang tua yang amat tak pandai dalam bersikap.


Di bawanya diri duduk bermenung, melamun, 'kan segala tindak-tanduknya selama ini terhadap anak-anaknya. Jauh sudah pandangan matanya menerawang ke langit lepas. Langit yang kini menampilkan awan-awan putih bergulung-gulung, tertiup angin yang membawanya pergi entah kemana.


Dari atas balkon kamarnya, tempat di mana ia biasa merenungkan segala hal. Adiwangsa terlihat amat jenuh dan frustrasi saat ini.


"Ya, Allah ...! Apakah sikapku selama ini sudah melewati batas? Apakah aku adalah orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anakku selama ini? Masihkah ada rasa sayang di hati anak-anakku padaku yang selalu tak pernah benar di mata mereka, ya, Allah ...?!" Jatuh sudah dari pelupuk matanya, sebuah butir kristal yang lekas mencair.


Diam-diam langkah kaki seseorang mendekati dirinya dari belakang. Dengan cepat jari jemarinya menghapus jejak air mata itu, pada wajah tampan Adiwangsa Maheswara.


Sejurus kemudian, terciptalah seuntai kalimat panjang, syarat akan makna yang tersirat di dalamnya.


"Mas ...! Mengapa bersedih, hmmm? Kemana sosok suamiku yang tegas dan hangat? Hilang, 'kah sudah ia, Mas? Aku sangat merindukan sosok itu, Mas ...!"


Adiwangsa menoleh ke arah sumber suara yang mengajaknya berdialog tersebut. Di paksakannya diri untuk tersenyum, walaupun itu senyuman getir yang terukir.


"Kenapa hanya diam, Mas? Kenapa hanya menatapku seperti itu, hmmm? Ayolah, Mas ...! Katakan padaku! Apa yang membuat kamu seperti ini, Mas? Apakah ini tentang masalah Savina? Atau ... Raynar? Apa jangan-jangan ... Fayra? Apa aku benar, Mas?" cecar Hazna dengan setumpuk rasa penasaran di dadanya.


Lagi, Adiwangsa Maheswara hanya tersenyum!


"Mas ...!" kini, sedikit dengan rengeknya dan nada manja nan memaksa, Hazna pun tak bisa lagi mengendalikan dirinya.


"Iya-iya, Mas akan katakan padamu sekarang. Makanya, kamu diam dulu sebentar, ya! Biar, Mas bisa mengatakan semuanya padamu. Kalau kamu terus-menerus bertanya, lalu kapan waktu Mas akan menjawabnya, hmmm?"


"Hahhh ... baiklah, aku memang salah! Sekarang, aku akan benar-benar diam dan tidak akan bertanya lagi padamu, Mas!" ucap lugas Hazna dengan merapatkan bibirnya serapat mungkin.


"Mas bingung, Sayang! Kenapa Mas merasa apapun yang Mas lakukan selalu saja di nilai sebaliknya oleh anak-anak kita? Apakah salah bila Mas meminta mereka untuk hidup mandiri dengan baik di luar sana, Sayang? Apakah salah cara Mas mendidik mereka semua selama ini, Sayang?!" Mata Adiwangsa mulai berkaca-kaca menahan duka.


"Mas tahu, Fayra memang lebih mendapat perhatian dari Mas. Tapi, itu semua Mas lakukan karena sikapnya lebih buruk daripada Savina. Sedangkan, Raynar anak kita. Kerjaannya hanya bisa mabuk-mabukan dan bermain perempuan saja! Mas sengaja membiarkan dia pergi. Mas juga tidak pernah mengusirnya, 'kan, Sayang?!" tuturnya seolah ingin mendapatkan dukungan moril dari sang istri terkasih saat ini.


Hazna merengkuh dengan sayang, tubuh malang nan menjulang tepat saat matanya memandang.


"Sssttt ...! Mas tidak boleh bicara seperti itu! Mas, aku tahu Mas sudah melakukan yang terbaik yang Mas bisa. Jadi, sudah cukup, Mas! Jangan lagi menyalahkan diri Mas sendiri! Hanya karena, sikap anak-anak kita yang berubah, ya?!" Hazna semakin memperkuat mental sang suami dengan setiap tutur katanya, nan menenangkan jiwa dan hati Adiwangsa yang lara.

__ADS_1


...*****...


Meninggalkan kedukaan yang lara nan melanda jiwa Adiwangsa. Ada baiknya mengintip kegiatan yang sedang berlangsung antara pasutri (pasangan suami istri) yang di sibukkan dengan pekerjaan mereka.


Sejak 2 pekan sudah lamanya status Arfan sebagai suami dan juga menantu dari keluarga terpandang, yang bergelar bangsawan. Ia lalui hari-harinya dengan canda tawa serta lelah yang tiada henti-hentinya.


"Mas ...?" sapaan Fayra membuyarkan konsentrasi Arfan, yang sedang memfokuskan dirinya pada layar laptop di depannya.


"Ya, kenapa, Istriku?" sahutnya yang sudah semakin terbiasa akan panggilan barunya itu pada Fayra.


"Ini, aku bawain makan siang untuk kita. Jangan, terlalu diforsir, Mas! Nanti, kamu sakit kepala. Aku nggak mau kalau kamu sampai sakit nanti, Mas." ucap Fayra sembari menyiapkan makan siang untuk mereka.


Fayra sengaja memasak bekal makan siang itu sebelumnya di rumah. Sebab, ia ingin menjadi istri yang berbakti pada suaminya.


"Istriku, bisa aku minta tolong sebentar?" tanya Arfan yang sebenarnya agak ragu-ragu untuk menyampaikan ucapannya. Takut, kalau-kalau istri manjanya itu tak akan sudi nantinya.


"Ya? Mas mau minta tolong apa, Mas?" tanya balik Fayra.


"Tolong pijit kepala Mas. Apakah, boleh?"


Fayra telah selesai dengan tugasnya membuka bekal makan siang mereka. Kini, senyumnya semakin mengembang. Apalagi, setelah mendapatkan kesempatan untuk menyenangkan suaminya.


Kedua pasangan suami istri itu tengah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Arfan berbaring di atas pangkuan Fayra. Kaki ia luruskan dan mata ia pejamkan. Fayra pun memulai ritual pijit memijit untuk suaminya.


Di tengah-tengah pijit memijit itu, Arfan sempat terpikirkan akan kedua kakak-kakak Fayra.


"Sayang?"


"Ya, Mas. Kenapa?" sahut Fayra yang masih lagi setia memijit kepala Arfan yang memang terasa sangat lelah.


"Mas jadi tidak enak hati pada Mas Raynar dan Mbak Savina," tuturnya sendu dan merasa malu.


Malu sebab, dirinya tak pantas di angkat sebagai seorang CEO.


"Kenapa Mas berpikir seperti itu, hmmm? Ini semua bukan maunya Mas juga, 'kan?"


"Iya, tapi tetap saja Mas merasa perlu melakukan sesuatu, Fay." Ini adalah kali pertama Arfan, mengucapkan nama istrinya itu dengan guratan resah di seluruh wajahnya.


Fayra sempat termangu dan bergeming.

__ADS_1


"Tumben! Apa dia benar-benar sedang tertekan saat ini?!" dialog Fayra pada sudut hatinya.


"Memang, hal apa yang ingin kamu lakukan, Mas?" tanya Fayra yang masih mengikuti alur dan arah tuju pembicaraan suaminya, nan tampak semakin kalut itu.


"Ya, Mas ingin membujuk mas Raynar untuk menerima posisi CEO di perusahaan ini, Fay. Mas tidak ingin rasanya merenggut, apa yang seharusnya di miliki oleh mas Raynar mu itu, Istriku. Tidak baik rasanya mengambil hak orang lain. Hanya karena sekarang kita sudah menikah. Mas benar, 'kan? Bagaimana menurut kamu, Istriku? Kamu pasti lebih mengerti dan memahami maksud Mas, 'kan?!" tanya Arfan yang sudah merubah posisi berbaring nya menjadi duduk seketika.


Fayra tak langsung menjawab semua tanya suaminya. Dia lebih memilih diam sejenak. Sebab, ia belum bisa menemukan kata-kata yang paling tepat untuk menjabarkan pada Arfan, suaminya itu.


"Kenapa malah diam, hmmm? Apa semua yang Mas katakan itu salah, Sayang?" Lagi, Arfan membuat jantung Fayra terkejut dan gugup.


"Astaghfirullah ...! Panggilannya berubah lagi? Ya, ampun! Bisa-bisa jantung ini tak sanggup lagi menahan gejolaknya ya, Allah ...!" pekik Fayra menjerit-jerit di dalam palung hatinya.


"Mas, nanti saja, ya kita pikirkan cara yang paling tepat untuk masalah ini. Dan ... hal itu sebaiknya kamu diskusikan pada papa, ya?! Jangan, di bahas lagi ya, Mas! Yuk, makan siang dulu!"


Fayra segera menyodorkan satu sendok makanan, yang telah ia hidangkan untuk suaminya tersebut.


"Buka mulutnya, Mas! Aaaa ...." ucap Fayra sambil memperagakan dengan mulutnya yang juga menganga.


Lalu, dengan jahilnya Arfan memberikan kecupan singkat pada bibir ranum Fayra. Setelah itu, barulah ia memakan makanan yang Fayra sodorkan padanya.


"Aummm ...." Arfan melahap dengan segera makanan yang sudah sedari tadi Fayra sodorkan padanya.


Sementara itu, Fayra malah mematung. Sebab, dirinya mendapat serangan tiba-tiba dari laki-laki yang ia anggap polos selama ini.


"A-apa? Apa benar baru saja dia ... dia melakukannya? Ah, tidak-tidak! Jangan, bilang kalau aku sedang melamun apalagi sedang bermimpi saat ini, ya, Allah ...!!!"


Hening!


Setelah perbuatan nekad yang di lakukan oleh suaminya. Fayra semakin tak kuasa menahan getaran jantungnya, yang berdetak kencang tanpa mampu di rem lagi olehnya.


"Istriku ...? Istriku ...? Apa kamu baik-baik saja, hmmm?" Panggil-panggil Arfan yang berusaha untuk membalikkan lagi kesadaran istrinya.


Fayra dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa menghiraukan lagi tanggapan Arfan nantinya.


"Kamu kenapa, Istriku?" tanya Arfan yang merasa tak bersalah sama sekali.


"Oh, ti-tidak! Aku tidak apa-apa, kok Mas. Hehehe ... a-aku akan ke toilet sebentar," Fayra pun berlari meninggalkan Arfan, yang masih ingin makan siang bersama dengan istri manjanya itu.


"Tapi, ... ya, sudahlah aku makan sendiri saja kalau begitu." Arfan pun memakan makanan yang sudah di siapkan oleh istrinya itu sendirian.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2