
Savina berniat untuk mengunjungi perusahaan si adik bungsu. Sebab, ia belum pernah datang berkunjung ke sana.
Sebelum pergi ke sana, Savina menyempatkan diri untuk singgah di salah satu toko baju. Entah mengapa ia berniat untuk membeli beberapa baju untuk dirinya dan sang adik tercinta.
"Pak, nanti kita mampir di toko baju dulu, ya!"
"Baik, Non!"
"Oh, ya kita belinya yang dekat arah perusahaan Fayra aja, Pak. Di sana aku belum pernah singgah. Jadi, aku pengen belanja di sana aja, Pak." terang Savina panjang lebar pada si supir pribadinya.
"Siap, Non!" sahut supir itu lagi.
...*****...
Setibanya ia di toko baju tersebut, Savina pun keluar dan meminta si supir untuk tetap di mobil saja.
"Pak, tunggu di mobil saja, ya! Saya agak lama, jadi, kalau Bapak merasa bosan boleh keluar. Nanti, saya kabari Bapak kalau sudah selesai belanjanya," tutur Vina dengan melihat jam di tangan kirinya.
"Iya, Non. Bapak di sini saja, kok nggak kemana-mana." balas si supir menatap lekat wajah sang majikannya.
"Oh, ya sudah kalau begitu saya masuk dulu."
"Iya, Non. Selamat berbelanja, Non!"
"Siap, Pak!"
...*****...
Saat ini, Arfan tengah berkeliling mencari asal baju yang ingin di pakainya. Tak penting model seperti apa. Hal yang paling penting baginya adalah harganya sesuai budget dan pas di badannya.
"Emmm ... kalau yang ini berapa harganya, ya?" ia pun melihat label harga yang tertera pada baju tersebut.
"Nah, cocok. Kalau begitu, aku beli yang ini saja. Dan uangnya pun masih bersisa, jadi, nanti aku kembalikan lagi pada non Fayra." tukasnya lantas mengambil baju yang berwarna biru. Baju kemeja dengan gaya yang simple namun elegan, itulah yang menjadi pilihan seorang Arfan.
Ketika Arfan berjalan menuju ruang ganti, tak sengaja ia bertemu dengan majikannya yang lain.
"Eh, Arfan! Kamu juga di sini? Lagi beli baju juga, ya?" tanya Savina yang mencecar Arfan dengan beberapa pertanyaan.
"I-iya, Non. Nona juga beli baju, ya?" tangannya balik, padahal dirinya sudah gerah ingin mengganti baju. Namun, hal itu terpaksa harus di urungkan olehnya. Sebab, Savina menuntut agar dirinya di ladeni detik itu jua.
"Ya, seperti itulah. Oh, iya. Itu ... baju kamu kenapa?" tanya Savina ketika netranya menangkap noda di baju Arfan yang pria itu tengah kenakan.
"Oh, ini tadi ada insiden kecil. Tadi, ada seorang wanita tidak sengaja menumpahkan minumannya di baju saya," terang Arfan sama persis dengan apa yang ia jelaskan tadi pada Fayra.
"Oh, gitu. Ya, udah kalau begitu aku akan belikan kamu baju lagi, ya! Ayo, ikut saya!" tarik Savina tanpa permisi terlebih dahulu pada si pemilik tangan.
"Eeee ... tidak perlu, Nona! Saya sudah membeli baju. Jadi, tidak perlu beli lagi!" tolak Arfan sembari terus berjalan, sebab tangannya di tarik paksa oleh Savina.
"Kalau cuma satu mana mungkin cukup, 'kan?! Jadi, saya akan tambahkan lagi lima. Kamu tidak boleh menolaknya! Saya mau kamu menerima hadiah pertemanan dari saya. Ayo!" Savina terus berbuat semaunya saja.
"Tapi, Nona ...,"
Savina benar-benar tak menghiraukan penolakan pemuda tampan itu sama sekali. Sekarang yang bisa pemuda itu lakukan hanyalah pasrah. Ya, hanya itu saja yang tersisa baginya.
"Aduh ... kalau begini saya bisa terlambat, nih! Bagaimana caranya supaya saya bisa kabur dengan cepat dari sini?" Arfan berpikir keras dengan otaknya.
"Ah, kalau begitu aku ambil saja sebanyak yang dia mau. Nah, setelah itu dia pasti tidak akan menahan ku lagi! Ide yang bagus, Fan! Kamu harus bisa kabur dari tempat ini sekarang juga," batinnya terus saja bermonolog.
"Eh, Nona. Biar saya saja yang pilih sisanya. Nona silakan pilihkan satu untuk saya dan sisanya biar saya yang memilihnya." usul Arfan kemudian.
"Oh, begitu. Baiklah! Kamu boleh ambil empat atau lebih dari itu juga tidak apa-apa, kok. Saya yang akan bayar semuanya." terang Savina.
"Iya, terima kasih banyak, Nona!" Arfan bergegas memilih secara random baju-baju yang ingin di belinya.
Lalu, Arfan pun mengganti bajunya yang kotor itu ke ruang ganti. Arfan begitu bersemangat mengganti bajunya. Begitu pula dengan Savina, akibat terlalu bersemangat. Gadis cantik itu justru membelikan Arfan sebanyak 10 stel baju untuk Arfan.
Jadi, total semua baju yang Savina belikan untuk Arfan adalah 14 stel. Mata Arfan terbelalak karena terkejut akan kelakuan si majikannya itu. Ia yang baru saja keluar dari ruang ganti, tiba-tiba dikejutkan oleh Savina yang sudah menenteng beberapa kantong bag paper di tangannya.
"Astaghfirullah ... ini banyak sekali, Nona. Sebaiknya, kurangi saja, ya!"
"Tidak mau! Ini semua sudah aku pilih untuk kamu. Jadi, pakailah semuanya, ya!" Savina pun menyunggingkan senyuman manisnya pada sang pengawal adiknya itu. Dan gadis cantik itu menyodorkan semua itu pada Arfan.
Tak ingin membuat kecewa sang majikan, Arfan pun terpaksa menerima pemberian dari majikan cantiknya itu.
"Setelah ini kamu mau kemana?"
"Saya mau balik lagi ke perusahaan non Fayra, Nona!"
"Saya ikut kamu, ya!" pintanya dengan tatapan mengiba.
"Baiklah," sahut Arfan pasrah.
"Yey! Ayo, jalan!" kembali Savina menarik paksa tangan Arfan.
__ADS_1
...*****...
Di perusahaan Fayra Maheswara ...
Fayra yang telah selesai sarapan, gadis cantik itu kembali memfokuskan perhatiannya pada segudang pekerjaan yang telah menantinya.
"Nah, kalau yang ini kamu bisa menghaluskannya terlebih dulu supaya permukaannya mulus." ujar Fayra ketika melihat kerangka lemari pakaian yang tengah dikerjakan oleh karyawannya.
"Baik, Bu!"
"Dan untuk bagian yang ini, kamu bisa lebih berhati-hati lagi, 'kan?! Takutnya, nanti ini malah merusak semuanya. Jadi, pahat dengan sangat hati-hati, ya!"
"Siap, Bu!"
"Oke, kalau ada pertanyaan silakan tanyakan. Mengerti?!"
"Siap, mengerti, Bu!"
"Bagus, kalau begitu saya tinggal sebentar."
"Ya, Bu."
Fayra pun keluar dari ruangan tersebut menuju kakaknya yang sudah melambaikan tangan sedari tadi padanya.
"Kakak ...! Ada apa ke sini? Tumben, Kakak ke sini. Nggak, bilang-bilang pula," serobot Fayra pada Savina.
"Iya, kejutan!! Nih, Kakak juga sempat mampir ke toko baju di dekat sini tadi. Dan kayaknya cocok untuk kamu. Makanya, Kakak belikan beberapa, deh untuk kamu. Tadi, aku ketemu Arfan di sana. Ya, udah ... sekalian aja, deh!"
"Sekalian apa?"
"Belikan dia baju juga, terus bareng, deh ke sini." ucap Savina seolah memamerkan kedatangannya bersama dengan Arfan.
"Oh, gitu."
"Nona ...!" panggil Arfan pada Fayra.
"Ada apa?"
"Ini, saya kembalikan lagi sisa uangnya," Arfan pun mengulurkan tangannya yang berisi beberapa lembar uang.
"Tidak perlu! Anggap saja itu pemberian dariku untukmu," ucap ketus Fayra yang mendadak dongkol melihat kedatangan sang kakak di perusahaannya.
"Ma, makasih banyak, Nona! Tapi, saya ...," Fayra tak menghiraukan ucapan Arfan. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah sang kakak.
"Iya,"
"Mau minum apa?"
"Nggak, perlu! Kakak ke sini juga nggak lama, kok. Tadi, cuma iseng-iseng aja pengen jalan-jalan. Nah, berhubung sekarang udah sampai di sini, Kakak mau lanjut jalan lagi ke tempat lain. Kamu yang semangat, ya kerjanya!"
"Iya, Kak. Makasih!"
"Sama-sama, kalau gitu, Kakak pergi sekarang, ya! Bye-bye, Fayra!"
"Bye-bye, Kakak! Hati-hati, Kak!"
"Ya."
Setelah kepergian Savina, Fayra menatap jengah ke arah Arfan. Sedangkan orang yang di tatap tak berani menatap balik sang lawan bicaranya. Ia memilih menundukkan pandangannya.
"Hahhh ...." keluh Fayra yang merasa sesak di dadanya.
...*****...
Di kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Wajah bulan telah kembali menampakkan dirinya. Menyapa setiap insan yang mulai lelah setelah seharian bekerja. Seusai makan malam bersama, Savina berniat untuk kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat dirinya menerima sebuah panggilan telepon dari seorang teman kuliahnya.
"Halo ...!"
"Hello... Vina! You have to go back now! Because, there are additional tasks from the lecturer. I can't explain over the phone. So, I hope you come back tomorrow. Okay!"
(Halo ... Vina! Kamu harus kembali sekarang! Sebab, ada tugas tambahan dari dosen. Aku tidak bisa menjelaskan lewat telpon. Jadi, aku harap besok kamu segera kembali. Oke!)
"Okay, I'll be back tomorrow." ucap Savina terlihat sedikit sedih.
(Oke, aku akan kembali besok.)
"Ada apa, Nak?" tanya Hazna dengan raut wajahnya yang cemas.
"Kata temanku, ada tugas tambahan dari dosen, Ma. Jadi, aku harus pulang secepatnya ke sana." terang Savina dengan nada lesu.
"Ya, sudah. Tidak, apa-apa! Toh, beberapa hari ini, 'kan kamu sudah puas berjalan-jalan keliling Jogja. Jadi, tidak apa-apa lah kalau di suruh balik lagi ke sana. Demi tercapainya cita-cita mu, 'kan!" tutur Adiwangsa.
__ADS_1
"Iya, sih, Pa! Tapi, ...," Vina memilih untuk melanjutkan kata-katanya di dalam hati saja.
"Vina ingin lebih lama ada di rumah, Pa. Sebab, Vina telah menemukan alasan untuk pulang. Selain merindukan papa, mama dan yang lainnya. Sekarang, juga sudah ada seseorang yang ingin Vina rindukan yaitu ... Arfan!" monolognya dalam diam.
"Tapi, apa, Kak?" tanya Fayra tiba-tiba, lantas melirik ke arah Arfan juga.
"Tidak, apa-apa! Pa, Ma, semuanya aku ke atas dulu, ya! Mau beres-beresin barang-barang ku dulu," alibi Savina demi tak di curigai oleh semua orang.
"Iya, nanti Mama bantu, ya!"
"Eh, nggak perlu, Ma. Aku bisa sendiri, kok. Lagian, nggak banyak juga yang mau dibereskan. Cuma beberapa baju, aja." tolaknya.
"Ya, sudah. Istirahat yang cukup dan jangan begadang. Besok kamu, 'kan mau pergi pagi." nasihat Hazna pada sang putri.
"Iya, Ma. Permisi, semua!"
...*****...
Di dalam kamar Arfan ...
Terlihat pemuda tampan itu tengah mengotak-atik ponselnya. Sepertinya, ia sedang mencari kontak seseorang pada layar ponselnya.
Setelah menemukan kontak yang ingin dia hubungi, Arfan pun meneleponnya.
Tut ... tut ... tut ...!
"Halo, Assalamualaikum!" jawab seseorang di seberang sana.
"Waalaikumsalam, Nad! Maafkan, Mas, ya, Nad! Mas baru bisa menghubungi kamu. Kemarin-kemarin, Mas sibuk, Nad!"
"Iya, ndak apa-apa, Mas. Jadi, apa Mas sudah makan malam?"
"Sudah, Dik Manis! Kamu sendiri bagaimana?"
"Belum, Mas. Aku ndak ada selera untuk makan, Mas. Udah beberapa hari ini, aku selalu telat makan sebab ndak na.f.su, Mas!"
"Apa perlu Mas ke sana nemenin kamu makan, hmmm?"
"Ndak, usah, Mas! Mas, 'kan, juga butuh istirahat. Jadi, ndak, perlu, Mas! Sebentar lagi aku juga akan makan, kok, Mas."
"Jadi, bagaimana kondisinya bue, Dik Manis?"
"Alhamdulillah, Mas! Bue sudah jauh lebih baik dari kemarin. Tapi, kemungkinan kata dokter, bue akan sulit untuk berbicara, Mas."
"Astaghfirullah, begitu parahnya kah, Dik Manis?"
"Iya, Mas. Tadi, bue sempat menggerak-gerakkan tangannya. Namun, matanya belum lagi terbuka. Huhhh ... Nad sudah ndak sabar pengen bicara dengan bue, Mas."
"Sabar, ya, Dik Manis! Nanti, bue Insya Allah akan sadar dan berbicara lagi denganmu dan Mas. Ya, sudah. Mas tutup dulu telponnya, ya! Assalamualaikum, Dik Manis!"
"Waalaikumsalam, Mas ganteng ku!" telpon pun terputus.
...*****...
Setelah selesai berbicara dengan adiknya, Arfan menjadi sangat sedih. Sebab, sang ibu di kabarkan akan sulit untuk berbicara seperti biasanya.
"Hiks ... hiks ... Astaghfirullah ...! Kenapa ibuku harus mengalami semua ini, ya, Allah ...?!" ucapnya lirih dan perih.
Tak di sengaja, Fayra yang hendak mengambil air minum di dapur. Gadis itu sempat berhenti sejenak di depan pintu kamar Arfan yang sedikit terbuka. Dia pun mendengar sekilas, apa yang sedang di perbincangkan oleh kakak dan adik itu tadi, melalui telepon genggamnya Arfan.
Lalu, Arfan bangkit dari duduknya dan berniat untuk menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Tetapi, dia mengehentikan niatnya itu. Sebab, ia melihat sang majikan berada di situ.
"Ehemmm ... aduh, kayaknya tenggorokanku kering. Sebaiknya, aku pergi mengambil air minum." ucap Fayra kikuk.
"Nona, sejak kapan Nona berdiri di depan pintu kamar saya? Apakah, Nona mendengar semuanya?" tanya Arfan pada Fayra yang sudah membelakanginya.
Fayra menoleh perlahan, setelah air minumnya ia tuangkan ke dalam gelas. Dan ia pun membalikkan badannya, menatap wajah sendu Arfan yang ada di hadapan.
"Kenapa memangnya? Lagi pula, aku juga sudah tahu tentang kondisi ibumu yang di rawat di rumah sakit, 'kan? Jadi, apa ada yang salah dengan hal itu jika aku tahu, hmmm?"
"Tidak, hanya saja rasanya kurang sopan bila Nona mencuri dengar percakapan kami," ucap Arfan tanpa berbasa-basi.
"Cih, siapa juga yang mau mencuri dengar! Makanya, kalau tidak mau terdengar oleh orang. Kunci pintu kamarmu rapat-rapat!" imbuh Fayra dan langsung bergegas pergi meninggalkan Arfan dalam ke terdiamannya.
Arfan pun segera masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya.
"Cih, siapa juga yang mau kepo tentang hidupmu! Hidupku saja sudah lebih dari cukup untukku jalani." tukas Fayra yang beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya berada.
Di dalam kamarnya, Fayra terus memikirkan tindakannya barusan.
"Apa aku tadi sudah keterlaluan padanya? Ah, masa, sih?! Rasanya, aku tidak salah. Itu, 'kan, salahnya sendiri! Kenapa tidak mengunci pintu kamarnya, coba?! Ah, tau, ah! Aku ngantuk!" di tariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dan ia pun mulai memejamkan matanya. Fayra pun tertidur dengan nyenyak dan pulas. Ia telah memasuki alam mimpi yang hanya dialah yang tahu apa yang terjadi di sana.
...*****...
__ADS_1