
Tidur karena mabuk, membuat Raynar tak bangun-bangun hingga malam menjelang. Wajah bulan telah tampak terang di angkasa. Namun, Raynar masih saja lena dalam lelapnya.
Persiapan makan malam pun telah di suguhkan di atas meja makan. Adiwangsa telah duduk di kursinya seperti biasa. Bahkan, ia juga tak lupa memanggil Arfan untuk ikut makan bersama dengan keluarganya.
"Arfan ... sini! Ayo, kita makan malam bersama!" ajaknya dengan raut wajah yang sudah berubah seperti semula yang Arfan tahu selama ini.
"Oh? Ba, baik, Pak!" sahut Arfan sedikit ragu-ragu. Namun, ia tetap memenuhi panggilan sang majikan.
Hazna dan Fayra juga telah duduk di sana. Kedua wanita cantik itu pun juga sudah bersiap-siap untuk makan.
Arfan mengambil posisi duduk di depan Fayra. Hazna meminta Fayra untuk memberikan piring pada Arfan. Gadis cantik itu pun memenuhi permintaan sang ibu dengan patuh.
"Terima kasih," ucap Arfan ketika Fayra memberikannya sebuah piring.
Fayra tersenyum dan berkata, "Nasinya mau berapa sendok?" tanya Fayra yang sudah melayani suaminya saja terhadap Arfan, yang hanya seorang pengawal pribadinya saja.
"Satu sendok saja, Nona."
"Oh, oke."
Adiwangsa tampak menyunggingkan senyum, ketika netranya menangkap pemandangan indah di depannya saat ini.
Makan malam pun berlangsung tanpa Raynar.
...*****...
Seusai makan malam berakhir, Fayra pergi keluar untuk menatap indahnya langit malam yang di penuhi oleh bintang-bintang. Tak lupa di temani oleh sang rembulan yang bulat sempurna.
Netra Fayra berkaca-kaca ketika menangkap sosok indah sang rembulan si Dewi malam. Tak di sangka, Arfan juga ke luar untuk memasukkan mobil ke dalam garasi.
Namun, ia mengehentikan sejenak langkahnya. Sebab, mulutnya tak tahan untuk tidak bertanya pada sosok gadis cantik yang tengah menatap sang rembulan malam.
"Nona ...?! Sedang apa di luar sini? Di luar sangat dingin, Nona. Sebaiknya, Nona masuk ke dalam!" saran Arfan yang penuh perhatian pun terucapkan secara lisan.
"Oh, kamu, Fan. Aku hanya sedang menjernihkan pikiran. Makanya, aku duduk di luar agar merasa lebih baik." ujar Fayra sembari memberikan seutas senyum manisnya pada Arfan.
Akhirnya, Arfan pun mengambil posisi duduk bersebelahan dengan majikan. Mereka duduk berdampingan di sebuah bangku yang ada di taman samping rumah Fayra.
Taman yang di penuhi oleh bunga-bunga dari berbagai macam rupa serta warnanya. Harum semerbak wanginya pun kian terasa oleh kedua insan manusia, yang sedang duduk di taman tersebut.
"Memangnya, Nona sedang memikirkan apa? Apakah ini ada hubungannya dengan tamu yang akan datang itu, Nona? Atau karena tuan muda Raynar tadi?" tanya polos Arfan yang mengundang gelak tawa pecah Fayra.
"Ahahaha ... kamu bilang apa barusan? Tamu? Ahahaha ... jadi, kamu masih berpikir aku benar-benar akan kedatangan tamu seorang manusia, ya? Ahahaha ... Arfan ... Arfan ...! Kamu ini benar-benar kelewatan polosnya, ya! Aduh ... aduh ...! Perutku sampai sakit gara-gara kamu, Fan! Ngada-ngada aja, nih orang!" ujar Fayra yang tertawa cekikikan, sementara Arfan ... jangan di tanya! Dia sudah mencetak gambaran bingung sebingung-bingungnya pada wajah tampan miliknya.
"Kenapa Nona tertawa begitu bahagia, Nona? Apakah ada yang lucu dari pertanyaan saya barusan?" tanya Arfan penasaran, bahkan sangat-sangat penasaran.
"Ahahaha ... pakai nanya lagi! Ya, iyalah, Fan! Gila kali kamu, ya! Kalau bilang itu, nggak lucu. Itu lucu banget, Fan!"
"Tapi, saya masih belum mengerti, Nona." ujar Arfan memelas.
"Oke-oke ...! Aku akan kasih tahu ke kamu. Sini!" Fayra meminta Arfan untuk mendekatkan wajah pria tampan itu ke dekatnya. Kemudian, Fayra pun mengatakan dengan lirih pada Arfan.
"Maksudnya kedatangan tamu itu adalah menstruasi, Fan! Hehehe ...." ucap Fayra yang kemudian kembali terkekeh.
Gadis itu tidak pernah menyangka bahwa, dirinya suatu saat akan mengatakan hal seperti barusan pada seorang pria.
"Astaghfirullah ...! Nona apa tidak malu mengatakan hal itu pada saya?" pekik Arfan.
"Lah, yang tahu kepengen tahu siapa, hah?! Pakai menyalahkan aku segala kamu. Ckckck ... gini, nih! Kalau orang yang nggak tahu terima kasih. Kamu, 'kan, yang nanya nggak pakai di pikir dulu, tadi! Bukan saya yang mau menjelaskan secara terang-terangan sama kamu." gerutu Fayra yang tak habis pikir terhadap sikap plin-plan si Arfan.
__ADS_1
"I-iya, sih, Non! Tapi, ... ah, sudahlah! Baiklah, di sini memang saya yang salah. Saya minta maaf, Non. Kalau, begitu saya mau memasukkan mobil dulu ke garasi, Non. Permisi, Non! Selamat melanjutkan lagi menatap langit malamnya! Monggo, Non silakan!" ujar Arfan yang sudah kadung malu, lalu ia pun lantas pergi ngeloyor dengan secepat mungkin dari hadapan Fayra.
"Arfan ... Arfan! Ada-ada, aja kelakuan kamu, ya!" gumam Fayra sembari menatap punggung gagah Arfan si pria tampan.
...*****...
Langit malam telah berganti dengan fajar yang mulai menyingsing. Mentari pun sudah semakin meninggi dengan setia bersama cahayanya.
Raynar pun akhirnya terbangun dari tidur lelapnya yang cukup lama. Ternyata, mabuk membuat tidurnya jauh lebih lama. Atau bisa jadi karena malam sebelum-sebelumnya ia terlalu sering bergadang.
"Ah ... auh ... aduh ... kok, wajahku terasa sangat sakit, ya?" ujarnya sembari memegangi kedua pipinya.
"Sssttt ... kenapa terasa membengkak? Ada apa denganku? Semalam ... seingat ku aku masih di bar! Kenapa ... sekarang aku sudah ada di rumah pak presiden?!" ujarnya kebingungan.
Ya, gelar pak presiden yang di sematkan oleh Raynar dan Fayra bukanlah tanpa alasan. Mereka sengaja memanggil ayah mereka, dengan sebutan tersebut karena sikap sang ayah, yang di rasa sudah seperti seorang presiden pada umumnya. Apalagi jika memberikan hukuman pada mereka. Itu semakin membuat cap, 'pak presiden' itu semakin melekat saja pada diri Adiwangsa oleh kedua anak bar-barnya tersebut.
Krekkk ...
Suara pintu terbuka pun terdengar oleh Raynar. Kemudian, Raynar kembali mengambil inisiatif untuk tidur lagi. Dia ternyata cukup takut, jika yang masuk bukanlah ibunya. Melainkan, pak presiden yang sangat ia takuti selama ini.
"Wah, gawat! Sebaiknya, aku kembali tidur saja, lagi! Itu jauh lebih aman untuk sekarang." ujarnya yang kembali menarik selimut dan memejamkan matanya.
"Ray ...! Bangun, Sayang! Ini, Mama ...," ucap Hazna lembut.
"Ah, syukurlah! Ternyata, mama bukan si pak presiden itu." ucap syukur Raynar dalam hatinya.
Dengan cepat ia membuka selimutnya dan ...
Jeng ... jeng ...
Gluk ...
"Sudah bangun kamu, hah?! Masih pengen di tambah lagi, tuh lebam-lebam di wajah kamu, hah!" pekik Adiwangsa yang sukses membuat baik Raynar maupun Hazna terlonjak karena amarahnya sang Adiwangsa.
"Ma, Mas ...! Kenapa Mas bisa ada di sini?" tanya Hazna yang langsung bangkit dari duduknya.
"Memberikan pencerahan pada anak lanang mu ini, Hazna! Supaya dia tidak berbuat semena-mena lagi terhadap dirinya! Sudah lebih dari cukup, selama ini aku bersabar dengan kelakuannya yang kurang ajar itu! Mabuk-mabukan tidak jelas. Seperti orang yang tidak punya tujuan hidup saja. Sudah bagus, aku masih mau menampungnya di rumah ini." cecar Adiwangsa terhadap Raynar.
Tak terima dengan perkataan sang ayah. Raynar bangkit dari posisinya, lalu berdiri sejajar dengan sang ayah.
"Oh, jadi begitu rupanya, Pa! Papa tidak ikhlas aku tinggal di rumah ini, iya?!" pekik Raynar yang menggemparkan rumah.
Dari sisi ruangan yang lainnya di rumah itu, Fayra dan para pembantu juga ikut mendengarkan secara samar-samar keributan yang tengah berlangsung.
"Suara ribut-ribut siapa itu, Non?" tanya mbok Minah pada Fayra.
"Sepertinya, suara papa, Mbok. Biar aku coba cek dulu, ya, Mbok!"
"Iya, Non." Fayra langsung bergegas naik ke lantai atas di mana kamar sang kakak berada. Samar-samar Fayra mendengar lagi suara Raynar yang meronta-ronta melawan pada sang ayah.
"Oke ..., Pa! Mulai hari ini, aku akan pergi dari rumah ini! Itu, 'kan, yang Papa mau?! Iya, 'kan, Pa!! Aku memang tidak pernah ada gunanya bagi Papa. Selama ini, semua usaha yang aku lakukan juga tidak pernah ada harganya di mata Papa!" bentak Raynar yang semakin menjadi-jadi dan membabi-buta.
Dengan cepat Raynar mengemasi semua baju-bajunya.
"Ingat, Raynar! Ini adalah keputusan kamu sendiri. Bukan, Papa yang meminta kamu untuk keluar dari rumah ini. Camkan itu baik-baik! Jika, kamu tidak pernah kembali. Maka, Papa juga tidak akan pernah mencari!" Adiwangsa pun melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat peringatan penuh amarah pada sang putra.
"Tolong, jangan pergi, Nak! Hiks ... jangan tinggalkan Mama, Nak!" pinta Hazna menangis tersedu-sedu.
"Mama ... Kak Ray! Ada apa ini sebenarnya? Ke, kenapa papa bisa semarah itu, Ma, Kak?" tanya Fayra yang baru saja tiba, setelah sang ayah keluar dari kamar kakaknya.
__ADS_1
"Maaf, Ma! Aku udah, nggak tahan lagi sama hukuman dan ancaman dari pak presiden di rumah ini, Ma. Jadi, minggir lah, Ma! Biarkan aku mengemasi barang-barang ku, Ma!" ucap Raynar yang kekeuh ingin tetap pergi juga.
Fayra mencoba untuk mencegah niat sang kakak. Tapi, tampaknya sia-sia saja. Nyatanya, Raynar tetap ingin pergi juga.
"Kak, tolong pikirkan lagi tentang keputusan Kakak ini! Jangan sampai Kakak menyesal di kemudian hari, Kak!" ucap Fayra memperingatkan sang kakak.
Tidak!
Raynar tetap mengemasi barang-barang. Dan ia sudah selesai berkemas, lalu di bawanya kaki untuk melangkah menuruni anak tangga. Dan turun beserta kopernya.
Arfan yang melihat kejadian tersebut, ia merasa cukup tercengang.
"Mbok, apa yang terjadi? Kenapa, tuan muda membawa kopernya?"
"Mbok juga ndak tahu, Le."
"Apa ini sudah pernah terjadi sebelumnya, Mbok?"
"Belum, Le. Ini untuk pertama kalinya, Le!"
Arfan kembali menatap ke arah Fayra dan Raynar yang tengah menuruni anak tangga secara brutal. Tanpa sadar, Arfan mulai mendekati mereka.
"Kak ... tunggu, Kak!" Fayra berusaha untuk menarik tangan Raynar. Tapi, Raynar malah menepis tangan Fayra jauh-jauh darinya. Sehingga, tubuh Fayra menjadi tak seimbang. Dan hampir saja gadis cantik itu terjatuh.
Tapi, ada tangan gagah yang tiba-tiba menangkap tubuhnya.
"Aaahhh ...." pekik Fayra yang takut dirinya akan terjatuh dari tangga.
Hap ...
Tak di sangka Arfan dengan cepat menangkap tubuh ramping Fayra ke dalam dekapannya. Sementara, Raynar tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Benar-benar tak memperdulikan lagi tentang keadaan sang adik yang ada di belakangnya.
"Nona, tidak apa-apa, 'kan?!"
Deg ... deg ... deg ...
"Oh?! Em, iya. A-aku ... baik-baik saja berkat kamu. Terima kasih, ya!"
"Sama-sama, Non!" sahut Arfan masih dalam posisi yang sama yaitu mendekap erat tubuh ramping Fayra dalam pelukannya.
Sadar posisi tubuh mereka terlalu dekat, bahkan tak berjarak. Hal itu membuat Arfan lekas melepaskan pelukannya dan memposisikan tubuh Fayra pada posisi berdiri kembali.
"Maaf, saya sudah lancang memeluk Nona! Maafkan, saya, Nona!"
"Ah, tidak apa-apa, kok! Jangan merasa bersalah begitu. Oh, ya ampun ... aku harus mengejar kak Ray!" pekik Fayra yang sempat terlena karena pesona Arfan barusan.
"Percuma, Nona! Tuan muda sudah pergi."
"Hahhh ... iya, benar. Dia sudah pergi," ucap Fayra cemberut.
Saat ini, keadaan rumah Fayra memang di penuhi oleh drama. Drama pertengkaran antara anak dan ayah.
Akankah, Raynar benar-benar tidak pernah pulang lagi ke rumah?
Apakah Adiwangsa tega melihat nasib putra semata wayangnya di luar sana?
Semoga saja, semuanya akan kembali seperti semula dan baik-baik saja!
...*****...
__ADS_1