
Jodi mulai merasa panas dingin di sekujur tubuhnya. Mencoba untuk biasa, namun sukar menampik rasa yang ada.
"Ananda Jodi, apakah benar tujuan Ananda hanya untuk belajar?" lagi dan lagi Abdul Malik bertanya. Tapi, kali ini dengan intonasi suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sebab, Jodi sedari tadi hanya mampu bergelut dengan pemikirannya sendiri.
"Siap! Saya berniat ingin mengkhitbah putri Pak Kyai," ucap sekonyong-konyong Jodi karena terkejut dan sudah sampai pada titik kalut.
Seringai tipis nan manis mencuat ke permukaan wajah tampan Abdul Malik, yang berbalut jenggot dan kumis yang sama-sama tipisnya.
"Bawalah kedua orang tuamu menghadap padaku. Biarkan aku membincangkan hal ini dengan mereka." ucap Abdul Malik sembari berdiri dan mulai berjalan lagi.
Jodi yang mendapatkan titah yang menganjurkan padanya untuk mendatangkan kedua orang tuanya. Justru, pemuda itu kini mendadak kikuk dan mematung.
Berbeda halnya dengan apa yang di rasakan oleh Maira Nadira. Wanita shalihah nan berakhlak mulia itu, memandangi punggung sang ayah yang sudah mulai menghilang dari pandangan mata.
Hening!
Setelah kepergian sang ayah, Maira Nadira dan Jodi Prakash mengambil sikap kikuk dan kaku satu sama lain. Ingin bicara, namun lidah mereka sama-sama keluh. Ingin menatap, namun kerlingan mata tak mampu untuk saling melirik dan melihat.
Akhirul kalam, mereka sama-sama hanya bisa terdiam. Lalu, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Apa dia serius dengan ucapannya tadi pada abi? Apa aku tengah bermimpi yang terlampau tak bisa ku jangkau? Oh, yaa Robb ...! Ada apa ini sebenarnya?" kemelut jiwa Maira Nadira dalam dadanya yang serasa sesak seketika.
Lain Maira, lain pula Jodi.
Laki-laki itu sedang berpikir keras dalam otak dan hatinya. Bagaimana tidak?! Ini adalah sebuah tantangan yang memang ia harapkan untuk lekas datang.
Seperti sebuah pepatah lama mengatakan, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui'. Kiranya kurang lebih begitulah bunyinya. Situasi yang sama persis dengan apa yang di alami oleh Jodi saat ini.
"Benarkah? Bahwa, aku akan segera melamar gadis impianku selama ini? Oh, Tuhan ...! Bagaimana ini?! Apa yang harus hamba lakukan selanjutnya? Mudah-mudahan, semuanya Engkau segerakan! Aamiin yaa rabbal alamin ...!"
"Eee ... em, Mas Jodi mau ngapain lagi?" Sebuah kalimat tanya yang membuat kepala Jodi berotasi, untuk memandangi wajah ayu berbalut hijab itu.
"Hah?!" ucap Jodi mencelos sejurus dengan keterkejutan yang di alaminya barusan.
"Loh, kok Mas malah kaget? Bukankah, tadi abi udah bilang ke Mas Jodi. Jadi, Mas nunggu apa lagi? Maaf, Mas! Bukan maksud saya mengusir Mas Jodi. Tapi, berhubung ini juga sudah malam. Dan ... abi ... dia juga sudah pergi. Jadi ...,"
"Iya, paham! Saya sangat paham, kok. Kalau begitu, saya pulang dulu, ya! Assalamu'alaikum," ucap Jodi seraya bergegas pergi.
"Wa'alaikumsalam!" Setelah kepergian Jodi, Maira buru-buru menutup rapat pintu rumahnya.
"Astaghfirullah ...! Maafkan hamba ya Allah ...!" ucap Maira beristighfar sambil mengelus lembut dadanya.
...*****...
Kanada ...
Cukup puas sudah Arfan memperhatikan satu sosok yang ia kenali tersebut. Kini, keyakinan dirinya sudah semakin meninggi. Terlebih lagi, ia mendengar ucapan si pria yang memanggil si wanita cantik di hadapannya itu, dengan menyebut nama lengkap si wanita yang ada di depannya saat ini.
"Savina Maheswara! Tidak bisakah kalau kita tetap berteman? Saya hanya ingin membuat kamu merasa memiliki seorang teman. Dan ... saya akan memberikan apapun yang kamu inginkan," ucap si pria yang meyakinkan si wanita cantik di hadapannya saat ini.
Ya, kurang lebih begitulah yang di dengar oleh Arfan.
"Apa?! Jadi, wanita itu adalah kak Savina? Aku harus segera menghampirinya." gumam Arfan yang sudah membulatkan tekadnya.
Sudah bersiap-siap untuk berjalan, langkah Arfan harus tertahan.
"Pak, ini jaketnya," satu tangan panjang Hamas mengulurkan sebuah jaket tebal untuk Arfan.
"Oh, iya. Terima kasih, Ham!"
"Sama-sama, Pak! Apakah, Bapak udah pesan sesuatu, Pak?" tanya Hamas yang sedikit heran melihat tingkah sang atasan.
Tak menggubris pertanyaan dari asisten pribadinya. Arfan justru fokus pada sebuah adegan yang mengundang banyak pertanyaan. Terlihat saat ini, tangan si kakak iparnya yang di tarik paksa oleh lelaki asing baginya.
__ADS_1
"Wah, keterlaluan!" Arfan pun langsung mengambil langkah seribu.
"Pak, mau kemana, Pak ...?" jerit Hamas yang juga mengikuti langkah cepat sang atasan.
Morgan menghentikan Savina untuk berjalan. Ia tak rela bila Savina memutuskan hubungan yang baru saja mereka jalin. Meskipun itu adalah sebuah hubungan yang berlandaskan pada sebuah ikatan pertemanan.
Ya, hanya sebagai teman!
"Lepaskan tanganku, Morgan! Bagiku, kamu itu sebuah misteri yang tidak ingin aku ketahui. Jadi, sebelum ada penyesalan di kemudian hari. Akan jauh lebih baik kita sudahi sampai di sini!" Kalimat pengakhiran yang Savina inginkan dari seorang Morgan Tan.
"Tidak, Savina! Aku tidak akan bisa melepaskan mu begitu saja. Aku masih ingin mencoba untuk mengenal, mengerti dan memahami dirimu apa adanya, Vina!" ucap Morgan mengiba.
Namun, sekuat dan semampunya Savina menepis jauh-jauh tangan Morgan Tan yang memegang erat pergelangan tangannya.
Grep ...
Satu tepisan tangan kekar melayang dan memisahkan pegangan kokoh tangan Morgan terhadap Savina.
"Lepaskan tangannya! Ini adalah peringatan bagi Anda! Jangan coba-coba untuk menyakiti seorang wanita. Apa Anda paham?!" ancam seorang pria yang tidak lain adalah Arfan Alhusayn.
Kedatangan Arfan yang tiba-tiba itu, tentu membuat Savina menjadi serba tak menentu. Di satu sisi hatinya, ia merasa senang. Di sisi lainnya, ia merasa bersalah. Sebab, masih lagi ada yang mengganjal di hatinya terhadap Arfan si adik iparnya itu.
Salah memang! Tapi, Savina bisa apa?! Sejatinya, ia juga tak bersalah bukan?! Rasa cinta itu muncul dengan sendirinya. Bukan ia yang mengharapkan rasa itu ada. Apalagi sampai tumbuh dan bermekaran indah dalam qalbunya.
"Ar, Arfan ...?! Kamu ... di sini?" ucap Savina terheran-heran.
Sementara, Hamas hanya bisa menjadi penonton saja. Ia bingung harus bertindak bagaimana. Alhasil, ia hanya mengikuti arus yang ada.
"Ayo, kita segera pergi dari sini, Kakak ipar!" ucap Arfan dengan sorot mata tajam yang masih menghujam pada Morgan.
Savina hanya diam. Sedangkan Hamas, pria itu terkejut mendengar penuturan sang atasan.
"Kakak ipar?!" ucap Hamas dengan sorot mata yang juga terheran-heran.
"Savina ... kamu tidak akan pernah aku biarkan lolos begitu saja. Itu adalah janjiku!" gumam mengancam Morgan Tan dengan sorot mata penuh keyakinan.
...*****...
Setelah berpindah tempat, barulah Arfan menjelaskan semuanya pada Savina.
"Jadi, maksud kamu. Kamu ke sini itu untuk melakukan perjalanan bisnis, begitu?"
"Iya, Kakak ipar," jawab Arfan.
"Fan, bisa panggil aku seperti biasanya, aja, nggak? Risih aku di panggil seperti itu olehmu!" gerutu Savina sambil memberikan titah.
"Baik, Mbak. Saya akan mengubah panggilan saya pada Mbak," ucap Arfan yang langsung mempraktekkannya.
"Oke, bagus! Dia siapa?" tunjuk Savina dengan sorot matanya yang tertuju pada Hamas.
"Oh, dia adalah asisten pribadi saya, Mbak. Apa Mbak sudah makan malam?" tanya Arfan masih dengan etika kesopanan yang tidak diragukan lagi.
"Gak selera. Selera makan ku hilang sudah," jawab ketus Savina yang membuang pandangannya ke berbagai arah.
"Ehemmm ... Pak, boleh saya pesan sesuatu? Soalnya, perut saya minta di segerakan untuk di isi, Pak," ucap Hamas yang sudah memegangi perutnya yang keroncongan.
"Oh, iya. Silakan!"
Hamas mulai memesan apapun yang dia inginkan. Sedangkan, Arfan dan Savina mereka masih setia dalam obrolan mereka.
"Oh, ya Mbak. Fayra menitipkan surat pada saya. Dia minta saya untuk menyampaikan suratnya itu padamu, Mbak."
Hening!
__ADS_1
Sejenak, Savina mengulur waktu untuk lekas bertanya. Tapi, lama-lama dia penasaran juga.
"Mana suratnya?"
"Ada di hotel di dalam koper, Mbak. Apa perlu saya ambil sekarang, Mbak?" tanya Arfan dengan nada lembut dan halus.
"Ambil saja jika memang kamu tidak keberatan," seru Savina yang berusaha mati-matian melepaskan perasaan salah dalam hatinya saat ini pada si adik iparnya.
"Baiklah, tunggu di sini bersama Hamas. Saya akan segera kembali lagi ke mari setelah menemukan surat itu."
Sebelum pergi, Arfan menitip pesan pada asisten pribadinya.
"Ham, titip kakak ipar saya, ya! Tolong, di jaga dari orang jahat seperti tadi. Oh, ya. Jangan sampai kamu membuat kakak ipar saya bosan dan marah! Apa kamu mengerti?"
"Siap, Pak! Laksanakan!" ucap Hamas mantap tanpa hambatan.
Kini, tinggallah Savina dan Hamas di tempat itu. Di saat Hamas asyik makan, Savina hanya cuek tanpa menghiraukan kelakuan Hamas yang tengah kelaparan.
Savina sibuk memandangi orang-orang yang berlalu-lalang. Lama kelamaan, Hamas merasa bosan juga di abaikan.
Akhirnya, Hamas membuka pembahasan. Agar Savina tidak berdiam dan mengabaikan keberadaannya, yang sudah seperti cacing kepanasan. Sebab, tidak di sapa sama sekali oleh Savina.
"Hai, Mbak! Maaf, nih! Dari tadi saya perhatikan, Mbak sibuk lihatin orang-orang. Apa nggak merasa bosan, Mbak?"
"Nggak, tuh!" sahut jutek Savina tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan.
"Aih ...! Ya, sudah. Silakan di lanjut saja melihat-lihatnya. Saya juga akan lanjut lagi makannya," tukas Hamas dengan perasaan yang serasa tersayat namun tak berdarah.
"Emmm," sahut Savina masih sama ketus dan kecutnya.
"Konsisten banget dari awal sampai akhir nih, orang!" batin Hamas nelangsa dibuat oleh Savina.
Tak lama kemudian, Arfan pun datang dengan surat di tangan.
"Huhhh ... huhhh ... hahhh ...!" Arfan ngos-ngosan.
"Minum dulu, Pak! Ini airnya, Pak," sodor Hamas dengan cepat pada sang atasan.
"Makasih banyak, Ham!"
Arfan meneguk minuman itu sambil duduk. Setelah itu, ia pun mengatur nafas dan mengucapkan sepatah dua kata pada si kakak iparnya.
"Ini, Mbak suratnya," ucap Arfan dengan nafas tersengal-sengal.
Savina membuka surat dari adik iparnya. Lalu, ia pun mulai membacanya. Surat yang teramat panjang itu di baca dengan penuh penghayatan oleh Savina.
Dan ... tak terasa air matanya pun jatuh tumpah ruah. Bagaikan aliran sungai yang terus menerus mengalir ke muara.
"Hiks ... hiks ... ternyata, kamu peduli dan mengerti perasaanku, Fay. Maafkan kakak Fayra ...! Hiks ... hiks ... hiks ...."
Arfan tercengang!
Apalagi Hamas, dia semakin tercengang dan terpaku tak berkutik.
"Di, dia kenapa?" ucap yang tak bisa di sampaikan secara gamblang oleh Hamas si pemuda tampan nan rupawan.
"Mbak, kenapa menangis?" tanya Arfan yang mulai penasaran.
Bukannya menjawab, Savina malah semakin mengencangkan tangisannya di depan si adik ipar dan si asisten pribadinya Arfan.
"Hiks ...!" teriak tangis Savina semakin pecah.
...*****...
__ADS_1