CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Resepsi Pernikahan {MN & JP}


__ADS_3

Tak terasa hari yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Dua sejoli yang telah Allah gariskan takdir mereka untuk hidup bersama, telah usai melaksanakan ijab qobul.


Terdengar begitu riuh ucapan, 'sah' dari dalam masjid yang menjadi saksi berlangsungnya kalimat sakral itu bagi Jodi Prakash dan Maira Nadira.


Acara tak sampai di situ saja!


Kini, kita beralih pada tempat berlangsungnya sebuah perhelatan pernikahan antar dua budaya.


Perpaduan antara Indonesia khususnya daerah Jawa yang di campur dengan budaya dari India. Hal itu tentu saja membuat acara pesta pernikahan Jodi Prakash dan Maira Nadira menjadi sangat luar biasa.


Ketika mereka telah duduk di kursi pelaminan. Para tamu undangan pun berdatangan. Mereka amat sangat antusias untuk bersalaman dengan pengantin baru yang tengah menjadi pusat perhatian.


Arfan datang dengan di dampingi oleh istri tercintanya beserta keluarga besarnya. Tak ketinggalan juga ada Raynar dan Clarissa. Mereka sengaja datang bersama. Sebab, memang itu adalah keinginan dari si pengantin pria.


Kini yang merasakan pedihnya kesendirian adalah Robby Danuarta. Walaupun, ia mengaku dirinya seorang playboy kelas berat. Tapi kenyataannya dia adalah jomblo yang paling sekarat.


"Wah, Bro ...! Selamat, ya! Akhirnya ... nggak sia-sia lu menjomblo lama di antara kita. Sekarang malah dapat seorang ustadzah anak pak kyai ternama pula," ledek seraya memuji Raynar pada sahabat keturunan Bollywood-nya itu.


"Bisa aja, Lu! Eh, lu juga datang ke sini gak sendirian, 'kan?" sikut refleks si Jodi ke arah Raynar.


Sementara itu, kedua wanita cantik yang ada di sisi mereka hanya bisa tersenyum dan merunduk saja.


"Eh, iya. Tau aja lu, Bro! Oke, deh ... kalo gitu gue mau cari makanan dulu, ya! Baik-baik jagain istri shalihah, Lu! Kalo gak gue beri pelajaran berharga ntar, Lu!" ancam Raynar dengan pongahnya.


"Iya, Mas Bro! Lu, juga jangan sakiti yang ada di belakang lu!" nasihat Jodi pula pada Raynar yang tak mau kalah.


"Okelah ... terus lu pada gak mikirin perasaan gue, hah?!" celetuk Robby yang tiba-tiba memecah keributan yang bernada gurauan di antara kedua sohibnya.


"Hihihi ... sorry, Bro! Kita lupa kalo lu masih single," sambut Raynar yang merasa di atas angin saat ini.


"Asem, Lu!" ucap Robby tak terima dengan perlakuan Raynar, yang terkesan agak sengak dan tak ingin mendongak menatap wajah sendu sahabatnya yang paling muram dan pilu kala itu.


"Biar pun gue single, gue tetap doakan yang terbaik untuk pernikahan sohib gue yang satu ini. Selamat, ya, Bro, Mbaknya juga! Hehehe ...." ucap Robby sebelum menyusul Raynar dan Clarissa yang sudah sejak dulu pergi meninggalkan pelaminan.


"Iya, terima kasih banyak, Mas!" sambut Maira dengan senyum penuh keikhlasan.


"Makasih banyak, Bro!" ucap Jodi yang tak lupa memeluk sahabatnya itu walau hanya sekilas.


"Sama-sama, Bro! Gue juga pengen makan enak, nih! Semoga, kalian gak bakalan pegal-pegal, ya!" Masih sempat-sempatnya Robby memperingati sepasang pengantin baru itu dengan tingkah konyolnya.


...*****...


Sedangkan di sisi lain, Fayra saat ini tengah menikmati setiap hidangan yang tersaji di pesta pernikahan mewah itu.


Pasalnya, tak hanya ada menu makanan khas Yogyakarta saja. Melainkan, menu masakan khas dari negara India juga ikut menjadi menu wajib yang harus di coba di sana.

__ADS_1


"Fay, kita salaman dulu, yuk sama pengantinnya!" Fayra menepis tangan sang suami yang mengajaknya untuk bersalaman pada pengantin yang menjadi sorotan.


"Sabar, Mas! Aku masih pengen makan masakan khas Hindi ini. Sepertinya, enak. Mas mau coba?" tawar Fayra yang memang tak peduli akan ajakan suaminya untuk saat ini.


Mungkin, itu bawaan ibu hamil. Jadi, Fayra suka labil dan mood makannya juga sering berubah-ubah.


Tak ada penolakan dari Arfan. Ia hanya berusaha untuk bersabar dalam menghadapi sikap istrinya, yang sering sekali berubah-ubah 'tuk menguji kesabarannya.


"Aaa ...," Fayra menyodorkan makanan yang tengah dicicipinya pada mulut Arfan.


Di antara makanan yang Fayra sodorkan pada Arfan adalah Gulab jamun, Kathi Roll, ayam tandoori dan samosa untuk makanan khas India. Belum lagi Arfan juga di minta oleh Fayra menemaninya makan makanan khas Yogyakarta yang ada di sana.


Kembali Fayra menyodorkan makanan ke dalam mulut Arfan. Ada Sate klatak, gudeg, oseng-oseng mercon, bakpia pathok dan geplak.


Semua makanan itu telah Arfan makan dengan berbagai ekspresi di wajahnya. Mulai dari ekspresi senyum-senyum manis, sampai ekspresi senyum kecut karena kepedasan. Semua itu Arfan terima demi memuaskan hati istri yang tengah hamil anak mereka.


"Gimana, Mas? Enak, 'kan?"


"Iya, enak semuanya, Fay sayang! Yuk, kita salaman sekarang, ya!" tampik Arfan yang tak mau memperpanjang masalah yang memang sudah terlalu lama tak kunjung usai jua.


"Oke, kalau gitu, nanti kita lanjut lagi makannya, ya, Mas?"


"He'em." sahut Arfan yang sudah mulai merasa kekenyangan.


"Eh, Mbak Fayra! Mas Arfan ndak di kasih minum dulu, Mbak? Kayaknya, mulut mas ku udah dower, gitu?" celetuk Nadhifa yang juga ada di dekat mereka.


Sementara itu, Adiwangsa dan Sanah hanya bisa diam-diam tersenyum melihat kekonyolan kedua anak mereka.


"Buruan di kasih minum itu suamimu!" ucap Adiwangsa pula pada akhirnya.


"Hehehe ... i-iya, Pa!" sahut cepat Fayra yang sempat cekikikan terlebih dulu sebelum itu.


"Ini minumannya, Mas!" Fayra menyodorkan segelas air pada Arfan.


"Makasih, Istriku! Akhirnya, kamu peka juga,"


"Maaf, Mas! Aku keasyikan nyuruh kamu makan sampai lupa ngasih kamu minum, deh!" sesal Fayra kemudian.


"Iya, ndak apa-apa! Yuk, semuanya kita salaman sama pengantinnya!" ajak Arfan yang beralih pada ke semua anggota keluarganya.


Mereka lalu bergegas menuju pelaminan di gelar. Arfan dan Fayra yang lebih dulu berada di depan. Sebab, Adiwangsa ingin mengawasi Fayra yang terkadang suka ceroboh. Sebagai seorang ayah, Adiwangsa amat perhatian pada semua anggota keluarganya. Apalagi Fayra tengah hamil saat ini.


Sesi salam-salaman pun berganti dengan sesi foto bersama. Malam itu adalah malam yang paling meriah bagi sepasang suami istri baru itu. Dan ... malam yang paling menggembirakan bagi semua orang juga.


Tak terkecuali ayah dan ibu Maira Nadira serta kedua orang tua Jodi Prakash tentunya. Mereka juga merasa puas, terhadap acara pernikahan anak-anak mereka yang berlangsung dengan sangat khidmat.

__ADS_1


...*****...


Kanada ...


Bila di Yogyakarta semua orang sedang berbahagia. Berbeda dengan apa yang di rasakan oleh Savina. Ia sekarang merasa dalam dilema.


"Vin ...? My sweety girl ...! Jadi, bagaimana dengan tawaran ku, hmm? Kamu tidak lupakan?!" tanya Morgan Tan dengan tatapan kian dalam dan menuntut tajam.


"O ... em! I-iya, tapi ... bisakah aku tanyakan satu hal sebelum kita pergi menemui kedua orang tua mu, Morgan?"


"Apa? Katakanlah dengan segera," pinta Morgan dengan wajah yang tak beralih pandang dari objeknya yaitu wajah cantik Savina.


"Aku juga ingin katakan bahwa ... aku ... aku juga menyukai mu." Savina tak berani mengatakan hal itu dengan menatap wajah tampan Morgan Tan. Sebab, ia amat sangat malu.


Senyum bak bunga mawar yang sedang mekar pun tergambar dari balik bibir mempesona Morgan Tan. Di tatapnya sorot mata berbinar si gadis dengan tatapan penuh cinta.


"Savina ... aku akan memperjuangkan cinta kita. Meskipun itu akan membuat papa ku menjadi murka. Aku siap untuk mengambil setiap resiko yang ada." ucap Morgan dari balik jendela hatinya.


"Berhentilah menatap ku begitu, Morgan! Kamu membuat aku semakin gugup, tau!" sungut Savina yang tak bisa mengendalikan detak jantungnya.


"Iya, maaf! Kalau begitu, bisa kita secepatnya ke bandara, Tuan Putri?" pinta Morgan yang semakin manis dan terlihat semakin tampan.


"Apa ...?! Se-sekarang?!" sentak Savina tak percaya.


"Em!" Cukup hanya dengan satu anggukan kepala saja yang Morgan jadikan sebagai jawaban.


"Kalau begitu, aku harus packing secepatnya." Savina langsung berlari menuju ke dalam rumah. Tanpa menghiraukan lagi tanggapan apa yang akan Morgan sampaikan.


"Dasar perempuan! Kalau sudah yakin, langsung ngeloyor pergi gitu aja." celetuk Morgan yang juga amat senang.


...*****...


Akankah kisah cinta Savina Maheswara dan Morgan Tan menemukan jalan untuk bersama? Apakah mereka juga akan bisa segera menikah? Sama halnya, seperti kehidupan baru yang akan di tempuh oleh Maira Nadira dan Jodi Prakash?


Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!


Sungguh, bukankah semua takdir dalam hidup kita hanya Allah sajalah Sang penentunya?


Begitu pulalah halnya dengan kisah cinta para tokoh yang ada di dalam novel ini.


Semua telah di atur


Dan semuanya telah terukur


Tergantung bagaimana kita bersyukur

__ADS_1


Tak pernah menjadi orang yang kufur


...*****...


__ADS_2