CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Istikharah Cinta Antara 2 Wanita


__ADS_3

Cinta adalah sebuah rasa yang nyata


Namun, sulit untuk ditata


Banyak ujian yang akan melanda


Utamanya hati yang tak bisa berdusta


...{Arfan Alhusayn}...


...*****...


Iringan mesin motor yang di bawa agak melamban oleh Arfan. Agaknya, ia tengah banyak pikiran. Oleh karenanya, ia tak ingin menjadi gegabah. Ia selalu berdzikir dalam hatinya. Kala rasa aneh terus saja berkelana dalam pikiran.


Sejatinya, Arfan tak menampik rasa yang datang pada hatinya. Ketika nona mudanya selalu bersikap aneh bak, 'bunglon', yang selalu saja berubah-ubah.


"Ya, Rabb banaa ... apa yang aku alami adalah sebuah coba dan uji dari-Mu Yang Maha Abadi! Aku tak ingin membohongi diri ini. Aku akan segera melakukan semua perintah, yang telah di ajarkan Baginda nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam (SAW). Maafkan, segala khilaf yang telah hamba lakukan yaa ... Robb!" doa Arfan layangkan di atas sebuah sepeda motor, yang masih lagi setia mengiringi perjalanannya menuju rumah.


...*****...


Kediaman Arfan Alhusayn ...


Arfan mematikan mesin motornya, lalu ia duduk di depan teras dengan kursi rakitannya sendiri. Dalam keheningan, ia masih lagi memikirkan tawaran sang majikan.


Tak biasanya seorang Arfan di landa rasa galau, gelisah, yang kian menyiksa relung hati dan jiwanya. Bahkan, ia sampai lupa untuk mengucapkan salam pada ibunya.


Astaghfirullah hal adzim!


Arfan ... sungguh terlalu!


Ternyata, 'virus cinta', tengah berjangkit dalam dada. Sehingga, membuat ia sedikit tersiksa. Suara sapaan dari sang ibu, tampaknya tak bisa membuat Arfan langsung menyahutinya dengan segera.


"Assalamualaikum, Le ...! Dari tadi Bue manggil-manggil kamu, loh! Kok, malah bengong? Ada apa, hmmm? Coba, cerita ke Bue, Le ...," ujar Sanah dengan memegang pundak sang anak tercintanya.


"Waalaikumsalam, Bue! Maaf, Arfan ndak langsung jawab ucapan salam, Bue. Hari ini ... Arfan sangat banyak pikiran, Bue! Arfan bingung, Bue. Kenapa hati ini sulit sekali untuk bisa di pahami, Bue?" tanya Arfan dengan polosnya.


Sanah tersenyum saat mendapati raut wajah kusut berbalut cemberut, yang Arfan perlihatkan dihadapannya saat ini.


"Ini namanya, virus cinta telah memporak-porandakan seantero hatimu, Le!" kelakar Sanah sambil cekikikan.


"Sekarang, apa kamu sudah bisa mengerti akan, apa yang Bue terangkan padamu beberapa waktu lalu, Cah Bagus?" Satu kalimat tanya yang semakin membuat hati Arfan nelangsa.


"Hahhh ...." Arfan membuang nafasnya panjang dan terasa berat.


"Loh, kenapa? Apa kamu sudah tahu? Kalau non Fayra itu juga menyimpan dan memendam perasaan padamu, hmmm?" goda Sanah lagi, yang terus mencecar agar anaknya lekas sadar.


Akan tetapi, Arfan lebih memilih untuk menghindar. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Memilih untuk tidak menjawab, sebuah tanya yang belum ia tahu jawabannya.


"Bue kok, di tinggal, Le ...?" goda Sanah yang mengatakannya dengan tersenyum bahagia.


"Arfan mau shalat, Bue! Menjernihkan pikiran!" sahutnya dengan satu teriakan dari dalam.


Kalimat itu sukses membuat Sanah cekikikan lagi, lagi dan lagi.


...*****...


Kamar Nadhifa ...

__ADS_1


Nadhifa yang masih lagi setia menangis di dalam kamar. Dengan meracau sembari mengutuk-ngutuk dalam tangisnya.


"Aku ... ndak ikhlas kalau sampai mas Arfan ku ndak jadi nikah sama ustadzah Maira! Wong, mas ku cocok kok sama ustadzah. Iki, gara-gara si nona-nona Fayra itu. Jelas, de'e sing gagal kan lamaran mas ku. Huhuhu ... huhuhu ...." Nadhifa meraung-raung bak orang yang terkena jaran kepang.


Astaghfirullah hal adzim!


Mendengar anak gadisnya bagaikan orang yang kesurupan, Sanah kalang kabut dibuatnya. Ia pun menggedor-gedor pintu kamar si anak gadis semata wayangnya.


"Nad ... kamu kenapa toh, Nduk? Kok, kayak orang kesurupan, hah?!" jerit Sanah dari balik pintu kamar sang putri.


"Nad, ndak apa-apa, Bue! Nad, cuma butuh menenangkan diri saja, Bue ... hiks ...," lanjut Nadhifa lagi untuk menangis.


"Eh, jangan begitu, Nad! Coba, kamu buka dulu ini pintu! Bue, ndak mau kalau kamu benar-benar kesurupan!" pekik Sanah dari balik pintu, yang langsung membuat Nadhifa berhenti menangis.


"Kesurupan?! Bue ini ada-ada saja! Bue pikir aku lagi main jaran kepang kali, ya?" ucap Nadhifa yang lekas berdiri dari posisi berbaring nya.


Klekkk ...


Pintu pun terbuka, terlihatlah wajah Nadhifa yang sudah kusut seribu.


Pletak ...


"Loh, kok, Bue jitak kepala Nad, toh?" tanyanya seolah tak bisa memahami situasi, yang telah di buatnya tadi.


"Masih belum sadar, hmmm?"


"Iya, Nad masih belum sadar, Bue ...," rengeknya bak anak remaja yang usianya 13 tahun. Padahal, di usia Nadhifa yang sekarang seharusnya ia telah bisa bersikap dewasa. Tapi, dia malah bersikap seperti anak remaja tanpa dosa.


"Astaghfirullah hal adzim ...!" geram Sanah sambil geleng-geleng kepala.


"Ayo, ikut Bue ke kamar mandi," tarik Sanah dengan ekspresi wajah yang lumayan geram.


"Ayo, buruan, Nad!" titah hakiki dari Sanah, ia tetap membawa Nadhifa ke dalam kamar mandi.


Setuju ataupun tidak, Sanah tak peduli! Baginya, yang terpenting itu adalah dia bisa mendidik putra-putrinya dengan ajaran ilmu agama yang ia tahu selama ini.


Walaupun itu hanya sekedarnya saja. Tapi, tak apa yang penting dia bisa membuat Arfan dan Nadhifa, menjadi putra dan putri yang berbakti padanya suatu saat nanti dengan bakti yang mulia.


"Ayo, ambil wudhu! Biar semua iblis yang bersarang di otak kamu itu hilang dan musnah!" titah Sanah dengan nada lemah lembut tentunya.


...*****...


Di kamar Arfan ...


Arfan tengah melaksanakan shalat Isya. Walaupun suara gaduh dan ribut-ribut ibunya dan Nadhifa. Nyatanya, Arfan masih bisa berkonsentrasi dalam shalatnya.


Bahkan, dia semakin khusyuk seakan ruang dan waktu yang ia hadapi saat ini amat sangat jauh berbeda. Bukan lagi hanya sekedar di atas sajadah. Melainkan, ia seakan terbang ke alam dimensi lain.


Dimensi yang mana ia dan Allah saja yang tahu, bagaimana cara mereka berkomunikasi saat ini.


Semakin lama, Arfan semakin tenggelam dalam dunianya dan Robb-Nya. Setelah ia usai shalat, ia pun melakukan dzikir dan sholawat. Sayup-sayup ia mendengar suara ribut-ribut sang adik dan ibu tercintanya.


Lalu, ia pun bangkit berdiri dan bergegas untuk meleraikan perdebatan sengit antara ibunya dan Nadhifa.


"Cepat, ambil wudhu, Nadhifa ...!" titah Sanah lagi.


"Nad, nggak mau, Bue ... Nad, ndak kesurupan, kok!" tolak keras kepala Nadhifa pada Sanah.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal adzim! Dik Manis, ayo, segera berwudhu! Mas akan tunggu kamu, ya! Mas, ndak akan pergi kemana-mana. Jadi, ayo berwudhu," seru Arfan dengan penuh kasih sayang pada adik semata wayangnya.


Nadhifa pun berwudhu dan melaksanakan shalat Isya. Tadi, ia sempat kesal kepada Fayra. Sehingga, ia lalai dalam tugasnya terhadap Sang Ilahi Robbi.


Alhamdulillah!


Allah akhirnya memberikan kedamaian lagi pada keluarga Arfan Alhusayn.


Di tengah malamnya, Arfan terbangun untuk melakukan ibadah shalat sunnah lainnya yaitu Tahajjud dan Istikharah.


Bahkan, Arfan selama beberapa malam melakukan hal tersebut. Dia juga masih belum menghubungi keluarga besar ustadzah Maira. Arfan menjelaskan, lewat via telepon. Bahwa, dia meminta maaf yang sebesar-besarnya, kepada pihak keluarga ustadzah Maira.


Dia membicarakan lewat ponselnya dengan baik-baik pada ustadzah Maira. Akhirnya, telah di sepakati oleh Arfan dan Maira. Bahwa, mereka memang tidak bisa kembali melanjutkan, hubungan mereka ke tahap yang selanjutnya.


"Assalamualaikum, ustadzah Maira?"


"Waalaikumsalam, Mas Arfan! Ada apa, ya?" tanya Maira yang sebenarnya juga sudah memiliki firasat sebelumnya.


"Saya mau meminta maaf sebelumnya secara via telepon, Ustadzah Maira," ucap Arfan yang akan merasa sangat bersalah pada Maira si gadis baik dan shalihah.


"Katakanlah, Mas! Saya sebenarnya juga sudah merasakan hal yang sama. Apakah ini tentang lamaran di antara kita?"


Deg ... deg ... deg ...


Jantung Arfan semakin berdetak merasa bersalah!


Tapi, mau bagaimana lagi!


Dia juga telah meminta petunjuk dari Allah. Dan, tetap saja hatinya berkata berbeda dengan apa yang sebenarnya ia harapkan.


...*****...


Terkadang kita menjadi serba salah


Tidak di terima rasanya angkuh


Di terima rasanya amat berat


Akhirnya, sebelum terlambat


Kita harus bisa mengambil sikap


Agar tidak memberikan sebuah harap


Yang akan berujung pada kata khilaf


Dan menjadikan kita lebih khilaf


Hanya Allah saja yang Maha Mengetahui


Apa yang ada di dalam hati ini


Hanya Allah pulalah yang paling mengerti


Apa yang terbaik untuk diri ini


...{Arfan Alhusayn}...

__ADS_1


...*****...


__ADS_2