
Rintik embun pagi membasahi dedaunan yang tampak segar dan berseri. Sama halnya dengan kedua insan yang terlihat bahagia, di dalam kamar pelepas rindu. Tak ada yang berubah dari raut wajah mereka sejak semalam.
Bagaimana ingin berubah?
Sedangkan mereka masih lagi terbuai dalam romansa indah dari kegiatan semalam. Sudah cukup untuk basa-basinya.
Sekarang waktunya untuk membahas hal amat penting dan genting!
Arfan hendak membuka obrolan pagi mereka dengan niat tak ingin membuat istrinya khawatir.
"Fay, apa kamu mengenal sosok Morgan Tan?" tanya datar Arfan dengan raut wajah yang datar.
Fayra merotasi pandangan matanya seolah tengah memikirkan sesuatu dalam benaknya.
"Emmm ... kalau tidak salah dia itu adalah anak dari temannya papa. Lebih tepatnya lagi sih ... anak dari sahabatnya papa. Memangnya, kenapa, Mas?"
"Tidak, tidak apa-apa!" Arfan menggelengkan kepalanya lemah. Lalu, ia hendak melangkah ke kamar mandi.
"Mas, kalau memang masih belum bisa mengatakan yang sebenarnya padaku. Maka, aku akan menunggu kamu untuk lebih siap mengatakan semuanya padaku. Tapi, ... bila memang amat sangat sulit. Maka, aku akan membiarkan kamu menentukan sendiri apapun yang kamu inginkan. Aku hanya tidak mau kamu menghadapi kesulitan-kesulitan itu sendirian." terang Fayra yang semakin hari semakin dewasa saja.
Arfan berbalik badan dan memberikan senyuman pada sang istri. Agar tak membuat Fayra menjadi khawatir lagi.
"Iya, mas mau mandi dan berangkat ke kantor, ya. Kamu istirahat lagi saja! Nanti, kalau mas sempat kita kontrol kandungan kamu ke dokter Febriani di rumah sakit," ucap Arfan yang masih memandang sang istri dengan tatapan nan di artikan.
"Iya, Mas. Aku juga akan mempersiapkan keperluan mu mas." Fayra beranjak dari tempat tidur dan mulai melangkah ke arah lemari.
Sementara itu, Arfan sudah mandi dengan perasaan yang campur aduk. Di dalam kamar mandi, Arfan mematuk diri memandangi bayangannya dalam cermin.
"Maafkan mas, Fay! Mas tidak bisa mengatakan apa yang mas pikirkan. Mas tidak mau kamu stres dan kandungan kamu nanti bermasalah karena apa yang ingin mas sampaikan padamu nanti. Ini adalah sesuatu yang harus mas selesaikan sendiri tanpamu." ucap lirih Arfan di depan cermin yang menjadi saksi akan kesedihan hati Arfan saat ini.
...*****...
Kanada ...
Setelah kemarin di tinggal begitu saja. Hari ini Morgan Tan kembali lagi menemui gadis incarannya. Morgan sudah bersiap untuk mengantarkan kemana saja yang Savina mau. Pria itu mencoba berbagai macam cara untuk memikat hati Savina Maheswara.
Savina baru saja keluar dari rumahnya untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahannya. Ketika mendapati seorang pria yang sudah ready di depan rumahnya, Savina memutar bola matanya malas ke sembarang arah.
"Dih ... dia lagi. Kesel banget kalau harus ketemu dia ... dia ... melulu!" gerutu Savina sebal.
"Hai, Vina! Mau saya temani jalan-jalannya.
__ADS_1
"Nggak, usah! Makasih tawaran baiknya. Tapi, aku lagi ingin sendiri, Morgan. Jadi, mendingan kamu pergi aja, oke!" bentak Savina dengan garangnya.
"Eh, tunggu ...!" Morgan tanpa aba-aba menarik tangan Savina dengan posesifnya.
Klik ...
Tatapan mereka saling bertemu lagi untuk kesekian kalinya. Niat hati Morgan hanya sekedar untuk melancarkan misi tersembunyi dari sang ayah. Ternyata, justru malah membuat kalut hatinya.
Deg ... deg ... deg ....
Debaran jantung tak pernah bergetar kian hebatnya sebelum ia bertemu dengan Savina. Tak bisa ia pungkiri bahwa saat ini ia telah jatuh hati.
Keduanya saling bersikap kaku dengan tatapan yang mulai berkeliaran ke sembarang arah.
"Lepaskan tanganku! Aku ingin mencari udara segar, Morgan ...!" ucap Savina dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya lagi.
"Ah, kacau! Kenapa jantungku benar-benar berdetak karenanya? Aku tidak boleh sampai jatuh cinta sungguhan padanya. Tidak boleh, Morgan ...!" jerit hati Morgan Tan yang tak mungkin bisa di dengar oleh Savina.
"Kamu dengar nggak, sih, Morgan?! Apa teriakan ku kurang jelas, ya?" Savina mulai sewot.
"Iya, saya dengar. Tapi, saya hanya tidak ingin memahaminya saja. Oh, ya. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Jadi, jangan berlama-lama di luar dengan pakaian seperti, ya!" ucap Morgan dengan memegang kedua pundak Savina yang membuat gadis itu semakin gugup.
"Apakah benar dia menaruh perasaan padaku, Tuhan? Apakah ini hanyalah sebuah rekayasa semata? Oh, hati ku ... please ... jangan bilang kamu benar-benar jatuh cinta pada pria misterius ini?" bisik lirih Savina dalam hatinya.
Muak dengan dilema hatinya yang membuat ia gundah gulana. Savina lebih memilih untuk menerima sikap manis dari pria yang di hadapannya.
"Savina, apakah kamu masih belum mengingat siapa aku?" Satu pertanyaan itu sukses membuat Savina terpaku.
Savina menghentikan kegiatan tangan Morgan, yang ingin membalut tubuh mungilnya dengan jaket milik pria itu.
"Maksud kamu ... apa?" Bukannya menjawab, Morgan mendudukkan Savina di sebuah bangku yang ada di dekat mereka.
"Duduklah, dulu!" titahnya memberikan instruksi pada sang gadis mungilnya itu.
Setelah itu, ia mulai menceritakan kisah masa lalu di antara mereka pada Savina. Semasa kecil dulu, mereka selalu bermain bersama. Tapi, ada masa di mana kebersamaan di antara mereka harus terpisah.
Alhasil, Morgan Tan dan keluarganya pun pindah ke tempat lain. Lebih tepatnya pindah ke kota asal ayahnya di Beijing.
Sejak saat itu, kedekatan di antara kedua keluarga mereka pun terpecah belah. Alasan yang mendasar dari keretakan hubungan mereka adalah Adiwangsa tidak setuju bila Savina di jodohkan dengan Morgan Tan.
Tentu saja itu karena perbedaan keyakinan di antara mereka juga menjadi pemicu ketidaksetujuan Adiwangsa. Tidak mungkin Adiwangsa rela membiarkan putri sulungnya tak di berikan hak untuk memilih.
__ADS_1
Apalagi, waktu itu mereka masih kanak-kanak. Tidak terlintas di benak Adiwangsa untuk mencampuri masa depan putrinya yang masih kecil.
Berbeda halnya dengan Kai Tan. Dia telah kekeuh untuk mengikat hubungan antara dirinya dan keluarga Adiwangsa. Tentu saja dia tak ingin melepaskan bongkahan berlian dari genggaman.
Ibarat kata, keluarga Adiwangsa Maheswara memang terlahir dari turunan keluarga ningrat ternama. Jadi, wajarlah bila ia berharap lebih pada hubungan persahabatan di antara mereka.
📜 Flashback On 📜
Terbayang oleh Morgan Tan bagaimana dulu ia, Savina dan juga Raynar selalu bermain bersama. Sementara, Fayra yang masih kecil tak terlalu ikut bergabung dengan mereka. Sebab, perbedaan usia juga yang membuat Fayra merasa enggan untuk bergabung.
"Vina ...! Nanti, kalau kita sudah besar kita akan tetap bersama, 'kan?" ucap asal Morgan kala itu.
"Ahahaha ... aku tidak suka pada laki-laki cengeng seperti kamu, Morgan!" sahut Savina dengan pongahnya serta tawa yang menggema dari bibirnya.
"Jangan bicara sembarangan kamu, Vina! Nanti, akan aku buktikan bahwa aku pantas untuk melindungi kamu. Dan ... aku tidak akan jadi pria yang cengeng lagi!" ucap pasti Morgan kala itu pada Savina kecil.
📜 Flashback Off 📜
"Apa sekarang kamu sudah mengingat saya, Vina?" tanya Morgan dengan tatapan yang tak memancarkan kebohongan sedikit.
"Morgan? Kamu ... anak laki-laki yang cengeng itu? Apa benar kamu Morgan Tan anak paman Kai-Kai, ya?" ucap Savina dengan polosnya.
Ya, panggilan kesayangan Savina pada Kai Tan kala itu adalah Kai-Kai. Entah ia dapat dari mana panggilan seperti itu untuk Kai Tan. Hanya dialah yang tahu semua jawabnya.
Morgan mengangguk dengan perlahan, tak lupa pula ia ukir senyum setulus hati pada Savina. Keduanya mulai kembali tertawa bersama. Sama seperti dulu saat mereka masih menjadi anak kecil yang belum tahu apa-apa. Anak yang masih polos dan lugu. Anak yang belum tahu tentang ini dan itu. Mereka hanya tahu bermain dan bercanda selalu.
Morgan mulai bersimpuh di kaki Savina. Lambat laun, ia mulai membuka mulutnya untuk berkata pada Savina.
"Savina Maheswara ... maukah kamu menua bersamaku untuk selamanya?" Aneh, ini sungguh di luar rencana sebelumnya.
Savina memfokuskan perhatiannya pada setiap kata yang menjadi kalimat indah dari sepasang bibir lembut seorang pria. Ia seakan tak dapat mempercayai, apa yang menjadi topik pembicaraannya dengan Morgan Tan. Seorang sahabat lama yang baru saja ia sadari kehadirannya.
"Morgan kamu ... apa kamu bercanda?"
Sebuah senyuman lagi-lagi terukir tak henti-henti.
"Aku bersungguh-sungguh!" ucap Morgan Tan dengan penuh kepastian.
Hening!
Tak ada lagi percakapan setelah ucapan Morgan Tan mengudara indah dari bibirnya.
__ADS_1
...*****...