
Lagi dan lagi sinar mentari pagi memerangi bumi. Ia seakan tak pernah lelah menyinari dunia. Hampir dua puluh empat jam ia berotasi mengelilingi bumi. Ya, memang seperti itulah tugas matahari yang di berikan oleh Rabb-Nya.
Fayra ke kamar mandi untuk segera mengguyur tubuhnya dengan air. Agar ia segera mendapatkan kesadaran penuh nantinya. Tak di sangka, ternyata tamu bulanannya pun datang jua.
"Aishhh, ternyata aku menstruasi hari ini." ucapnya lirih. Kemudian, dia mulai berpikir cukup lama di dalam kamar mandi miliknya sendiri.
"Eh, tunggu dulu ...! Jangan bilang aku bersikap aneh tadi malam itu karena ... karena hal ini? Jangan-jangan ... emang iya lagi, aku bersikap aneh karena aku sedang dalam keadaan yang tidak stabil gara-gara tamu bulanan." pikirnya dengan masih sukar memahami dirinya sendiri.
"Ah, tau, ah! Yang jelas, hari ini aku ingin merilekskan pikiran dan perasaan ku yang kacau berantakan karena sesuatu hal, yang nggak masuk akal." racau Fayra yang kemudian mengambil pasta gigi dan sikat gigi. Lalu, gadis itu pun memulai ritualnya di pagi hari seperti biasanya.
...*****...
Menuruni anak tangga, Fayra lantas mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Seakan matanya tengah menyapu setiap sudut ruangan itu.
Klik ...
Matanya pun mengunci rapat-rapat pandangan pada satu arah bidikan. Tentu saja yang menjadi sasaran pandangnya adalah Arfan. Pemuda tampan yang sudah terlihat rapi, segar bugar dan tidak cemberut karena kesal.
"Arfan ... tunggu, Fan!" jeritnya menghentikan langkah gagah pria tampan nan rupawan itu tepat di hadapan.
Buru-buru Fayra berjalan mendekati Arfan si bawahan.
"Ada apa, ya, Nona memanggil saya?"
"Ada perlu. Sini, ikut aku!" seret Fayra tanpa aba-aba.
Deg ...
Jantung Arfan mulai berdetak tak karuan.
"Duh ... Gusti! Kenapa dengan jantung hamba ini? Mengapa tiba-tiba berdetak tak menentu?" ocehnya dalam diam.
"Ma, mau di bawa ke mana saya, Nona?" tanya Arfan sedikit gugup.
Ketika mereka telah tiba di depan mobil merah Fayra. Fayra pun memerintahkan Arfan untuk masuk. Sedangkan, gadis itu mengambil alih posisi kemudi. Tangan gugup Arfan mencoba untuk menggapai tubuh sang majikan yang ada di sampingnya saat ini.
Tujuannya tak lain adalah untuk menghentikan Fayra. Namun, saking gugupnya ia sampai tak berani melakukan apa-apa. Alhasil, ia hanya bisa pasrah terhadap sikap bar-bar dan urakan sang majikan.
...*****...
Rumah sakit ...
Tak di sangka, di pagi buta tepatnya di hari Minggu pula. Fayra membawa Arfan untuk menjenguk ibunda tercinta.
"Ayo, turun!" titah sekaligus seruan di layangkan Fayra.
"Tumben! Ada apa, sih ini sebenarnya? Kenapa dari tadi malam sikap non Fayra anehnya berlanjut sampai sekarang, ya?" kalimat tanya yang tak terlisankan pun terus bergema di dalam hati Arfan si pemuda tampan.
"Non, Fayra. Sebenarnya, mau apa pagi-pagi begini ke rumah sakit, Non?"
"Ibu kamu lagi sakit, 'kan?! Udah, itu berarti udah jelas kalau kita datang untuk membesuk nya lah! Kamu pikir mau, apa, heh?!" sentak Fayra dengan nada judesnya seperti awal mereka bertemu.
Arfan hanya mampu tertunduk patuh dan tak berkata apa-apa lagi. Kapok! Iya, benar! Satu kalimat itulah yang paling tepat untuk menggambarkan diri Arfan, terhadap sikap Fayra padanya.
Mereka pun berjalan menuju kamar rawat Sanah bersama-sama. Tak di sangka, ternyata masih terlihat Nadhifa sedang terlelap dalam tidurnya. Mungkin, gadis itu terlalu lelah bolak-balik ke rumah sakit.
Sementara itu, Sanah sudah terjaga dari tidurnya. Wanita itu tengah duduk bersandar di atas ranjangnya.
"Assalamualaikum, Bu'e!" ucap salam Arfan. Kemudian, di susul pula oleh Fayra setelahnya.
"Assalamualaikum," berhubung Sanah tak bisa menjawab, ia hanya bisa mengangguk saja sebagai balasannya.
"Bu'e ..., masih sakit, kah?" Sanah menggeleng sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Fan, bisa kamu tinggalkan kami berdua saja?" tanya Fayra yang sudah bersikap manis lagi seperti baru-baru ini ia lakukan pada Arfan.
Meskipun ragu untuk meng-iyakan. Namun, Arfan tetap menyetujui keinginan sang majikan.
"Bu'e ... Arfan tinggal sebentar, ya! Arfan akan membeli sarapan untuk dik manis dan semuanya. Assalamualaikum, Bu'e," ucap lembut Arfan.
"Waalaikumsalam," jawab Fayra.
Kini tinggallah Fayra, Sanah dan Nadhifa yang masih terlena dalam alam mimpinya. Biasanya, Nadhifa tidak pernah tidur sampai se-siang itu. Sehabis shalat Shubuh tadi dia kembali berbaring dan sampailah sekarang.
"Ibu, saya mau minta maaf atas kejadian tadi malam yang kurang baik saya lakukan. Gara-gara saya, Arfan dan wanita itu tidak lanjut berkenalan. Sepertinya, hal itu terjadi karena saya sedang dalam menanti masa menstruasi," terang Fayra yang begitu polos dan lugu.
Mendengar penuturan Fayra, tentu saja membuat Sanah sedikit tertawa. Baginya, gadis ini begitu lucu dan lugu.
"Loh, kenapa Ibu malah tertawa? Apakah ada yang lucu dari ucapan saya barusan, Bu?"
Sanah menggelengkan kepalanya pelan. Seraya memegangi tangan Fayra. Wanita paruh baya itu seakan ingin mengutarakan sesuatu. Lebih tepatnya, ia ingin bertanya pada Fayra si gadis lugu yang belum sadar kalau dirinya sedang di landa rasa cemburu.
Akhirnya, Sanah pun memaksakan diri untuk berbicara dengan semampunya.
"A ... pa. Ka ... mu. Cem, bu, ru?" akhirnya, Sanah bisa juga mengucapkan kalimatnya tersebut. Meskipun dengan terbata-bata pastinya.
"Hah?! Saya?! Cemburu?!" Fayra berteriak sehingga, mau tidak mau Nadhifa pun terjaga dari tidurnya.
"Aduh ... siapa, sih yang teriak-teriak pagi-pagi, begini?!" racau Nadhifa sembari mengucek-ngucek kedua matanya.
"Ka, kamu ...!" jerit Nadhifa kaget, setelah membuka matanya sempurna.
"Ngapain, kamu ada di sini, hah?! Setelah semalam merusak acara ta'aruf kakak saya!" bentak Nadhifa yang kemudian di hentikan tiba-tiba oleh Arfan Alhusayn.
"Nad ...! Cukup, Nad! Jangan, berteriak padanya! Dia adalah majikan Mas, Nad. Kamu nggak boleh bersikap seperti itu, Dik Manis! Mas, 'kan, ndak pernah mengajarkan kamu berbuat tidak sopan seperti itu." terang Arfan dengan penuh kelembutan dan di barengi dengan ketegasan.
"Maaf! Kedatangan saya ke sini benar-benar murni untuk meminta maaf saja," ujar Fayra memperjelas niatnya pada Nadhifa.
"Iya, Mas. Maaf, Nad masih kesal saja sama sikapnya mbak majikannya Mas ini," gerutu Nadhifa, sembari menunjuk ke arah Fayra dengan ekor matanya.
"Ya, sudah. Jangan, di ulangi lagi, ya, Dik Manis!" nasihat Arfan pada sang adik. Nadhifa mengangguk pelan. Sejatinya, ia masih saja tetap merasa kesal pada Fayra yang sudah semena-mena terhadap kakaknya tadi malam.
"Jadi, Mas kapan mau bertemu dengan ustadzah Maira lagi, Mas?"
Arfan tersenyum dan berkata, "Kapan pun itu, jika, memang kami berjodoh Insya Allah ... Allah akan mempertemukan kami kapan dan di manapun itu, Dik Manis!" Arfan pun mengelus-elus puncak kepala adiknya yang memakai hijab itu.
Sanah hanya bisa tersenyum dan lagi-lagi dia mencoba membaca ekspresi wajah Fayra. Kemudian, dia meraih tangan Fayra dan menjangkaunya.
"Eh," ucap Fayra lirih karena kaget, tangannya tiba-tiba di tarik oleh Sanah ke arahnya.
Sanah berkata melalui tangannya dan memberikan bahasa tubuh pada Fayra. Tentu saja Fayra sama sekali tak mengerti akan maksud Sanah padanya. Sanah memberikan kode yang artinya, 'bicaralah'.
"Maaf, Bu! Saya tidak bisa mengerti apa maksud, Ibu?"
Kemudian, Sanah meminta Fayra mendekatkan wajah Fayra padanya. Lalu, Fayra pun menurut.
"Bi, ca, ra, lah ...," ucap lirih Sanah. Semakin terdorong oleh rasa penasarannya, Sanah semakin gigih untuk bisa berbicara lagi. Tapi, ia seakan enggan untuk berbicara dulu dengan anak-anaknya.
"Tentang apa, Bu?" balas Fayra pula dengan berbisik.
"Ya ... ng, ta ... di. A ... pa, ja ... wa, ban, mu?"
Seketika, Fayra menarik wajahnya menjauh dari Sanah. Dari situ, pulalah Sanah semakin yakin akan dugaannya. Bahwa, Fayra benar-benar cemburu terhadap Arfan dan Maira.
"Maaf, Bu! Sepertinya, saya tidak bisa lama-lama di sini." kata Fayra yang segera ingin kabur dari tempat itu.
"Apa, Non mau pulang sekarang, Non?"
__ADS_1
"Ah, iya. Aku akan pulang sekarang. Kalau kamu mau tetap di sini, nggak apa-apa, kok. Lagi pula ini hari weekend. Jadi, saya tidak ke perusahaan. Kamu bisa menemani ibu kamu di sini."
"Nggak, Non! Mama Non sudah berpesan pada saya. Agar, saya selalu menemani Non kemanapun Nona pergi, Non! Jadi, saya juga akan pulang bersama Non Fayra."
Kemudian, Arfan berpamitan pada ibunya.
"Bu'e, Arfan pamit dulu, ya! Bu'e dan Nadhifa baik-baik terus, ya! Oh, ya. Obatnya, jangan, lupa di minum, ya, Bu'e!" Sanah mengangguk.
"Nad, ini sarapan untuk kamu. Ingat, jagain bu'e terus, ya!"
"Iya, Mas,"
"Ya, udah. Mas pergi dulu. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam!" balas Nadhifa.
"Assalamualaikum," ucap Fayra juga yang di jawab agak ketus oleh Nadhifa.
"Waalaikumsalam!" jawabnya jutek. Tampaknya, Nadhifa tidak suka terhadap Fayra. Menurutnya, Fayra itu adalah pengganggu.
Arfan dan Fayra pun pergi dari sana.
...*****...
Di perjalanan pulang ...
Fayra masih lagi termangu karena sebuah pertanyaan yang di lontarkan, dengan susah payah oleh ibu Arfan padanya.
"Ada apa, Nona?"
"Fan, dokter bilang ibu kamu sulit untuk berbicara, ya?"
"Iya, Nona. Itu akibat kecelakaan yang menimpa dirinya. Tapi, itu Insya Allah tidak akan lama."
"Iya, bener. Tadi, dia bicara padaku." celetuk Fayra tanpa sadar.
"Apa, Nona?! Ibu saya bicara pada, Nona?!" pekik Arfan yang membuat telinga Fayra berdengung.
"Ya, ampun ...! Kamu bisa nggak, sih kalau ngomong nggak perlu pakai teriak-teriak segala!" berang Fayra yang merasa hampir budeg.
"Maaf, Nona! Saya refleks tadi. Habisnya, ucapan Nona barusan buat saya kaget. Jadi, tadi bu'e bilang apa ke Nona? Boleh saya tahu?" tanya Arfan yang membuat wajah Fayra memerah seketika.
Gadis itu lebih memilih bungkam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa, Nona? Apa bu'e bilang sesuatu yang sekiranya kurang menyenangkan untuk di bahas, ya?"
"Bukan! Bukan seperti itu ... tapi ... ini lebih parah dari itu," terang Fayra yang enggan, bahkan terlampau malu, jika harus mengatakan hal itu pada Arfan.
"Mana mungkin aku bilang ke Arfan tentang apa yang ibunya bilang ke aku, 'kan?! Bisa mati kutu nanti, aku." monolog Fayra dalam hatinya saja.
"Oh, gitu. Ya, sudah. Maafkan, ibu saya, ya Nona!"
"Ahahaha ... nggak, apa-apa, kok! Santai, aja!" ucap Fayra sembari sedikit tertawa agar tidak merasa canggung.
"Oh, iya. Aku juga minta maaf, ya! Semalam, aku sudah membuat kekacauan atas pertemuan mu dan wanita itu. Sepertinya, itu terjadi karena aku ingin kedatangan tamu." terangnya asal pada Arfan.
Arfan berkerut kening ketika mencerna ucapan Fayra. Kedatangan tamu? Apa maksudnya? Kurang lebih, seperti itulah gambaran pertanyaan di wajah Arfan.
"Maksud Nona, apa?"
"Ahahaha ... lupakanlah! Itu tidak penting," tampik Fayra yang tak ingin ambil pusing.
Mereka pun terus berbincang sepanjang perjalanan menuju ke rumah.
__ADS_1
...*****...