CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Peralihan Kekuasaan Sementara?


__ADS_3

Terlepas dari rutinitas perusahaan, membuat Arfan jauh lebih fokus untuk merawat, menjaga dan menemani Fayra selama masa kehamilan istrinya itu.


Sudah beberapa hari ini, Arfan tak pergi ke perusahaan. Ia hanya menghandle pekerjaan kantor melalui media teknologi saja. Ia tak ingin meninggalkan Fayra barang sedetik pun. Seakan Fayra adalah sesuatu hal yang rapuh. Hingga ia membutuhkan tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah.


Arfan tengah fokus memandang layar pipih dalam genggaman. Fayra lantas melontarkan sebuah tanya.


"Mas, kenapa nggak pergi ke kantor?"


"Mas mau menjagamu sampai pulih," jawabnya yang masih bisa fokus pada kegiatannya di dalam telepon genggamnya.


"Tapi, siapa nanti yang akan mengurus perusahaan kalau mas terus-menerus ada di sini, Mas?" ucap Fayra tak enak hati dan merasa bersalah.


"Ini masih bisa di tangani oleh Hamas, kok Fay Sayang. Jadi, kamu jangan khawatir, ya!" serunya, yang kini sudah mulai membelai wajah pucat kekasih hatinya.


"Tapi, Mas ... aku--"


"Coba sini buka mulutnya yang lebar. Ayo, Fay buka mulutmu, ya!" titah lembut Arfan dengan menyodorkan makanan pada sang istri.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk!" titah Arfan pada seseorang yang mengetuk pintu.


"Eh, Mas Ray. Sini, Mas!" pinta Arfan pada kakak iparnya tersebut.


Raynar pun menjatuhkan dirinya pada sofa empuk yang ada di sana. Di susul pula oleh Arfan setelah ia selesai menyuapi Fayra.


"Ada apa kamu memanggil ku ke sini, Fan?" tanya Raynar yang sesekali melirik ke arah adiknya yang masih belum sehat benar.


Arfan menunjukkan wacana yang akan ia kembangkan. Laptop di putar tepat ke arah Raynar. Lalu, ia jelaskan pada kang masnya itu apa maksud dan tujuannya memanggil kang masnya itu untuk menemuinya.


"Mas, ini adalah rencana untuk ke depannya yang sudah aku rancang. Perusahaan akan berkembang pesat bila bisa di tangani dengan baik dan tepat. Jadi, saya sarankan mas yang mewujudkan keinginan saya ini. Sebab,--" penjabaran Arfan tertahan.


Hanya tatapan netranya saja yang telah menjelaskan semuanya pada sang kakak ipar. Melihat ada guratan kecemasan yang masih menyelubungi diri si adik ipar. Raynar pun memikirkan apa yang di jabarkan oleh Arfan.


"Mas tahu, 'kan? Apa alasanku melakukan semua ini?" ujar Arfan yang menekankan perkataannya.


"Hahhh ... apa yang harus aku lakukan? Agar aku bisa menjadi CEO yang baik dan bijak seperti kamu, Fan?" Raynar membingkai wajahnya dengan kegundahan yang tak berkesudahan.


"Mas hanya perlu ikuti proses yang sudah aku rancang. Jadi, jika nanti terjadi kendala atau mas tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Mas bisa hubungi aku dengan catatan, ketika mas benar-benar sudah tidak bisa lagi mengendalikan semuanya." papar Arfan dengan begitu lugas dan cerdas.


"Oke, aku akan berusaha semaksimal yang aku bisa. Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk hasil yang terbaik. Aku masih butuh banyak belajar, Fan. Jadi, harap kamu mengerti akan hal itu. Apakah, bisa?" Arfan mengangguk dan menepuk pundak si kakak ipar, sebagai bentuk menyemangati kakak iparnya tersebut.


"Mas tidak perlu khawatir! Hamas sangat bisa di andalkan, Mas. Jadi, berikan perintah apa saja padanya. Dia akan bisa membantu mas nanti dengan cekatan." papar Arfan dengan senyuman.


Mereka berbincang seperti orang yang tengah berbisik-bisik. Tentu saja Fayra tak dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka. Apalagi, jarak mereka dengan Fayra cukup jauh.


"Kalau begitu, aku pamit untuk pulang dan mempersiapkan segalanya. Oh, ya? Bagaimana kamu menjelaskan ini pada papa, Fan?"


"Mas tenang saja! Papa sudah tahu semuanya. Termasuk, rencana ku agar mas memimpin perusahaan." Raynar manggut-manggut dengan penuturan sang adik ipar padanya.


Sebelum pergi, Raynar menyempatkan diri untuk berpamitan pada sang adik.


"Fay, Mas pamit, ya! Kamu cepat sembuh, ya! Lain kali, jangan pernah ulangi hal ini lagi! Paham?!" ancamannya pada sang adik manja.

__ADS_1


"Iya, Mas." balas Fayra dengan senyum yang mengembang di akhir kalimatnya.


Tak lupa Raynar mengusap kerudung adiknya itu dengan lembut.


"Assalamu'alaikum," pamit Raynar pada pasangan suami istri itu.


"Wa'alaikumsalam." jawab Arfan dan Fayra bersamaan.


...*****...


📜 Flashback On 📜


Niatnya Arfan tak ingin memberitahukan perihal tentang kondisi Fayra. Akan tetapi, di sisi lain ia butuh restu dari sang ayah mertua. Demi mewujudkan rencananya.


Mau tak mau, Arfan terpaksa berkata jujur pada ayah mertuanya.


"Assalamu'alaikum, Pa!" ucapnya dari balik telepon.


"Wa'alaikumsalam, Fan. Kenapa sudah malam begini kalian belum juga pulang, Fan?" sahut Adiwangsa dari seberang sana.


"Begini, Pa. Fayra ... Fayra sedang di rawat di rumah sakit, Pa. Jadi,--"


"Apa ...?! Kenapa bisa, Fan? Apa yang terjadi sebenarnya, Fan?" tanya panik Adiwangsa dari balik telepon.


"Keram perut, Pa. Alhamdulillah, sekarang Fayra sudah lebih baik dari sebelumnya," ucap Arfan.


"Alhamdulillah ... Kalau begitu, papa akan menyusul kalian ke rumah sakit sekarang. Sampai bertemu nanti, ya! Assalamu'alaikum!"


...*****...


Lama menunggu, akhirnya papa dan mama mertuanya pun tiba di rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya Fayra sekarang, Fan?"


"Dia masih belum sadar, Pa, Ma. Tapi, kata dokter dia hanya butuh istirahat yang cukup,"


"Ya, sudah. Kalau begitu, mama ingin melihat kondisi Fayra. Pa, mama masuk duluan, ya!" pamit Hazna pada Adiwangsa.


"Ya, Ma."


Sepeninggalan Hazna si ibu mertua. Arfan mulai membuka cerita pada Adiwangsa.


"Jadi, begini, Pa. Aku ingin berhenti sementara selama Fayra masih membutuhkan perhatian dariku. Apakah boleh jika aku mengusulkan mas Raynar untuk menggantikan ku selama aku menemani Fayra, Pa?"


Adiwangsa hanya bergeming. Tampaknya, ia tengah memikirkan sesuatu yang di ajukan oleh si menantu.


"Baiklah, jika memang ini yang terbaik. Maka, papa akan merestui keinginan kamu, Fan. Tapi, bisakah Raynar di andalkan?"


"Apakah papa meragukan kemampuan anak papa sendiri? Aku rasa papa lebih tahu tentang mas Raynar ketimbang aku, Pa. Aku yakin, mas Raynar yang sekarang tidak sama dengan mas Raynar yang dulu. Jadi, tidak ada salahnya memberikan kesempatan ini padanya." papar Raynar panjang lebar.


Adiwangsa manggut-manggut sependapat dengan apa yang di katakan oleh menantunya.


"Mudah-mudahan saja kali ini dia benar-benar bisa di andalkan."

__ADS_1


"Aamiin ya Allah ...!"


"Oh, ya, Fan. Bagaimana, kontrak kerjasama mu dengan Morgan Tan? Apakah itu tetap berlanjut?"


"Aku sudah membicarakan hal itu dengannya, Pa. Tapi, sepertinya dia menolak untuk membatalkan kesepakatan itu. Jadi, aku masih belum tahu apa rencananya. Kita lihat saja nanti."


📜 Flashback Off 📜


Tempat yang semula memang di takdirkan untuknya. Hari ini telah ia sambangi. Raynar sudah berada dalam ruangan kerjanya. Tempat di mana biasanya Arfan duduk dan mengerjakan semua tugas-tugasnya di perusahaan.


Secangkir coffe latte pun telah di suguhkan di atas meja kerjanya. Raynar mulai unjuk kebolehan dirinya dalam mengelola berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja. Tak lupa pula seorang asisten pribadi yang setia menemani.


"Pak, apakah bapak butuh bantuan saya?"


Raynar mengalihkan perhatiannya yang semula, hanya tertuju pada berkas-berkas penting itu saja. Kini netranya menatap pada wajah tampan nan rupawan milik Hamas yang menggemaskan.


"Oouh ... sepertinya bos yang ini berbeda dari pak Arfan. Dia kelihatan ... kelihatan jauh lebih kejam dan menakutkan daripada pak Arfan." monolog panjang lebar Hamas dalam hatinya saja.


"Bisa kamu singkirkan wajahmu dari hadapanku saat ini?" tanya yang lebih tepatnya menyiratkan sebuah perintah, yang Raynar ucapkan pada si asisten pribadinya Arfan itu.


"Baik! Siap, laksanakan, Pak!" Hamas pun lekas menyingkirkan dirinya dari hadapan tuan barunya itu.


"Hahhh ... mengganggu konsentrasi ku saja!" kesal Raynar yang kurang yakin akan kinerja Hamas.


Ia kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda. Kembali ia membaca dan mempelajari serta menelaah isi berkas-berkas penting itu. Utamanya, berkas yang berisi tentang kontrak kerjasama Morgan Tan dan Maheswara Corp.


"Sepertinya, dalam kontrak ini tidak ada masalah. Lalu, kenapa Arfan ingin membatalkan kerjasama ini? Apa alasannya, coba? Di lihat dari segi mana pun, ini sangatlah menguntungkan. Tapi, bila melanggar aturan. Maka, perusahaan akan membayar penalti yang sangat besar. Gila saja bila hal ini sampai terjadi. Arfan ... Arfan ...! Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Mondar-mandir Raynar di dalam ruangannya saat ini. Ia masih memikirkan cara jitu untuk memecahkan masalah ini secepatnya.


"Tidak bisa! Aku harus segera bertemu dengan Morgan Tan. Siapa tahu ... dengan mengajaknya untuk berkompromi itu jauh lebih baik. Daripada harus membayar penalti yang sungguh membuat otakku tidak waras dibuatnya. Lebih baik bernegosiasi dengannya, 'kan?" gumam Raynar yang sudah mengambil keputusan.


Berhubung Raynar belum pernah sama sekali menghubungi Morgan selama ini. Jadi, dengan sangat terpaksa ia memanggil Hamas untuk melaksanakan apa yang dia inginkan.


"Hamas, masuk ke ruangan saya sekarang!" serunya dari dalam.


Hamas yang memang tidak pergi kemana-mana. Selain hanya duduk di depan ruangan tersebut. Ia dengan segera memenuhi panggilan dari atasannya itu padanya.


"Siap, Pak! Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Ya, sangat ada. Tolong kamu hubungi Morgan Tan!"


"Sa-saya, Pak?"


"Lalu, siapa lagi memangnya asisten di sini? Apakah saya, hmmm?"


"Iya, memang saya, Pak. Tapi, Pak ... say--"


"Buruan!" hardik Raynar tanpa belas kasihan.


"Baik, Pak! Mohon, tunggu sebentar! Saya akan segera menghubungi pak Morgan Tan."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2