CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Hari Bahagia Bagi Semuanya


__ADS_3

Semilir angin menyapa pori-pori wajah mereka. Membuka percakapan kala udara dingin membuat tubuh mereka menggigil seketika.


"Anginnya kencang sekali, ya? Jadi, pengen peluk guling dan berbaring di bawah selimut tebal." celoteh Raynar yang merasa menggigil kedinginan.


"Iya, Mas. Saat aku dan Hamas ke sini, udaranya tidak terlampau sedingin ini." terang Arfan yang menanggapi ucapan kakak iparnya.


Perhatian Arfan pun kini hanya tertuju pada istrinya. Tak tanggung-tanggung, ia langsung melingkarkan syal rajut pada leher Fayra.


"Mas ... aku tidak apa-apa. Aku juga telah memakai jaket tebal. Jadi, in--" Arfan tetap melanjutkan tindakannya. Tanpa peduli akan protes yang di lakukan oleh sang istri padanya.


Pada akhirnya, Fayra membiarkan sang suami melakukan, apa yang ingin ia lakukan.


"Nah, sudah siap." ujar Arfan saat dirinya telah usai memakaikan syal pada sang istri.


"Terima kasih, Mas ...!"


"Tidak perlu, Sayang. Ini memang tugas suami untuk istrinya. Jadi, kamu tidak harus berterima kasih, ya?" Arfan pun memeluk sejenak tubuh sang istri dalam dekapannya.


Nadhifa yang melihat kelakuan si Mas nya. Membuat gadis itu berdehem cukup kuat.


"Ekhemmm ... mendadak atmosfer di sini menjadi panas, ya?" selorohnya sembari mengejek si Mas dan kakak iparnya.


Semua orang pun ikut tersenyum mendengar celotehan gadis yang satu itu.


"Nad ... kamu ini," seloroh Sanah yang sedikit menyenggol lengan anak gadisnya.


"Bu'e ...." Terlihat wajah Nadhifa hendak melancarkan aksi protes. Tapi, buru-buru tujuannya itu teralihkan. Sebab, ada seseorang yang sekarang menjadi atensi banyak pasang mata saat ini.


Suara-suara keluh kesah dari mulut Hamas, membuat semua orang memandang ke arahnya. Hamas yang tengah menggigil hebat, tak khayal membuat semua orang panik dalam waktu sekejap saja.


"Mas ... coba lihat, tuh! Si Hamas kenapa dia, Mas?" tunjuk Fayra ke arah Hamas yang sudah berjongkok menahan hawa dingin yang teramat hebat.


Tak ingin meninggalkan sang istri demi seorang Hamas. Arfan lebih memilih menjerit meminta penjelasan pada Hamas yang tengah meringkuk kedinginan.


"Ham ... kamu ngapain jongkok begitu? Cari koin perak, ya?" ledek Arfan yang tak menganggap serius keadaan Hamas saat ini.


"Bu-bukan, Pak! Sa-saya ... uuuuuwwww ... uuuuuhhh ...." Hamas tak dapat lagi berkata-kata selain mendengungkan suara rintihan kedinginan yang ia rasakan.


Melihat Hamas yang hampir saja membeku bak bongkahan batu es balok. Membuat Adiwangsa lekas bertindak dengan sangat sigap.


"Sekarang, lebih baik kita langsung pergi ke hotel saja. Pasti bukan hanya Hamas saja yang merasa kedinginan di sini. Yang lain juga sama, 'kan?"


"Ayo, buruan masuk ke mobil!" tambah Adiwangsa lagi memerintahkan semuanya untuk masuk ke dalam mobil jemputan masing-masing.


...*****...


Savina masih belum mengetahui bahwa, keluarganya datang hari ini ke Kanada. Gadis itu lebih memilih untuk tetap berdiam diri di kampus saja. Walaupun, tak ada lagi kegiatan di kampus. Tapi, ia tetap merasa anteng seharian di sana.


Berteman 'kan dengan setumpuk kertas-kertas yang berisi coretan tangannya sendiri. Savina jadi teringat akan Hamas yang memberikan kado sebuah bolpoin padanya.


Bolpoin berwarna hitam itu, kini bertengger dalam lingkaran dekapan jari-jemarinya. Pikiran Savina pun melayang kembali ke masa itu. Masa di mana kejadian lucu penuh emosi yang Savina rasakan terhadap kelakuan Hamas.


"Kalau di pikir-pikir, tuh orang ... lucu juga, ya? Ah, ... sebel! Kenapa aku jadi malah mikirin tuh orang gak jelas, sih?! Udah mau sore. Sebaiknya, aku pulang sekarang, deh! Takutnya, udara dingin ini akan berlanjut sampai nanti malam." Savina pun membereskan semua barang-barangnya. Lalu, ia pun memutuskan untuk segera pulang.


...*****...


Hotel ....

__ADS_1


Hotel berbintang selalu akan memberikan pelayanan yang amat memuaskan. Sekarang semua orang tidak lagi merasakan kedinginan.


Raynar menerima usulan dari papanya, yang menyarankan ia untuk tinggal satu kamar dengan Hamas.


Walaupun, itu tidak serta merta bisa di terimanya dengan mudah. Tapi, syukurlah ia bisa menerima penjelasan Arfan yang mendukung ide dari papa mertuanya itu.


Dalam sebuah kamar megah itu, Hamas tidur dengan nyamannya. Ia bagaikan seorang pangeran yang tengah terlelap dalam tidur tampannya.


Tapi, kebahagiaan itu tidak dapat berlangsung lama. Sebab, seorang raja penguasa tahta telah mengguncangkan dunia fantasi si pangeran halu saat ini.


"Woy ... bangun kamu, Ham ...! Jangan, sampai ini sepatu mendarat sempurna di pipimu, ya!" hardik Raynar dengan ancaman tak berperikemanusiaan, pada bawahan yang tengah meringkuk kedinginan.


"Tapi, Pak ... saya--" ucapan Hamas tercekat, karena dengan cepatnya satu jaket tebal melesat dan mendarat sempurna di atas kepala Hamas. Sehingga, jaket itu pun telah sukses membungkus wajah tampan Hamas tanpa cela.


"Aduh ... apa-apaan, sih ini?! Kenapa nasibku teramat sial seperti ini, coba? Yaa ... Allah! Apa salah dan dosa hamba Mu yang tampan ini? Kenapa selalu saja di bully?" rintihan hati Hamas, yang sudah tidak tahan lagi dengan semua kejahilan sang atasannya. Ia menganggap si atasan tak berbudi pekerti sama sekali.


"Nah, itu baru benar." Raynar cekikikan melihat separuh tubuh Hamas terbungkus jaket miliknya yang ia lemparkan tadi.


"Eh, kamu jadikan ... membeli kado itu untuk adikku Savina?" Entah mengapa, pertanyaan Raynar itu membuat Hamas penasaran akan satu hal.


Dalam hati Hamas bermonolog ria, "Apakah aku harus membelikan kado untuk adiknya? Dasar aneh! Seharusnya, dia yang membelikan adiknya kado! Bukan aku."


"Hamas ... kamu dengar saya, gak, sih?!" tambah Raynar lagi setengah menjerit.


"Iya, Pak. Saya beli, kok." ucap Hamas lemas.


Raynar tidak lagi bisa duduk pada sofa di kamar itu. Ia lekas berjalan dan mendaratkan bokong di bibir ranjang. Kemudian, ia buka jaket miliknya yang membungkus wajah tampan Hamas.


"Ada di mana kado mu itu, hmm?" tanya Raynar yang membuat ekspresi bingung pun tercipta pada wajah tampan Hamas.


"Memangnya, mau di berikan sekarang, Pak? Bukannya--"


"Se-sebentar. Saya ambilkan dulu di dalam koper."


...*****...


"Mas, esok hari semoga cuacanya tidak sedingin ini, ya?"


"Iya, Sayang. Aamiin ya rabbal alamin," kata Arfan menanggapi doa sang istri padanya.


"Sebaiknya, kita hubungi kak Savina, Mas. Biar kita bisa makan malam bersamanya malam ini. Sekaligus mendoakan untuk kesuksesannya esok hari," saran Fayra pada suaminya.


"Kalau begitu kamu saja yang menghubungi mbak Savina, ya! Mas akan menghubungi yang lainnya untuk berkumpul makan malam bersama. Oh, ya? Kamu mau kita makan malamnya di mana?"


"Apa, Mas punya rekomendasi, gak?"


"Ada, sih. Tempat itu juga jadi tempat favorit di sini. Kalau begitu, apa kita makan di sana saja, hmm?"


"Ide bagus, Mas. Aku akan hubungi kak Savina sekarang, ya?"


"Iya, Mas juga mau hubungi yang lainnya juga."


Pasangan suami istri itu sibuk menelpon untuk mengadakan makan malam bersama malam ini.


...*****...


Ketika semua orang telah berkumpul di tempat yang sudah di janjikan. Termasuk juga Savina yang sudah hadir di sana. Satu orang yang menjadi pusat perhatian saat ini.

__ADS_1


"Nad, kamu bisa tidak jangan bersikap seperti itu, hmm?" ucap Sanah berbisik-bisik pada putrinya.


"Lah, memangnya salah Nad apa, Bu'e? Nad, ndak salah apa-apa, kok. Kenapa, Bu'e selalu ... saja menyalahkan, Nad, sih?! Sumpah ... Nad, ndak paham sama sekali sama jalan pikiran kalian semua!" sentak Nadhifa yang merasa dirinya terpojokkan saat ini.


Pasalnya, Nadhifa barusan bersendawa tanpa sengaja. Dan itu di nilai kurang sopan, bukan? Apalagi ... Nadhifa itu adalah seorang wanita. Jadi, wajar bila Sanah sedikit menegur kelakuan anaknya tersebut.


"Bu Sanah, sudah. Tidak perlu di ributkan lagi masalah ini, ya!" saran Hazna yang kasihan juga melihat Nadhifa di tegur seperti itu.


"Iya, baiklah, Bu." ucap Sanah yang menyunggingkan senyuman pada semuanya.


Makan malam itu berlangsung khidmat. Tapi, netra Arfan sejak tadi selalu saja memperhatikan gelagat mencurigakan pada kakak iparnya dan juga pada si asisten pribadinya.


"Mereka kenapa terlihat sangat gugup seperti itu?" bisik hati Arfan saat menangkap sebuah adegan langka di hadapannya.


"Mas, kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Ayo, di makan lagi makanannya, ya!"


...*****...


Tibalah hari yang di tunggu-tunggu oleh para mahasiswa dan mahasiswi selama ini. Mereka semua berpakaian rapi dan tampak sangat tampan dan cantik sekali hari ini.


Savina juga telah memakai toga wisudanya. Ia tampak sangat cantik dengan polesan make-up yang natural.


"Semangat, Sayang! Semoga, hari ini semuanya berjalan dengan lancar, ya!"


"Aamiin ... makasih banyak, ya, Ma!" ucap Savina sambil memeluk erat tubuh ramping ibunya.


Kecupan hangat pun Savina dapatkan dari mama dan papanya. Sebelum ia naik ke atas panggung untuk menerima gelar sarjananya.


Semua orang yang hadir pada hari ini menjadi saksi atas keberhasilan Savina Maheswara selama ini. Ada tangis dan tawa yang mewarnai kebahagiaan hari ini.


Tibalah sesi pemotretan yang di tunggu-tunggu semua orang tentunya. Dan di saat itu pulalah, Raynar memancing Hamas untuk memberikan kado istimewa yang telah di persiapkan pria itu untuk adiknya.


"Ham, ayo ... berikan kado mu pada adikku!" serunya yang membuat Hamas melongo.


"Sekarang, Ham!" tambah Raynar lagi.


Semua atensi mengarah pada Hamas saat ini. Sehingga, pria itu menjadi lemas seketika. Kaki-kakinya seakan tak dapat digerakkan sama sekali.


"Ham, apa kamu baik-baik saja, hah?" tanya Arfan dengan raut wajahnya yang agak cemas pada Hamas.


"Sa-saya, baik-baik saja, kok, Pak." balasnya gugup tak bisa terkendalikan sama sekali.


Betapa terkejutnya semua orang, ketika Hamas mengeluarkan hadiahnya untuk Savina.


"A-apa yang ... terjadi?" ucap Fayra tak percaya pada indra penglihatannya saat ini.


Tak hanya Fayra, melainkan semua orang yang ikut menyaksikan hal itu juga di buat terperangah dalam kurun waktu satu detik saja.


"Wah ... ayolah ...! Kenapa aku juga harus menyaksikan ini, sih?!" keluh Nadhifa yang merasa tak suka pada situasi saat ini.


Kalau saja Nadhifa bisa berlari. Sudah pasti gadis itu akan berlari secepat mungkin mencari jalan keluar dari tempat itu.


Kira-kira kado apa, sih sampai membuat semua orang terperangah seperti itu?


Apakah Hamas memberikan sebuah berlian?

__ADS_1


Ahahaha ... sepertinya tidak, Kawan!


...*****...


__ADS_2