
Lelah, letih dan rasa pegal itu hilang ketika Arfan terbangun dari tidurnya. Cukup lama ia tidur mengistirahatkan tubuhnya yang lemah. Tak jauh berbeda dengan Hamas, pemuda itu juga telah terjaga dari tidurnya yang lelap.
"Pak, apa saya tidur terlalu lama? Maafkan saya, Pak! Saya benar-benar minta maaf, Pak!"
"Tidak apa-apa, Ham. Saya juga baru bangun, kok. Kalau kamu mau tidur lagi, silakan. Tapi, saya mau bangun untuk shalat. Sepertinya, waktu shalat telah tiba,"
"Ya, Pak. Saya juga mau bangun untuk shalat." sahut Hamas pula.
Mereka pun melaksanakan shalat bersama.
...*****...
Seusai shalat, Arfan melihat banyaknya panggilan masuk ke ponselnya. Netranya pun sedikit melotot melihat begitu gigihnya sang istri menghubungi dirinya.
"Fay, maafin aku! Aku ketiduran karena lelah. Ternyata sudah sebanyak ini panggilan tak terjawab dari kamu." sesalnya.
Lalu, Arfan segera menghubungi sang istri tercintanya.
Tut ... tut ... tut ....
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, Fay! Kamu dimana?"
"Aku di rumah. Tadi aku ke rumah sakit Mas. Alhamdulillah, kandungan ku baik-baik, aja. Tapi, ada satu hal yang membuat aku sedih, Mas. Hiks ...,"
"Ada apa, hmmm? Apa yang membuat kamu bersedih?"
"Ini tentang kak Raynar, Mas. Apa mas tahu kalau kak Raynar bekerja di rumah sakit sebagai seorang cleaning servis, Mas?"
"Iya, Mas udah tahu. Maaf, mas belum sempat cerita ke kamu," ujar Arfan menyesal.
"Iya, nggak apa-apa, kok, Mas. Oh, ya. Mas kalau ketemu sama kak Savina tolong surat yang aku titipkan itu berikan padanya, ya?"
"Iya, nanti setelah pertemuan mas dengan rekan bisnis mas selesai. Mas akan langsung cari kak Savina, ya?"
"Ya, Mas. Mas udah makan malam?"
"Belum, ini mau cari makan. Jaga kesehatannya, ya! Mas nggak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa,"
"Ya, Mas. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam!"
Setelah panggilan telepon mereka usai, Arfan berniat mengajak Hamas untuk makan malam.
"Ham, kita cari makan, yuk?!" ajaknya yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Baik, Pak!"
...*****...
Edmonton adalah ibu kota provinsi Alberta, Kanada. Kadang-kadang disebut Gerbang Kanada ke Utara. Edmonton adalah utara terjauh dari kota-kota besar Kanada.
Nanton adalah sebuah kota di Alberta selatan, dengan jalan utama yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan bersejarah yang indah. Antique & Art Walk of Alberta terjadi di sepanjang jalan ini, karena butiknya menjual semuanya mulai dari karya seni, pakaian, hingga koleksi.
__ADS_1
Dan di sinilah Arfan bersama Hamas, menghabiskan waktu mereka untuk menjalin hubungan kerjasama bersama rekan bisnisnya.
Cuaca yang cukup ekstrim membuat Arfan dan Hamas semakin bersemangat. Apalagi, ini adalah kali pertama pertemuan mereka dengan rekan bisnis nan jauh.
"Pak, apakah perlu saya belikan sweater untuk bapak? Sepertinya, udara malam ini cukup dingin sekali, Pak," tukas Hamas, sembari menggosok-gosokkan tangannya karena menahan rasa dingin yang menusuk tulang.
"Sepertinya, bukan hanya untuk saya saja. Melainkan, untuk kamu juga Ham. Ya, udah. Mumpung di sini ada yang menjualnya. Silakan kamu beli sekarang. Saya akan menunggu di dalam kafe itu," tunjuk Arfan ke salah satu sudut tempat yang di maksudnya barusan.
"Baik, Pak! Saya akan segera menyusul bapak nanti,"
"Hem, hati-hati!" Arfan pun melangkah masuk ke dalam kafe tersebut.
Tap ... tap ... tap ....
Langkah Arfan pun terhenti dan mengambil posisi duduk sempurna, di salah satu sudut di kafe itu.
Tak jauh dari tempat duduk Arfan berada, seorang pria berwajah tampan dengan penampilannya yang menawan, telah bertengger manis di seberang sana bersama seorang gadis.
Lama netra Arfan melihat ke arah mereka. Rupanya, Arfan memang sangatlah mengenal wajah cantik yang tengah duduk berdua dengan seorang pria.
"Loh, bukankah itu ...."
...*****...
Pondok pesantren ...
Telah nampak nyata usaha yang di tunjukkan Jodi Prakash pada ustadzah Maira Nadira. Tak hanya sekali dua kali, Jodi terus datang ke pesantren dengan beragam alibi pula tentunya.
Dan pada malam ini, Jodi pun di minta untuk menemui langsung ayah dari wanita pujaan yang di idam-idamkan olehnya.
"Assamu'alaikum, Pak Kyai!" ucap santun salam yang keluar dari bibir merona Jodi.
"Wa'alaikumsalam!" sambut salam pula oleh Abdul Malik.
"Silakan duduk! Ummi ... minta Maira untuk membuat segelas teh hangat. Sepertinya, pemuda ini kedinginan,"
"Iya, Abi. Ummi akan sampaikan pada Maira." Halimah pun tegak berdiri meninggalkan kedua pria berbeda generasi tersebut.
"Baik, saya tidak akan berbelit-belit. Saya hanya ingin bertanya. Sebelum ini, apa kamu juga datang ke mari?"
"Iya, Pak Kyai. Saya memang sudah berulang kali datang ke pesantren ini," terang Jodi dengan gagah berani.
"Sebenarnya, apa maksud dan tujuan Ananda ke mari?"
"Saya hendak menuntut ilmu, Pak Kyai. Tapi, sebelum itu saya ingin melihat-lihat terlebih dahulu. Itulah mengapa saya sering bolak-balik ke mari, Pak Kyai. Maaf, bila saya membuat, Pak Kyai dan yang lainnya menjadi cemas dan resah!" ucap sungguh-sungguh seorang Jodi.
"Lalu, selain menuntut ilmu. Apa lagi yang ingin kamu tuntut di sini?" tanya Abdul Malik menyelidik.
Bersamaan dengan pertanyaan Abdul Malik di lontarkan. Pada saat itu Maira pun datang dengan membawa nampan. Nampan yang berisi segelas minuman.
"Silakan di minum!" Maira hanya tertunduk, tanpa memalingkan pandangan mata dari memandang lantai keramik rumahnya.
Adegan di mana Maira datang dan Jodi pun lekas memandang. Membuat Abdul Malik yakin akan praduga yang bercokol di benak kepala.
"Ehemmm ...! Maira?"
__ADS_1
"Ya, Abi," sahut lembut gadis cantik dengan wajah teduhnya.
Lalu, Jodi pun beringsut sedikit ke belakang. Ia merasa sedikit bersalah. Sebab, matanya telah berbuat hal yang tak sepatutnya pada Maira.
"Apakah kamu mengenal pemuda ini?" lanjut tanya sang ayah pada putrinya.
"Maaf, Abi! Ra, tidak terlalu mengenalnya. Akan tetapi, kami memang sempat bertemu beberapa kali sebelum ini,"
"Maksud mu apa, Nduk?"
"Ya, waktu pernikahan mas Arfan dan Fayra. Setelah itu, ketika Ra dan ummi ke rumah sakit, Abi." Maira pun telah mengatakan dengan sejujurnya pada sang ayah.
"Apa benar begitu, Ananda Jodi?" kini, giliran Jodi yang di beber dengan pertanyaan yang serupa.
"Iya, itu semua benar, Pak Kyai. Kami memang sempat bertemu beberapa kali sebelum akhirnya saya bertanya-tanya pada Maira tentang ilmu agama."
Hening!
"Jadi, kalian sudah seakrab itu?" tanya Abdul Malik dengan sedikit bernada tegas.
"Waktu itu, Ra pernah menghubungi mas Jodi, Abi. Tapi, itu semua Ra lakukan sebab ada santri yang mengalami kejang-kejang. Dan kebetulan pada saat itu Abi dan Ummi memang tidak ada di rumah." terang Maira apa adanya.
📜 Flashback On 📜
"Ustadzah, Zamri badannya panas dan dia kejang-kejang, Ustadzah!" lapor salah satu santri pada ustadzah Maira Nadira.
"Tunggu sebentar, ya! Ustadzah akan meminta bantuan seseorang dulu. Jadi, kalian temani Zamri dulu, ya!" Maira mulai panik dan mencari kontak seseorang di ponselnya. Tapi, nihil!
Selama ini, Maira kurang bergaul dan ia juga tidak pernah meminta nomor ponsel siapapun. Jadi, tentu saja tak ada siapapun yang bisa ia mintai pertolongan.
"Aduh, aku mau minta tolong pada siapa lagi, ya?"
Kemudian, Maira teringat akan kekonyolan Jodi Prakash padanya ketika ia di rumah sakit waktu itu.
Lalu, ia pun menghubungi kontak Jodi dan meminta bantuan Jodi. Sejak saat itu, Jodi jadi sering berkunjung untuk mengecek kondisi santri yang pernah ia tolong waktu itu.
📜 Flashback Off 📜
Setelah memahami duduk perkaranya, barulah Abdul Malik bisa menyimpulkan pemikirannya.
"Ananda Jodi, apakah benar Ananda datang ke mari murni hanya untuk menuntut ilmu?" kembali, Abdul Malik mencecar Jodi.
"Wah, berat! Ini sungguh gawat! Apa aku harus mengakui niat di hati detik ini? Atau ... aku harus sabar menanti waktu yang tepat lain kali?" Bukannya menjawab, Jodi malah asyik sendiri berbisik-bisik lirih di dalam hati.
Alhasil, Abdul Malik menjadi sedikit kesal menanti. Jangan di tanya lagi! Bagaimana raut wajah Jodi saat ini. Sudah pasti ia amat sangat tegang sekali. Sebab, ini adalah kali pertama dalam hidupnya melakukan hal ini.
Jodi, kau sungguh nekat sekali!
Semoga berhasil Jodi Prakash!
Agar kamu segera terlepas dan terbebas dari bayang-bayang Fayra yang sudah menikah. Bukankah, tak baik bila mencintai seseorang yang memang, bukan ditakdirkan untuk kita?!
Justru, melangkah maju dan mencari cinta yang halal lainnya jauh lebih Allah sukai dan cintai. Ketimbang tetap bertahan pada perasaan yang salah dan menyimpang!
...*****...
__ADS_1