
Clarissa lama-lama mulai merasa jengah dan lelah. Raynar agaknya curhat sudah terlampau parah. Terlihat sekali wajah Clarissa sudah mulai tampak gelisah. Ia mengedarkan pandangan matanya kemana-mana.
Tak tahan lagi duduk di samping Raynar yang masih asyik mencurahkan isi hatinya. Clarissa bangkit, ia mulai berdiri dengan sorot mata tajam, ia arahkan pada pemuda tampan yang tak tahu aturan.
Tangannya bersedekap dan mulai bersiap-siap melontarkan kata-kata pedas nan lugas.
"Ehemmm ...! Mas ... Mas ...?" ucap Clarissa dan Raynar pun memandangnya.
"Ya?"
"Mau sampai kapan, hmmm? Apa Mas pikir tugas saya hanyalah mendengar, meratapi, meresapi dan hanya duduk manis di sebelah mu, hah?! Oh, maaf! Pekerjaan saya jauh lebih penting ketimbang saya harus terus duduk di sini selama satu jam. Dan itu ... cuma demi mendengar ocehan dan keluhan hidupmu, begitu?! Sorry, ya, Mas ... saya tidak minat sama sekali. Jadi, saya sarankan cari orang lain saja, ya! Maaf, saya sangat sibuk!!! Permisi!" Tanpa menunggu perizinan dari sang Casanova gagal, Clarissa pun pergi karena ia sudah muak.
"Loh ... loh ... loh ...! Kok, tuh cewek matre pergi, sih?! Lah, ini gimana ceritanya, coba?" Raynar meraup wajahnya gusar.
"Mbak ...! Mbak Manis ...! Tunggu, Mbak ...!" teriaknya berulang-ulang kali.
Tentu saja teriakan Raynar, mengalihkan atensi semua orang di sana ke arah dirinya dan Clarissa yang sudah berlalu lebih dulu.
Saat kejadian kejar mengejar itu berlangsung, kedua sahabatnya datang mencegat Raynar.
"Mbak Manis ...! Mbak ...!" Raynar masih saja berteriak, walaupun sahabatnya telah datang bertandang.
"Eh, eh, eh ...! Mau kemana, Lho, hmmm? Kita ada berita no hoax, no tipu-tipu dan yang pasti ini bakalan seru!" ujar Robby Danuarta dengan gaya alay super lebay.
"Lho berdua dengar, ya! Nggak, ada yang lebih seru daripada mengejar cewek bidadari impian gue. Paham, nggak, Lho?!" bentak Raynar yang masih menggebu-gebu untuk mengejar Clarissa, yang sudah keluar dari rumah sakit.
"Ray ...! Please ... dengerin kita dululah! Ini itu berita penting! Penting banget malah. Ini menyangkut masalah masa depan, Lho Raynar Ravindra Maheswara!!!" kini giliran Jodi Prakash yang angkat bicara.
Raynar pun akhirnya terdiam dan mulai sedikit tenang.
"Ada apaan, sih? Heboh bener kalian berdua," celetuknya tak berselera.
"Nih, Lho lihat sendiri berita terkini tentang perubahan kepemimpinan perusahaan Pak Presiden, Lho!" Robby menyodorkan benda pipih nan super canggih.
Netra Raynar mulai menelusuri setiap kata demi kata, yang ia yakini hasilnya bukanlah dirinya.
Seakan telah bisa memahami isi kepala sang papa. Raynar lebih memilih bersikap tenang dan mengikuti arus yang ada saat ini. Ia tak ingin lagi meributkan sesuatu hal yang mungkin, bukanlah untuk dirinya.
Raynar mendudukkan bokongnya pada salah satu kursi tunggu. Dia terhenyak, ia sungguh sadar bahwa dirinya memang tidak layak. Mengingat semua kenangan buruk di masa silam. Hati Raynar kembali bagaikan tersayat bambu yang runcing.
Perih!
Pedih!
Sedih!
__ADS_1
Tiga rasa yang tak dapat ia hilangkan, walaupun ia tak pernah lagi melakukan hal yang sama seperti dulu. Tapi, ... bekas itu masih lagi belum memudar. Apalagi untuk menghilang! Itu sungguh sulit, Kawan!
"Ray, Lho mau kemana?" tanya Jodi dan Robby bersamaan.
"Kembali kerja," jawabnya lesu seakan tak bertenaga.
"Yakin, Lho?!" pekik Robby Danuarta.
"Iya, gue yakin, kok. Udah ... pada balik Lho semua! Gue mau menjalankan tugas negara, nih! Dah ...!" kelakar Raynar dengan langkah kaki yang gontai dan rapuh, bahkan ia sempat ingin terjatuh.
Jodi dan Robby saling tatap menatap satu sama lain. Mereka cukup terperangah, seakan sahabat mereka yang dulu telah tiada!
"Dia kenapa, sih?!" sungut Robby pada Jodi.
"Ya, nggak tahu!" Jodi mengedikkan bahunya.
Di tengah-tengah perbincangan Robby dan Jodi, ustadzah Maira melintas tepat di samping Jodi. Wanita shalihah itu di dampingi oleh uminya yang terlihat tak sedang baik-baik saja.
"Umi ...! Ra, pergi ke toilet dulu, ya! Nanti, setelah Umi selesai mendaftarnya, Ra menyusul,"
"Iya, Nak. Umi akan tunggu kamu. Hati-hati, Nak!" pesan Halimah pada putri shalihah nya itu.
Netra Jodi tak lagi bisa ia kendalikan, suara dan aroma tubuh Maira Nadira, seakan-akan telah menghipnotis dirinya untuk mengikuti gadis cantik nan baik itu, dengan penuh kehati-hatian.
"Oh, halo, Sayang ...." ucap Robby yang mulai menjauh meninggalkan Jodi.
"Nggak ada salahnya gue ikutin tuh, cewek. Kalau nggak salah ingat, dia itu yang pernah gue lihat di pernikahannya ... Fayra." batin Jodi bergumam.
Perlahan-lahan tapi pasti, Jodi mulai mengikuti Maira Nadira. Tentu saja hal itu tak mungkin di ketahui oleh gadis berhijab tersebut.
...*****...
Di kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Adiwangsa tengah berkumpul dengan istri dan besannya. Sepertinya, mereka semua terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Bagaimana keadaannya, Bu Sanah? Apakah sudah enak, 'kan?" tanya Hazna penuh perhatian dan kental dengan aura kelembutannya.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Bu!" sahut Sanah dengan tata krama yang serupa.
"Bu, tolong maafkan saya, ya! Saya meminta Arfan dan Fayra untuk pergi bekerja di hari pertama mereka, yang mulai memasuki fase hidup berumah tangga," ujar Adiwangsa dengan ekspresi wajah yang bersalah.
"Ndak, apa-apa, Pak! Tugas suami itu memang mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya nanti," balas Sanah yang lebih tak enak hati. Sebab, ia tahu betul bahwa anaknya tak berpenghasilan tinggi.
"Tapi, tenang saja, Bu! Jika, nanti Arfan telah bisa memegang kendali penuh atas perusahaan saya yang mana pun itu. Saya akan memberikan kebebasan bagi Arfan dan Fayra untuk berlibur kemana saja yang mereka mau, Bu." ucap Adiwangsa dengan tulus tanpa ada maksud tertentu.
__ADS_1
"Masya Allah! Benarkah, Pak? Tapi, anak saya itu bukan sarjana lulusan S2, Pak. Dia juga hanya bisa mengolah kayu menjadi bangku, meja dan sebagainya. Lah, kalau di suruh mimpin perusahaan, apa iya anak saya pantas, Pak?" ucap Sanah merasa tak percaya diri atas kemampuan anaknya.
Adiwangsa tersenyum, dia kemudian berkata, "Bu, Arfan menantu saya sekarang. Jadi, dia pantas untuk memimpin perusahaan saya yang manapun dia inginkan. Ibu tidak perlu khawatir! Saya yakin pada kualitas menantu saya itu." Adiwangsa menyeruput secangkir teh herbal buatan sang istri tercintanya.
Dari atas, Savina mendengar semuanya. Perbincangan hangat yang tengah berlangsung di bawah sana.
"Arfan dan Fayra. Semua orang di rumah ini hanya fokus pada kebahagiaan mereka saja! Benar-benar tidak adil!" gumam Savina yang sudah bersiap dengan kopernya.
Gadis cantik itu pun turun dengan hentakan kaki, yang cukup mengalihkan atensi semua orang padanya.
Tak ... tak ... tak ....
"Savina, kamu mau kemana, Sayang?" tanya Hazna yang sudah menoleh ke arah sang putri.
"Mau balik lagi ke tempat di mana aku di terlantarkan!" sarkasnya dengan penuh penekanan.
"Savina ...! Tunggu dulu! Jangan buru-buru balik ke luar negeri. Mama masih ingin kamu tetap di sini, Nak. Tidak bisakah kamu tinggal barang sebentar lagi, hmmm?" bujuk Hazna yang sudah berada tepat di samping putri tertuanya.
Tanpa menoleh, tanpa ragu-ragu Savina tetap kekeuh untuk pergi.
"Lepaskan, Ma! Aku tidak ingin lama-lama berada di sini. Itu sama artinya aku membuat nafasku semakin sesak saja. Tidak! Aku tidak akan berada di sisi kalian. Sama seperti kalian telah membuang kak Raynar. Biarlah aku juga kembali ke habitat ku. Yang pasti! Tempat itu bukanlah di rumah ini." Savina telah mengeluarkan segala unek-unek, yang telah lama bersarang di dalam dadanya.
"Hiks ... tidak, Nak! Mama tidak pernah ingin mengusir anak-anak mama dari rumah, Nak! Tolong ... kamu percaya pada ucapan mamamu ini, Nak!" pinta sekaligus harap Hazna pada Savina.
Dari kejauhan ada tiga orang yang sedang menatap gelagat Hazna dan Savina. Mereka adalah Adiwangsa, Sanah dan Nadhifa. Kebetulan, hari ini Nadhifa tidak ada jam kuliah. Sebab, sudah memasuki tahap senggang. Jadi, dia hanya perlu mengerjakan tugas kuliah di rumah saja.
"Biarkan dia pergi, Istriku! Biarkan dia menjernihkan pikiran dan hatinya. Nanti, dia juga akan kembali lagi setelah urusannya di sana telah selesai," ucap tegas Adiwangsa, tanpa mematahkan keputusan ataupun menghentikan langkah Savina. Justru, ia malah amat mendukung keputusan putri tertuanya itu.
Tentu saja hal itu telah ia pikirkan matang-matang!
Tidak akan pernah ada yang tahu isi dari kepala seorang Adiwangsa Maheswara!
Sebab, ia terlalu rapi menyembunyikan apapun yang dia rasakan selama ini. Begitulah, ia menjalani perannya sebagai suami maupun seorang ayah untuk anak-anaknya.
...*****...
Di Bandara ...
University of Alberta di Kanada. Itulah satu-satunya tempat yang ingin di datangi oleh Savina. Setelah semua urusannya di sana selesai, dia akan mencoba untuk hidup mandiri. Ia sekarang benar-benar sudah muak dengan sikap sang ayah, yang memang bagaikan seorang Presiden di rumahnya.
Semua peraturan konyol menurut Savina, hal itu hanya berlaku bagi dirinya dan sang kakak saja. Tapi, tidak untuk Fayra.
"Selamat tinggal tanah air tercinta! Aku tidak tahu, akankah aku kembali ke sini ataukah aku akan menetap di negeri orang untuk selamanya. Entahlah! Biarkan waktu yang akan menjawab tanya itu!" batinnya bergulat dengan rasa pilu yang mendalam.
...*****...
__ADS_1