CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Resmi


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan sang kakak ipar. Arfan bergegas untuk pulang, dia sangat tidak sabar untuk segera memberitahukan hal ini pada istrinya Fayra.


"Alhamdulillah, hari ini bisa aku lalui dengan sangat baik. Mudah-mudahan, ke depannya bisa lebih baik lagi. Aamiin ya rabbal alamin!"


Sepeninggalan Arfan, Raynar mengatur segala rencana yang ada di kepalanya saat ini. Pertama, ia menghubungi Jodi Prakash. Kedua, dia menghubungi Robby Danuarta. Setelah ke dua sahabatnya ia hubungi dan di mintanya untuk datang ke rumah sakit segera.


Sebelum kedua sahabatnya datang, Raynar menyempatkan dirinya, mengunjungi kamar rawat ibu dari Clarissa Anastasya. Di saat Clarissa sedang tidak ada di sisi ibunya.


Tempat tidur yang saat ini menampung tubuh lemah seorang Nafisah Anastasya. Ya, wanita itu adalah ibu yang paling di sayangi oleh Clarissa Anastasya. Entah apa maksud Raynar menemui wanita lemah tak berdaya itu saat ini.


Yang pasti, Raynar tak berniat jahat!


"Tunggu sampai aku benar-benar menjadi manusia yang bijaksana. Aku akan berusaha membahagiakan putrimu, wahai calon ibu mertua!" gumam Raynar dalam diamnya saat ini.


Pria tampan nan rupawan itu, tengah berdiri kokoh di samping tempat tidur pasien yang tak sadarkan diri selama ini.


Raynar telah menyampaikan sesuatu yang mendesak di dalam dadanya. Setelah itu, ia pun hendak beranjak keluar dari kamar rawat tersebut. Tak di sangka, sang anak dari pasien lemah tak berdaya itu, ternyata menyaksikan kehadiran dirinya di ruang ICU ibunya.


"Ka, kamu?! Ngapain, kamu di sini, Mas tukang curhat!" tanya Clarissa yang sedikit membuat Raynar tergelak.


"Tidak apa-apa! Hanya ingin saja. Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi!"


"Eh, tunggu dulu ...! Enak saja mau main pergi begitu, aja! Saya belum selesai, Mas sok cool ...! Bisa bicara sebentar?"


"Katakanlah!" ucap Raynar tanpa berbalik badan.


Justru, Clarissa yang membalikkan badannya untuk menatap punggung gagah dari seorang Raynar Ravindra Maheswara.


Gadis itu mulai membuka dialognya lagi, pada si mas yang telah banyak diberinya julukan.


"Mas, jangan bilang kalau kamu ke sini ... mau mencelakai ibu saya, ya?! Iya?! Apa benar begitu, Mas?! Oh ... apa karena saya tiba-tiba muak dengan ocehan-ocehan tidak jelas Mas waktu itu, ya? Makanya ...," ucapan Clarissa tertahan.


"Stop!!! Jangan pernah menuduh sesuatu yang tidak kamu pernah ketahui kebenarannya, Mbak Manis! Sudah, ya! Saya masih banyak urusan. Lain kali, kita akan berdebat lagi." ucap Raynar amat percaya diri.


Tubuh Raynar pun telah hilang sepenuhnya dari balik daun pintu. Sementara, Clarissa hanya bisa berdecak sebal pada pria tampan yang membuatnya kesal.


"Ck, keterlaluan! Sebaiknya, aku cek kondisi bunda. Siapa tahu, dia menaruh sesuatu pada tempat tidur bunda." lekas Clarissa membawa dirinya untuk mendekati sang ibu.


...*****...


Jodi dan Robby telah tiba di rumah sakit dengan membawa lengkap, apa saja yang Raynar minta pada mereka tadi di telpon.


"Hai, Bro! Lho dari mana, aja, hah?! Kita cariin juga dari tadi," celetuk tak sabaran Robby, ketika melihat wajah tampan sang Casanova yang hilang pamornya 'tuk saat ini.


"Udah, nggak penting lho tahu gue dari mana! Gimana? Barang-barang yang gue minta tadi udah lengkap semua belum?" tanya Raynar menuntut.


"Iya, nih udah lengkap. Coba, deh lho pakai dulu! Siapa tahu ini kekecilan atau kebesaran di badan lho. Jadi, kita bisa tukar secepatnya. Emang, lho mau ngapain, sih minta perlengkapan baju kantoran begini, hmmm?" tanya Robby terlampau kepo. Berbeda dengan Jodi Prakash yang sedari tadi, selalu saja melamun dan lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya, pria turunan Bollywood itu bersikap demikian.


Ada apa gerangan dengan Jodi?!


"Eh, di tanya malah senyum-senyum, doang, Lho! Sebel gue!" celetuk Robby yang lagi-lagi membuat suasana menjadi pecah.


Tapi, kini justru sorot mata elang sang Raynar tertuju pada sahabatnya yang satu lagi. Ketimbang menjawab pertanyaan tidak penting Robby, Raynar lebih memilih untuk bertanya pada Jodi.


"Bro ...?! Lho, kenapa, hmmm?" Raynar menepuk pundak Jodi, sehingga Jodi tersadar dari lamunannya.


"Eh, ng-nggak apa-apa, kok, Bro! Buruan lho cobain tuh baju tempur, Lho! Apapun tujuan lho, kita doakan yang terbaik, deh!" ucap Jodi menyemangati sobatnya tersebut.


"Oke, gue cobain dulu, ya! Kalian tunggu sebentar di sini! Nanti, kalau udah selesai gue kabarin ke kalian."


"Eh, jangan cuma di kabarin! Lihatin ke kita juga, dong, Bro!" tampik Robby dengan gayanya yang urakan.


"Oke, sip!"


Setelah kepergian Raynar, Jodi kembali teringat akan kejadian dirinya saat mengikuti Maira Nadira.

__ADS_1


📃 Flashback On 📃


Saat Maira tengah mencari-cari toilet di rumah sakit. Ternyata, Jodi mengikuti gadis berhijab untuk dari belakangnya. Ketika Maira masuk ke dalam toilet, dengan setia Jodi menunggu Maira keluar dari toilet.


Sesungguhnya, Jodi juga tidak mengerti! Mengapa, ia tiba-tiba berbuat demikian? Mengapa, ia tiba-tiba ingin mengenal sosok gadis yang pernah sekali, membuat jantungnya berdetak?


Sungguh, tampaknya saat ini Jodi tengah berusaha mencari jawaban dari setiap tanya, yang bergelayut manja dalam dadanya.


Netra Jodi dan Maira pun bertemu, kala gadis berhijab itu baru saja keluar dari toilet.


"Astaghfirullah hal adzim!!!" pekik Maira.


"Sssttt ...! Saya mohon! Jangan berteriak, ya?! Saya tidak hendak berbuat jahat pada mu, Mbak! Sungguh!" ucap Jodi dengan lugasnya.


"Maaf, Mas! Maaf, kalau saya lancang. Tapi, mengapa Mas datang ke depan toilet wanita? Bukankah, artinya sama saja Mas sengaja membuat saya berpikir yang bukan-bukan padamu, Mas?"


"Iya, saya tahu. Tapi, sungguh ... saya tidak berniat jahat sama sekali. Saya hanya ingin bertanya. Apakah kamu masih mengingat saya?" tanya Jodi penuh harap.


Otak Maira Nadira kembali mengingat kejadian saat, di mana hatinya amat sangat merasa sedih dan kecewa! Ya, hari di mana pernikahan Arfan dan Fayra di gelar. Pada saat itulah, dirinya bertemu dengan pria yang saat ini ada di hadapannya.


"Ya," jawab Maira singkat, padat dan akurat.


"Alhamdulillah!" Ini adalah kali pertamanya seorang Jodi merasa sangat bersyukur pada Ilahi.


"Memangnya, kenapa, Mas?"


Tanpa basa-basi, Jodi memberikan kartu namanya pada Maira Nadira.


"Ini adalah kartu nama saya! Silakan hubungi kapanpun kamu butuh bantuan dari saya. Apapun itu, saya akan berusaha untuk siap siaga!" ucap Jodi sambil tersenyum ramah dan manis sekali.


Seolah tak ingin membuat kecewa seorang Jodi Prakash. Maira dengan terpaksa menerima kartu nama milik Jodi, yang kini berada dalam genggaman tangannya.


"Jodi Prakash?" ucap pelan Maira setengah berbisik pada dirinya sendiri.


Dan setelah memberikan kartu namanya, Jodi pun lekas pergi. Sehingga, spontan gadis berhijab itu bergumam lirih, "Pria yang aneh!" ucapnya sembari tersenyum tipis.


"Hai, Bro! Kalian berdua pada kenapa, sih? Hobinya, kok, malah melamun!" celetuk Robby, yang hanya di tanggapi dengan senyum cool oleh Jodi.


Tak lama kemudian, Raynar pun keluar dengan penampilan yang amat sangat keren! Ia sudah seperti seorang CEO muda yang bermartabat mulia saja. Kedua sahabatnya pun ikut mengacungkan jempol mereka secara bersamaan. Raynar pun ikut tersenyum bahagia bersama kedua sahabatnya itu.


...*****...


Kediaman Adiwangsa Maheswara ...


Saat makan malam telah usai, Arfan di minta untuk menemui papa mertua di ruang kerjanya.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk!" titah Adiwangsa dari dalam pada Arfan.


Arfan pun masuk dengan perasaan yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Duduk, Fan!"


"Ya, Pa."


Adiwangsa mulai mengutarakan pendapatnya, mengenai penundaan Arfan atas hak CEO yang seharusnya ia emban.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu berhasil meyakinkan dia?" tanya Adiwangsa langsung pada intinya.


"Ya, Pa. Alhamdulillah, saya berhasil meyakinkan mas Raynar. Dan ... dia bersedia untuk datang ke perusahaan besok,"


"Lalu, menurut kamu dia akan melakukan hal apa di pertemuan besok?"


"Apapun yang mas Raynar putuskan, maka ... itulah yang terbaik, Pa!" jawab Arfan dengan penuh rasa percaya diri.

__ADS_1


"Baiklah, semoga saja apa yang kamu pikirkan itu benar, Menantuku!"


...*****...


Di pagi yang cerah dan penuh dengan rasa bahagia yang menyelimuti diri Arfan. Ternyata, berbanding terbalik dengan sang istri terkasih.


"Assalamualaikum, Istriku! Kenapa, pagi-pagi begini kamu terlihat lesu, hmmm?"


"Mas, tadi malam aku bermimpi buruk, Mas!"


"Mimpi seperti apa, hmmm?"


"Ini semua ada kaitannya dengan kak Savina, Mas ...! Aku takut ... aku sangat takut terjadi sesuatu padanya, Mas! Apalagi, semenjak kepergian kali ini, dia tidak pernah memberikan kabar apapun, Mas ...."


Arfan berusaha untuk membuat Fayra tenang.


"Sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, ya?! Mas tidak mau kamu sampai sakit nanti," ucap khawatir Arfan terhadap sang istri.


"Iya, Mas. Mas, bagaimana dengan posisi CEO itu? Apa ... Mas berhasil meyakinkan mas Raynar?"


"Alhamdulillah, iya aku berhasil, Fay. Doakan, hari ini semoga, semuanya lancar, ya?!"


"Iya, Mas!" Arfan pun mengecup kening sang istri yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Sementara, Arfan telah bersiap untuk ke perusahaan.


"Kalau begitu, Mas berangkat sekarang ke perusahaan, ya?"


"Iya, Mas. Maaf, aku masih belum bersiap diri untuk mengantarkan kamu, Mas,"


"Tidak apa-apa! Kamu istirahat saja lagi, kelihatannya akhir-akhir ini kamu terlihat sangat pucat. Apa kamu merasa sakit, Istriku?"


"Entahlah, Mas! Akhir-akhir ini, selera makan ku menurun dan aku mudah lelah,"


"Ya, sudah. Mas akan minta dokter untuk datang ke rumah, ya? Kamu kembalilah lagi berbaring!" Arfan pun dengan telaten menyelimuti sang istri.


...*****...


Maheswara Corp ...


Reka ulang rapat dadakan kemarin, kembali lagi tersaji hari ini. Semua orang telah menunggu-nunggu kehadiran seorang Adiwangsa Maheswara. Tentunya, juga kehadiran seorang Arfan Alhusayn.


Di tengah-tengah rapat pemindahan kekuasaan tersebut, pintu ruang kedap suara yang telah di hadiri oleh puluhan pasang mata. Sontak netra mereka beralih haluan, saat tangan kokoh seorang Raynar Ravindra Maheswara, membuka dengan gagah pintu tersebut.


Raynar pun mulai berjalan menuju ke tengah-tengah mereka semua. Arfan pun tersenyum bahagia, ketika si mas mulai bisa menerima idenya.


"Selamat pagi, semuanya! Saya Raynar Ravindra Maheswara. Hari ini, menghadiri rapat penting pengalihan pemindahan kekuasaan, atas nama Adiwangsa Maheswara yang jatuh kepada adik ipar saya yaitu ... Arfan Alhusayn! Saya selaku anak kandung dari Adiwangsa Maheswara, sama sekali tidak bisa menerima hal kti itu begitu saja." Sontak, semua orang beropini dengan alam pikirannya masing-masing.


"Tapi, hari ini saya mengizinkan adik ipar saya untuk memegang peranan penting dalam perusahaan ini. Kelak, ketika saya telah pantas. Maka, saya akan bergabung dalam perusahaan ini. Tentunya, saya harus membuat diri saya pantas terlebih dahulu. Jadi, jika ada yang tidak bisa menerima keputusan dari papa saya. Maka, kinerja kalianlah yang harus di pertanyakan! Bukan pilihan dari papa saya! Sekian rapat hari ini. Terima kasih!" Raynar pun membungkuk memberikan hormat pada semua orang yang tengah tercengang saat ini.


Semua orang pun bubar!


Adiwangsa mengulas senyum tipis akan sikap sang anak sulung, yang sudah banyak berubah. Ia semakin bangga pada perubahan sikap Raynar.


Namun, tetap saja dia tak akan mengakuinya secara gamblang. Sedangkan si adik ipar, dia hanya bisa berpasrah saja saat ini.


"Selamat, Adik Ipar! Semoga, kamu bisa memimpin perusahaan ini lebih maju lagi dari sekarang, ya! Kalau begitu, aku pamit!"


"Mas, tunggu ...! Ada yang ingin saya tanyakan padamu, Mas,"


"Jika, hal ini menyangkut dengan keputusan barusan. Tolong, jangan tanyakan lagi, Fan! Kamu memang lebih pantas untuk saat ini daripada saya, Fan. Jadi, pimpin perusahaan ini dengan kesungguhan hati!"


"Insya Allah, Mas!"


Ketika Raynar hendak pergi, Adiwangsa memanggil putra satu-satunya itu dengan tegas.

__ADS_1


"Raynar, tunggu ...!"


...*****...


__ADS_2