CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Mulai Ragu-ragu


__ADS_3

Beberapa Minggu berlalu ...


Dari sekian banyak hari yang telah di lalui, hari ini adalah hari yang paling istimewa bagi Arfan. Pasalnya, pemuda tampan dan rupawan itu akan meresmikan hubungan antara dirinya dan ustadzah Maira Nadira.


Sesuai dengan kesepakatan diantara mereka sebelumnya. Arfan pun mengajak ibu dan adiknya untuk menyambangi rumah ustadzah Maira Nadira.


Sejak sepulangnya Sanah dari rumah sakit seminggu yang lalu. Arfan selalu meminta izin pada Fayra. Agar, dia bisa melihat ibunya saat jam makan siang.


Seperti itulah setiap harinya yang di lakukan pemuda tampan tersebut. Kini, Sanah sudah bisa berbicara dengan lancar seperti sedia kala. Alhamdulillah, pemulihan Sanah terbilang cepat dan sangat baik.


Sehingga, ia telah bisa berbicara pada sang anak dengan sangat baik pula.


"Arfan, apa kamu yakin untuk tetap melanjutkan hubungan kamu dan ustadzah Maira, Nak?" tanya Sanah yang merasa bahwa akan ada hati yang terluka nantinya.


Pertanyaan yang mendadak dan tiba-tiba dari ibunya, membuat Arfan berkerut kening. Ia merasa heran akan pertanyaan dari sang bunda tercinta.


Apa masalahnya?


Sepertinya itulah yang tergambar pada wajah Arfan saat ini.


"Memangnya, kenapa, Bue? Apa yang Bue takutkan terhadap hubungan kami bila kami melanjutkannya?" tanya Arfan dengan tatapan intens dan menuntut.


Sanah merasa perlu berkata jujur saat ini juga. Sebelum nanti malam mereka akan melamar ustadzah Maira Nadira.


Tercetak jelas resah dan gelisah pada wajah sang bunda. Arfan bisa melihat itu dengan sangat jelas.


"Ada apa, Bue? Katakanlah! Jangan, ragu-ragu untuk mengatakan apa yang sedang Bue rasakan saat ini," tutur lembut Arfan bagaikan selembut kapas.


Sanah mulai memutar tubuhnya menghadap ke arah sang anak. Kemudian, bibirnya mulai terbuka dengan menyampaikan kata perkata sehingga menjadi sebuah kalimat nan luar biasa.


Sebuah kalimat yang cukup membuat Arfan ternganga nantinya.


"Le, anakku cah bagus sing apik budi ne," ujar Sanah sembari menarik nafasnya dalam-dalam.


(Anak laki-laki ku yang tampan dan yang baik budinya.)


"Bue rasa ... nanti akan ada hati yang terluka di saat kamu melamar ustadzah Maira, Nak!" ujar Sanah dengan ekspresi wajahnya yang sangat-sangat serius.


Lalu, bagaimana tanggapan Arfan?


"Ahahaha ... Bue ... Bue ...! Bue semalam mimpi apa, sih? Kok, tiba-tiba ngomongnya jadi ngawur, begitu? Memangnya, hati siapa yang akan terluka, Bue? Anak lanangnya Bue ini, ndak pernah, tuh punya teman dekat perempuan," celetuk Arfan dengan tawanya yang tak bisa ia tahan.

__ADS_1


"Ck, kamu ini ... di kasih tahu, kok yo malah ngeyel! Wis, toh! Ojo ngguyu-ngguyu ngono!" ucap kesal Sanah yang masih ditertawakan oleh sang anak tampannya itu.


(Ck, kamu ini ... di kasih tahu, kok malah tidak mau mengalah! Sudah, dong! Jangan ketawa-ketawa begitu!)


"Habisnya, Bue lucu, sih! Hihihi ...," ucapnya sembari terus memfokuskan dirinya untuk mengetik sebuah pesan pada sang majikan.


Non, sebentar lagi saya akan balik lagi ke perusahaan. Apa mau saya belikan makan siang sekalian untuk, Non? ketik Arfan pada layar ponselnya. Lalu, dia pun segera mengirimkan pesan tersebut pada Fayra.


Sanah yang cukup sedikit terusik dengan kelakuan sang anak, yang sedang asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba dia berujar kesal.


"Kamu lagi ngapain itu, Le? Buenya lagi ngomong, kok, malah asyik-asyik, 'kan bermain hp!" Sanah mendengus kesal pada Arfan dengan sedikit memanyunkan bibirnya ke depan.


Arfan langsung membujuk sang ibu, agar tak lagi cemberut padanya.


"Maaf, Bue! Arfan tadi sedang memberikan kabar pada majikan Arfan. Kalau sebentar lagi, Arfan akan kembali ke perusahaan untuk mendampingi non Fayra, Bue." terang Arfan dengan harapan sang ibu tidak lagi cemberut padanya.


Sontak, seketika itu juga Sanah berujar yang mengakibatkan Arfan terkaget karenanya.


"Nah, itu ... itu dia yang akan tersakiti, Le!" ucap Sanah dengan nada yang menggebu-gebu penuh semangat.


"Astaghfirullah ...! Bue, kok malah ngagetin Arfan, sih, Bue? 'Kan, bisa ngomongnya pelan-pelan saja, Bue!" ucap Arfan sembari mengurut dada bidangnya secara spontan.


"Tunggu dulu ...! Maksudnya, Bue apa bilang begitu, Bue? Kenapa non Fayra akan terluka bila Arfan melamar ustadzah Maira?" ucapnya berkerut kening karena bingung.


"Hahhh ...!" terdengar helaan nafas kecewa dari Sanah.


Sanah kemudian memberikan ilmu pengetahuan, tentang rasa terhadap anaknya saat ini. Seolah, ia adalah pakar cinta yang serba bisa tahu segalanya, tentang permasalahan seputar hati dan perasaan.


"Nak, sebenarnya saat di rumah sakit waktu itu, Bue pernah berusaha berbicara dengan terbata-bata pada nona muda mu itu. Dimata Bue ... dia terlihat memiliki perasaan padamu, Nak. Walaupun Bue baru melihatnya, tapi, entah mengapa Bue sangat-sangat yakin bahwa dia memiliki perasaan terhadap mu, Nak!" terang Sanah dengan serius.


"Wanita terkadang lebih suka memendam perasaan. Ketimbang, mengutarakannya secara terang-terangan. Mereka terkesan malu-malu. Sebab, banyak faktor yang membuat mereka merasa ragu, Nak. Seharusnya, kamu sebagai seorang pria yang lebih bisa melihatnya dengan mata hatimu, Nak."


Arfan terdiam. Ia benar-benar meresapi setiap perkataan yang ibunya ucapkan padanya.


Lagi, Sanah berujar akan ilmu cinta pada sang anak polosnya yang selama ini dinilainya tidak pernah tahu akan hal yang namanya, 'cinta' dan 'rasa'.


"Selama ini, apakah kamu pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, Nak? Perasaan di mana jantung hatimu akan berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan yang membuat kamu juga akan berduka atas kesedihan yang menimpanya? Perasaan yang di mana kamu akan rela untuk melakukan apa saja demi membuat ia kembali tertawa. Apakah kamu pernah merasakan salah satu perasaan yang Bue jelaskan padamu barusan, Arfan?" tanya Sanah dengan bola mata yang terus menerus menatap dalam ke arah sang anak.


Dengan sangat bingung, Arfan lebih memilih untuk menghindar ketimbang menjawab pertanyaan dari sang ibu padanya.


"Maaf, Bue! Sepertinya, waktu jam makan siang sudah hampir habis. Jadi, nanti saja kita lanjutkan obrolannya, ya! Arfan benar-benar sedang buru-buru, Bue! Bukan maksud Arfan tidak mau menjawab pertanyaan dari Bue. Tapi, ...," manik mata Arfan terlihat jelas menandakan bahwa ia tengah bingung bukan kepalang saat ini.

__ADS_1


"Ya, sudah. Bue ndak akan paksa kamu, Le! Kerja yang semangat, ya! Bahagiakan majikan mu itu!" ujar Sanah dengan tersenyum bahagia.


Tentu saja ia merasa bahagia. Setidaknya, beban pikiran yang selama ini ia emban sudah tersalurkan.


"Kalau begitu, Arfan pergi dulu, ya, Bue. Assalamualaikum," Arfan menyalami tangan sang bunda terkasih.


"Waalaikumsalam, Nak lanangku!" balas Sanah, sembari mengusap-usap punggung sang putra satu-satunya itu, dengan penuh kasih sayang dan cinta.


Setelah kepergian Arfan, Sanah pun berujar lega.


"Alhamdulillah ... setidaknya, aku tidak akan merasa bersalah nantinya. Aku yakin sekali! Bahwa, non Fayra itu menyukai anak lanangku!" ucapnya tersenyum.


...*****...


Berhubung Fayra sangat sibuk sekali tadi. Jadi, ia tak mengecek ponselnya. Ternyata, ada sebuah pesan dari Arfan yang mengandung perhatian.


"Hem? Arfan chatt aku?" gumam Fayra, ketika ia membuka ponselnya yang ia letakkan di dalam laci meja kerjanya sedari tadi.


Kalau begitu, belikan aku coffe latte dan burger saja! ketik Fayra sebagai balasan untuk Arfan.


Arfan yang sedang berada di perjalanan menuju perusahaan. Ia lekas menghentikan mobil menepi demi membaca pesan dari sang majikan.


Setelah selesai membaca pesan dari sang majikan cantiknya. Arfan lekas membalas dengan singkat.


Ok, ketiknya dan kembali melanjutkan perjalanan.


Fayra yang mendapatkan balasan secepatnya dari Arfan. Ia tiba-tiba merasa senang tak karuan.


"Wah, cepat sekali dia membalas pesanku," ujarnya sumringah.


Seusai membelikan pesanan sang majikan, Arfan melanjutkan lagi perjalanan menuju perusahaan.


Entah ada angin apa, tiba-tiba ia terngiang-ngiang pada ucapan demi ucapan sang ibunda tercinta. Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, ia terus saja memikirkan sang bunda.


"Ah, kenapa mendadak aku merasa ragu untuk melanjutkan hubungan ku dengan ustadzah Maira? Ada apa denganku? Perasaan aneh apa yang merasuki ku, ya, Robb?!" ujarnya penuh gelisah.


Walaupun saat ini ia merasa ragu-ragu, sebisa mungkin dia tak ingin terpengaruh. Dia kembali fokus menyetir mobil dan menepis jauh-jauh pikiran buruknya itu.


Mobil pun melaju kencang membelah jalanan yang terasa lebih padat dari sebelumnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2