CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Sedih Membingkai Hati


__ADS_3

Rutinitas keseharian Arfan amat sangat menguras pikiran dan tenaga. Semenjak menjadi CEO, ia mulai jarang berada di samping sang istri yang juga tengah membutuhkan perhatian darinya.


Tak bisa Arfan pungkiri, rasa sedih itu terkadang membingkai hati. Ia harus bisa membuktikan dirinya pantas. Bukan sekedar di hadapan mertua dan orangtuanya! Tapi, membuktikan diri layak di hadapan semua orang yang mencela, mencemoohnya dan masih banyak lagi kata yang tak menyenangkan hatinya.


Sebagai seorang CEO, sudah sepatutnya Arfan memiliki asisten pribadi sendiri. Hal itu dibutuhkan olehnya untuk mengurus keperluannya. Sesuai dengan permintaan dan juga keinginan Arfan dan Fayra. Arfan pun merekrut seorang asisten pribadi.


Siapakah sosok asisten pribadi Arfan itu?


Dia adalah seorang lulusan terbaik dari luar negeri. Dia adalah seorang pemuda yang gagah berani. Tak hanya itu, dia juga pemuda yang cerdas dan multi talenta. Dialah Hamas Asad yang di percayakan untuk mengurus semua jadwal penting Arfan di perusahaan.


Tak hanya itu, kelebihan pemuda ini yang lainnya adalah dia seorang hafidz qur'an. Jadi, ia sangat cocok untuk mendampingi seorang Arfan Alhusayn. Jalan pemikiran mereka tentu akan sama.


Walaupun, pasti akan ada yang namanya perbedaan pendapat. Tapi, bukankah itu suatu hal yang lumrah?


Sebab, setiap orang pasti memiliki pendapat dan pandangannya masing-masing. Sama juga halnya dengan Arfan dan Hamas.


"Assalamualaikum, Pak!" sapa Hamas pada Arfan yang sudah berada di meja kerjanya.


"Waalaikumsalam," jawab Arfan dengan mengalihkan pandangannya dari laporan yang tengah ia baca saat ini, lalu ia pun menatap ke arah sang asisten pribadinya.


"Begini, Pak. Saya ingin menyampaikan tentang perjalanan bisnis yang akan kita lakukan, Pak. Kira-kira menurut bapak apakah sebaiknya kita terima saja undangan dari perusahaan yang ada di Kanada ini, Pak?" tanya Hamas yang masih menunggu keputusan dari sang atasan.


Sebelum menjawabnya, Arfan mempertimbangkan sesuatu di dalam otaknya. Kalau ia melakukan bisnis ke luar negeri, otomatis Fayra akan merasa sepi. Dan ... belum lagi tingkah Fayra akhir-akhir ini, jauh lebih berbeda dari sebelumnya.


Apalagi, sekarang sang istri tercintanya sedang mengandung anak pertama mereka.


"Jika, aku terima undangan dari perusahaan asing ini ... maka, Fayra harus bisa ikhlas melepaskan kepergian ku ke luar negeri. Tapi, jika nanti Fayra tidak rela. Apa yang harus aku lakukan?!" batin Arfan merasa bimbang tak karuan dan keringat pun sudah mulai bercucuran.


"Maaf, Pak! Jadi, saya harus jawab apa pada mereka, Pak?" tanya Hamas sekali lagi pada Arfan yang masih memasang wajah gamang.


"Eh, iya. Bisa ... berikan saya sedikit waktu? Tolong, kamu sampaikan pada mereka seperti itu, ya! Saya ingin menanyakan hal ini terlebih dahulu pada istri saya," terang Arfan yang selalu menyertakan Fayra dalam setiap keputusan yang akan ia lakukan.


Bukan tanpa alasan Arfan melakukan hal itu! Jelas, hal itu karena Fayra yang sudah membimbing dirinya untuk bisa menjadi seorang CEO saat ini. Campur tangan sang istri dalam perkembangan kinerja Arfan di perusahaan amatlah besar.


Jadi, sudah sepatutnya ia juga harus meminta izin terlebih dahulu pada istri tercintanya. Agar nantinya tak menimbulkan kerenggangan di antara dirinya dan sang istri tercinta.


Apalagi, biduk rumah tangga mereka masih terbilang usia muda. Usia pernikahan yang masih lagi rentan, akan coba dan uji bagi keduanya. Di tambah lagi ego yang acap kali merasuki diri Fayra maupun Arfan tentunya.


"Baiklah, Pak! Saya akan kabari pihak mereka secepatnya. Nanti, siang akan ada jadwal makan siang bersama kolega kita, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak!" pamit Hamas sembari membungkuk pada Arfan.


"Ya, terima kasih, Ham!"


"Sudah tugas saya, Pak. Jadi, bapak tidak perlu sungkan. Jika, masih ada lagi yang di butuhkan. Jangan segan-segan, Pak! Panggil saja saya Pak," ucap Hamas Asad dengan etika kesopanan yang luar biasa baiknya. Bisa di bilang hampir sama dengan Arfan sang atasan.


"Ya, tentu saja. Sekarang kamu boleh pergi, Ham. Saya ingin menghubungi istri saya terlebih dahulu," ucap Arfan.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya permisi!" Hamas pun meninggalkan Arfan sendirian di ruangannya.


Dengan cekatan jari jemari Arfan bermain di atas layar ponselnya. Kemudian, ia pun mencari kontak sang istri tercintanya yang di beri nama, 'Tujuan Hidupku', sebuah nama yang sangat unik Arfan sematkan untuk Fayra dalam ponselnya.


Tut ... tut ... tut ....


"Assalamualaikum, Mas!" sambut Fayra di seberang sana.


"Waalaikumsalam, Istriku tercinta. Sedang apa kamu sekarang, hmmm? Apakah mas mengganggu mu?"


"Ah, pelan-pelan, Mbak! Rasanya sakit sekali," pekik Fayra pada seseorang yang di panggil mbak olehnya.


"Fay, kamu sedang apa? Kenapa teriak kesakitan begitu, hmmm? Jangan buat mas panik, Fay!" jerit Arfan dari balik telepon genggamnya.


"Aku lagi di pijit untuk rileksasi, Mas. Mas mau di pijit juga, hmmm? Kalau mau ... pulang sekarang, Mas! Aku juga pasti akan sangat senang kamu bisa pulang cepat ke rumah," ucap Fayra dengan manja sembari menahan rasa sakit karena pijitan si mbaknya.


"Nggak, Fay! Mas cuma ingin menanyakan sesuatu hal yang penting padamu. Apakah bisa kamu dengarkan mas, Fay?"


"Katakanlah, Mas! Aku siap mendengar apapun keluh kesah mu, Mas. Mbak, udah dulu, ya! Nanti, saya suruh mbak masuk lagi kalau saya sudah selesai telponan sama suami saya," ucap Fayra pada si mbaknya. Tukang pijit itu pun pergi meninggalkan Fayra sendiri di kamarnya.


Sementara, Arfan masih setia menunggu tanggapan selanjutnya dari sang istri.


"Mas, kamu mau bilang apa tadi?" tanya Fayra yang sudah kembali fokus pada sang suami.


Ragu menelusup masuk ke dalam hati Arfan, ketika ia ingin menyampaikan tentang berita undangan perusahaan asing itu pada sang pujaan.


Belum apa-apa saja, Fayra sudah emosi. Bayangkan saja bila Fayra tau akan berita itu nanti. Entah apa yang akan Fayra lakukan. Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Eh, iya. Maaf, Fay! Mas tadi sedang berpikir. Oh, ya Mas mendapatkan undangan dari perusahaan asing di luar negeri," sejenak Arfan diam. Demi ingin memastikan tanggapan sang istri terhadap ucapannya barusan.


Hening!


"Jadi, menurut kamu apakah mas boleh pergi memenuhi undangan itu, Sayang?" lanjut Arfan menanyakan pada sang istri.


Fayra terdiam di seberang sana. Dia hanya bisa sesekali menghela berat nafasnya.


"Mas, sekarang kamu adalah seorang pemimpin. Jadi, aku yakin apapun keputusan yang kamu ambil. Maka, itulah keputusan yang paling tepat, Mas ...," ucap Fayra dengan ketegaran yang ia coba usahakan.


"Makasih atas kepercayaan kamu terhadap Mas, Sayang!"


"Iya, Mas. Oh, ya. Mas akan pergi ke negara mana, Mas?"


"Kanada, Fay. Ada apa Fay?"


Ketika Arfan mengatakan Kanada, Fayra langsung terbayang akan wajah sang kakak tercintanya yaitu Savina Maheswara.

__ADS_1


"Mas, aku akan sangat senang bila mas bisa pergi secepatnya ke Kanada, Mas. Jadi, kapan mas akan pergi ke sana, Mas?"


Kali ini, Arfan semakin tidak mengerti lagi dengan sikap sang istri.


"Loh, kenapa dia bisa dengan mudah dan sangat bersemangat begitu? Apa yang terjadi?" bisik Arfan dalam otaknya.


Lama tak menjawab, Fayra pun sedikit berteriak pada Arfan.


"Mas ...?! Kamu kenapa malah diam aja, sih?! Kapan, Mas ...?!" jerit Fayra di balik ponsel canggihnya.


"Oh, iya. Secepatnya, Fay. Mungkin, besok pagi! Hamas sudah mengurus semua persiapan mas. Jadi, mas tinggal berangkat saja kapan pun mas siap, Sayang," terang Arfan sedetail mungkin.


"Oke, aku juga akan siapkan barang-barang bawaan kamu, Mas. Jadi, jangan lupa makan siang, ya! Nanti, kita makan malam di luar saja. Hitung-hitung, sebagai refreshing sebelum otak mas tegang, 'kan?" kelakar Fayra sembari geli menahan tawanya saat ini.


"Baiklah. Mas mau makan siang bersama kolega, ya. Kamu juga jangan lupa makan siang dan istirahat yang cukup! Ingat, jangan capek-capek, Sayang! Kamu sedang hamil sekarang," nasihat Arfan yang membombardir sang istri.


"Siap, Mas! Siap!" jawab Fayra dengan cepat.


"Assalamualaikum, Istriku!"


"Waalaikumsalam, Suamiku!"


...*****...


Setelah perbincangan mereka terputus, buru-buru Fayra mengambil secarik kertas. Kemudian, ia mulai memberikan ukiran pada secarik kertas itu dengan pemikiran dan perasaannya.


Tampaknya, banyak sekali yang Fayra tuangkan pada secarik kertas putih tersebut. Tulisan Fayra yang terukir dengan tinta berwarna hitam pekat itu terukir begitu rapi.


Wanita yang sudah mulai dewasa dalam setiap tidak tanduknya. Kini, ia sudah bisa berpikir jernih dan bijaksana. Hal itu terbukti, ketika ia sudah menjadi istri dari seorang Arfan Alhusayn.


Fayra pun mulai menulis surat untuk Savina Maheswara.


Dear Kakak ku tercinta yang jauh dari pandangan mata. Namun, dekat dengan hatiku ini. Duniaku serasa sepi lagi. Ketika kakak buru-buru memutuskan untuk pergi. Jika, aku bisa memutarkan waktu. Maka, akan aku ulang rotasi itu, kak. Percayalah, aku sungguh tidak tahu bagaimana perasaan mu saat ini.


Namun, satu hal yang aku tahu jelas tergambar pada bola matamu itu. Rasa cemburu mu yang melihat kebahagiaan ku. Apalagi, ketika aku telah menikah dengan mas Arfan.


Kak, apakah sebenarnya kakak dulu awalnya juga menyukai suamiku, kak?


Maaf, jika aku terlambat menanyakan hal ini. Tapi, ada rasa sesak dalam dadaku ini. Ketika melihat air mata di wajah mu yang tampak sendu.


Sungguh!


Jika kamu menginginkan sebuah kebahagiaan dariku. Maka, katakanlah, Kak! Apa yang kakak inginkan dariku, Kak?


Tolong, berhenti mengabaikan aku, Kak! Aku sungguh merasa bersalah padamu dan pada kak Raynar juga. Aku tahu papa terlalu memanjakan aku. Sedangkan, pada kalian berdua papa tidak begitu.

__ADS_1


^^^ Tertanda, Fayra Maheswara.^^^


...*****...


__ADS_2