
Ketiga pria berbeda umur itu pun memandang ke arah gadis cantik, yang tengah menjadi objek saat ini.
Bola mata Raynar membulat sempurna. Ketika ayunan langkah kaki si gadis, semakin mendekati dirinya.
Sampai di sini, apakah sudah bisa menebak siapa kira-kira yang datang?
Ya, gadis yang menghampiri Raynar, Arfan dan Adiwangsa adalah Clarissa Anastasya. Gadis yang telah memikat hati seorang Raynar Ravindra Maheswara.
"Permisi semuanya! Maaf, apakah boleh saya ajak Raynar sebentar?" tanya gadis itu dengan raut wajah yang sulit diterka.
"Ya, silakan!" ucap serempak Arfan dan Adiwangsa.
Tak ingin mengulur waktu, Clarissa langsung menarik Raynar dengan sorot matanya.
"Ikuti aku! Ada hal yang harus kita bicarakan. Ini penting!" Raynar tak sempat terkesima dia langsung bergegas mengambil langkah.
Sementara, Arfan dan Adiwangsa kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda.
"Jadi, Morgan Tan itu adalah anak dari rekan bisnisnya papa. Kalau begitu, apakah sebelumnya papa pernah memperkenalkan anak-anak papa pada keluarga pak Kai Tan, Pa?" tanya Arfan semakin mendalam.
"Hemmm ... iya. Tapi, itu sudah sangat lama. Jadi, ketika anak-anak kami dewasa kami tidak sempat lagi bertemu. Jangankan untuk bertemu. Komunikasi saja pun sudah jarang. Memang kenapa, Fan? Kenapa kamu jadi sangat antusias begini mengenai Morgan Tan dan keluarganya?"
"Tidak apa-apa, Pa. Sekarang perusahaan kita bekerjasama dengan perusahaan milik Morgan. Itu artinya papa kemungkinan besar bisa menyambung lagi tali silaturahmi dengan keluarganya Morgan," ucap Arfan dengan senyum membingkai wajahnya.
Adiwangsa terdiam. Diamnya Adiwangsa kali ini menyiratkan tanya.
Bagaimana tidak?
Ayah mertua Arfan itu seperti tengah merenungkan sesuatu.
Arfan menepuk pelan pundak sang ayah mertua. Lalu, menyapanya lembut penuh kasih.
"Pa, ada apa? Kenapa papa malah diam, begini?" sebuah gelengan pelan sebagai jawaban.
"Fan, sebaiknya kamu jangan lagi melanjutkan kerjasama antara keluarga Morgan Tan. Mereka dan kita tidak sejalan," ucap Adiwangsa yang lagi-lagi semakin membuat Arfan penasaran.
"Tapi, kenapa, Pa? Apa maksud papa bicara begitu pada ku?"
"Dulu, kami pernah berselisih. Ya, walaupun semua itu telah berlalu. Tapi, papa tahu betul bagaimana sifat asli dari Kai Tan. Dia orang yang terlampau gigih untuk mendapatkan keinginannya."
Hening!
"Memang ... semua itu telah lama berlalu. Namun, luka itu masih lagi terasa. Walaupun, sekarang anak-anak kami sudah dewasa. Tapi, tetap saja kenangan buruk itu masih belum lagi hilang," sambung Adiwangsa lagi yang membuat Arfan semakin tercengang.
"Pa, Arfan semakin tidak mengerti dan memahami apa yang papa katakan saat ini. Bisa papa jelaskan lebih terperinci, lagi?"
"Hahhh ... hanya karena sebuah perbedaan keyakinan membuat kami waktu itu hampir saja gelap mata." ucap Adiwangsa dengan senyum di wajah yang di paksakan.
Adiwangsa mulai berdiri dan berjalan. Dia tak ingin berlama-lama di rumah sakit. Lagi pula, dia juga sudah selesai melakukan medical check up kesehatannya.
"Apa kamu tidak mau pulang, Fan? Kasihan istri mu menunggu di rumah dengan air mata," kelakar Adiwangsa yang membuat Arfan si menantu terbirit-birit untuk berdiri.
"Oh, iya. Ayo, Pa kita pulang!" ajak Arfan dengan mengiringi langkah kaki mertuanya.
...*****...
Clarissa membawa dirinya dan Raynar menghadap pada ibunda tercinta Clarissa. Entah ada angin apa Clarissa tiba-tiba saja mengajak Raynar untuk menemui ibundanya.
"Kemarilah, Mas tukang bikin kesel!" seloroh Clarissa yang masih sempat-sempatnya mengumpat Raynar.
Raynar pun patuh dan mendekat ke arah hospital bad ibu Clarissa. Lalu, di tatapnya lekat-lekat wajah yang sudah bisa tersenyum itu dengan rasa tak percaya.
Beberapa hari lalu, Nafisah Anastasya ibunda Clarissa itu terbangun dari tidur panjangnya. Dia mengaku pada anaknya bahwa, ia bisa bersemangat lagi untuk bangun. Sebab ada sebuah suara yang telah berhasil, membuatnya menemukan jalan untuk bangkit dari alam bawah sadarnya.
"Ibu ... bagaimana kabar ibu hari ini? Maaf, beberapa hari aku tidak sempat mampir ke sini." ujar Raynar yang membuat Clarissa terpanah.
"Apa ...?! Jadi, ... benar bunda sadar karena dia? Jadi, ... bunda tidak hanya asal bicara padaku?" Clarissa bergeming, tapi tidak dengan hati kecilnya.
Pastilah Raynar tak merasa terkejut lagi melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah calon ibu mertuanya itu. Tentu saja kata 'calon ibu mertua', itu hanya anggapan Raynar sendiri. Clarissa tidak ikut andil untuk menyetujui hal tersebut.
"Mas, Kang curhat! Kamu kenapa bisa sok akrab gitu sama bunda ku? Emang, kamu kenal di mana sama bunda?" Clarissa mencecar Raynar dengan pertanyaan yang disertai juga dengan ledekan di dalamnya.
"Mbak Manis ... saya paham! Mbak ini memang pernah dengerin saya curhat. Tapi, jangan terus-terusan ledekin saya dengan julukan itu, dong!" tampik Raynar tak terima pada apa yang di lakukan Clarissa terhadap dirinya.
"Lah, 'kan emang mas nya aja yang hobi curhat ke mana-mana. Jadi, jangan salahkan saya, dong, Mas!" pekik Clarissa yang membuat senyum semakin merekah di wajah ibunya.
__ADS_1
Baru pertama kalinya Nafisah melihat tingkah menggemaskan putrinya dengan seorang pria. Sungguh, ini adalah sebuah kebahagiaan yang tak terhingga nilainya bagi Nafisah Anastasya.
Kegaduhan itu terus berlanjut di antara Clarissa dan Raynar.
...*****...
Kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Mobil yang membawa Arfan dan Adiwangsa telah terparkir di halaman depan rumah. Kedua pria itu pun lekas memasuki rumah dengan langkah pelannya.
"Assalamu'alaikum, Mbok!" ucap salam Arfan dan Adiwangsa berbarengan.
"Wa'alaikumsalam, Tuan, Den Arfan!" jawab si mbok Minah.
"Ibu kemana, Mbok?" tanya Adiwangsa yang mengedarkan pandangannya mencari istri tercintanya.
"Nyonya lagi pergi perkumpulan, Tuan. Mau saya siapkan makan siang sekarang, Tuan?"
"Nanti saja, Mbok. Fan, kamu langsung temui istri mu, ya! Takutnya dia lagi ngambek di kamarnya sekarang," ujar Adiwangsa yang beralih pada Arfan.
"Baik, Pa. Kalau begitu, saya permisi dulu semuanya!" pamit Arfan langsung ke kamarnya.
...*****...
Sejak tadi, Fayra telah menunggu kehadiran sang suami dengan penampilan yang sangat spesial.
Sepulangnya ia dari bandara dan membaca pesan yang tersurat dari sang suami. Membuat wanita yang sebentar lagi akan menjadi mama muda itu langsung merubah penampilan diri.
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamu'alaikum! Fay ...?" panggil Arfan yang terhenti sejenak. Bola mata Arfan tak urung jua beralih pandang dari menatap wajah ayu sang istri.
"Mas ...? Kapan, Mas pulang?" sapa Fayra dengan santun dan lemah lembut.
Sungguh, aura kehamilan Fayra benar-benar bisa Arfan rasakan. Tak hanya itu saja! Kini, Fayra mengenakan hijab sederhana namun sarat akan makna.
"Fay, kamu--," ucapan Arfan belum bisa terselesaikan.
"Iya, Mas. Mungkin ... ini adalah berkat surat yang beberapa waktu lalu aku terima, Mas." ucap Fayra datar dan biasa saja.
Tangan Arfan mulai membelai wajah ayu nan berbalut hijab itu dengan penuh kasih sayang. Tak terasa bulir-bulir bening itu mulai berjatuhan dengan perlahan.
"Mas ... kamu kenapa, hmmm?" sekarang giliran Fayra yang meraup wajah suaminya.
"Apa kamu benar-benar memutuskan untuk berhijab, Fay?"
Fayra hanya menganggukkan kepalanya secara berkala. Ia telah mantap untuk melakukan hijrah menjadi seorang istri yang lebih baik lagi bagi suaminya. Bukan sekedar perilaku maupun tingkah. Akan tetapi kini telah merambat ke aspek cara berpakaian Fayra.
"Kenapa tiba-tiba, Fay?"
"Surat mu mengantarkan aku untuk merubah penampilan luar ku, Mas. Kamu hadir dalam hidupku saja sudah sangat membawa pengaruh besar dalam diriku, Mas. Apalagi sekarang status ku adalah sebagai istri mu. Jadi, sudah sepatutnya aku hanya menampilkan diriku secara utuh hanya padamu seorang." terang Fayra yang sudah mulai bijak dalam bertutur kata.
Hening yang mengantarkan mereka pada bahasa tubuh masing-masing. Raga mereka saling terikat dan saling berpelukan untuk waktu yang amat panjang.
Tak lupa pula kecupan manis Arfan berikan pada bidadari penguasa hatinya saat ini, insya Allah untuk selamanya. Demi melepaskan rasa rindu yang telah lama tertanam dalam jiwa mereka masing-masing.
Arfan merenggangkan terlebih dahulu adegan mesra di antara dirinya dan sang istri. Sebab, rasa penasaran akan perubahan sang istri membuat ia mengurungkan niatnya untuk berbuat lebih.
"Fay, bagian mana di dalam surat itu yang membuat kamu berubah seperti ini hanya dalam hitungan beberapa jam saja, hmm?"
Fayra kemudian mengambil secarik kertas yang di berikan Hamas padanya tadi. Lalu, mulai membacakan isi surat Arfan itu lagi. Akan tetapi, kali ini tepat di depan suami tercintanya yang tengah duduk setia di hadapannya.
Beginilah isi surat Arfan pada Fayra.
Istriku tercinta ... aku tahu selama perpisahan sesaat kita kamu telah banyak bersabar menunggu kedatangan ku di rumah.
Jadilah seorang istri yang baik di sana. Aku percaya Allah tidak pernah salah memilih kamu sebagai jodoh terindah ku. Aku ingin kamu selalu setia menunggu ku. Tidak hanya di dunia, tapi juga kelak di akhirat-Nya.
Maut, tidak ada yang tahu kapan ia akan tiba. Akan tetapi, selama nyawa masih lagi dalam raga. Aku berharap, bisa menatap mu dalam tampilan terindah sebagai istri shalihah. Tidak hanya di mataku. Akan tetapi di mata Allah juga. Aamiin yaa ... rabbal aalamiin!
Tuntas sudah Fayra membacakan isi surat Arfan tersebut dengan penuh penghayatan. Tak ingin hanya berdiam diri. Arfan lekas memeluk erat kembali tubuh istrinya.
Saat ini seakan melodi lagu indah pun tengah di putar untuk mengingat kembali momen-momen, ketika mereka pertama kali bertemu.
🎶🎶🎶
__ADS_1
Pertama ku memandangnya
Tak ada rasa di dalam jiwa
Semua terasa seperti biasa
Tak ada rasa cinta
Waktu pun terus berlalu
Mengapa ku semakin merindu?
Inikah rasa pada dirinya
Yang tak bisa ku sentuh?
Di dalam setiap hariku
Di waktu sepertiga malam
Bersujud, berdoa pada-Nya
Memohon petunjuk-Nya
Wahai sang pemilik hati
Sampaikanlah rinduku ini
Jika dialah yang terbaik
Dekatkan kami, ya Rabbi
Waktu pun terus berlalu
Mengapa ku semakin merindu?
Inikah rasa pada dirinya
Yang tak bisa ku sentuh?
Di dalam setiap hariku
Di waktu sepertiga malam
Bersujud, berdoa pada-Nya
Memohon petunjuk-Nya
Wahai sang pemilik hati
Sampaikanlah rinduku ini
Jika dialah yang terbaik
Dekatkan kami, ya Rabbi
Di dalam setiap hariku
Di waktu sepertiga malam
Bersujud, berdoa pada-Nya
Memohon petunjuk-Nya
Wahai sang pemilik hati
Sampaikanlah rinduku ini
Jika dialah yang terbaik
Dekatkan kami, ya Rabbi ...
Lagu Sepertiga Malam by Qhutbus.
...*****...
__ADS_1