
Prahara yang tengah terbentang di depan matanya. Menyadarkan Adiwangsa yang meratap penuh iba pada sang putri sulung. Gadis yang tengah berjongkok dan merunduk karena ratapan takdir hidupnya. Tak lagi mampu untuk sekedar menaikkan tatapan netranya, yang telah menumpahkan telaga bening dari bola matanya.
Miris ... ya amat miris hingga membuat si anak gadis selalu menangis.
Ketiga pria yang tengah bergelut akan kemelut yang membuat hati Adiwangsa semakin kalut. Tak lagi ia berikan ruang untuk mempertontonkan kericuhan, yang mengundang banyak mata menyaksikan hal memalukan.
"Berhenti, Semuanya ...!" Satu sergahan dari Adiwangsa dapat merendam segala prahara yang ada.
Gerakan spontanitas dengan tolehan yang serempak dari ketiga pria itu, sukses membuat mereka semua membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang unjuk diri untuk bicara. Mereka semua kompak untuk bersikap patuh dan saling diam satu sama lainnya.
Sementara Savina, ia hanya terus menerus meratapi nasibnya. Tak lagi peduli sekalipun sang ayah telah berada di dekatnya.
Tangan yang selama ini tak pernah menyentuh tubuh lemah dan rapuh si putri sulung. Kini merambat dan mendekap pada kedua pundak sang putri. Serta tatapan dalam nan penuh sendu tersaji di depan netra berkabut Savina yang sudah basah.
Kasih sayang yang selama ini Savina pikir tak lagi pernah ia dapatkan. Alangkah indahnya saat ini baginya. Netra anak dan ayah itu bertemu dalam tatapan penuh rindu.
"Ayo, Nak! Papa akan membawamu pulang ke rumah kita. Rumah yang menyambut kedatangan mu dengan penuh cinta. Rumah yang berisi dengan orang-orang yang mengasihi dirimu. Maafkan, Papa, Nak!" Sesal tak dapat di hindari, hanya air mata dari Adiwangsa yang telah menjelaskan segalanya.
"Papa ... hiks ...." Savina berhamburan memeluk erat, tubuh yang kini telah mendekapnya dengan getaran hebat di dadanya.
"Sudahlah, Nak! Jangan kamu tangisi takdir yang memilukan ini. Maafkan, Papa mu yang selama ini tidak bisa membahagiakan kamu, Nak ... sungguh, tidak ada niat di hati papa membuat kamu menderita seperti ini. Tolong, berhentilah menangis, Nak!" ucapan bernada serak dari Adiwangsa, sukses membuat semua orang yang menyaksikan tertunduk dan meresapinya dalam alam pikiran mereka masing-masing.
Adiwangsa lekas membawa putri sulungnya untuk pulang. Niat awalnya yang ingin menjenguk Fayra, sekaligus untuk melakukan konsultasi mengenai penyakit yang di deritanya pun, berubah haluan hingga 180° derajat jauhnya.
...*****...
Arfan dan Raynar beringsut pergi menjauh dan meninggalkan Morgan sendirian. Mereka tak lagi membuat keributan. Tinggallah Morgan Tan dengan kesedihan yang memilukan.
Morgan tak lagi mampu untuk berkata-kata. Hanya setitik bulir bening yang menjadi saksi kesedihannya. Bahkan, Savina pun tak lagi menoleh ke arahnya. Gadis itu tampak tak mempedulikan nasibnya sama sekali.
...*****...
Fayra yang masih memejamkan matanya, tiba-tiba ia terjaga. Ia pun mengedarkan pandangannya ke arah sang suami dan kakaknya. Kedua pria itu duduk dengan sejajar. Lalu memasang wajah yang datar dan gusar.
"M-Mas ... kalian berdua kenapa?" tanya Fayra dengan nada bicaranya yang terdengar lemah.
__ADS_1
Arfan berjalan mendekat dan berucap, "Fay sayang, tidurlah! Tidak apa-apa. Kami hanya membicarakan masalah bisnis saja. Benarkan, Mas?" kilahnya dan melontarkan sebuah tanya, pada sang kakak ipar sebagai penyempurna alibinya.
"Oh, itu ... iya, benar. Kamu jangan cemaskan apapun, Fay! Kami hanya membicarakan bisnis saja, kok." Raynar melukiskan sebuah senyum yang terlampau di paksakan.
Sepertinya, kedua pria itu tak cukup baik dalam berbohong. Fayra masih bisa menangkap sinyal kebohongan yang mereka tunjukkan.
Kepekaan yang Fayra rasakan, tak sama sekali membuat wanita itu percaya pada bualan suami dan kakaknya.
"Aku memang sakit. Tapi, bukan berarti aku tidak kuat untuk menerima kebenaran dari mulut kalian. Jangan, menutupi kebenaran yang seharusnya aku ketahui, Mas! Sudah cukup jelas di mataku akan kebohongan yang kalian tampilkan. Katakan padaku, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi, hmm?" tanya Fayra dengan penuh tuntutan.
"Fay, kamu tidak boleh stres ... ayolah ... jangan, membuat kami semakin frustrasi, ya?!" pinta sekaligus titah yang Arfan ucapkan pada Fayra.
Tak ingin berdebat, Fayra membuang pandangannya ke sembarang arah. Lama ia bersikap acuh pada Arfan dan Raynar. Tampaknya, rasa kesal mulai menjalar ke seluruh tubuhnya yang rapuh.
"Keluarlah kalian berdua! Aku ingin sendirian. Aku tidak butuh kalian ada di sini," ujarnya dengan tegas dan lugas.
"Tapi, Fay ... ka--" ucapan Arfan langsung di tepis dengan sarkas oleh Fayra.
"Keluar, Mas ...!" pekiknya dengan menahan rasa sakit pada bagian perutnya yang terus ia pegang dengan eratnya.
"Ayo, Mas! Kita ke luar saja." seru Arfan.
Raynar mengangguk dan menatap wajah sang adik sebelum ia pergi.
Bagaimana pun Fayra adalah seorang wanita yang peka akan segala sesuatunya. Apalagi ia tengah hamil saat ini. Tingkat kepekaannya semakin bertambah berkali lipat.
Pandangan kosong ia arahkan pada sebuah kaca jendela yang memantulkan cahaya. Memberikannya sedikit ruang untuk mengintip langit cerah di luar sana.
Mulut tak lagi berujar, hanya hati yang ia coba untuk selalu tegar. Di dalam hatinya, ia terbangkan sebuah doa untuk menembus langit yang penuh cinta. Langit yang menampilkan banyak kilauan indah di atas sana.
"Yaa ... Robb, salahkah aku? Jika, tak dapat menerima takdir yang tak mampu aku tanggung dan emban, 'kan? Apakah dosa, bila aku berkeinginan untuk sejenak tenggelam di dasar lautan yang paling dalam? Rasanya aku tidak kuat dan tidak sanggup menerima ujian dari-Mu. Akankah aku bisa melahirkan anakku ini ke dunia nantinya ya, Allah? Mengapa, ujian ini begitu berat rasanya bagiku? Sungguh ... aku tidak kuat ya, Allah ...."
Fayra terus menatap ke arah langit yang semakin menampilkan pemandangan menakjubkan. Kumpulan awan putih berotasi dan berubah-ubah karena angin yang menerpanya.
Bahkan, saat ini netra Fayra menangkap sebuah gulungan awan yang berarak dan membentuk suatu pola hati, yang tak terlalu jelas bila hanya sekilas.
__ADS_1
Sepertinya, Allah tengah menghibur Fayra dengan cara-Nya yang tak biasa dan tak mudah di pahami, bila hanya mengandalkan logika semata. Allah itu harus di pahami dengan hati nurani. Bukan dengan keegoisan diri yang merajai. Tak ada mahluk ciptaan-Nya yang Ia (Allah) benci. Semuanya Allah sayangi.
Seharusnya, kita tidak menghujat takdir yang Allah gariskan untuk kita. Tapi, singkaplah takdir yang Allah berikan dengan keikhlasan hati dan akhlak yang mulia. Bukan mencela apa yang di berikan pada kita. Tapi, mensyukuri apa yang telah Allah beri.
"Astaghfirullah hal adzim ...." Fayra baru menyadari kesalahannya yang berkeinginan untuk keburukan pada dirinya sendiri.
"Maafkan hamba ya Allah ...! Maafkan hamba yang telah lupa diri ini. Lupa untuk berterimakasih pada-Mu dan mensyukuri apa yang telah Engkau berikan padaku selama ini. Hiks ... maaf, yaa ... Allah ...! Astaghfirullah hal adzim ...." Fayra terus beristighfar di dalam hatinya maupun lisannya.
...*****...
Kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Kali ini Savina baru merasakan kehangatan keluarga, ketika ia menginjakkan kakinya lagi di rumah. Rumah yang menjadi saksi lahirnya dan menjadi tempat di mana ia tumbuh besar.
Sorotan mata teduh yang telah digenangi oleh bulir-bulir bening yang telah mengkristal. Kemudian pecah lalu turun melewati pipi yang masih lagi tampak berseri, meski usianya tak lagi muda.
Hazna menyambut kepulangan sang putri sulung dengan tangan terbuka untuk lekas memeluk tubuh rapuh Savina. Gayung bersambut, Savina pun melakukan hal yang serupa.
"Mama ...." Savina berucap, seraya memeluk erat tubuh Hazna yang telah siap menyambut pelukannya.
"Anakku ... buah hatiku yang malang. Maafkan mama, Sayang! Maafkan mama yang tidak sempat memperhatikan kamu, Sayang. Maafkan mama yang selama ini membuat kamu merasa terabaikan dan terasingkan di rumah ini. Sungguh--" Savina meletakkan telunjuknya pada bibir bergetar itu.
"Cukup, Ma! Aku tidak mau mendengar kata-kata pilu itu lagi. Peluk aku seperti ini terus ... rangkul aku di kala aku jatuh dan tak bisa lagi bangkit dari keterpurukan ku." Savina kembali memeluk tubuh bergetar ibunya yang telah pasrah.
Tak ada lagi air mata yang Savina keluarkan. Sekarang ia merasa lebih baik dengan senyuman yang telah mengembang. Bagaikan sebuah kuntum bunga mawar yang telah merekah. Terlihat lebih cantik ... indah ... dengan aura yang penuh rasa cinta.
Adiwangsa juga ikut larut dalam nuansa haru biru istri dan anaknya. Namun, ia tetap menunjukkan ketegaran dan ketegasannya sebagai kepala keluarga.
Walaupun banyak masalah yang kini tengah mendera keluarganya dari berbagai arah. Akan tetapi, ia yakin tangan Allah Yang Maha Kokoh, tak akan pernah meninggalkan dirinya yang selalu bersimpuh dan berserah.
...*****...
Sejatinya hidup di dunia ini memang akan selalu di coba dan di uji. Tak ada satu orang pun yang tak akan di uji oleh Allah di dunia ini. Sebab, ujian itu mengajarkan kepada kita arti kata, 'hidup yang sebenarnya'.
Cintai hidupmu, hargai waktumu, berikan kemampuan terbaikmu. Selama kamu berusaha, insya Allah ... akan ada jalan dari-Nya.
__ADS_1
...*****...