
Lift yang hanya di huni oleh Arfan dan Fayra saja saat ini. Sebab, Fayra tak mau menanggapi ucapan Arfan sama sekali padanya tadi. Jadi, dengan langkah terpaksa, Arfan harus mengikuti setiap langkah nona mudanya.
Fayra masih saja setia dalam hening nya. Gadis cantik itu tidak ambil pusing sama sekali, terhadap kegigihan Arfan pada dirinya.
Fayra malah sibuk sendiri dengan schedule yang tengah dipersiapkannya, untuk penerimaan pegawai baru. Sebab, ada banyak sekali orang yang akhir-akhir ini, memesan furniture olahan dari perusahaannya.
Jadi, mau tidak mau Fayra harus menambah beberapa orang lagi, untuk menambah jumlah anggota karyawannya.
"Semakin banyak maka, akan semakin cepat selesai." pikir Fayra dalam hening nya.
"Nah, kayaknya aku harus nambah beberapa orang lagi, nih!" gumam Fayra yang masih sok cuek pada Arfan.
Tapi, Arfan menanggapi sikap acuh tak acuh sang nona muda si majikan bar-bar, dengan ukiran senyuman penuh arti.
"Diam mu padaku, tak membuat aku meragu. Justru, aku semakin tahu. Bahwa, kamu benar-benar menaruh rasa padaku, Nona Fayra." ujar Arfan dalam sikap diamnya.
Ting ...
Pintu lift pun terbuka, Fayra lantas memajukan kakinya dengan serakah. Ia tak ingin di ikuti oleh pria yang sudah berniat melamar gadis lain.
"Nona ... masih belum ingin menyapa saya, ya?" tanya Arfan dari belakang punggung Fayra.
Tak ... tak ... tak ...
Hentakan heels Fayra semakin lama semakin menggila. Ia percepat langkah kakinya, demi menepis jauh kehadiran Arfan di sisi hidupnya lagi.
Setibanya di ruangan penerimaan pegawai, di mana di ruangan itu juga di adakan meeting. Di sanalah Fayra masuk saat ini.
Fayra mulai mengambil posisi duduk dengan tetap mengabaikan keberadaan Arfan. Netra indahnya tetap berlagak fokus memeriksa setiap dokumen yang ada.
Tapi, hatinya masih saja setia berbisik untuk seorang pria, yang sedang ada di depan matanya.
"Hahhh ... sial! Nih, orang maunya apa, sih? Aku udah bela-belain pasang tampang sok cuek, sok cool, sok jaim. Masih aja nggak ada peka-pekanya, nih anak orang! Apa perlu nih heels aku lempar ke mukanya biar dia pergi sekarang juga?!" pikir Fayra yang semakin lama semakin geregetan juga pada sikap Arfan.
Bammm ...
Fayra menutup dokumennya dan mengalihkan netranya ke arah Arfan berada.
"Kamu mau apa sekarang, hah?! Apa belum puas memberikan rasa malu padaku sejak peristiwa waktu itu, iya ...?! Apa harus kamu ungkit-ungkit hal itu di perusahaan ini juga, hah?! Sekarang, lebih baik pergi dari sini! Atau ...,"
"Atau apa, Nona? Saya datang ke sini hanya untuk menjelaskan semuanya pada Nona. Kalau saya ...," Fayra menyambar penjelasan Arfan padanya.
"Nggak ada yang perlu kamu jelaskan lagi, Fan! Semuanya, bagiku sudah jelas! Jadi, kamu nggak perlu repot-repot lagi menjelaskan apa-apa. Paham?!" sentak nya dengan ego yang sudah tak bisa lagi di bendung.
"Keluar, Fan ...! Keluar ...!" teriak Fayra dengan tangis yang tertahan.
Arfan tidak ingin menyerah, semakin melihat ke dalam bola mata nona mudanya. Semakin Arfan dapat memahami ketulusan hati, seorang Fayra Maheswara yang sebenarnya.
"Hiks ... hiks ... hiks ...!" Pada akhirnya, air telaga bening yang Fayra tahan itu tumpah jua. Jatuh merembes membasahi pipi mulusnya.
Di saat tangis itu menyeruak, di saat itu pulalah untaian kata manis Arfan terucapkan.
"Gadis yang telah berhasil membuat seorang pemuda lugu, polos, tak zamani alias kolot. Telah banyak membuat pria itu berubah menjadi lebih dewasa. Mengajarkan dia akan makna rasa cinta yang sebenarnya." ucap Arfan yang masih belum selesai. Sebab, Fayra mulai menaikkan pandangannya, dengan kepala yang masih tertaku.
Arfan kembali berujar lirih dan menembus relung hati.
__ADS_1
"Jikalau cinta tak bisa saya rasakan, Nona! Mungkin, saya akan tetap melanjutkan pernikahan saya yang saya batalkan kemarin, Nona. Demi meraih cinta yang telah saya dapatkan. Saya rela meninggalkan seorang gadis shalihah hanya karena dia. Dia yang telah berhasil memenuhi relung hati ini." tambah Arfan yang mendadak berubah menjadi seorang pujangga cinta sejati.
Hening!
Tok ... tok ... tok ...
"Permisi, Bu! Maaf, kalau saya mengganggu. Saya mau melaporkan bahwa calon karyawan yang baru sudah berdatangan, Bu." ucap karyawati yang datang menghampiri Fayra.
Fayra dengan sigap menghapus jejak air matanya dari wajah ayunya.
"Oh, iya. Perintahkan mereka untuk masuk segera," ucap Fayra.
"Baik, Bu! Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu." Fayra mengangguk.
Arfan pun mulai berjalan menuju pintu keluar, bersamaan dengan kepergian si karyawati tadi. Baru beberapa langkah Arfan melangkah, Fayra memanggilnya.
"Fan, nanti kita bicarakan lagi hal yang kamu sampaikan barusan. Maaf, aku sedang sibuk saat ini!" ucapnya sejurus kemudian.
Arfan tak membalikkan badannya, tapi wajahnya menampilkan rona bahagia.
"Baik, Nona! Saya akan menunggu Nona selesai dengan semua urusan Nona. Saya permisi dulu, Nona! Semangat kerjanya, Nona!"
"Makasih!"
Mereka pun saling tersenyum dalam diam.
...*****...
Seusai menyelesaikan pekerjaan hari ini, Fayra berniat mengajak Arfan untuk makan malam bersama.
"Di mana Arfan?" tanyanya dengan suara yang bergumam.
Kembali Fayra memutar tumitnya dan bergerak mencari-cari Arfan. Fayra menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Tiba-tiba, seseorang menegurnya dari belakang.
"Nona ...? Cari siapa?" tanya sosok yang tak lain adalah orang yang di cari-cari Fayra sejak tadi.
"Ah, kamu ... ngagetin, aja! Kamu dari mana, Fan?"
"Saya habis membeli minuman. Nona mau?" tawar Arfan dengan tangan terulur memberikan satu botol air mineral.
"Makasih," sambut Fayra dengan wajah yang sulit di artikan.
"Eh, Fan?" tambah Fayra lagi sembari menepuk pundak Arfan yang tengah meneguk air mineral.
"Ya?"
"Ayo, kita makan malam sekarang!" ajak Fayra dengan tergesa-gesa. Dia bahkan telah kembali lagi bersikap sesuka hati pada Arfan.
"Tapi, ini, 'kan masih sore, Nona. Nanti saja makan malamnya," elak Arfan.
"Udah, deh! Jangan protes bisa nggak, sih?" ucap sarkas Fayra dengan lugas dan tegas.
"Iya, tapi ... saya ke sini bawa sepeda motor, Nona. Kasihan sepeda motornya kalau saya tinggal sendirian di sini, Nona." terang Arfan dengan menunjuk ke arah sepeda motor itu berada.
__ADS_1
"Biarkan sepeda motor itu di sini. Dia ada yang jagain, kok. Tuh, pak satpam aku bayar untuk jagain nih perusahaan. Jadi, kamu jangan khawatir, deh! Udah, ah ... ayo ...!" tarik Fayra lagi pada tangan Arfan.
"Astaghfirullah ... kalau udah ada maunya, susah sekali untuk di tolak," gumam Arfan sambil mengikuti instruksi dari sang nona mudanya.
"Ngomong apa kamu barusan, hmmm?"
"Ayo, jalan! Kita jalan sekarang saja, Nona." dalih Arfan yang tak ingin membuat Fayra naik pitam.
Mereka pun pergi meninggalkan perusahaan.
...*****...
Di sebuah rooftop ...
Kini, Arfan dan Fayra tengah berada pada sebuah tempat yang sangat eksotis. Pemandangan di atas rooftop itu amat sangat indah. Suasana yang amat sangat mendukung sekali untuk menyatakan cinta.
Mereka berdua telah duduk berhadap-hadapan. Mereka tengah menunggu pesanan datang, sembari menunggu pesanan. Fayra dan Arfan sama-sama melihat hamparan indah di bawah sana.
"Bagus, ya, Fan pemandangannya di lihat dari atas sini?" celetuk Fayra demi memecah kebuntuan.
"Iya, bagus, Nona. Indah, saya suka," jawab Arfan jujur.
"Fan?"
"Ya?"
"Emmm ... bisa lanjutkan pembicaraan kita yang tertunda tadi?"
"Pembicaraan? Yang mana, Nona?" Arfan berlagak bodoh seketika.
"Ya, udah kalau kamu lupa!" ucap ketus Fayra sambil memandang ke sembarang arah.
"Saya akan segera melamar seorang gadis bar-bar yang bernama ... Fayra Maheswara." ucap Arfan yang langsung membuat Fayra merona bahagia.
Rasanya gadis itu tak percaya pada apa yang baru saja terucapkan dari mulut Arfan.
"Silakan, dinikmati! Selamat mencicipi!" ucap seorang pramusaji yang tiba-tiba muncul di waktu yang kurang tepat.
"Makasih," ucap Arfan dan Fayra berbarengan.
"Sama-sama." sahut pramusaji itu dan langsung melenggang pergi.
Sedangkan Fayra dan Arfan masih berada pada posisi canggung. Mereka lebih memilih untuk saling diam saat ini.
Sesekali menjatuhkan pandangan matanya masing-masing ke arah yang berlainan sisi.
...*****...
Kuncup cinta telah mekar
Harum bagaikan kelopak mawar
Begitulah gambaran kehidupan
Jika telah merasakan sebuah getaran
__ADS_1
...*****...