CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Isi Kontrak Kerjasama


__ADS_3

Arfan tak mengerti mengapa Hamas tak kunjung jua mengangkat sambungan telepon genggamnya.


Tut ... tut ... tut ....


"Kok, Hamas nggak angkat telepon dari ku, ya? Ada apa, nih? Apa dia tersesat di tengah jalan?" celoteh Arfan sendirian di koridor rumah sakit.


Sementara orang yang di telepon Arfan, kini pria itu terlampau fokus mencuri dengar dialog percakapan, yang berisikan untaian curahan hati seorang wanita pada saudari kandungnya.


Hamas merasakan sesuatu bergetar dari balik saku celananya. Ia lekas merogoh kocek celananya yang sudah berhasil membuat satu kakinya gemetaran.


"Ya, ampun! Ini orang siapa sih yang nelpon? Ndak, sabaran banget." cerocos nya dengan nada kesalnya.


Ia tatap dalam diam sebuah layar pipih itu, dengan raut wajah yang berubah menjadi nelangsa.


"Astaghfirullah, hadehhh ampun! Ini pasti panggilan yang akan memekakkan telinga ku. Lebih baik aku lekas masuk saja ke dalam. Ketimbang mengangkat teleponnya sekarang." ujar Hamas dengan mempercepat langkah kakinya.


Buru-buru ia tinggalkan tempat itu, lalu melangkah menjauh. Tampaknya, Fayra dan Savina sama sekali tak mendengar apapun dari balik pohon, yang menjadi tempat persembunyian Hamas barusan.


...*****...


Arfan sudah mulai cemas tak karuan. Ia longgarkan duduk yang mulai menegang. Tak lama kemudian, Hamas datang dengan wajah yang cengengesan.


"Ham ...!" panggil Arfan sedikit berteriak pada sang asisten pribadinya.


"Hehehe ... maafkan saya, Pak! Saya sedikit terlambat. Mendadak ada urusan penting yang harus saya kerjakan terlebih dahulu tadi, Pak," alibinya yang sangat pandai sekali.


"Kalau di pikir-pikir, masalah mbak Savina 'kan memang penting untuk aku tahu." celoteh Hamas dari dasar hatinya.


"Oh, begitu. Ya, sudah. Sekarang tolong jelaskan! Apa yang ingin di tanyakan oleh mas Raynar padaku, tentang isi kontrak kerjasama itu, hmm?"


"Oh, iya ini, Pak. Pak Raynar meminta saya untuk menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai surat perjanjian ini. Dan--" ucapan Hamas sejenak tercekat.


"Dan apa, Ham?"


"Apakah, Bapak yakin untuk memenuhi isi perjanjian ini sendirian, Pak?"


"Maksud mu, apa?"


"Ini akan terlalu berat bila ... Bapak menanggungnya sendirian. Jadi, pak Raynar meminta saya untuk memberitahukan pada Bapak. Kalau beliau juga ingin membantu bapak, Pak." Arfan termangu menatap lekat, berkas yang berisikan perjanjian tersebut dalam diam.


"Pak? Apa ... Bapak baik-baik saja?"

__ADS_1


"Oh, iya. Saya baik-baik saja, Ham."


Saat perbincangan antara Arfan dan Hamas mulai hening. Raynar datang dengan seutas senyum membingkai di wajahnya.


"Fan, Ham ...? Kalian sedang apa, hmm?" tanya Raynar dengan polosnya.


Arfan langsung mendekati si kakak ipar dengan menggenggam berkas di tangannya.


"Mas Raynar ... Mas tidak perlu sampai melibatkan diri karena kesalahan yang saya perbuat, Mas. Itu sama sekali tidak di perlukan, Mas," ujar Arfan dengan nada sedikit menekan.


"Tidak apa-apa, Fan. Berhubung sekarang kamu adalah adik ipar ku. Itu juga sudah menjadi kewajiban bagiku untuk menolong mu, 'kan? Jadi, tidak perlu kamu cemaskan, ya! Kita lakukan ini bersama-sama." Tangan kekar Raynar menepuk cukup kuat pundak si adik iparnya.


"Coba jelaskan padaku apa yang tertera di sana!" titah Raynar pada Arfan.


"Bukankah, Mas sudah melihat isi surat perjanjian ini? Lalu, ken--" Raynar menyela dengan tak biasa.


"Udah, buruan jelasin! Jangan, sampai aku marah dan menelan mu hidup-hidup, paham?!" ucap Raynar sedikit mengancam.


Bukan saja Arfan yang terkesiap tak percaya akan ancaman Raynar tersebut. Melainkan juga si Hamas asisten pribadinya Arfan.


"B-baik, Mas. Akan saya bacakan sekarang juga."


Kini Arfan telah sampai pada bagian kesimpulan. Ia mengutarakan semua isi yang tertera dengan jelas di sana. Tak satu pun yang ia rubah isinya pada saat ia menyampaikannya.


"Jadi, apabila kerjasama ini tidak berjalan sesuai dengan surat perjanjian. Maka, saya harus membayar sebesar 50% dari investasi yang akan di berikan perusahaan Morgan Tan pada 'Maheswara Corp', Mas." terang Arfan dengan penjelasan yang lebih terperinci lagi.


"Berapa dana yang kamu butuhkan, Fan?" ucap Raynar dengan entengnya. Seolah tanpa beban sama sekali dirinya berucap sekenanya.


"Apa ...?" Arfan malah terperanjat tak percaya.


"Hishhh, kamu! Begitu saja terkejut. Bagaimana kalau aku berikan uang yang tak terhingga jumlahnya?" ucap Raynar berlagak seperti orang kaya tanpa cela.


"Mas serius?" tanya Arfan yang membuat Raynar semakin kesal.


"Iya, sudah berapa kali aku pancarkan keseriusan padamu, hmm? Kenapa kamu masih saja meragu?"


"Maaf, Mas!"


"Simpan saja kata 'maaf' mu itu! Aku akan lebih suka mendengar kamu berucap 'terima kasih' ketimbang yang lainnya, Fan."


Drama kakak ipar dan adik ipar itu, sontak membuat Hamas terpaku.

__ADS_1


"Indahnya ... coba saja aku juga bisa ikut bergabung dengan mereka. Pasti seru!" gumam tak bersuara si Hamas yang hanya bisa berucap dalam dada.


"Ham, sini! Tolong, kamu sampaikan pada Morgan. Bahwa, hari ini saya dan Arfan akan memberikan uang penalti yang dia inginkan itu. Jadi, kamu jangan sia-siakan waktu lagi. Paham?!" sentak Raynar dengan angkuhnya.


"Siap, laksanakan Pak!" sahut Hamas dengan gerakan refleks yang cekatan.


Jangan tanyakan sebanyak apa uang yang akan mereka berikan pada Morgan. Yang pasti uang itu hanya akan di berikan dalam bentuk secarik kertas saja. Secarik kertas yang berisikan deretan angka-angka yang cukup panjang.


"Mas, bagaimana saya harus membayar jasa Mas Raynar yang begitu besarnya pada saya, Mas?"


Raynar tersenyum dan berkata, "Cukup kamu bahagiakan adik manjaku. Maka, kamu tidak perlu repot-repot memikirkan hal ini lagi, Adik Ipar."


...*****...


Kafetaria ....


Saat ini mereka bertiga telah berada di sebuah kafetaria yang cukup populer di kalangan masyarakat. Tempat itulah yang akan menjadi saksi berakhirnya hubungan kerjasama mereka dengan Morgan Tan.


"Fan, apa sebaiknya kita makan malam terlebih dulu, hmm? Sepertinya, Morgan belum juga menampakkan dirinya," ucap Raynar yang sesekali memperhatikan ke arah pintu masuk.


"Setuju! Kebetulan, ini memang sudah waktunya jam makan malam, Pak." sambar Hamas yang tampak mulai kelaparan.


"Ah, kamu ... main setuju-setuju mulu. Kapan kamu menolak kalau sedang membahas tentang makanan, hah? Saya bertanya pada adik ipar saya. Bukan padamu, Ham. Paham?"


"Udah-udah! Iya, sebaiknya kita pesan saja sekarang Mas. Nanti, kita tinggal menunggu Morgan saja, ya?" celetuk Arfan yang tak ingin melihat keributan.


"Oke, saya setuju karena kamu yang bilang. Bukan karena asisten yang kelaparan mulu." sungut Raynar yang tak pernah bisa akur bila membahas sesuatu dengan Hamas.


"Iya, Mas." sahut Arfan dengan senyum di wajahnya.


"Pelayan!" panggil Hamas yang di perintahkan oleh si atasan barunya itu, dengan tatapan penuh penindasan.


"Heran, deh! Nih, bos baru kayak punya dendam masa lalu ke aku. Apakah dulu aku pernah bertemu dengannya di masa lalu? Ah, ... rasanya tidak sama sekali! Tapi, kenapa dia bisa sebegitu tensi padaku? Lupakan ... Ham! Lupakan! Sekarang saatnya fokus untuk makan. Hehehe ...."


Hingga detik ini pun, belum terlihat jua sosok Morgan Tan yang menjadi objek utamanya mereka berada di sana.


Lantas, ke manakah Morgan Tan sebenarnya? Apakah ia akan memenuhi panggilan Arfan dan Raynar?


Semoga, semua ini dapat di selesaikan dengan penuh keharmonisan. Bukan dengan kekerasan! Apalagi, bila sampai membuat mereka bertarung dan bergelut dengan amarah yang tak bisa padam.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2