CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Rasa Malu Kian Meninggi


__ADS_3

Rangkaian demi rangkaian acara resepsi pernikahan, masih berlangsung hingga malam menjelang.


Arfan dan Fayra telah kembali duduk bersanding di atas pelaminan. Seusai melaksanakan shalat Isya berjama'ah sebelumnya.


Saat ketika ingin berfoto bersama, Arfan mencari-cari sosok adik semata wayangnya. Fayra juga sibuk mencari-cari sosok kakak-kakaknya.


Entah di mana gerangan kedua saudara-saudarinya saat ini. Begitu jua dengan Arfan. Sepasang pengantin baru itu, terus mencari-cari dengan bola mata mereka. Menelisik ke segala penjuru, di area pesta pernikahannya.


"Emmm, kak Raynar dan kak Savina kemana, ya?" gumam Fayra dengan merunduk sedih.


Arfan dengan cekatan memegangi pundak sang istri.


"Ada apa, hmmm?" tanyanya menatap dalam pada wajah sendu sang istri.


"Aku cari-cari kak Raynar dan kak Savina. Kenapa mereka belum hadir juga ke atas pelaminan? Padahal, aku sangat berharap bisa berfoto bersama mereka saat tadi pagi dan siang tadi. Tapi, bahkan hingga malam ini pun ... hahhh mereka tidak kelihatan sama sekali, Fan." Fayra semakin terbawa emosi.


Netra Arfan menangkap sekumpulan orang yang sedang menuju ke atas pelaminan. Mereka adalah orang tua dari Fayra beserta kedua kakak Fayra.


Lalu, di susul pula oleh keluarga Arfan dan adiknya Nadhifa. Memang sedari tadi, Nadhifa beserta kedua kakak Fayra tak ada berfoto bersama dengan mereka sejak tadi.


Wajar, bila Fayra dan Arfan merasa cemas akan hal itu!


Sebab, memang sejak awal saudara dan saudari mereka seakan enggan memberikan restu untuk mereka hidup berumah tangga.


Alhamdulillah!


Anggapan itu pun kini hilang sudah. Sekarang, kedua keluarga besar mereka telah berkumpul di atas pelaminan, untuk mengabadikan momen paling berharga dalam hidup Arfan dan Fayra.


...*****...


Usai sudah kegiatan panjang nan melelahkan hari ini. Semuanya dapat berjalan dengan lancar.


Sanah dan Nadhifa sedang duduk berkumpul bersama dengan Adiwangsa dan Hazna. Mereka tampak larut dalam kebersamaan yang baru saja tercipta.


"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar ya, Pak!" ucap Sanah dengan segenap rasa haru dan bahagia dalam dada.


"Iya, Bu Sanah. Alhamdulillah, saya juga merasa senang dan bahagia. Akhirnya, Arfan putra Bu Sanah bisa menjadi menantu saya. Saya sangat bersyukur, Bu. Sebab, Arfan telah mau menerima putri manja saya menjadi istrinya," tutur panjang Adiwangsa pada Sanah.


"Iya, Pak, Bu. Saya yang merasa lebih bersyukur, karena Fayra sudah mau menerima Arfan sebagai suaminya." balas Sanah pula.


"Iya, Bu Sanah. Oh, iya. Ibu dan Nadhifa sudah makan malam, 'kah?" tanya Hazna dengan penuh perhatian.


"Alhamdulillah, sudah, Bu."


"Nadhira, apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu, Nduk?" tanya Hazna dengan lemah lembut.


"Ndak, saya merasa ngantuk sekarang. Hoam ... ngantuk banget, sumpah!" ucap Nadhifa dengan sikap arogannya.


"Nad, kamu ini kenapa, sih? Kok, ndak sopan begitu sama Bu Hazna, hmmm?" Sanah menyikut pergelangan tangan putri rusuhnya dengan menampilkan wajah kesalnya.


"Sudah-sudah! Ndak, apa-apa, kok, Bu. Namanya, juga anak muda. Emosionalnya, masih belum bisa di kendalikan," ucap Hazna sebaik mungkin pada Sanah, agar tak menyinggung perasaan besannya itu.


...*****...


Lain lagi dengan sikap Savina, gadis itu lebih memilih untuk berpura-pura tidak sedih. Namun, juga tak menampakkan wajah bahagia. Sebisa mungkin, dia terlihat biasa saja. Walaupun sebenarnya. Ia amat merasa sedih dan patah hati.


"Huhhh ... nasib baik selalu memayungi anak manja di keluarga ini. Aku bisa apa? Ingin memiliki masa depan sendiri pun sudah tidak bisa lagi. Bahkan, aku harus menerima dengan lapang dada untuk bersekolah jauh dari keluarga. Apa aku ini benar-benar anak kandung mereka, Tuhan? Atau, aku ini sebenarnya hanyalah anak pungut yang di ambil karena mereka belum memiliki anak perempuan saat Fayra belum lahir ke dunia?" monolog yang teramat panjang dalam hatinya, Savina luapkan sembari memandang wajah bulan.

__ADS_1


Ada tangan yang menjulur tepat di hadapan wajah Savina. Sapu tangan berwarna putih yang di berikan oleh seorang pria, membuat Savina terdiam. Mulutnya terkunci, namun hatinya bertanya-tanya.


"Si-siapa pria ini? Mengapa memberikan ku sapu tangan? Apakah dia tahu aku sedang bersedih saat ini?" Netra Savina menatap dalam wajah seorang pria asing di hadapannya.


"Pakai ini! Air mata di wajah mu terlihat jelas, itu tidak baik untuk wajah cantikmu," ujarnya tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.


Kemudian, tanpa aba-aba pria itu pergi dengan langkah panjangnya.


"Eh, tunggu ...!" teriak Savina yang masih ingin menyampaikan sesuatu pada pria misterius itu.


Tapi, si pria lebih memilih untuk terus berjalan maju, daripada mendengarkan pinta Savina yang berharap ia berbalik badan.


Satu senyum penuh misteri, pria itu tampilkan pada wajah tampannya.


...*****...


Semua orang telah membubarkan diri. Semua anggota keluarga Arfan dan Fayra, juga telah berada di rumah megah milik Adiwangsa Maheswara.


Kini, rasa lelah tak bisa lagi mereka hindarkan. Semua orang berjalan menuju kamar masing-masing. Jika Sanah dan Nadhifa tidur di kamar tamu, berbeda dengan Arfan yang sudah pindah ke kamar Fayra sejak malam ini.


Semua orang telah tertidur pulas di kamar masing-masing. Lalu, apakah hal itu juga berlaku sama pada Arfan dan Fayra?


...*****...


Di kamar Fayra dan Arfan ...


Arfan dengan segera memasuki kamar mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya, yang terasa lengket oleh keringat.


Sedangkan Fayra, ia masih sibuk membuka segala macam rupa yang melekat pada dirinya. Wanita cantik itu tengah duduk bercermin di depan meja riasnya.


Setelah selesai dengan segala rupa kegiatan lepas melepas. Fayra bersiap untuk ke kamar mandi. Ia tampaknya lupa bahwa, saat ini Arfan tengah berada dalam kamar mandi.


Tanpa aba-aba tanpa permisi, Fayra ingin membuka segera pintu kamar mandi itu. Begitu ia meraih kenop pintu kamar mandi, wajahnya berkerut dan ia mulai bersungut-sungut.


"Loh ... loh ...! Kok, nih pintu nggak bisa di buka, sih?" ucapnya mengudara begitu saja.


Sejenak otaknya berotasi dan mengingat kembali seluruh kegiatan hari ini.


"Astaghfirullah ...!" Fayra langsung menepuk spontan jidatnya, kala ia telah mengingat semuanya.


"Aih ... Arfan, 'kan, sekarang juga tinggal satu kamar denganku! Fayra ... Fayra! Apa yang kamu pikirkan seharian ini, hah?! Kenapa malah tidak mengira hal ini akan terjadi, coba? Dasar gila!" umpat Fayra pada dirinya sendiri.


Kemudian, Fayra kembali ke meja riasnya. Hatinya bergemelut dan mulai bergetar hebat.


"Huhhh ... Astaghfirullah! Apa yang harus hamba lakukan ya, Allah ...? Aduh ... kenapa rasanya gugup begini, sih? Aku benar-benar merasa sesak sekarang."


Pintu kamar mandi pun terbuka, terlihat sosok Arfan telah muncul dari daun pintu. Kemudian, Arfan mulai berjalan menuju tempat tidur.


Mata Fayra tak kunjung jua lepas dari memandangi sosok Arfan, yang telah sah menjadi pendamping hidupnya.


Arfan yang di tatap intens oleh sang istri, ia mulai duduk di tepi ranjang dan mendekat ke arah sang istri.


"Ada apa? Apa kamu mencemaskan sesuatu, hmmm?" tanyanya dengan penuh kelembutan. Hal itu justru semakin membuat Fayra, merasa deg-degan dan malu yang semakin menjadi-jadi.


"Katakanlah! Saya akan mendengar setiap keluh kesah mu, Istriku." Arfan memandangi wajah ayu Fayra dengan hati yang suci lagi bersih.


Fayra membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia malu, kalau sampai Arfan tahu betapa ia sangat salah menilai Arfan selama ini. Dan lagi ... kini, Fayra teramat sangat mencintai pria yang telah menjadi suaminya itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu menunduk seperti itu, hmmm?"


Tanpa sebab apapun, Fayra menangis karena merasa bersalah terhadap Arfan.


"Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Loh, kok malah nangis? Apakah saya menyakiti mu, Istriku? Maaf ... saya sungguh tidak," ucapan Arfan tercekat. Fayra menghentikan Arfan untuk berucap.


"Maaf! Tolong, maafkan aku, Fan! Aku salah ... hiks, aku sangat bersalah padamu, Fan. Kamu gagal bertunangan dengan wanita baik-baik dan malah memilih wanita buruk seperti ku. Maaf, Fan! Aku telah sengaja membuat kamu gagal menikah dengan ustadzah Maira. Itu semua demi memenuhi rasa keinginan tahuan ku terhadap dirimu, Fan. Aku kira ... hiks ... aku kira kamu bukanlah pria baik-baik, Fan. Aku ...," Arfan memeluk tubuh rapuh Fayra yang telah terguncang karena rasa bersalah.


Merasakan kehangatan dekapan Arfan, tubuh Fayra tak bisa munafik. Dia begitu menyukai aroma tubuh Arfan, yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman dan aman.


"Tenangkan dirimu wahai ... Istriku! Jangan, salahkan lagi dirimu karena keputusan ku, yang memilih untuk menikahi mu. Semua ini murni atas keinginan ku sendiri!" Fayra mendongak menatap wajah tampan Arfan.


Kemudian, dia mulai beringsut dan menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Arfan.


"Maksud kamu apa, Fan?" tanyanya dengan mata yang telah digenangi oleh telaga bening.


"Aku memilih mu atas nama Allah! Jadi, ini bukanlah salahmu, Istriku!" lagi, Arfan menegaskan pada sang istri agar berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Benarkah, begitu, hmmm?"


Arfan mengangguk dan kembali memeluk erat tubuh rapuh Fayra yang sudah mulai tenang. Fayra tak menolak untuk di peluk oleh orang yang memang telah mencuri hatinya.


Tak ingin larut dalam suasana romansa, Arfan menyadarkan Fayra.


"Apa kamu tidak ingin mandi dan mengganti pakaian mu, hmmm?"


Wajah Fayra memerah seketika. Ia tampak sangat malu, namun bahagia!


"Oh, i-iya. Ini juga mau mandi dan bersiap-siap untuk tidur." ucap Fayra dengan amat sangat malu.


Arfan hanya tersenyum saja melihat tingkah Fayra, yang mendadak terlihat polos tanpa dosa.


Fayra pergi ke kamar mandi, sedangkan Arfan membaringkan tubuhnya di atas ranjang super empuk, milik Fayra selama ini.


Lama sekali Fayra di dalam kamar mandi, namun Arfan masih setia menanti. Arfan berniat untuk mengajak Fayra melakukan shalat berjamaah sebelum tidur.


Namun, istri cantiknya belum jua keluar. Arfan sambil membaca-baca ayat suci Alquran. Itu akan lebih baik, ketimbang ia harus duduk bengong saja, bukan?!


Beberapa menit kemudian ...


Fayra keluar dengan pakaian yang cukup membuat Arfan tergugah. Kemudian, ia mulai berjalan dan mengambil posisi untuk tidur di samping sang suami.


"Selamat malam, Suamiku! Tidur yang nyenyak dan mimpi indah!" ucap Fayra malu-malu.


Arfan melongo, niatnya untuk mengajak Fayra untuk shalat jadi tidak bisa terlaksana. Sebab, wanita yang ingin di ajak sudah mengambil keputusan sendiri tanpa kompromi.


"Ya, sudahlah! Mau bagaimana, lagi? Dia tampak sangat lelah sekali, aku juga tidak akan membuat dia merasa tidak nyaman terhadap kehadiranku di sisinya."


Sebelum ia pergi ke alam mimpi, ia sempatkan diri untuk mengucapkan selamat malam tepat di telinga sang istri.


"Selamat malam juga, Istriku! Mimpi indah dan temui aku di alam mimpi. Jika, kamu menginginkan hal yang sama denganku." ucap Arfan berbisik lirih pada telinga sang istri.


Mereka pun tertidur tanpa melakukan kewajiban sepasang suami istri terlebih dahulu.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2