
Pujian demi pujian yang di dapatkan oleh Fayra. Entah itu dari temannya Hasna ataupun para crew. Membuat gadis itu semakin percaya diri. Apalagi, ketika saat ini dirinya tampil di hadapan pria yang agaknya telah menawan hatinya saat ini.
"Arfan, sekarang giliran kamu yang ganti baju. Buruan, ya! Aku tunggu kamu di sini," ucap Fayra yang langsung membuat Arfan membeku tak percaya.
Bibir yang ingin berucap cepat, entah mengapa terasa keluh sesaat.
"Ke, kenapa saya, Non? Bukannya, saya ke sini cuma untuk nemenin Non Fayra, saja?" tanya kikuk Arfan pada Fayra.
"Kamu jangan lupa, ya! Tadi, 'kan, kamu memohon maaf padaku. Sekarang, apa kamu sudah mengingatnya, hmmm?" ucap Fayra, sembari menarik keatas salah satu alis matanya sebelah, seakan ia tengah mengancam sang pengawal setia.
"Iya, saya tidak lupa, Nona. Tapi, ...," ucapan Arfan langsung di sambar oleh Fayra si majikan yang suka berulah.
"Nggak, ada tapi-tapian! Ayo, buruan sana ganti bajumu!" kata Fayra yang sudah mendorong punggung Arfan, menyodorkannya pada tim penata rias yang telah siap siaga.
Dengan terpaksa, Arfan pun menuruti perintah sang nona mudanya itu. Lalu, Arfan pun di bawa pergi ke ruang ganti dan di sulap untuk menjadi pengantin pria masa kini.
Sembari menunggu si pengawal pribadi berhias diri. Fayra membuka buku majalah yang di lihat-lihat oleh Arfan tadi.
Tiba-tiba, Hasna datang menghampiri Fayra yang tampaknya terlihat senang dan gembira. Sebab, senyum di wajah cantik Fayra seakan tak pernah sirna. Tentu saja hal itu membuat jiwa kepo seorang Hasna, meronta-ronta tak tahan untuk bertanya.
"Fay, apa kamu yakin sama sekali nggak ada rasa sama, tuh cowok, hmmm? Kalau di lihat-lihat dari senyum kamu yang terus menerus mengembang seperti mie instan, sih ... aku kurang yakin kalau kamu nggak ada rasa ke dia," ujar Hasna panjang lebar, sepanjang perjalanan hidupnya di dunia fana.
Berlebihan memang!
Ya, memang Hasna sangat amat menyayangi Fayra, layaknya anggota keluarganya sendiri. Apalagi, Hasna memang anak tunggal dalam keluarganya. Sangat jauh berbeda dengan Fayra yang memiliki dua saudara.
"Fay, kok, kamu malah diami aku yang udah sangat ingin tahu tentang mu dan pria itu, sih?!" protes Hasna yang makin gencar untuk mencecar Fayra.
Fayra pun menutup buku majalah, kemudian mulai berkata, "Memangnya, kenapa? Apa kalau aku tersenyum terus itu artinya aku punya perasaan padanya, hmmm? Tidak, 'kan!" kilahnya yang amat pandai bersandiwara.
"Cih, kau ini ... benar-benar seorang drama queen, ya!" rutuk sebal Hasna yang pada akhirnya, tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Sekarang, dia justru malah cemberut karena merasa kecewa.
Melihat wajah tertekuk si sahabat, Fayra pun menepuk pundak Hasna pelan. Sembari berkata, "Hai, kamu kenapa, hah? Marah? Hehehe ... maaf! Sebenarnya, aku juga tidak tahu, Na. Aku juga belum bisa memahami apa yang aku rasakan saat ini padanya," ucap jujur Fayra yang membuat kepala Hasna menoleh ke arah sahabat karibnya.
Kini, kedua pandangan mata mereka bertemu dan saling menatap.
"Maksudmu, kamu belum tahu pasti perasaan mu padanya, begitu?" tanya Hasna mengulang kalimat Fayra padanya.
Fayra mengangguk tanda bahwa ia benar-benar bingung saat ini.
Hasna langsung lebih bersemangat lagi untuk mengajak Fayra berkomunikasi. Bahkan, dia sampai berdecak kagum pada tingkah sahabatnya yang satu ini.
Kocak sekali!
"Gini, ya, Fay ...," ucapan Hasna tercekat, saat Arfan tiba-tiba muncul mengalihkan perhatian kedua gadis yang berbeda fashion itu.
Mata Fayra dan Hasna berbinar seketika. Tatkala seorang pria tampan yang telah berganti pakaian, membuat mereka mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu tampak sempurna.
__ADS_1
Tampan dan rupawan!
Ya, wajah Arfan semakin terlihat tampan dengan penampilannya yang sekarang. Pria shaleh itu, menggunakan baju pengantin pria yang senada dengan warna baju pengantin wanitanya.
Sungguh Sempurna!
Kiranya, kata-kata itulah yang ada di kepalanya si Hasna yang mulai memprediksi di dalam hati.
"Masya Allah ... ini namanya pengantin pria yang sempurna. Kalau di pikir-pikir, mereka berdua ini sangat cocok, sih.Tapi, kenapa malah Fayra merasa ragu untuk menyukainya? Ah, sudahlah! Nikmati sajalah apa yang tersaji hari ini. Sepertinya, akan banyak rezeki untuk ku melalui mereka berdua. Jika, nanti penjualan desain yang ini sukses. Aku akan memberikan bonus untuk mereka." monolog Hasna di sudut relung hatinya.
"Bagaimana, Nona? Apakah saya pantas memakai baju ini?" tanya Arfan dengan rasa tak percaya dirinya.
Melihat Fayra dan Hasna tak ada yang menyahutinya. Arfan sontak ingin berbalik arah, berniat untuk kembali lagi mengganti bajunya.
"Sepertinya, tidak cocok, ya? Kalian jadi menatap aneh begitu pada saya. Kalau begitu, saya ganti lagi saja, ya!" ucap Arfan yang langsung di sambar cepat oleh Fayra dan Hasna berbarengan.
"Jangan ...!!!" teriak kedua gadis cantik itu yang juga langsung berdiri dari duduk mereka.
Arfan kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah si nona mudanya dan Hasna.
"Kenapa jangan? Bukankah, kalian menatapku dengan tatapan aneh, barusan? Saya kira ini memang tidak cocok untuk saya gunakan," terang Arfan yang merasa minder.
"Eh, jangan mikir begitu, Mas! Masnya tampan sekali, loh!" celetuk Hasna jujur.
"Iya, Fan. Jangan, ya! Ayo, kita mulai sesi pemotretannya!" ajak Fayra yang semakin deg-degan dibuatnya.
Sesi pemotretan pun di mulai.
"Oke, kamera stand by, lighting ... ready ...!" teriak sang fotografer pada semua crew.
"Mas, tolong lebih relaks lagi, ya! Jangan terlalu tegang!" ucap si juru kamera pada Arfan.
"I-iya," sahut Arfan yang malah semakin gugup.
Kembali sang fotografer memberikan arahan pada Arfan dan Fayra.
"Mbak sama Masnya usahakan untuk lebih terlihat natural, ya. Bayangkan, seolah-olah kalian adalah sepasang kekasih yang saling mencintai." ujar si fotografer yang langsung membuat keduanya semakin deg-degan tak tentu arah.
Bahkan, refleks mata Fayra dan Arfan saling bertatap-tatapan. Tanpa aba-aba, si fotografer malah mengambil potret Fayra dan Arfan secara diam-diam.
"Nah, ini bagus tanpa perlu di teriaki terlebih dulu." gumam si fotografer yang tidak terlalu terdengar oleh Arfan dan Fayra.
"Oke, ganti gaya!" kata si fotografer yang membuat Arfan dan Fayra tercengang dan serempak berkata, "Lah, memangnya sudah di mulai?" kata mereka kompak.
"Hehehe ... saya mengambilnya diam-diam tadi, sengaja iseng saja." celetuk si fotografer sambil nyengir kuda.
"Oh ...," ucap Fayra dan Arfan bersamaan.
__ADS_1
Berbagai pose telah mereka peragakan mulai dari pose bertatap-tatapan, saling memunggungi, saling memegang pundak dan masih banyak lagi. Tentunya, dengan tidak langsung menyentuh kulit satu sama lainnya.
Setelah itu, sesi pemotretan dilakukan di luar ruangan. Tepatnya di sebuah pelataran yang cukup luas dengan di hiasi berbagai macam bunga-bunga, yang semakin menambah nuansa romantis keduanya.
Lagi, mereka memulai sesi pemotretan di sana. Dan akhirnya, selesai juga pekerjaan untuk hari ini. Semua orang pun bertepuk tangan atas kerja keras mereka hari ini.
"Oke, finishing ... terima kasih semua! Semoga, sukses untuk kita semua!" teriak si juru kamera.
"Aamiin ...!" teriak semua orang yang ada di sana.
Hasna pun menghampiri Arfan dan Fayra yang tampak kelelahan.
"Nih, minum dulu calon pengantin! Hehehe ...," ledek Hasna pada Arfan dan Fayra.
Ledekan itu tak di tampik oleh Fayra maupun Arfan. Mereka justru malah tampak tersipu malu-malu.
"Makasih, ya, Na!" ucap Fayra yang menerima satu botol air mineral yang di sodorkan Hasna padanya.
Begitu juga dengan Arfan, pria itu juga mengungkapkan hal yang sama.
"Makasih, Mbak!" ucapnya sambil menundukkan kepalanya sedikit, sebagai bentuk etika tata krama yang amat sopan.
"Makasih juga, ya! Kalian udah mau jadi foto model dadakan aku. Hihihi ...." Lagi-lagi Hasna terkekeh tanda rasa puasnya akan usaha Fayra maupun Arfan untuknya.
"Iya, sama-sama, Mbak!" sahut Arfan yang juga di balas oleh Fayra.
"Lah ... kayak sama siapa, aja kamu, Na. Kita ini, 'kan, sahabat. Sudah sepatutnya saling tolong menolong dan saling membantu. Apalagi, kamu sangat butuh, 'kan?!"
"Hihihi ... iya, Fay." balas Hasna lagi pada Fayra.
Hari pun mulai petang. Arfan baru ingat kalau malam ini ia akan ke rumah ustadzah Maira.
"Nona, apa kita sudah bisa pulang?"
"Memangnya, kenapa, sih? Aku masih pengen ngobrol sama sahabat ku, Fan. Kamu jangan kebelet pulang dulu, deh! Ganggu, aja!" cerocos Fayra dengan nada kesalnya.
"Tapi, Nona ... saya ...,"
"Udah, jangan berisik! Aku masih mau di sini! Kamu masih mau kerjaan, 'kan?!"
"Iya, Nona. Tapi, ...," lagi-lagi ucapan Arfan di potong bagaikan harga baju yang sedang diskon, langsung di sambar dan di tinggalkan jika telah habis yang di inginkan.
"Sudahlah, diam saja! Yuk, Na kita masuk ke dalam!" ajak Fayra yang sudah ngeloyor seenaknya. Tanpa lagi peduli pada perasaan Arfan saat ini.
Sedangkan Hasna, dia hanya merasa turut prihatin atas nasib malang yang menimpa si mas tampan.
"Duh, gimana, nih?!" ucap panik Arfan yang akan di cap sebagai seorang yang tidak bertanggung jawab, atas janji yang sudah di buat.
__ADS_1
...*****...