CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Kelakuan Ervin Buat Gerah


__ADS_3

Lama tak di gubris setiap komunikasi yang di upayakan olehnya, Ervin tak ingin lagi tinggal diam Dia akan menemui Fayra dan mejelaskan segalanya. Pria tampan dengan postur tubuh yang menawan serta dengan tinggi badan yang ideal. Tentunya akan membuat setiap pasang mata para wanita akan berdecak kagum padanya.


Perlahan tapi pasti, Ervin mengambil langkah untuk segera pergi menemui Fayra. Saat ini, Ervin tak tahu apakah dirinya akan bisa di terima lagi oleh sang pujaan atau tidak sama sekali.


Satu hal yang pasti akan terjadi! Tekadnya sudah bulat dan itu tak akan berhenti. Sekalipun sang ayah amat keras menghalangi. Namun, hatinya tetap memutuskan untuk pergi.


"Ervin ...! Jangan gila kamu, ya! Papa sudah melarang kamu untuk tidak menemui gadis itu. Atau ... kamu akan kehilangan kesempatan untuk mewarisi seluruh harta Papa, Ervin ...!" hardik yang di penuhi nada ancaman tak bisa terelakkan dari mulut Erwin Adicandra pada anaknya.


Bukannya berhenti, Ervin justru melengos pergi tanpa permisi.


"Dasar anak kurang ajar!!! Berani-beraninya dia mengabaikan ancaman ku padanya. Padahal, aku sudah berusaha mendatangkan seorang wanita penggoda, agar dia segera berpisah. Tapi, kenapa sekarang malah jadi, begini?!" ucap Erwin dengan amarah yang membuncah.


"Sebaiknya, aku hubungi lagi wanita itu. Agar dia bisa tetap menjadi perusak hubungan Ervin dan Fayra." kemudian Erwin menghubungi wanita yang di maksudnya barusan.


"Halo ... Clarissa! Cepat kamu susul anakku. Dia pasti sedang menuju rumah kekasihnya."


"Baik, Pak! Saya akan segera ke sana. Bapak kirimkan saja alamatnya di mana."


"Oke, saya akan segera mengirimkannya. Ingat, tugas kamu buat mereka sampai benar-benar berpisah dan tidak akan lagi pernah bertemu! Setelah itu, baru saya akan membayar jasamu dengan setimpal!"


"Siap, Pak! Bapak tenang saja! Saya akan buat hubungan mereka hancur berantakan seperti sebelumnya."


Telepon pun di tutup, Erwin segera mengirimkan alamat rumahnya Adiwangsa Maheswara pada Clarissa. Clarissa adalah orang suruhan Erwin Adicandra untuk menggoda putranya pada saat Fayra datang ke kantornya Ervin satu bulan lalu.


Ya, dia adalah wanita sewaan yang bersedia melakukan hal apa saja. Kecuali satu hal, yaitu menyerahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Baginya, mengerjakan pekerjaan jahat tidak masalah. Akan tetapi, menyerahkan kehormatannya sebagai seorang wanita tidak akan pernah ia lakukan. Sebab, ia masih memegang teguh nasihat sang ibu. Yaitu, menghargai diri sendiri!


"Baiklah, Ervin Adicandra! Aku akan segera meluncur ke tempatmu berada!" ucapnya sebelum memulai aksi nekadnya tersebut.


Clarissa bersiap-siap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maksimum. Ia pun segera meluncur bebas, melintasi jalanan kota yang padat berisi kendaraan bermotor yang berlalu-lalang.


...*****...


Ervin tengah bermonolog di dalam mobil, sambil terus berharap agar Fayra mau menerima cintanya lagi.


"Fay, aku nggak akan pernah mau putus dari kamu sayang ...! Hatiku sudah terpatri untuk mu seorang. Jadi, mana mungkin aku akan menduakan kamu. Semenjak hari itu, hari di mana kamu salah paham terhadap ku. Aku tahu, ini memang terlambat. Ini semua karena tugas kantor begitu banyak menuntut untuk di kerjakan. Sampai-sampai, baru sekarang aku punya waktu untuk menemui Fay. Semoga, kamu mau menerima semua penjelasan ku nanti, aamiin!" doa Ervin lirih.


Tak terasa, akhirnya Ervin pun tiba di rumah Fayra. Momen yang sangat tepat sekali. Pasalnya, Fayra dan Arfan baru saja tiba di rumah. Sebab, waktu juga telah mendekati Magrib. Itu sebabnya, mereka pulang untuk mandi dan bersiap-siap melaksanakan shalat Maghrib juga.


"Fay, tunggu!" teriak Ervin pada gadis cantik itu, Fayra lantas menoleh ke sumber suara. Gadis itu menatap jengah dan malas melihat wajah sang mantan.


Ya, baginya Ervin sekarang hanyalah seorang mantan yang harus segera di buang jauh-jauh dari ingatan!


"Fan, kamu masuk duluan. Saya mau urus orang ini dulu," ujar Fayra memberikan perintah pada pengawal setianya tersebut.


"Nona yakin, saya tinggal sendirian di sini?!" sahut Arfan yang berat hati untuk meninggalkan sang majikan.

__ADS_1


"Iya, aku yakin, kok! Kamu masuk saja duluan!" serunya lagi pada Arfan.


Arfan pun patuh, namun hatinya berdetak menolak atas seruan itu. Akhirnya, dia hanya memantau dari jauh. Agar tak jadi pengganggu!


Ervin berjalan mendekati Fayra. Namun, gadis itu hanya cuek saja. Dia bahkan enggan untuk melihat wajah sang mantan.


"Fay, aku mohon! Jangan lakukan ini ke aku, ya! Kita jalin lagi hubungan diantara kita, ya! Aku nggak mau putus, Fay! Aku cinta sama kamu, Fay!" ucap Ervin yang menggenggam paksa tangan Fayra.


Lantas, gadis itu menepis jauh-jauh tangan Ervin darinya.


"Cinta ...?! Cinta kamu bilang?! Apa nggak salah dengar aku, hah?!" pekik Fayra yang ternyata juga di dengar oleh Adiwangsa dari atas balkon rumahnya.


Adiwangsa seolah membiarkan sang anak menyelesaikan apa yang memang seharusnya di selesaikan.


"Aku tidak akan pernah lagi mau balikan sama kamu!" sentak Fayra sembari mendorong tubuh kekar Ervin menjauh darinya.


Dan tak berapa lama kemudian, datanglah sesosok wanita cantik yang kala itu mampu mengguncang hati Fayra. Clarissa datang bak seorang kekasih yang amat merindukan sang kekasih saat ini.


Dia berjalan dengan anggunnya, lalu mendekati Ervin dengan acting-nya yang luar biasa. Tak kalah dengan para artis ternama lainnya. Dia membuat seakan benar dirinya dan Ervin tengah menjalin hubungan yang amat serius saat ini.


"Sayang ...! Syukurlah, aku bisa mengikuti kamu tepat waktu. Kalau tidak, aku tidak tahu kamu mau pergi kemana, tadi." keluh Clarissa dengan acting-nya.


"Apa-apaan, sih kamu, hah?! Kamu siapa? Aku tidak kenal siapa kamu! Cukup, ya! Jangan bertingkah seolah kamu adalah kekasihku. Bagiku, hanya ada Fayra. Tidak akan ada lagi perempuan lainnya! Minggir kamu!" bentak Ervin pada Clarissa yang bergelayut manja padanya.


"Fay, aku bisa jelaskan semuanya! Dia bukan siapa-siapa, Fay! Aku benar-benar tidak mengenal siapa dia, Fay! Percayalah ...! Aku mohon ... please, Fay! Jangan putus denganku! Aku ... aku sangat mencintaimu, Fayra Maheswara!" ungkap Ervin dengan jujur dan tulus.


Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Takdir sepertinya tak berpihak pada Ervin Adicandra. Cintanya harus kandas, hanya karena kesalahpahaman yang ia tak pernah tahu, siapakah dalang di balik itu semua.


Fayra lekas masuk dan membanting pintu tepat di hadapan muka Ervin Adicandra.


Sakit!


Sudah pasti!


Itulah yang kini di rasakan Ervin Adicandra. Cintanya tak lagi bisa di hargai, apalagi di hormati!


"Lebih baik kita pulang sekarang, ya!" ucap Clarissa yang merasa prihatin sebenarnya. Namun, mau bagaimana lagi! Ini sudah menjadi tugasnya untuk memperkeruh hubungan diantara Ervin dan Fayra.


"Maafkan aku, Ervin! Jika, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini dan menghasilkan uang lebih banyak dari ini. Tentu saja aku mau melakukannya. Tapi, ... ini semua aku lakukan demi orang yang aku sayang. Aku tidak mau di pergi meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Hanya dia yang aku miliki. Sementara kamu ... kamu masih punya seorang ayah yang menyayangi mu, Vin! Sorry! Aku terpaksa melakukannya." monolog Clarissa di dalam hatinya, walaupun ia merasa bersalah. Tapi, ia segera menepis jauh-jauh rasa bersalahnya itu.


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri," hardik Ervin yang menepis jauh-jauh tangan Clarissa yang mencoba membantunya.


"Oke ... terserah kamu!" ujar Clarissa setelah itu.


Mereka pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara. Adiwangsa yang sedari tadi menjadi seorang pengamat, ia hanya tersenyum simpul. Sebab, tanpa perlu ikut campur lagi. Toh, apa yang dia inginkan telah terjadi.

__ADS_1


"Bagus, putri Papa! Kamu memang luar biasa! Seharusnya, sedari awal kamu tidak perlu menjalin hubungan dengan anak dari musuh Papa!" ujarnya penuh kemenangan.


...*****...


Langit malam sangatlah indah, sehingga Fayra menatapnya lama. Kembali, ia mengingat apa yang baru saja terjadi beberapa menit lalu di depan rumahnya.


"Huhhh ...!" Fayra membuang nafasnya berat.


Dari atas balkon, ia melihat Arfan yang tampaknya tengah terburu-buru. Bibirnya gatal untuk tidak menegur si pria tampan yang berprofesi sebagai pengawalnya saat ini.


"Fan ...! Mau kemana?" teriak Fayra dari atas balkon.


Arfan pun mencari-cari suara yang memanggil namanya.


"Di sini, Woy! Lihat ke atas!" titah Fayra, lalu Arfan pun melihat sosok Fayra yang tengah duduk santai di atas sana.


"Eh, Non! Ada apa memanggil saya, Non?"


"Nggak, aku cuma mau tanya, aja. Kamu mau kemana malam-malam, begini, hmmm?"


"Oh, saya mau ke rumah sakit lagi, Non. Kemungkinan, saya akan menginap di sana. Besok, pagi-pagi sekali saya baru balik lagi ke sini." terangnya.


"Terus, kamu ngapain celingak-celinguk begitu? Lagi cari apa, hah?!"


"Oh, ini ... lagi cari sepeda motornya pak Usman, Non!"


"Untuk apa?"


"Ya, mau di pakai, Non!"


"Kenapa nggak pakai mobil saya, aja?"


"Ah, tidaklah, Non! Kalau pakai motor jauh lebih cepat dan lebih mudah, Non." tolak Arfan.


"Oh, gitu. Ya, udah. Hati-hati, ya! Awas, nabrak pohon kamu!" ledek Fayra sebelum ia tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Ya, ...," Arfan menggantung sejenak ucapannya. Sebab, si lawan bicaranya telah menghilang entah kemana.


"Nggak, mungkin lah, Non! Non Fayra ada-ada, aja." sambungnya lagi.


"Tapi, kalau di pikir-pikir. Si Non tumben jadi perhatian begini ke aku. Apa dia benar sudah ... berubah? Ah, rasanya itu tidak mungkin!" tepisnya nya jauh-jauh anggapan yang tak masuk akal tersebut.


Arfan pun segera pergi ke rumah sakit.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2