
Dokter ke luar dari ruangan dan menemui keluarga pasien. Belum lagi sempat dokter bertanya, Arfan dan Raynar langsung mencecar sang dokter dengan gentar.
"Bagaimana, Dok? Apakah istri saya baik-baik saja?" tanya panik dan cemas Arfan yang terkesan berlebihan.
"Iya, Dok. Bagaimana dengan keadaan adik saya, Dok?" imbuh Raynar pula yang tak mau ketinggalan untuk bertanya.
Dokter Febriani mencoba untuk menenangkan kedua pria tampan itu dengan kemampuannya.
"Bapak-bapak sekalian, tolong jangan panik, ya! Baik, saya akan jelaskan semuanya. Tapi, tidak di sini. Mari, ikut saya ke ruangan saya!" ajak dokter Febriani yang mulai melangkahkan kaki.
Tak lama setelahnya di susul pula oleh Arfan dan Raynar dari belakangnya.
...*****...
Ruangan Dr. Febriani ...
Arfan dan Raynar duduk berdampingan. Lalu, mereka mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan yang di lontarkan oleh sang dokter pada mereka.
"Jadi, begini Pak Arfan. Ibu Fayra terkena keram perut. Sebetulnya, hal ini tidak terlalu berbahaya. Akan tetapi, janin yang ada di dalam kandungan bu Fayra cukup lemah. Apabila terjadi keram perut seperti ini secara berulang-ulang itu yang mengakibatkan bisa menjadi fatal," terang dokter Febriani.
"Maksudnya, Dok? Saya masih belum bisa mengerti. Bisa jelaskan lebih terperinci, Dok?"
"Baik, Pak Arfan. Saya akan jelaskan. Kram perut saat hamil muda merupakan keluhan yang umum dialami ibu hamil. Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan hormon hingga kelainan pada rahim. Meski umum terjadi, kram perut saat hamil tetap perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya gangguan serius, Pak. Jadi, perlu dilakukan cara untuk mencegah hal itu agar tidak terulang lagi," kata dokter Febriani menerangkan pada Arfan.
Sementara itu, Raynar hanya bisa menjadi pendengar setia saja.
"Cara apa saja yang bisa saya lakukan, Dok?"
"Usahakan agar ibu Fayra meminum banyak air, rubah posisi tidurnya dari arah yang berlawanan dengan posisi sakitnya. Lalu, membiasakan diri bergerak secara perlahan saja dan hati-hati. Jika hal itu tidak dilakukan, maka--"
"Apa yang akan terjadi, Dok?"
Dokter Febriani menunduk dan kembali berucap dengan berat hati pada Arfan maupun Raynar yang ada di hadapannya saat ini.
"Keguguran." jawabnya datar dan pelan.
Baik Arfan maupun Raynar, mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Selain mengusap gusar bagian tertampan mereka. Wajah yang tadinya sudah sangat khawatir. Sekarang semakin di pupuk oleh kecemasan yang luar biasa.
"Astaghfirullah hal adzim ...!" Arfan beristighfar dengan lirih dan perih.
__ADS_1
Sedangkan Raynar, ia hanya bisa bergeming dan kalut dengan perasaan tak menentu.
...*****...
Fayra harus melakukan rawat inap (opname). Berhubung ia pun masih belum sadarkan diri. Ruang VIP untuk Fayra pun telah di sediakan. Sekarang, Fayra juga telah berada di sana.
Arfan yang pertama kali masuk ke sana untuk mengecek kondisi sang istri, yang tengah terbaring lemah.
Berbeda dengan Raynar. Ia kembali mengemban tugasnya menjadi OB di rumah sakit. Jadi, ia akan menjenguk Fayra nanti setelah ia selesai bekerja.
Arfan mendudukkan bokongnya pada sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut. Kemudian, ia pandangi wajah sang istri dari jauh. Pada kenyataannya, Arfan tak tahan bila tak mendekati sang istri yang tengah tak sadarkan diri.
Ia bawa kakinya untuk membawa tubuhnya mendekat ke arah sang istri. Lalu, dipegangi olehnya tangan Fayra dan menciumnya dengan penuh cinta.
"Fay, maafkan aku, ya! Kamu jangan seperti ini lagi, ya? Aku akan menemanimu di setiap waktumu. Berhentilah bersikap seolah kamu kuat. Kenapa tidak bilang padaku? Kalau kondisi kehamilan kamu semakin membuat kamu kesulitan selama ini ...?" sesal Arfan yang semakin mendalam.
Arfan masih setia mendekap tangan sang istri, menarik tangan itu sampai pada wajahnya dan mengelus lembut tangan Fayra dengan pipinya. Gesekan-gesekan pelan ia lakukan. Tak terasa genangan air mulai tertumpah pada wajahnya.
Tanpa sadar ... tangan Fayra pun basah karena air mata Arfan yang telah bercucuran. Fayra mulai membuka netranya perlahan-lahan. Ketika netranya tersingkap, ia lihat sang suami tengah memegangi tangannya.
"Fay, maafkan mas, ya!" ucap Arfan yang masih lagi setia dengan tangis tertahannya.
Fayra tak lantas menegur, ia biarkan derai air mata itu membasahi tangannya yang masih dalam genggaman sang suami.
Tak tahan akan kesedihan yang terbingkai dari sang suami. Fayra menggerakkan tangannya yang di genggam oleh suaminya itu. Sontak, Arfan terkejut dan dengan segera menghapus jejak-jejak air matanya yang sudah tertumpah.
"Eh, Sayang ...! Kamu sudah bangun, hmm?" tanya Arfan yang sudah menghapus air matanya.
"M-Mas ... apakah Mas menangis tadi?" tanya yang sebenarnya sudah Fayra yakini jawabannya.
Arfan menggeleng cepat dan menampik untuk menjawab yang sebenarnya. Agar Fayra tak bertanya lebih lanjut lagi padanya.
"Tidak. Oh, ya ... kamu jangan banyak bergerak, ya. Kata dokter kamu harus banyak minum air. Kalau gitu, mas ambilkan air minum untuk kamu, ya! Tunggu sebentar di sini," seru Arfan yang langsung beranjak dari duduknya.
"Iya, Mas." sahut Fayra pelan.
Arfan mengambil air minum yang tersedia di atas nakas di samping tempat tidur Fayra. Di sana juga terdapat buah-buahan yang sudah di siapkan untuk Fayra.
"Mau makan buah, Sayang?" tanya Arfan yang di balas dengan anggukan saja oleh Fayra.
__ADS_1
"Kamu sukanya buah apa? Pir, mau?" tanya Arfan dengan bertubi.
"Iya, Mas. Aku suka kok apa saja yang mas berikan," sahutnya dengan tenaga yang tersisa.
"Oke, Mas kupas, ya!"
Arfan tengah asyik mengupas buah pir, Fayra pun tak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya beberapa waktu lalu.
"Mas ...?"
"Hemmm, iya. Ada apa, Sayang?"
"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku, Mas? Dokter bilang aku kenapa, Mas?"
Arfan berhenti dari pekerjaannya dan mulai memikirkan cara, agar Fayra tak terbebani dengan hasil yang di sampaikan oleh dokter Febriani padanya.
"Tidak mungkin aku bilang kalau dia bisa saja keguguran, 'kan? Itu pasti akan sangat membuat pikirannya buntu. Aku tidak mau Fayra sampai cemas berlebihan nanti. Jadi, lebih baik aku jaga kesehatannya tanpa perlu dia tahu resiko yang akan dia terima nantinya. Aku tidak mau kalau sampai dia jadi depresi." monolog Arfan dalam benaknya.
"Mas ...?! Kok, Mas malah diam, sih?!" tegur Fayra sedikit menaikkan suaranya dari sebelumnya.
"Oh, itu ... iya, tadi dokter bilang kamu tidak boleh banyak bergerak, harus banyak istirahat dan jangan lupa minum air putih yang banyak, Sayang. Jadi, Mas akan siaga mulai sekarang untuk jagain kamu dan calon anak kita." terangnya sambil berjalan mendekati Fayra.
Fayra mengernyit, dia masih bingung dengan penjelasan Arfan yang di nilai masih jauh dari apa yang seharusnya.
"Mas, aku tanya ke mas, aku tadi kenapa? Tapi, kenapa rasanya jawaban kamu tidak sinkron dengan yang seharusnya kamu beritahukan padaku, hmm? Ada apa, Mas ...?" Fayra mencoba untuk membuat Arfan berkata yang sebenarnya.
"Istirahat, ya! Jangan, banyak berpikir yang bukan-bukan! Oh, ya ... kamu harus patuh sama semua hal yang mas katakan tadi. Bisa, 'kan?" sorot mata Arfan menyiratkan sebuah pengharapan di sana.
"Iya, paham, Mas ...." Fayra pun meminum air putih yang di sodorkan Arfan barusan padanya.
"Sekarang makan buahnya, ya! Buka mulutnya!" pinta sekaligus seruan Arfan ungkapan.
Hap ...
Fayra pun melahap buah pir yang Arfan suapi padanya. Saat ini, Arfan menjelma menjadi sosok suami sejati yang siap siaga menemani sang istri dalam segala kondisi.
...*****...
Tak ada yang bisa di lakukan, apabila kita hanya berpangku tangan.
__ADS_1
Sebaliknya, akan ada banyak keajaiban. Apabila kita mengusahakan dengan keyakinan.
...*****...