CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Kehidupan Raynar Ravindra Maheswara


__ADS_3

Beberapa bulan terakhir ini, Raynar hengkang dari rumah dan apartemen mewahnya. Siapa yang akan menyangka, bila seorang Raynar Ravindra Maheswara, anak dari Adiwangsa Maheswara, kini justru hidup sederhana dengan gaji yang tak seberapa?


Raynar tak lagi melakukan hal-hal buruk yang pernah ia lakukan bersama sohib-sohibnya. Pria tampan itu memilih menyibukkan diri untuk menjadi seorang cleaning servis di salah satu rumah sakit di kota Yogyakarta.


Rumah sakit yang juga merawat seseorang paling berharga, dalam hidup seorang wanita yang bernama Clarissa Anastasya.


Sekarang, Raynar tengah membersihkan beberapa ruangan yang kotor, di salah satu sudut di rumah sakit tersebut.


Beban pikiran yang ia alami saat ini, tak lantas membuat Raynar berkecil hati. Ia tahu, bahwa semua ini adalah kesalahan yang sudah sepatutnya ia terima.


Mengepel lantai dan membersihkan kaca jendela. Sudah merupakan makanan sehari-hari bagi Raynar Ravindra Maheswara. Lanjut terus mengepel, tiba-tiba ia mengingat akan sesuatu. Sesuatu yang pernah di berikan oleh wanita bagaikan, 'bidadari surga', yang ia berikan gelar kehormatan luar biasa saat bertemu di jalan aspal.


"Nah, kenapa gue nggak coba cari tuh cewek resek bin judes tapi ngangenin, ya? Sekarang gue, 'kan, udah beli ponsel ya ... meskipun kualitasnya nggak akan mungkin sebanding sama ponsel yang di beli pakai uang tuh, pak Presiden." ujar Raynar yang mulai merogoh saku celananya.


Kemudian, dia bergegas pergi menuju loker milikinya untuk mengambil secarik kartu nama yang diberikan oleh Clarissa Anastasya, padanya beberapa bulan lalu.


Awal mula Raynar bekerja di rumah sakit ini adalah usulan dari Jodi Prakash. Sebab, orang tua Jodi memiliki kuasa di rumah sakit tersebut. Bisa di bilang, ini adalah salah satu investasi yang di miliki oleh keluarga Jodi Prakash sahabat Raynar itu.


Sadar akan kualitas diri bukanlah di bidang bedah-membedah orang, Raynar lebih memilih jalan aman. Jadilah ia sekarang seorang cleaning servis, yang digandrungi oleh banyak cleaning servis perempuan di rumah sakit tersebut.


Kebanyakan orang awam, tak akan pernah tahu tentang jati diri dari anak Adiwangsa yang satu ini. Sebab, dia sangat jarang muncul di majalah-majalah ternama maupun sejenisnya.


Dia hanya aktif dalam urusan mabuk-mabukan dan juga wanita malam. Namun, tekadnya sudah berubah haluan, Kawan! Dia sudah tidak mau lagi terjun ke dunia malam yang sarat akan dosa!


"Mas ganteng ...! Mau kemana?" tanya salah satu cleaning servis wanita paruh baya pada Raynar.


"Eh, Bu. Ini ... mau cari nomor telepon teman, Bu. Ibu udah selesai kerjanya?" tanya Raynar balik pada Samara.


"Oh, gitu. Belum, ini masih harus bersih-bersih di sana," tunjuk Samara ke salah satu ruangan di rumah sakit.


"Oke, semangat, Bu! Saya juga nanti lanjut lagi setelah mengirim pesan pada teman," ucap Raynar sembari sumringah.


"Oh, Oke! Kamu juga, ya! Semangat untuk deketin gebetannya. Hehehe ...." ledek Samara pada Raynar.


"Ah, Ibu tahu, aja, nih!" ucap Raynar setelah kepergian Samara.

__ADS_1


Raynar mulai melancarkan aksinya untuk mendekati Clarissa Anastasya. Dia mulai mengetik kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang terlampau berlebihan.


Ehemmm ... cuma mau bilang, kapan nih, kamu mau tanggung jawab atas rusaknya motor saya beberapa bulan lalu, hah?! ketik Raynar yang langsung mengirim pesan itu pada Clarissa Anastasya.


Di salah satu sudut ruangan di dalam rumah sakit yang sama. Clarissa sedang menunggu sang ibunda tercinta yang telah lama koma. Clarissa benar-benar bekerja apa saja, kecuali menjual harga dirinya sebagai seorang wanita. Sebab, pesan yang diberikan oleh ibunya, tak pernah Clarissa lupakan.


Entah sudah berapa kali, air matanya jatuh membasahi pipi maupun sajadahnya. Entah sudah berapa kali, penyesalan yang ia kerap rasakan dalam hatinya.


Namun, lagi-lagi dia mengadu dan mengeluh pada sang ibunda tercinta, yang tengah terbaring lemah antara hidup dan matinya.


"Bunda ... kapan Bunda akan sadar? Cla bosan hidup seperti ini terus Bunda ...! Cla ingin bisa hidup bahagia bersama Bunda ...! Hiks ... ayo, sadarlah, Bunda ...!" pinta penuh harap dari bibirnya yang sudah terbingkai air mata.


Satu suara menyentak telinga Clarissa, ia lantas cepat-cepat mengambil ponselnya di dalam tas sandangnya. Takut kalau-kalau itu adalah sebuah pesan dadakan untuknya dari Erwin Adicandra.


Ketika Clarissa membuka pesan dari nomor yang tak di kenal. Otaknya otomatis berotasi untuk mengingat akan sesuatu, yang di tulis melalui pesan singkat dan tak jelas asal-usulnya itu. Dia mulai membaca dan menelaah pesan tersebut dengan seksama.


Ehemmm ... cuma mau bilang, kapan nih, kamu mau tanggung jawab atas rusaknya motor saya beberapa bulan lalu, hah?!


Clarissa pun membalas dengan tak kalah ketusnya pada orang tersebut, yang menurutnya itu hanyalah suatu keisengan saja.


Secepat kilat, Raynar membalas pesan dari Clarissa padanya.


"Wah, songong nih, bidadari ku!" celetuk terlampau percaya diri Raynar akan bualannya sendiri.


Temui saya di rumah sakit, 'Kasih Bunda'. Nanti, saya akan jelaskan kerusakan apa saja yang di alami oleh sepeda motor saya. Paham, Mbak Manis?!


Clarissa kembali menerima pesan dari orang yang di anggapnya orang iseng itu, dengan wajah yang tampak kesal dan marah.


"Wah ...! Wah, nih orang bener-bener ngeselin bin nggak tahu diri, ya! Oke, aku akan temui dia kebetulan rumah sakit yang dia maksud juga sama, 'kan. Jadi, tunggu saja oleh mu orang ngeselin! Aku akan tarik-tarik rambut kamu kalau kamu perempuan. Aku akan hajar kamu kalau kamu laki-laki. Gini-gini, aku bukan cewek lemah!" ujar Clarissa dengan menyingsingkan lengan bajunya.


Kemudian, Clarissa mulai mengambil langkah lebarnya. Dan sebelum itu, ia sempat meminta izin pada ibu tercintanya.


"Bunda, doakan anak gadismu ini selamat saat berperang nanti, ya, Bunda!" bisik Clarissa pada telinga ibunya.


Setelah usai meminta izin, Clarissa membuka pintu dan ... betapa kesalnya dia ketika netranya menangkap sesosok Raynar Ravindra Maheswara, telah berdiri di salah satu sudut koridor rumah sakit lengkap dengan alat-alat cleaning servis yang di pakainya untuk bersih-bersih.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... sumpah! Ini namanya aku kena musibah dua kali dalam sehari. Bisa-bisanya, tuh cowok resek juga ada di sini. Ampun, deh! Jangan sampai dia lihat ke arah aku." batin Clarissa bergelut dalam gemingnya.


Perlahan-lahan, Clarissa berusaha untuk kabur tanpa terlihat oleh pemuda resek yang di maksudnya. Dengan tas sandangnya ia menutupi wajahnya.


Sial sungguh sial!


Raynar justru sudah mengenali postur tubuhnya. Raynar dengan percaya diri memanggil Clarissa dengan sebutan, 'Mbak Manis'.


"Eh, Mbak Manis ...! Mau kemana, Mbak? Kok, malah keluar dari sana? Saya baru saja mengirim pesan ke Mbak! Ternyata, Mbaknya juga ada di sini, toh! Wah ... wah ... jangan bilang kalau ini pertanda bahwa kita berjodoh, Mbak Manis!" ucap Raynar yang sudah berbisik tepat di telinga Clarissa.


Bola mata Clarissa membulat seketika.


"Apa?! Ja-jadi ... dia orang iseng yang ngirim pesan ke aku?! Oh, my God! Ini sungguh takdir buruk, ya Allah ...! Kenapa Engkau malah mempertemukan aku dengannya?!" hati Clarissa meraung-raung bagaikan di hantam gemuruh.


"Hei, Mbak Manis! Masih ingat sama saya, kan? Kamu juga makan banyak di pernikahan adik saya waktu itu. Ah, masa, sih kamu bisa lupa? Pernikahan adik saya juga belum ada seminggu. Kalau masalah sepeda motor saya, ya, memang itu salah saya. Sebab, saya terlambat mengajukan protes pada Mbaknya," terang Raynar yang semakin membuat otak Clarissa berotasi untuk berpikir jernih.


"Mas ...! Sadar nggak, sih kamu?! Saya heran, deh sama kamu, Mas! Kamu ini, 'kan, orang kaya, ya? Nah, loh! Kenapa malah masih meminta pertanggung jawaban atas rusaknya sepeda motor kamu yang mungkin ya, nggak seberapa itu," cecar Clarissa dengan nada herannya yang mendominasi.


"Iya, sih! Tapi, itu dulu sebelum saya memutuskan untuk keluar dari rumah megah dan apartemen mewah milik pak Presiden," Raynar mulai bercerita, sambil duduk di salah satu kursi tunggu di depan kamar rawat ibu Clarissa.


"Lah, kenapa nih, orang jadi malah curhat segala, sih? Dia pikir aku ini nggak ada kerjaan lain kali, ya? Ah, tapi kasihan juga kalau di tinggal pergi gitu aja. Duh, mesti dengerin atau nggak, ya?!" monolog Clarissa bimbang dan galau dalam jiwanya.


Sementara, Raynar sedang asyik bercerita dengan nada bicaranya yang mulai sendu dan pilu.


"Dulu ... saya sering mabuk-mabukan, Mbak Manis! Ketika ada seorang pemuda masuk datang ke rumah keluarga saya, saya mulai berpikir. Jika, orang biasa seperti dirinya bisa di terima dengan mudah oleh ayah saya yang saya beri julukan, 'Pak Presiden' itu, lalu, mengapa saya yang anaknya tidak bisa di terima olehnya?" ungkap Raynar dengan segala keluh kesahnya yang bercokol di dada.


Akhirnya, Clarissa pun memilih untuk menjadi pendengar setia seorang Raynar Ravindra Maheswara. Dia tak berkomentar apa-apa, selain mendengar dan mengamati setiap inci dari ekspresi wajah Raynar saat ini.


...*****...


Akankah benih-benih rasa suka, sayang atau cinta itu tumbuh dalam diri seorang wanita cantik bernama Clarissa, pada Raynar si anak badung yang tengah menjalani hidup mandiri di luar zona nyamannya?


Waktu dan lagi-lagi hanya waktu yang akan menjawab tanya itu!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2