CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Curhat


__ADS_3

Fayra memencet bel dengan serakah.


Ting ... tong ...


Ting ... tong ...


Ting ... tong ...


Pintu pun terbuka, terlihat wajah mbok Minah terpampang jelas di ambang pintu.


"Eh, Non Fayra udah pulang! Mau di siapkan makan malamnya sekarang, Non?" tanya lembut si mbok pada Fayra.


"Nggak, perlu, Mbok! Makasih, aku mau langsung tidur, aja, Mbok." sahut tegas Fayra dengan kaki yang terus di bawa melangkah.


Di susul pula oleh Arfan dari belakangnya. Lalu, mbok Minah menanyai Arfan tentang apa yang telah terjadi pada sang putri majikannya tersebut.


"Le, sebenarnya ada apa? Kenapa si non Fayra sikapnya jadi jutek, begitu?" tanya mbok Minah, dengan manik matanya yang menelisik wajah Arfan seakan tengah mencari jawaban.


"Saya juga, ndak tahu, Mbok! Sejak dari rumah sakit, sikapnya non Fayra sudah begitu, Mbok." jawab Arfan sesuai kenyataan yang ada.


Di dalam, Fayra juga di tanyai oleh sang mama. Setiap langkahnya menuju kamar selalu saja terhenti karena ulah ke kepo-an dari orang-orang yang ada di rumahnya.


"Eh, Fay ...! Kamu, udah pulang, Sayang. Apa kamu sudah makan malam, Sayang?" tanya lembut sang mama padanya. Namun, lagi-lagi Fayra menyahutnya dengan ketus.


"Fay, nggak selera, Ma! Fay, mau langsung tidur, aja!"


"Eh, tunggu dulu, Fay! Mama masih mau bicara sama kamu, Nak ...!" teriakan Hazna tak lagi di hiraukan oleh putri manjanya yang tengah termakan api cemburu yang ia tak sadari saat ini.


"Fay ...!" jerit Hazna sekali lagi, namun tetap tidak di gubris oleh sang putri.


Lagi, Arfan menjadi sasaran tempat untuk bertanya akan sikap Fayra yang mendadak berubah menjadi marah.


"Arfan ...!" panggil Hazna.


Hazna pun berjalan mendekati Arfan, begitu pula sebaliknya.


"Fan, sebenarnya apa yang sudah terjadi, hmmm? Kenapa, sikap Fayra mendadak jutek dan terlihat marah, begitu?" berondong Hazna melontarkan pertanyaan pada Arfan.


"Sa, saya juga tidak tahu, Buk. Saya juga di marahi sejak di rumah sakit, tadi." terang Arfan dengan sedikit gugup.


"Oh, begitu, ya? Ya, sudah. Kamu pergi lah makan malam jika belum makan," titah Hazna lemah lembut.


"Ya, Buk. Terima kasih, Buk!"


Hazna pun mengangguk dan berbalik badan menuju ke dapur.


...*****...

__ADS_1


Di kamar Fayra ...


Gadis itu membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap sempurna. Di ambilnya bantal dan menariknya, agar menjadi sandaran kepalanya yang terasa berat. Akibat terlalu lelah memikirkan sesuatu hal yang aneh menurut otaknya.


"Sebenarnya, apa yang membuat aku jadi, seperti ini? Kenapa aku tiba-tiba marah tidak jelas pada Arfan? Apakah aku terlalu takut kalau dia akan berhenti menjadi pengawal ku lagi? Bukankah, selama ini aku lebih suka hidup bebas? Lalu, kenapa tiba-tiba sekarang aku mendadak suka di kawal olehnya? Dan ... seakan tak rela bila dia memiliki wanita lain untuk ia lindungi selain aku. Aishhh ... ini benar-benar membingungkan!" gerutunya yang kalut akan pemikirannya sendiri.


Tok ... tok ... tok ...!


"Fayra, Sayang! Mama boleh masuk, nggak?" tanya Hazna dari balik pintu.


"Masuk, aja, Ma! Pintunya, nggak di kunci, kok!" sahut Fayra dari dalam kamarnya.


Krekkk ...


Pintu pun terbuka dan Hazna masuk dengan membawa nampan berisi makanan untuk Fayra.


"Sayang, makan dulu, ya. Mau, 'kan?" Fayra menggeleng pelan.


"Fay, nggak mau, Ma! Fay, nggak selera makan, Ma ...." ujar Fayra menolak keras.


"Ya, udah ... kalau, gitu mau, 'kan, cerita ke Mama? Mama pengen tahu, kenapa kamu tiba-tiba jadi, marah-marah nggak jelas seperti sekarang ini?"


Fayra mulai mendekati sang ibu, lalu dia pun memeluk erat tubuh sang ibu.


"Ma ...?"


"Ma ... Mama pernah nggak, sih mengalami perasaan nggak bisa merelakan seseorang karena suatu alasan?" ujar Fayra yang lugu dan polos. Seakan ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya.


Hazna sampai-sampai berkerut kening mendengar penuturan sang anak tercinta. "Apa, Sayang?! Kamu, serius nanya hal seperti itu sama, Mama?" ungkap Hazna seakan tak percaya.


"Ihhh ... Mama! Jangan ngeledek, deh!" ucap kesal Fayra.


"Hehe ... maaf, maaf! Mama cuma nggak nyangka, aja kamu akan pernah menanyakan hal seperti ini pada Mama. Emmm ... sepertinya, sih pernah, deh seingat Mama."


"Serius, Ma? Siapa orang yang nggak bisa Mama relakan itu?"


"Papa kamulah! Emang, siapa lagi, coba?" tanya balik Hazna yang membuat Fayra bingung.


"Udah, nggak usah bingung, gitu!" lanjut Hazna lagi.


"Kenapa Mama nggak ingin merelakan papa, Ma?"


"Karena ... Mama mencintai papa kamu. Nah, sekarang giliran Mama yang nanya ke kamu. Kamu ... sedang mengalami hal ini, ya? Siapa orangnya, hmmm? Apa Mama kenal sama dia?" tanya Hazna memburu, serta menggoda sang anak.


"Ahahaha ... ngaco! Aku nggak mungkin mengalami hal itu, Ma. Maksud aku ini itu pertanyaan yang di ajukan sama teman aku, Ma." alibinya dengan cerdas untuk mengelak dari tuduhan sang ibu.


"Benarkah?! Emmm ... Mama, kok kurang percaya, ya?"

__ADS_1


"Mama ...!"


"Iya-iya, bercanda, Sayang. Jadi, teman kamu itu kenapa?" Hazna berpura-pura percaya pada ucapan putrinya itu.


"Dia sebenarnya juga masih bingung, Ma. Sebenarnya, dia dan seseorang yang dekat dengannya itu tidak ada hubungan apa-apa selain profesional kerja, aja! Tapi, anehnya ketika bawahannya itu berkenalan dengan seseorang. Dia seakan tidak rela kalau bawahannya itu berkenalan dengan seseorang itu, Ma! Emmm ... Mama, ngerti, 'kan, maksud aku?!" ucap Fayra mengernyitkan dahinya.


Hazna tersenyum, dia sangat mengerti sekarang apa yang sedang di alami oleh Fayra.


"Oh, tentu! Mama sangat bisa memahaminya, Sayang. Itu artinya teman kamu itu menyukai bawahannya! Itu, sih, pendapat Mama, Sayang. Kalau menurut kamu, bagaimana?"


"Hah?! Masa, sih suka? Aku nggak mungkinlah suka sama dia!!!" teriak Fayra tanpa sadar. Lalu, cepat-cepat dia meralatnya.


"Eh, ma, maksud aku ... nggak, mungkinlah Ma kalau teman aku itu suka sama bawahannya," bantah Fayra cepat.


"Hehehe ... sikap kamu ini mengingatkan Mama pada diri Mama yang dulu, Sayang." ucap Hazna terkekeh.


"Maksud, Mama?!" Fayra berkerut kening.


"Iya, dulu itu Mama selalu menampik bahwa Mama sangat menyukai papamu,"


"Ma, salah! Ini itu cuma cerita teman aku, Ma!" protes Fayra yang masih lagi setia pada sikapnya yang mendramatisir.


"Eh, iya lupa! Maksudnya Mama itu, teman kamu itu persis seperti Mama dulu, Fay." ujar Hazna yang masih menahan tawanya yang sempat pecah beberapa detik lalu.


"Mama serius?! Apa Mama nggak salah menafsirkan, Ma?"


"Memang, apa yang salah dari perkataan Mama, Nak?"


"Ya, nggak ada, sih! Tapi, ... aneh, aja rasanya,"


"Kenapa mesti aneh, Sayang?"


"Masa iya atasan dan bawahan bisa saling suka dan ...," Fayra ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Dan jatuh cinta, maksud kamu, hmmm?" tambah Hazna menimpali ucapan sang putri.


Fayra mengangguk dan menampilkan raut wajahnya yang masih kebingungan.


"Sudahlah, jangan kamu pikirkan lagi! Jika, memang kamu masih sulit untuk memahaminya, ya? Oh, ya. Tadi, papa titip pesan ke Mama. Katanya, kamu kalau mau pergi ke mana-mana harus selalu sama Arfan, oke? Ya, udah. Sekarang, Mama keluar dan kamu istirahat, ya! Selamat malam, Sayang!" ucap Hazna sembari memberikan sun selamat malam di kening sang putri.


"Selamat malam, Ma!" balas Fayra dengan tersenyum.


Setelah kepergian sang mama, Fayra terus memikirkan ucapan mamanya barusan.


"Apa iya aku udah mulai suka sama Arfan? Ah, masa, sih? Iya, kali aku tiba-tiba suka sama tuh, orang! Nggak mungkinlah, Fay!" Lalu, ia pun menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia tertidur dengan pulas dan nyenyak hingga pagi.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2