CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Mengapa Harus Dia?


__ADS_3

Isak tangis Savina kian memekakkan telinga. Hamas mulai tak tahan dan tak sabaran. Ia lantas menghentikan tangis si kakak ipar sang atasan.


"Mbak ... Mbak ...! Kenapa malah makin kenceng, sih nangisnya? Kita berdua 'kan, nggak berbuat jahat sama Mbak. Lah, kenapa Mbaknya malah nangis sekencang ini, coba? Malu, Mbak ...! Malu! Lihat, tuh ...!" tunjuk Hamas ke orang-orang yang berlalu lalang, melihat ke arah mereka akibat ulah Savina.


Selayang pandang, Savina melirik ke arah tunjuk Hamas dengan linangan air mata, yang masih lagi setia mengalir bercucuran.


"Ham, sudah! Jangan kamu malah memarahi kakak ipar saya!" celetuk Arfan bagaikan sebuah titah bagi Hamas.


"Tapi, Pak ...,"


"Sudahlah, biarkan saja dia meluapkan apa yang dia rasakan! Kita tunggu saja sampai dia merasa baikan,"


"Baik, Pak!" sahut Hamas patuh.


Savina berdiri dan bergegas untuk pergi. Akan tetapi, Arfan tak membiarkan si kakak ipar untuk melenggang pergi begitu saja. Sebab, ia masih lagi sangat khawatir terhadap Savina. Takut, kalau-kalau pria yang menarik paksa tangan si kakak ipar akan balik lagi mengganggu si kakak iparnya itu.


"Mau kemana, Mbak? Biarkan saya dan Hamas mengantarkan Mbak, ya?" tawar Arfan dengan sopan.


"Nggak, usah! Makasih, aku cuma butuh waktu untuk menenangkan diri sendiri. Jadi, tidak perlu repot-repot kalian temani," tolak cepat Savina yang langsung kembali mengayunkan langkahnya.


"Loh, Pak?" Arfan melihat ke arah Hamas yang memanggilnya.


"Kok, malah di biarkan pergi sendiri kakak iparnya, Pak?" lanjut Hamas lagi pada Arfan.


Arfan menepuk pelan pundak Hamas dan berkata, "Ndak, apa-apa! Yuk, kita ikuti diam-diam!" seru Arfan pada bawahannya.


"Oke, siap laksanakan, Pak!"


Mereka pun mengikuti Savina diam-diam.


...*****...


Yogyakarta ...


Bila di Yogyakarta menunjukkan pukul 08.05 WIB am. Berbeda halnya dengan di Kanada. Saat ini waktu di Kanada menunjukkan pukul 20.05 pm. Rentang waktu yang amat sangat jauh berbeda.


Saat ini, Fayra tengah berolahraga pagi untuk kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Apalagi, ia harus berhati-hati pada kandungannya. Sebab, kata dokter kandungannya cukup lemah. Jadi, Fayra harus sangat berhati-hati.


"Fay, mau sambil mama temani, Sayang?" tanya mamanya pada Fayra.


"Boleh, Ma. Ma, kok mas Arfan belum kasih kabar juga ya? Dari semalam, mas Arfan susah banget di hubungi, Ma," keluh Fayra yang mulai moody.


"Biasalah sayang ... waktu di Indonesia dan Kanada itu 'kan, berbeda. Jadi, kamu yang sabar, ya! Dan ingat ... jangan, mikir yang aneh-aneh, ya!" ucap Aneira Hazna pada anaknya yang tengah berbadan dua.


"Iya, Ma ... paham, kok! Ya, aku cuma heran, aja! Kenapa, sih ... masih belum ada kabar juga?"


"Ya, udah. Daripada kamu terus-terusan mengomel nggak jelas. Kita jalan-jalan, yuk keliling kompleks!" ajak Hazna pada si putri manjanya yang sudah mulai mandiri.


...*****...

__ADS_1


Arfan dan Hamas masih mengikuti langkah-langkah kaki Savina. Tampak dari kejauhan sekarang Savina mulai memegang ponselnya. Lalu, sejenak ia terlihat tengah berpikir. Kemudian, ia mulai menatap layar pipih tersebut dengan teliti.


"Apa aku VC Fayra sekarang, aja ya? Ah, tapi ... mau bilang apa, ya?" Perasaan kalut menyelimuti relung pikiran dan hatinya saat ini.


Savina tahu betul. Bahwa, sang adik akan dengan serta merta mengangkat via video call darinya. Namun, ia masih belum bisa membuang perasaan gengsi dalam diri.


"Ah, tidak! Ini bukan waktu yang tepat! Aku pasti akan menghubungi dengan cara yang layak, Fay. Tapi, maafkan kakak mu ini, Fay. Sekarang adalah waktunya untuk ku memperbaiki kesalahan-kesalahan diriku ini. Aku sekarang mengerti, mengapa papa mendidik mu dan menghukum kamu selama ini. Ternyata, didikan papa memang tidak pernah salah padamu adikku." Savina menasihati dirinya sendiri. Membuang semua perih yang tersimpan selama ini.


Di sisi lain, Hamas yang menerima sebuah pesan dari kolega perusahaan yang mengajak mereka bekerjasama. Pria itu mulai merasa gelisah.


"Aduh, gimana, nih? Mana pak Arfan sedang mengawasi kakak iparnya. Sekarang mereka minta bertemu. Wah, kacau!!!" racau Hamas bergumam menggerutu melulu.


Akhirnya, Arfan menyadari kegelisahan dari si asisten pribadinya itu. Arfan mulai menoleh dan mengalihkan perhatiannya dari Savina.


"Ada apa, Ham? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya dengan atensi yang sudah beralih penuh ke arah Hamas saat ini.


"Pak, silakan bapak baca sendiri pesan ini," Hamas pun memberikan ponselnya pada sang atasan.


Netra Arfan menangkap semua bacaan di layar pipih itu dengan teliti dan hati-hati. Bahkan, ia langsung mengambil posisi seperti hendak berlari.


"Ham, ayo, kita pergi sekarang!" ajaknya yang masih lagi sempat-sempatnya melirik sekilas pada Savina.


"Tapi, si kakak ipar bapak bagaimana, Pak?"


"Saya yakin dia wanita yang cerdas. Jadi, dia pasti akan baik-baik saja. Atau ... kamu mau menemaninya di sini?" Buru-buru Hamas menggeleng dengan secepat kilat.


"Maaf, Pak! Saya bukan bermaksud lancang. Tapi, saya ingin setia mendampingi bapak saja," kilahnya beralibi dengan lihai sekali.


"Ya, sudah. Ayo, kita pergi!" Arfan mulai beranjak semakin menjauh dari tempat itu. Meninggalkan si kakak ipar dengan semua belenggu yang menghampiri relung qalbu.


...*****...


Di sisi belahan dunia lainnya, saat ini ada seorang pria yang tengah duduk menanti rekan bisnisnya. Pria itu tak sabar ingin segera bertemu dan menyaksikan raut wajah sang rekan barunya tersebut.


"Kira-kira, dia akan menunjukkan wajah seperti apa padaku nanti, ya? Apakah senang atau justru murung? Ah, sudahlah! Jangan terlalu memikirkan hal itu. Nanti, kau juga akan tahu dengan sendirinya 'kan?" ujarnya bergumam sendiri dalam penantian.


Arfan dan Hamas tampak tergesa-gesa. Walaupun sebenarnya, tergesa-gesa itu bukanlah suatu perbuatan yang baik. Tapi, mau bagaimana lagi? Waktu terasa begitu mencekal mereka. Seakan-akan, nyawa berada pada pelupuk mata. Sehingga, mereka pun tergesa-gesa.


"Pak ...! Pak ... apakah tidak sebaiknya kita berhenti sebentar?" saran Hamas yang sudah mulai kehabisan nafas.


"Tidak keburu nanti, Ham. Kebetulan, beliau sedang berada tidak jauh dari sini. Dan lagi ... dia meminta kita untuk cepat datangkan? Jadi, kita tidak boleh sampai terlambat. Sepertinya, tempatnya tidak jauh lagi dari sini, Ham. Ayo ... Ham! Buruan larinya ...!" pekik Arfan yang sudah seperti seorang atlet yang handal saja pada Hamas Asad.


"Huhhh ... hahhh ... huhhh ...." Nafas Hamas sudah seperti tercekik. Akibat dari lari dadakan sang atasan. Hamas paham betul, bahwa semua itu Arfan lakukan demi mendapatkan kepercayaan dari kolega mereka.


Tapi ... yang menjadikan Hamas tak menyangka adalah kecepatan Arfan ketika berlari.


"Ya Allah ... Pak ... Pak! Apa bapak nggak ada capek-capeknya, ya? Seolah bapak seorang atlet saja! Hadehhh ... mesti berapa lama lagi hamba bertahan dalam kondisi seperti ini yaa Allah ...?" kadu Hamas dengan menengadah ke arah langit malam, yang bertaburan oleh bintang-bintang.


...*****...

__ADS_1


Kafetaria ...


Berlarian seperti sedang dalam perlombaan telah Arfan dan Hamas lakukan. Kini, mereka telah tiba di tempat yang di janjikan. Sesuai dengan waktu yang sudah di tentukan.


Arfan mulai memasuki kafetaria yang di maksud oleh koleganya. Lalu, di susul pula dari belakang oleh Hamas Asad. Ketika netranya mencari-cari satu sosok pria yang akan menjadi kolega bisnisnya. Arfan mulai mengedarkan pandangan matanya ke segala arah.


Klik ...


Mata Arfan pun mengenali sesosok yang sebelumnya telah ia temui. Dan ... satu senyuman simple tapi menukik di dapatkan olehnya.


"Hai ...!" ucap seorang pria yang melambaikan tangannya pada Arfan.


Lalu, ketegangan pun mulai terjadi di tempat itu. Lebih tepatnya, tegangan listrik itu menjalari sekujur tubuh Arfan saat ini.


"Di, dia ...?" ceplos Hamas yang sama tak percayanya dengan sang atasan. Namun, Arfan lebih bisa membawa diri. Sehingga, tak terlalu kentara sekali bahwa ia sama terkejutnya dengan asisten pribadinya.


Hamas menyikut pergelangan sang atasan. Lelaki itu berharap, Arfan akan memberikan respon yang mengejutkan.


Tapi ... nihil!


Arfan malah justru mengambil sikap sebaliknya. Ia berjalan menghampiri si pria, yang telah menanti kehadiran dirinya dengan sikap percaya diri.


Tak mau ia bersikap seperti pengecut. Apalagi seperti seorang pecundang yang kalah bahkan sebelum berjuang! Bukankah itu sungguh sikap yang di sayangkan, kawan?!


Oh ... tentu tidak!


Arfan dengan gagah berani menghampiri dan mulai membuka dialog diri.


"Apa Anda sudah lama menunggu kami?" tanya Arfan dengan wajah datar saja tanpa sungkan.


"Ya, tidak juga! Silakan duduk Pak CEO Maheswara Corp!" ucap pria itu dengan seringainya yang amat mengganggu pemikiran sang Arfan.


Lalu, Arfan dan Hamas pun duduk berhadapan, menatap wajah tampan nan rupawan di hadapan mereka dengan penuh kekesalan.


"Akhirnya, kita bertemu lagi Arfan Alhusayn!" ucapnya yang menatap lekat wajah Arfan dengan tatapan penindasan.


"Benarkah Anda yang akan bekerjasama dengan perusahaan kami?" tanya datar Arfan tanpa penekanan.


"Tentu saja! Apakah ada yang salah dengan semua ini, Arfan?"


Hening!


Suasana semakin terasa tak bersahabat. Belum lagi deru nafas yang kian lama kian tercekat. Benar-benar situasi yang hampir sama dengan sekarat.


Ya, bagaimana tidak?!


Arfan mati-matian menjauh, sekarang justru ia sendirilah yang menyodorkan diri. Mau bagaimana lagi? Semua sudah kadung terjadi. Arfan hanya bisa berpasrah diri saat ini.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2