CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Keputusan Raynar


__ADS_3

Terlepas dari mengungkapkan isi pikirannya, Arfan pun mendapatkan Pro dan Kontra. Bagian kontra itu tentu saja di ambil oleh Bramantyo si tukang nyinyir, yang otaknya licik dan nol besar. Hanya bisa membual dan kelebihannya terletak pada harta dan kekuasaan saja. Selebihnya, tidak ada! Benar-benar tidak ada sama sekali!


...*****...


Seusai rapat dadakan tersebut, Bramantyo sempat menyindir pada Adiwangsa akan sikap Arfan tadi di ruang rapat.


"Pak Adiwangsa yang terhormat! Bagaimana mungkin? Seorang pria bukan lulusan luar negeri. Bukan juga seorang yang mempunyai kuasa dan apalagi harta! Anda berikan amanat yang terlampau mulia. Sebenarnya, saya sangat penasaran, Pak Adiwangsa rekan bisnis saya yang amat sangat saya hormati. Apa tujuan Anda sebenarnya, Bung?" Sebuah pertanyaan yang nyelekit di hati, Bramantyo ungkapkan dengan terlampau santainya.


Adiwangsa yang masih lagi setia dalam gemingnya. Kini, ia mulai menatap lawan bicaranya itu. Dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua saja. Sebab, semua orang yang ada di ruang rapat itu telah keluar semua. Termasuk Arfan si calon CEO tersebut.


Sorot mata Adiwangsa Maheswara, mulai membakar Bramantyo dengan sekali pandang saja. Belum lagi kalimat yang akan di utarakan olehnya, pada rekan yang tak tahu diri dan tak berbudi pekerti.


"Bramantyo, tolong dengarkan baik-baik ucapan ku kepadamu. Jangankan, sekedar memberikan jabatan sekelas CEO pada menantu ku, Arfan. Seluruh hartaku akan aku wariskan pada orang seperti dirinya. Apa kau mau dengar alasan di balik perbuatan ku itu, hmmm?!"


Deg ...


Jantung Bramantyo mulai menciut karena rasa takut yang kian bergelut!


Namun, bukan tukang nyinyir namanya kalau masih belum menyelesaikan rasa keingintahuannya, terhadap sesuatu hingga ia benar-benar tahu.


"Katakanlah, aku siap mendengar semua itu, Tuan Adiwangsa!" ucapnya yang masih sok cool. Padahal, nyalinya mulai menciut dan semakin takut.


"Menantu ku itu bukanlah orang yang pandainya hanya membual. Dia bukanlah orang yang nyinyir. Dia bukanlah orang yang hanya bisa berkata-kata. Namun, hasilnya tidak ada! Dia amat sangat berharga! Baik di mataku maupun di mata keluarga ku! Sampai di sini, apa kamu bisa memahaminya, Tuan Bramantyo?!" tandas Adiwangsa dengan sarkas dan tegas.


Daripada melanjutkan obrolan yang membuat dirinya kalah telak. Bramantyo lebih memilih sok cuek dan sok asyik.


"Ahahaha ... ayolah, Bung! Jangan, terlampau serius, begitu! Aku tadi hanya bercanda. Rupanya, kamu menganggap ucapan ku itu dengan serius, begini." alibi Bramantyo yang sudah mulai terbaca jelas oleh Adiwangsa.


Tanpa perlu basa-basi lagi, Adiwangsa segera angkat diri. Dia tak ingin lagi berlama-lama bersama orang yang sudah mulai gila. Ya, bagi Adiwangsa, Bramantyo hanyalah orang gila yang tak perlu di hiraukan sama sekali.


Sebelum ia benar-benar pergi, Adiwangsa sempat berkata, "Satu lagi yang harus kamu ketahui, Bramantyo! Kamu masih belum bisa mengerti mana yang emas murni dan mana yang emas imitasi," ia pun lekas pergi.


"Hai, Bung! Mau kemana, hah?!" pekiknya pada Adiwangsa.


"Bukan urusanmu! Lekas tinggalkan perusahaan ini, sebelum security menyeret mu keluar dari tempat ini!" Adiwangsa pun terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi.


...*****...


Berhubung telah selesai dengan rapat dadakannya. Arfan pun mulai mencari tahu tentang keberadaan Raynar. Selama ini, baik dirinya maupun Fayra. Mereka tak ada yang tahu Raynar sedang berada di mana.


Sebagai seorang adik ipar, sudah sepatutnya Arfan menunjukkan rasa hormatnya pada Raynar. Terlebih lagi, ia sangat menghargai setiap hubungannya dengan anggota keluarga Fayra.


"Mas Raynar ... kamu ada di mana, Mas?" ucap kalut Arfan saat berada dalam kendaraan beroda empat tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sorot mata Arfan mengarah pada ponselnya yang berada dalam genggaman.


Terlihat di sana sebuah pesan singkat yang di kirim oleh ayah mertuanya, Adiwangsa Maheswara.


"Papa mertua?" ucap Arfan bergumam bingung.


"Kenapa mengirimkan alamat rumah sakit tempat bu'e di rawat padaku?" ucap Arfan semakin tak bisa memahami situasi.


Pergilah ke sana! Jika, kamu ingin mencari seseorang yang kamu butuhkan saat ini.


Arfan telah selesai membaca pesan dari ayah mertuanya tersebut. Lekas ia bergegas dan segera meluncur bebas ke jalanan lepas landas. Ia tak ingin lagi membuang-buang waktu untuk sibuk memikirkan arah dan tuju, yang masih lagi membuat otaknya beku.


"Aku harus ke rumah sakit ini sekarang juga. Siapa tahu, ini adalah sebuah petunjuk dari papa mertua. Aku tahu, beliau itu memang penuh teka-teki kalau memberikan informasi." ucap Arfan dengan senyum yang timbul dari sudut bibirnya.


...*****...


Rumah sakit ...


Raynar dengan setia terus mengerjakan tugasnya sebagai seorang cleaning servis. Tak ada kata gengsi, tak ada rasa jenuh dan lelah dalam diri Raynar.


Apa yang menimpa dirinya saat ini, ia jadikan sebagai pelajaran hidup paling berharga bagi dirinya.


"Ternyata, memang tidak semudah yang tergambar di otakku selama ini. Hidup susah, jauh dari keluarga dan jauh dari wanita-wanita yang pernah aku kencani. Bukanlah suatu musibah yang terlampau berat yang aku rasakan saat ini, Tuhan! Tapi, ... mendapat tatapan mata yang tak bersahabat dari wanita yang aku panggil Mbak Manis itu, jauh lebih perih dan pedih, Tuhan! Mengapa? Kenapa harus dia, Tuhan?" Raynar membayangkan wajah ayu nan teduh milik Clarissa.


Pasalnya, sudah beberapa hari ini, Clarissa seolah menghindari untuk bertemu dengan dirinya. Hal itu, semakin membuat hati Raynar hancur dan sakit!


Langkah gagah Arfan mulai mendekati Raynar. Raynar yang masih lagi setia termangu sambil bekerja. Namun, jelas sekali alam pikirannya tak lagi sedang berada di tempatnya.


Arfan yang datang di hadapannya pun, tak mendapatkan sambutan dari sang kakak ipar. Dengan sangat terpaksa, Arfan menghentikan lamunan yang terlampau panjang si kakak ipar. Agar, si kakak ipar kembali lagi sadar.


"Assalamualaikum, Mas Raynar!" ucap salam dan sapa Arfan, sembari menepuk pelan pundak masnya itu.


"Eh, Arfan! Waalaikumsalam," jawabnya setengah terkejut.


"Kenapa kamu bisa ada di sini, Fan? Sedang apa kamu di sini, hmmm? Apakah adik manjaku sedang sakit, ya?" Sekalinya sadar dari lamunan, sikap Raynar membuat Arfan sedikit kewalahan.


"Mas, sabar, ya! Tenangkan dulu diri, Mas! Saya ke sini ada perlu denganmu, Mas. Alhamdulillah, semua orang baik-baik saja, Mas," sahut Arfan dengan terus menyunggingkan senyuman, di sela-sela ucapannya.


"Oh, syukurlah! Aku kira terjadi sesuatu tadi pada Fayra. Aku sangat khawatir padanya, Fan. Terima kasih kamu sudah menjaga adik manjaku itu, Fan!" ucap Raynar dengan menepuk pundak Arfan lembut beberapa kali.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Mas. Jadi, Mas Raynar tidak perlu cemas dan khawatir akan hal itu. Oh, ya Mas. Boleh, kita duduk sebentar dan membicarakan sesuatu hal yang penting, Mas?"


Raynar tersenyum mendengar penuturan dari si adik ipar tampannya itu. Kemudian, dia membawa Arfan untuk ikut ke kamarnya yang ada di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Ikut saya! Kita akan bicara di kamar saja,"


"Baik, Mas!" sahut Arfan menurut.


"Jadi, benar mas Raynar tinggal di rumah sakit? Astaghfirullah ... hamba semakin merasa bersalah ya, Allah ...!" Arfan semakin menunduk dalam. Rasa bersalah dalam dirinya semakin menjalar dan berakar.


...*****...


Di kamar Raynar ...


"Duduklah, Fan!" Raynar mempersilahkan Arfan untuk duduk di atas tempat tidurnya.


"Ya, Mas." Arfan celingak-celinguk, mengedarkan pandangannya ke segala sudut di ruangan sempit itu.


Tanpa berbasa-basi lagi, Raynar langsung to the point pada Arfan.


"Sebenarnya, tujuan kamu datang ke sini untuk membicarakan tentang jabatan CEO itu, bukan?!" tanya Raynar dengan percaya diri.


"Jadi, Mas sudah tahu?"


"Ya, tentu saja! Berita itu aku dapatkan dengan sangat mudah, Arfan. Lalu, atas dasar apa kamu mendatangiku ke sini, Fan?"


"Saya ingin Mas yang menerima jabatan CEO itu, Mas? Saya tidak pantas untuk mendapatkan jabatan itu, Mas." Arfan tertunduk dan merasa rendah diri.


"Tegakkan kepalamu, Arfan! Kamu adalah calon pemimpin masa depan! Kamu juga sudah menjadi pemimpin bagi adikku yang bar-bar. Kalau Fayra yang bar-bar saja bisa kamu taklukkan. Apalagi, segelintir orang yang moralnya jauh di bawah Fayra. Tentu, kamu lebih bisa mengatur mereka, Fan!"


"Maksud, Mas apa?"


"Heh ... jika, adikku saja yang lebih buruk sifatnya bisa kamu buat berubah bagaikan bidadari surga. Lalu, apa masalahnya dengan merubah sistem dan cara berpikir orang-orang kelas atas di perusahaan papa, Fan? Moral mereka itu memang pantas untuk kamu ceramahi. Contohnya, aku! Bisa bertemu denganmu membuat ku banyak memikirkan sesuatu, Fan. Jadi, terima saja jabatan yang memang pantas kamu dapatkan itu," ujar panjang lebar Raynar.


"Tapi, Mas ... ini lebih baik Mas yang ambil kendali! Mas anak laki-laki papa satu-satunya. Saya akan sangat tidak sopan bila melangkahi mu, Mas!" Arfan tetap kekeuh menolak dukungan dari Raynar atas dirinya.


"Jadi, tujuan kamu kemari adalah untuk meminta ku mengemban amanah berat itu, Fan?"


Hening!


"Fan, begini saja. Aku akan ikut denganmu ke perusahaan. Tapi, apapun keputusan yang akan aku ambil nanti, kamu tidak boleh lagi menghindarinya. Apakah kamu bersedia, Fan?"


"Baiklah, Mas. Saya bersedia!" jawab Arfan dengan raut wajah cemas.


Tentu saja cemas!


Arfan sangat takut, bila Raynar justru memaksa dirinya yang menjadi CEO nanti di perusahaan milik ayah mertuanya tersebut.

__ADS_1


Apa pun yang akan terjadi, semuanya harus tetap Arfan jalani dengan penuh keikhlasan hati!


...*****...


__ADS_2