CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Kesempatan Sebelum Kesepakatan


__ADS_3

Remang cahaya rembulan yang berteman 'kan bintang malam. Meski sang bintang tak sebanyak malam-malam sebelumnya. Tapi, ia tetap setia menemani rembulan yang kesepian di atas sana.


Fayra masih larut dalam duka lara yang tak ingin di temani oleh siapa-siapa. Ia tak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam kamar rawatnya. Pesan itu ia sampaikan pada dokter Febriani yang merawat dirinya.


"Ibu Fayra. Mengapa tidak mengizinkan siapapun untuk melihat kondisi, Anda?"


"Saya butuh waktu untuk menenangkan diri, Dok. Bolehkan, bila saya tak ingin di ganggu oleh siapapun saat ini, Dok?"


"Baiklah, jika memang itu yang ibu inginkan. Maka, saya akan sampaikan hal ini nanti pada keluarga ibu," ujar dokter Febriani yang memenuhi keinginan dari pasiennya.


"Terima kasih, Bu Dokter!" Dokter Febriani hanya membalas dengan senyuman.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat beristirahat!" ucapnya sebelum pergi meninggalkan Fayra seorang diri.


"Ya, Dok." balas Fayra dengan raut wajah yang tak menampakkan keceriaan sama sekali.


...*****...


Arfan dan Raynar masih lagi menanti di depan kamar rawat Fayra. Mereka berharap akan mendapatkan kabar baik dari dokter Febriani.


Begitu dokter Febriani ke luar, mereka langsung mencecar. Berbagai macam pertanyaan pun terlontar. Seakan mereka tak bisa lagi bersabar.


Arfan yang pastinya lebih dulu bertanya pada dokter Febriani. "Dok, bagaimana kondisi istri saya di dalam sana?" Senyuman tercetak dari bibir si ibu dokter.


"Dia dalam kondisi baik. Tapi, ..."


"Tapi, apa, Dok?" sambar tak sabar Arfan.


"Kondisi psikisnya yang perlu di perhatikan. Sebab, wanita yang sedang hamil akan lebih mudah depresi. Jadi, sebaiknya jangan dulu memberikan tekanan dalam bentuk apapun pada ibu Fayra, ya Pak! Saya mohon ... sekali pada pihak keluarga, agar memberikan ibu Fayra waktu untuk menenangkan dirinya." terang panjang lebar si ibu dokter.


"Bagaimana saya bisa membiarkan istri saya sendirian di dalam sana, Dok? Saya tidak bisa mematuhi perintah dokter yang satu ini. Sudah cukup waktu yang saya berikan untuknya menenangkan diri sampai malam ini. Dari tadi pagi saya sudah bersabar, Dok. Maaf, kali ini saya tidak sanggup lagi." Arfan dengan angkuhnya mencoba menerobos masuk ke dalam sana.


"Pak, Arfan ...! Tolong dengarkan saya, Pak!" cegah dokter Febriani dengan intonasi yang sedikit meninggi.


Raynar juga berusaha menghentikan tindakan gegabah Arfan. Akan tetapi, semuanya itu sia-sia belaka. Baik dokter Febriani maupun Raynar. Tak ada yang bisa menghentikan tindakan nekat Arfan.


"Minggir, Semuanya ...!" pekik Arfan yang langsung berhasil menerobos masuk ke dalam ruangan.


"Fan ...!" pekik Raynar dari balik pintu yang sudah terkunci dengan angkuh.


Begitu Arfan memasuki ruangan, netranya menangkap pemandangan yang tak biasa. Fayra berdiri di depan jendela yang telah terbuka. Lengkap dengan infus di pergelangan tangannya, yang masih setia menemani sejak beberapa hari ini.


Pelan dan teramat sangat hati-hati, Arfan melangkahkan kaki. Ia coba agar tetap membuat Fayra tidak menyadari kehadirannya saat ini.


Diam-diam dia mencuri dengar dialog sang istri, yang tengah bergulat dengan sekelumit kisah sedih di balik dinding hati. Nuansa sepi tengah menyelimuti diri Fayra saat ini.


Netra wanita cantik itu telah berkaca-kaca, bahkan hampir basah. Bibir mulai ia buka untuk berbicara.


"Yaa ... Allah, bisakah hamba ku-kuat akan ujian ini?" ucap bibirnya bergetar karena tangis telah berhasil ke luar.


"A-akankah ... aku bisa melahirkan normal? Sama seperti harapan setiap wanita yang ingin menjadi seorang ibu?" tanya Fayra yang tengah memandang langit dari tepi jendela yang terbuka.


Malam yang dingin cukup membuat kulit rapuh Fayra merasakan kedinginan yang luar biasa. Seusai kalimatnya terucap. Ada seseorang yang melingkarkan tangan pada tubuh rapuhnya dari belakang.


Deg ... deg ... deg ....


Detakkan jantung kian berirama dengan ketukan nada yang lebih ekstra. Tak dapat Fayra pungkiri rasa ini sungguh membuatnya nyaman, aman dan penuh kehangatan.

__ADS_1


Dekapan itu kian lama kian erat dan membuat mereka saling terikat. Helaan nafas si pelaku yang memeluk tubuh rapuh itu, terdengar begitu bertalu-talu.


Fayra membalikkan tubuh rapuhnya dengan usaha yang maksimal. Tapi, tetap saja ia tercekal.


Terdengar hembusan nafas yang teratur dan mulai menggetarkan jantungnya. Arfan yang berada di belakangnya mulai membuka bibirnya untuk bersuara.


"Jangan, berkata demikian! Hahhh ... huhhh," Arfan mencoba mengatur nafasnya yang serasa tercekat seolah terikat.


Fayra tak lagi dapat berkata-kata, ia hanya bisa berpasrah. Mulai memasang mode pada dirinya untuk menjadi pendengar yang setia.


"Mas yakin seyakin-yakinnya ... kamu akan bisa melahirkan anak kita ke dunia ini dengan luar biasa. Jadi, jangan lagi kamu merasa seorang diri menghadapi semua ini." Arfan mengatur nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kamu adalah istri Mas, Fay. Bagaimana mungkin kamu merasa kamu ini sendirian, hmm? Kita menikah untuk hidup bersama, 'kan? Kamu harusnya berbagi duka lara mu itu dengan Mas. Bukan dengan berbicara seorang diri begini," nasihatnya, yang di anggukkan oleh Fayra yang sudah mulai terbuka pikiran kalut dan kusutnya.


Setelah cukup mendengar penuturan demi penuturan yang di lontarkan. Fayra mulai angkat bicara dengan raut wajah datar yang membuat Arfan bergetar.


Wajah mereka saling bertatap dan netra mereka saling menangkap. Sebuah adegan suami istri yang sudah lama tak terjadi. Kini mulai di lakoni kembali.


Fayra mengusap lembut pipi sebelah kiri sang suami. Ia ukir kan sebuah senyuman yang menawan. Sehingga membuat Arfan pun merasa nyaman.


"Mas ... aku ini wanita yang egois, 'kan? Tidak bisa memahami situasi. Tidak bisa membuat kamu bahagia setelah kita menikah. Tid--" Arfan tidak lagi mau mendengarkan penjelasan. Secepatnya ia raup bibir pucat itu dengan kecupan manjanya yang semakin mendalam. Kecupan yang sudah lama tak ia berikan pada bagian termanis, yang membuat dirinya merindu sepanjang waktu.


Setelah cukup memberikan kemanjaan dan kemanisan. Arfan lekas berkata, "Kamu wanita kuat yang hebat! Bukan wanita yang egois. Itu tidak benar. Kamulah yang membuatku merasakan kebahagiaan dari sebuah hubungan. Hubungan yang Allah halalkan." Arfan kembali memberikan kecupannya sembari memeluk tubuh rapuh sang istri.


...*****...


Sang mentari pagi kembali lagi menyapa penghuni bumi. Rintik-rintik hujan sisa kemarin malam, masih enggan untuk pergi.


Savina yang telah kembali ceria lagi memasuki kamar mandi. Ia mulai mengawali harinya dengan rasa bahagia. Tak lagi mau memikirkan rasa sakit kemarin yang ia alami.


Sesuai kesepakatan tadi malam yang Savina utarakan. Adiwangsa sang ayah memberikan dirinya kesempatan untuk mencapai kesepakatan.


Ritual mandinya pun kini telah usai. Ia mencari baju yang akan ia kenakan untuk hari ini. Entah, mengapa ia ingin memakai baju yang lebih tertutup dan sopan.


"Sebaiknya, aku kenakan baju ini saja." gumamnya setelah selesai memilih baju di dalam lemari pakaiannya.


Pilihan baju Savina jatuh pada baju gamis yang akan ia padukan dengan hijab instan. Akhirnya, Savina selesai mengenakan busana muslimah. Ia pun juga telah merias dirinya dengan make-up bergaya natural saja.


"Finishing ... akhirnya, siap juga." celetuk Savina, kala telah usai mematuk dirinya di depan cermin.


Savina ke luar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Di bawah tangga telah menunggu ke dua orang tuanya. Mereka pun menyambut kedatangan Savina dengan tetap menyunggingkan senyuman terbaik mereka.


"Papa ... Mama ...! Sejak kapan ada di sini?" tanya Savina dengan ekspresi yang cukup membuat ia terkejut.


"Ayo, sarapan dulu, Sayang! Sebelum pergi, ada baiknya kita sarapan bersama, ya!" nasihat Hazna pada anaknya yang telah terlihat berbeda.


"Oh, ya? Tumben, kamu pakai hijab. Kenapa kamu merubah penampilan kamu, Nak?" tambah Hazna lagi.


"Iya, Nak. Apa yang membuat kamu berpikir untuk melakukan hal ini?" celetuk Adiwangsa pula.


Sebelum menjawab, Savina menjelaskan terlebih dahulu hal apa saja yang akan dia lakukan nantinya.


"Ma, Pa. Aku ingin mengajak Morgan untuk jalan-jalan ke berbagai tempat ibadah. Jadi, alangkah baiknya bila aku memakai pakaian seperti ini," terangnya dengan tata bahasa yang baik dan sopan.


"Oh, begitu. Ya, sudah. Mari, kita sarapan!" ajak Hazna kembali.


Mereka pun menyantap hidangan sarapan pagi dengan masakan kesukaan Savina. Ada salad buah, sayur bening tak lupa pula tempe dan tahu bacem. Ketika telah usai sarapan, Savina pamit pada ke dua orang tuanya.

__ADS_1


"Ma, Pa ... Vina pergi dulu, ya! Titip salam untuk Fayra, kalau papa dan mama ke rumah sakit," pesan Savina sebelum ia pergi.


"Iya, Sayang. Mama dan papa akan sampaikan padanya. Lagi pula, Arfan juga tidak pulang dari semalam. Mama mau bawakan baju ganti untuknya," balas Hazna.


"Kalau begitu, Vina pergi sekarang. Assalamualaikum," pamitnya pada ke dua orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Adiwangsa dan Hazna berbarengan.


...*****...


Sesampainya Savina di salah satu masjid di kota Yogyakarta. Savina menghubungi Morgan Tan. Ia mencoba berdamai dengan keadaan.


Tut ... tut ... tut ....


Sambungan telepon pun bersambut dari seberang sana. Morgan mengangkat telepon dari Savina.


"Ya, halo ...,"


"Bisa kita bertemu sekarang di Masjid Syuhada Kotabaru?" tanya Savina dengan tingkat deg-degan yang luar biasa.


"Oke." sahut Morgan tanpa basa-basi untuk bertanya terlebih dahulu. Ia yang tengah mengemudikan mobilnya, langsung bergegas menuju tempat yang di maksud oleh pujaan hatinya.


...*****...


Setibanya di depan Masjid Syuhada Kotabaru (Yogyakarta). Morgan terkejut melihat penampilan Savina yang tak biasa. Morgan merasakan ada aura yang berbeda dari biasanya pada diri Savina.


"Apakah aku salah melihat? Bukankah, itu benar Savina? Tapi, mengapa penampilan begitu berbeda?" celetuk hati Morgan dengan berbagai pertanyaan.


"Morgan ...!" panggil Savina dengan sedikit mengeraskan suaranya, tak lupa pula ia melambaikan tangannya.


"Oh, iya." Morgan sedikit berlari mendekati Savina.


Begitu sampai di dekat Savina, Morgan semakin terpesona.


"Dia sungguh semakin cantik! Aku benar-benar mengagumi keindahan dirinya, Tuhan!" puji Morgan Tan tanpa sadar di dalam hati kecilnya.


"Morgan, maafkan atas sikapku kemarin! Hari ini, aku di berikan kesempatan oleh ke dua orang tuaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah mereka berikan padaku. Aku--" ucapan Savina di sela cepat oleh Morgan Tan.


"Tunggu dulu ...! Apa maksudnya ini, My Sweety Girl ...? Jangan bilang kalau kamu mau aku--" Morgan sudah dapat menyimpulkan pemikiran Savina.


"Iya, aku ingin kamu mempelajari tentang agamaku dan aku juga akan mempelajari tentang agamamu. Kita buat kesepakatan setelah kita selesai melakukan semuanya. Kamu mau, 'kan?"


"Kamu yakin?" tanya Morgan dengan sedikit memasang raut wajah yang tampak ragu terhadap ide Savina.


Satu anggukan kecil Savina berikan sebagai jawaban yang membuat keputusan pun terlaksanakan.


"Baiklah, aku setuju!"


Mereka pun mulai memasuki masjid dengan menjaga jarak aman.


...*****...


Akankah salah satu di antara mereka meninggalkan keyakinan masing-masing? Atau ... mereka akan saling melepaskan dengan keikhlasan?


Entahlah, biarkan waktu yang menjawab semua tanya itu!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2