CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Curahan Hati Saudariku


__ADS_3

Sakit, kecewa, marah sudah pasti! Bukankah, itu adalah manusiawi?


Kadang kala mengalah bukan berarti kalah. Tidak, sama sekali! Bukan seperti itu definisi yang benar, Kawan!


Manisnya kehidupan hanya dapat di rasakan, bila kita telah bisa menyikapi setiap masalah dengan bahagia.


Jangan, lupa untuk tetap tersenyum tentunya! Apalagi, di zaman yang sekarang serba canggih. Tidak ada yang akan menghalangi niat dan tekad. Selagi ada kemauan tentu akan ada jalan.


...*****...


Menemani istri di rumah sakit sudah menjadi hal yang wajib. Arfan tak bisa merelakan sang istri, bila harus melakukan segalanya sendirian. Acap kali, ia membantu sang istri dengan segenap hati, jiwa dan raganya.


Istri mana yang tidak akan merasa bahagia, bila di perlakukan sedemikian rupa? Tentu, setiap istri akan mendambakan sosok suami seperti Arfan Alhusayn.


Hampir semua yang Arfan miliki adalah ciri-ciri suami, yang diidam-idamkan oleh setiap wanita pada umumnya.


Perlakuan manis, perhatian, lemah-lembut dan yang paling utama karena ketaatannya pada agama.


...*****...


Selama Fayra sakit, Arfan dengan siaga menemani dan menjaganya.


"Mas, kita ke luar, yuk!" ajak Fayra yang sudah mulai merasakan kebosanan luar biasa.


"Kenapa? Apa kamu bosan di dalam kamar terus, ya?"


"Iya, Mas. Mendadak, jiwa bebas ku merasa terkekang bila terus-terusan di dalam ruangan yang di batasi tembok penghalang," ujarnya yang membuat Arfan cekikikan.


"Loh, Mas kok malah ketawa, sih?!" protes Fayra yang semakin gerah.


"Iya, maaf! Yuk, kita ke luar. Nanti, biar mas yang dorong kamu pakai kursi roda, ya?" Fayra memelototi suaminya.


"Mas, aku 'kan tidak lumpuh? Lalu, kenapa mas harus dorong aku segala, hah?"


"Udah, nurut aja, ya! Ini demi kebaikan kamu, Fay sayang." Tanpa banyak protes lagi, Fayra mulai mengikuti instruksi sang suami.


Mereka pun lekas menelusuri setiap inci yang tersaji di rumah sakit ini. Menuju taman yang tersedia di sekitaran rumah sakit tentunya.


Mencari udara segar dan berjemur di bawah sinar mentari pagi yang menghangatkan badan dan pikiran.


Terlihat oleh ke dua pasang netra mereka, kala Savina datang dengan wajahnya yang sembab. Sudah seperti genangan air yang di timpa hujan semalaman suntuk yang tak kunjung jua reda.


"Mas, itu ... kak Vina bukan, sih?" Fayra bertanya seraya menepuk pelan pergelangan tangan Arfan.


"Iya, kamu benar Sayang. Kenapa kak Savina terlihat murung, begitu?"


"Eh, tunggu dulu ... ada yang berbeda dengan kak Savina hari ini. Tapi, ... apa ya, Mas?" ucap Fayra setelah ia menyadari sesuatu yang berbeda dengan kakaknya.


"Pakaiannya, Sayang ...." Fayra mengangguk paham.

__ADS_1


"Eh, kok aku baru sadar ya, Mas?" sambar nya setelah ia menyadarinya dan refleks memukul jidatnya.


"Eh, eh, eh ... kok malah di pukul jidatnya?" ucap Arfan gelagapan.


"Yuk, Mas antar 'kan aku ke kak Vina!" Arfan mendorong kursi roda sang istri dan memanggil Savina dengan intonasi yang meninggi.


"Mbak Vina ...!" jeritnya yang langsung mendapat tolehan dari si kakak ipar.


Tak ingin terlihat tengah dalam mode kesedihan. Savina buru-buru menghapus jejak tangisnya yang tak bisa di pungkiri lagi.


"Kak Vina ...? Kenapa sedih?" tanya polos Fayra yang membuat Savina bertanya-tanya penuh keheranan.


"Kenapa kakak malah diam? Aku udah liat tadi, Kak. Ketika kakak mau masuk. Kakak sedang menghapus jejak air mata kakak. Jangan, berbohong padaku, Kak!" sambung Fayra lagi.


Arfan bisa bergeming, menyaksikan perbincangan antara kakak beradik itu di depan matanya.


"Fay, gimana kabarnya kamu hari ini? Kapan kamu bisa pulang?" Savina mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Mas, antar aku duduk di sana. Nanti, tinggalkan aku dengan kak Savina berdua saja," pinta Fayra yang dengan cepat Arfan turuti.


...*****...


Di bawah pohon ...


Setelah mereka berdua duduk di bawah pohon, Fayra mulai mengintrogasi sang kakak dari hati ke hati. Di tatapnya lekat-lekat netra berkabut yang membingkai wajah ayu kakaknya.


"Hiks ... hiks ... hiks ... Fay, kakak gak pernah bisa mendapatkan kebahagiaan." ucapnya dengan berderai air mata.


Fayra mengusap-usap lembut punggung sang kakak dengan tangan kanannya. Ia rengkuh bahu sang kakak mendekat ke dalam pelukannya. Menenangkan jiwa yang tengah berduka lara. Menatap langit yang berwarna putih yang di penuhi oleh gulungan awan.


"Kak, apa semua ini ada hubungannya dengan Morgan Tan?" tanya terucap dari bibir Fayra.


"Kamu kenapa bisa tahu?" sahut polos Savina yang lekas bangkit dari dekapan Fayra.


"Hahhh ... kesedihan itu terlampau jelas kakak gambarkan. Bagaimana aku tidak bisa langsung tahu?" Savina sedikit beringsut menjauh dari posisi duduk dekatnya.


"Kenapa kakak menjauh? Apa kakak malu menceritakan tentang percintaan kakak padaku, hmm? Di sini tidak ada Arfan. Hanya kita berdua. Mas Arfan tidak akan tiba-tiba datang, Kak ... dia suami yang pengertian. Percayalah, Kak!" bujuk Fayra yang sudah mulai merasakan sesak di dadanya. Ia tak sanggup, bila harus melihat ke-pilu-an itu lagi pada wajah ayu kakak perempuannya tersebut.


Derai air mata terus saja bercucuran membasahi pipi tirus Savina. Perlahan-lahan gadis cantik itu mulai terbuka. Ia buka mulutnya untuk berbicara. Menyuarakan kebenaran yang baru saja di alami olehnya.


"Kakak minta papa dan mama untuk mengizinkan kakak mencari apa yang menjadi tujuan hidup kakak, Fay. Setelah kakak melakukan semua yang kakak anggap benar. Nyatanya, semua itu membawa kakak pada kesadaran yang sulit untuk kakak jelaskan," terangnya sedikit ambigu.


"Maksud Kakak apa?"


"Iya, tadinya kakak berniat ingin merubah keyakinan demi memiliki Morgan Tan. Tapi--" Fayra dengan cepat menyela ucapan Savina.


"Apa, Kak ...? Kakak mau merubah keyakinan? Astaghfirullah hal adzim ...! Istighfar, Kak! Kalau pun ada yang merubah keyakinan itu bukan kakak! Tapi, dia ...."


Kemarahan tampak jelas pada wajah Fayra yang telah berubah 180° (derajat). Fayra tidak menyangka betapa lemahnya iman sang kakak karena rasa cinta.

__ADS_1


Cinta yang masih lagi berkabut jalannya. Cinta yang masih lagi tak tentu arah dan tujuannya. Cinta yang berlandaskan sesuatu yang masih lagi perlu di pertimbangkan.


"Alhamdulillah, kakak tidak jadi melakukan hal itu, Fay. Syukurlah, Allah membuat kakak merasakan getaran hebat yang membuat kakak takut untuk melakukannya." ucap lirih Savina yang sudah mulai merasakan kehangatan dari Fayra.


Tatapan mata mereka bertemu dan saling mengejek satu sama lainnya.


"Dasar jelek! Kakak kalau nangis itu jelek banget tau," ejek Fayra yang membuat Savina tertawa kecil setelahnya.


"Kamu juga sama Fay. Malah ... lebih jelek kamu tau." balas Savina yang sudah bisa tampak ceria.


"Jadi, apa yang kakak dan dia putuskan?"


Savina menggeleng pelan dan kembali terdiam.


"Katakanlah, Kak! Jangan, semuanya kakak pendam sendirian! Itu tidak baik, Kak ...." Nasihat Fayra yang membuahkan hasil jua.


"Kakak bilang padanya kalau kamu lebih baik tidak lagi melanjutkan hubungan kami, Fay."


Mendengar itu, Fayra dapat dengan mudah memahami isi hati sang kakak terkasih.


"Apakah Morgan bisa menerimanya, Kak?"


"Dia hanya diam, Fay. Kakak tidak tahu dia akan bersikap seperti apa nantinya," jawab Savina dengan menatap langit yang semakin cerah dengan kilauan cahayanya si matahari pagi.


Kakak dan adik itu tampak terpaku pada gulungan awan di atas sana. Sementara dari balik pohon lainnya, seseorang tengah mencuri dengar isi percakapan kakak beradik tersebut dengan kehati-hatian yang tinggi.


...*****...


"Fan, kamu dari mana saja? Di mana istri mu?" tanya Raynar yang tengah bersiap untuk pergi bekerja.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Raynar. Jiika, sebelum ke perusahaan ia menyempatkan diri untuk ke rumah sakit terlebih dahulu. Katanya untuk melihat kondisi Fayra dan juga melihat calon ibu mertuanya.


"Tadi dia saya tinggalkan bersama mbak Savina, Mas. Ada yang perlu saya sampaikan padanya, Mas? Apa, Mas Raynar ingin mengatakan sesuatu pada Fayra, Mas?"


"Oh, nggak. Seperti biasa Fan. Aku hanya ingin melihatnya saja sebelum ke kantor. Oh, iya. Apa kamu sempat lihat Hamas datang ke sini, Fan? Soalnya, tadi aku minta dia untuk ke rumah sakit sebelum ke kantor. Ada berkas yang perlu aku tanyakan padamu lebih detailnya. Dia bilang sih tadi udah sampai ke rumah sakit. Tapi, kok nggak kelihatan, ya?"


"Saya nggak lihat Hamas dari tadi Mas. Ini juga saya baru selesai nanya ke dokter Febriani kapan Fayra bisa pulang," terang Arfan.


"Loh, ke mana anak itu perginya, ya?"


"Coba saya telpon dia ya, Mas. Mungkin dia kena macet di jalan," tebak Arfan.


"Oke, deh! Kalau gitu aku jenguk calon mertua dulu, ya. Nanti, kamu cek berkas yang di bawa Hamas. Dia sudah tahu apa-apa saja yang ingin aku tanyakan padamu. Jadi, nanti kamu tanyakan langsung padanya, ya!" seru Raynar sembari menepuk pelan pundak sang adik iparnya.


"Baik, Mas." sahut Arfan dengan sigap.


Arfan mulai menelepon Hamas.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2