CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Menggoda Ibu


__ADS_3

Arfan telah selesai menghubungi Fayra, lantas Arfan pun kembali mendekati sang ibunda. Kabar baiknya adalah ... Fayra juga akan berkunjung katanya. Tentu setelah pekerjaannya selesai. Sebab, gadis itu terlalu sibuk bekerja. Apalagi, semenjak ia memutuskan hubungan dengan Ervin Adicandra.


Ya, Ervin memang masih sering sekali menghubungi Fayra via telepon. Namun, gadis itu serasa enggan sekali untuk merespon semua bentuk komunikasi dengan Ervin.


Fayra selalu meyakini satu hal, 'yang lalu biarlah berlalu. Akan aku tatap masa depan yang baru'. Hal itulah yang selalu di pegang teguh oleh gadis cantik berambut sebahu itu.


...*****...


"Alhamdulillah, Bue sudah sadar! Bue, bagaimana keadaan Bue sekarang? Apakah masih sangat sakit?" tanya lembut Arfan pada sang ibu.


Terlihat Sanah sangat kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Arfan. Tak ingin memaksa sang ibu, Arfan lalu meminta Sanah untuk tidak memaksakan diri.


"Bue, tidak apa-apa. Jangan, memaksakan diri! Arfan sudah mengerti," imbuhnya lirih.


Arfan menatap dalam wajah sang ibu nan masih lagi pucat dan lemah. Kemudian, dia kembali mencium puncak kepala sang ibu tercinta. Seakan ia tengah mentransfer kekuatan berbentuk kasih sayang pada sang bunda.


Sanah lantas menutup matanya, seakan turut merasakan kehangatan dan kasih sayang dari sang putra. Setelah usai mengecup sang bunda, Arfan lantas bertanya pada ustadz Yusuf yang bersama dengannya saat ini.


"Ustadz, bolehkah saya minta tolong?"


"Katakanlah!"


"Saya akan keluar untuk menjemput adik saya sebentar lagi dari kampus. Jadi, tolong temani bue sampai saya kembali ke sini bersama Nadhifa." pintanya pada Yusuf.


"Iya, tentu saja. Pergilah! Sebentar lagi, istri saya juga akan datang. Jadi, dia juga akan bisa ikut menemani ibumu, Fan."


"Terima kasih banyak, Ustadz!"


"Jangan, sungkan, Fan! Kita sudah seperti keluarga." imbuh Yusuf pula.


"Kalau begitu, Arfan pamit, ya, Bue, Ustadz! Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam!" balas Yusuf.


Arfan lekas pergi menjemput Nadhifa si adik cantiknya itu ke kampus. Di tengah perjalanan menuju kampus, Arfan teringat akan Fayra yang berkata, "Iya, sudah. Nanti, aku akan ke rumah sakit untuk melihat ibumu. Tapi, setelah pekerjaan ku selesai di sini. Soalnya, masih ada lagi pelanggan yang berdatangan untuk mengajukan design yang mereka inginkan. Jadi, kemungkinan akan sangat terlambat aku ke rumah sakitnya," keluh Fayra beberapa waktu lalu.


"Sebaiknya, setelah mengantarkan dik manis, aku menjemput non Fayra." gumam Arfan dalam kesendiriannya mengendarai mobil saat ini.


Mobil merah itu pun melaju kencang membelah jalanan aspal hitam mengkilat tersebut.


...*****...


Di kampus ...


Arfan menunggu sang adik yang katanya hari ini akan pulang lebih awal. Sebab, mata pelajarannya kosong.


Beberapa menit kemudian ...


Terlihat Nadhifa tengah berbincang-bincang sembari menuruni tangga bersama temannya. Gadis itu terlihat masih murung saat ini. Namun, Arfan yakin setelah kabar baik yang ia bawa akan membuat wajah murung sang adik menjadi cerita kembali seperti sediakala.


"Eh, aku duluan, ya! Mas ku datang menjemput ku ternyata." ucapnya pada salah satu temannya.


"Iya, bye ... Nad!" balas temannya.


"Em, bye-bye!"


Nadhifa berjalan terburu-buru mendekati sang kakak.


"Pelan-pelan, Dik Manis! Nanti, kamu bisa jatuh!" Arfan memperingati sang adik agar berhati-hati.


"Mas ...! Kapan Mas datang?" teriak Nadhifa senang, tapi tidak sepenuhnya senang.


"Belum lama. Ayo, kita ke rumah sakit!" ajaknya sambil menyertai senyum di wajah tampannya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Eh, Mas ...?!"


"Iya, kenapa?"


"Apa ... aku benar-benar boleh naik mobil ini?" ucap polos Nadhifa yang takut akan menodai mobil mewah milik Fayra.


"Iya, ndak apa-apa, kok, Dik Manis! Ayo, masuk!" titah Arfan kembali.


...*****...


"Mas ... apa sekarang pekerjaan Mas adalah menjadi supir, ya? Supir dari majikan yang kaya raya," celetuk Nadhifa yang terus memperhatikan seisi mobil Fayra tersebut.


"Ya, bisa di bilang begitu. Tapi ... sebenarnya lebih dari sekedar menjadi supir, Dik Manis."


"Oh, begitu ...." Nadhifa manggut-manggut mendengarnya.


"Iya, Dik Manis!" sahut Arfan lagi.


"Kamu tahu, ini adalah mobil mewah yang pernah Mas kendarai seumur hidup Mas, Nad!"


"Iya-iya, Nad tahu, kok! 'Kan, emang Mas ndak pernah toh pakai mobil mewah sebelumnya selain ini?!" ejek Nadhifa.


"Iya, Mas belajar naik mobil, 'kan, waktu Mas kuliah dulu sambil bekerja jadi supir pribadi temannya Mas." terang Arfan.


"Eh, Mas. Apa Mas sudah ke rumah sakit? Terus, bagaimana keadaan bue sekarang, Mas? Apa bue ...," Nadhifa menggantung kalimatnya.


"Memangnya, kamu pikir bue kenapa, hmmm?"


"Ndak ...! Ndak, ada, Mas. Aku cuma ... cuma takut bue akan lebih lama lagi terbaring tak berdaya seperti itu, Mas." ucapnya yang sudah mulai meneteskan air mata.


"Nanti, setelah kamu Mas anatar ke rumah sakit. Kamu langsung temui bue, ya! Udah, jangan sedih-sedih lagi! Bue juga pasti ndak suka kalau tahu anak gadisnya menangis terus," ujar Arfan menenangkan sang adik terkasih.


"Iya, Mas."


...*****...


"Nah, sampai! Kamu langsung masuk, aja! Mas masih ada keperluan lain. Ingat, langsung masuk, ya!"


"Iya, Mas! Mas hati-hati, ya!"


"Iya, Dik Manis! Assalamualaikum," ucap salam Arfan sembari melambaikan tangan.


"Waalaikumsalam." balas Nadhifa.


"Kenapa seperti ada yang berbeda, ya dari mas Arfan. Tapi, ... apa, ya?! Ah, sudahlah! Aku pusing memikirkannya.


...*****...


Di perusahaan Fayra Maheswara ...


Arfan menunggu kehadiran sang majikan, berhubung sudah terlalu lama menunggu. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Ternyata, Fayra sedang berjalan menuju keluar.


Dan ... terjadilah hal yang tak diinginkan.


Bruk ...


"Ah, auh ... sakit!" Fayra mengadu kesakitan. Sebab, ia tak sengaja bertabrakan dengan tubuh gagah Arfan.


"Maaf ...! Maafkan saya, Nona! Saya tidak tahu kalau Nona juga sedang berjalan keluar." terang Arfan yang mendapatkan ucapan kasar dari sang majikan.


"Makanya, kalau jalan itu lihat-lihat ke depan! Jangan meleng, aja kayak orang yang merasa dirinya paling tampan!" sarkas Fayra yang membuat Arfan menahan tawa.


"Kamu meledek saya, ya?! Hah?! Iya, benar, begitu?!" tanya Fayra yang melotot pada Arfan.

__ADS_1


"Bu ... bukan! Tidak sama sekali, Nona! Saya hanya merasa ucapan Nona terlalu berlebihan. Saya mana ada merasa diri paling tampan, kok!" sangkal Arfan membela dirinya.


Sambil terus memegangi kepalanya yang sangat sakit karena menubruk dada bidang seorang Arfan. Fayra menanyakan perihal keberadaan Arfan di tempat itu.


"Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu bilang ingin menemani ibu kamu di rumah sakit?"


Sebelum menjawab pertanyaan dari Fayra, Arfan meminta izin pada gadis cantik itu untuk memeriksa bagian yang di rasa sakit oleh gadis itu.


"Apakah boleh aku lihat? Apakah di sini, ya yang sakit?" tunjuk Arfan tepat di bagian kening Fayra.


Ternyata pergerakan Arfan kali ini cukup membuat jantung Fayra bertalu-talu.


Deg ... deg ... deg ...!


"Ah, sial! Kenapa harus begini, sih? Dia ...? Mana mungkin hatiku tersentuh olehnya!" kilah Fayra dalam hatinya.


"Di sini yang sakit, Nona?" Arfan mengulangi perkataannya.


"Sudahlah! Ayo, jalan!" Fayra menepis tangan Arfan dari hadapan. Sebab, ia sudah tak tahan dengan detak demi detakkan jantung yang bersahut-sahutan.


"Ya, Nona!" jawab sigap Arfan setelahnya.


Mereka pun pergi menuju rumah sakit tempat ibu Arfan di rawat.


...*****...


Ketika Arfan dan Fayra baru saja tiba, pelukan hangat dari Nadhifa telah menantinya.


"Assalamualaikum," ucap salam Arfan dan Fayra.


"Waalaikumsalam," sambut Nadhifa, ustadz Yusuf dan ustadzah Shafira.


"Mas ...!" jerit bahagia terurai air mata dari Nadhifa yang langsung memeluk erat tubuh gagah sang kakak.


"Dik Manis! Kamu kenapa, hmmm?!" tanyanya penuh kelembutan.


"Aku senang, Mas! Senang ... sekali! Sebab, bue telah siuman."


"Iya, sama. Mas juga senang. Ayo, kita ke dekat bue!" ajak Arfan yang meleraikan pelukan mereka lebih dulu.


Sementara itu, Fayra hanya bisa membatu. Dia tak tahu hal apa yang harus di lakukan.


"Ayo, Non kita ke sana!" ajak Arfan pada Fayra.


"Oh, iya." jawab kikuk Fayra.


Kemudian, Fayra meletakkan buah tangan yang di bawanya di atas nakas. Bue tersenyum bahagia melihat Arfan tiba. Apalagi bersama seorang wanita cantik pula.


"Bue ...! Perkenalkan, ini Non Fayra. Dia adalah majikannya Arfan. Dan Non Fayra, ini ibu saya!" ucap Arfan memperkenalkan ibunya pada Fayra.


"Halo, Bu! Cepat sembuh, ya Bu!" sapa Fayra ramah dengan penuh senyuman.


Sanah hanya bisa tersenyum membalasnya. Melihat kondisi ibu Arfan, Fayra teringat akan kejadian di mana dirinya pernah mendengar obrolan Arfan dan Nadhifa di telpon.


"Ternyata, benar! Apa yang di prediksikan terhadap ibu ini kejadian. Kasihan kamu Arfan. Kamu pasti sedih sekarang." ucapnya yang tak terlisankan.


"Bue ... mau Arfan suapi buah apa? Ada jeruk, apel, pir dan anggur. Bue mau yang mana hmmm? Biar makin awet muda Bue! Biar kulit Bue makin cantik dan berkilau seperti kulit bidadari." goda Arfan yang mulai lagi terhadap sang ibu kini.


Sanah hanya tersenyum dan ingin berkata, namun ... ia seakan sulit sekali untuk mengutarakannya. Akhirnya, Arfan meletakkan buah-buahan yang ingin di pilih oleh ibunya di atas ranjang. Lalu, Sanah pun mengambil anggur sebagai pilihannya.


"Oke, Arfan akan menyuapi Bue anggur, ya!" tunggu sebentar. Arfan kembali meletakkan semua buah-buahan itu dan kemudian menyuapi sang ibu.


Mereka yang melihat betapa sayangnya Arfan pada ibunya pun jadi ikut terharu. Tak terkecuali si nona mudanya nan cantik jelita. Gadis itu juga turut tersenyum menyaksikan kemesraan anak dan ibu itu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2